Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Bolu Pisang


__ADS_3

Sebelum Isya Budhe Dewi memerintahkan untuk segera menyiapkan aneka makanan kecil ke tempat acara, yaitu di bagian ruang tamu. Jangan tanya siapa yang diberi tugas demikian, sudah pasti aku dan Rehan. Beberapa kali Rehan bersungut-sungut padaku, dia kesal diperlakukan demikian. Aku hanya diam menanggapinya, lagipula tidak ada gunanya berkeluh kesah, toh, tidak ada yang peduli juga.


"Mbak, tinggal satu nampan. Mbak aja, ya?" Rehan terlebih dahulu menyimpan nampannya, pintar sekali adikku itu. Segera kupindahkan empat piring terakhir tersebut ke tempat berkumpulnya anggota keluarga.


"Ini buat Tia."


Sempat kulirik ke arah Budhe Dewi yang tengah membagikan amplop kepada para keponakannya. Siapa juga yang tidak suka diberikan uang secara cuma-cuma. Raut penuh kebahagiaan dari beberapa sepupu yang mendapat uang juga menular kepadaku.


"Eh, Devi apa kabar?" Mas Aiman menghampiriku. Dia adalah sepupuku yang merupakan cucu tertua. Dia juga salah satu orang yang ramah di keluarga besar ini.


"Alhamdulillah, baik."


"Gimana sekolahmu?"


Sialnya saat itu aku melihat Budhe Dewi yang menatapku begitu tajam. Isyarat matanya menunjukkan bahwa aku harus lekas ke dapur. Setelah menjawab seperlunya pertanyaan Mas Aiman, aku pamit menuju dapur.


"Budhe nanti nggak ikut ke sana?" tanyaku pada Budhe Alya yang masih sibuk menata beberapa piring ke dalam rak.


"Budhe di sini aja. Biasa, Budhe itu divisi konsumsi, kerjanya di belakang layar." Budhe terkekeh.


Budhe Alya sebenarnya lebih beruntung daripada aku dan Rehan. Nasibnya lebih baik, tidak ada yang mengucilkannya di keluarga ini. Kurasa Budhe Alya tidak memilih untuk ikut acara karena kasihan kepada aku dan Rehan.


"Kan, ada aku sama Rehan. Budhe ikut ke sana aja," saranku.


"Tapi kalau Budhe maunya di sini gimana?" Aku hanya tersenyum.


Aku, Budhe Alya, dan Rehan duduk di dapur selama acara arisan berlangsung. Aku tidak pernah tahu pasti bagaimana susunan acaranya sebab memang tidak pernah ikut. Kuperhatikan Rehan yang mulai limbung dan merebahkan tubuhnya melingkar di atas tikar.


"Capek, Re?" tanyaku.


"Nggak, cuma bosen. Bingung mau ngapain," jawabnya.


"Kalian nggak mau makan jajanan Budhe tadi?"


"Tadi udah ambil satu, Budhe."


"Ambil lagi, nanti nggak ada yang makan, lho."


"Mbak, aku lapar," keluh Rehan meringis kepadaku.


"Eh, kamu lapar? Ya Allah, lupa belum dikasih makan. Tapi kayaknya makanannya dibawa ke depan semua," ucap Budhe Alya yang tampak menyusuri tempat-tempat yang digunakan menaruh makanan.


"Tadi Bapak nitip uang ke aku, kok, Budhe. Kalau mau makan disuruh beli bakso dulu."

__ADS_1


Iya, tadi Bapak sudah berpesan, jangan memakan apapun ketika di sini kecuali memang dipersilahkan oleh sang tuan rumah. Bapak sangat paham watak Budhe Dewi yang sangat sentimen kepada keluarga Bapak. Dia memperlakukan kami sangat tidak layak.


"Nah, ide bagus, Mbak. Rehan mau bakso kalau gitu!" Rehan menjentikkan jarinya kemudian menodongkan tangan meminta uang kepadaku.


"Emang ada tukang bakso di sini?"


"Ada, nggak jauh dari sini, kok."


Kuberikan uang yang telah dititipkan oleh Bapak kepadaku tadi. Lewat pintu belakang Rehan pamit untuk membeli bakso. Budhe Alya sempat melarang Rehan. Akan tetapi, mau bagaimana lagi? Budhe Alya akhirnya memperbolehkan setelah tidak yakin jika akan ada makanan sisa untuk diberikan kepadaku dan Rehan.


"Maaf, ya, Nduk. Tahu gitu tadi Budhe bawa nasi dari rumah biar buat kalian makan," ucap Budhe Alya.


"Santai aja, Budhe. Lagian aku sama Rehan lama banget nggak makan bakso. Kayaknya enak banget malam-malam gini makan bakso."


Tidak berselang lama akhirnya Rehan kembali. Sayangnya ia tampak kecewa sebab yang dicari tidak ada. Mungkin sudah terlalu malam atau memang sang tukang bakso sudah berkeliling di daerah yang lain.


"Oalah, Le. Nunggu nasi habis acara aja, ya," ucap Budhe Alya tampak tidak tega.


"Iya, Budhe."


Pukul sembilan malam acara selesai. Beberapa sanak saudara yang rumahnya jauh juga mulai berpamitan. Mobil yang semula memenuhi halaman rumah Budhe Dewi satu per satu pulang. Aku membangunkan Rehan yang baru saja tidur dalam kondisi kelaparan, tidak tega sebenarnya.


"Kita bawa ke sini piring-piring yang ada di ruang tamu," ucap Budhe Alya.


"Kok, baru kelihatan, Dev?" tanya Mas Aiman yang memunguti piring dan meletakkannya ke dalam nampanku.


"Aku di belakang bantu Budhe Alya."


"Kamu jarang ikut, ya? Atau memang ikut tapi selalu di dapur?" Aku hanya tersenyum. Sepertinya memang keluarga Bapak di sini sama sekali tidak terlihat. Tidak masalah.


Setelah kurasa cukup, aku membawa piring kotor tadi ke dapur. Rupanya Mas Aiman turut membantu dengan membawa beberapa tumpukan piring. Bapak sudah bersiap menjadi tukang cuci piring, sementara Rehan masih tampak lemas sebab acara tidurnya terganggu.


"Rehan ternyata di sini juga," ucap Mas Aiman menyadari keberadaan Rehan.


"Oh, ada Paklik juga." Mas Aiman mengangguk ke arah Bapak.


Kutinggalkan Mas Aiman yang masih berbicara pada Bapak. Dia memang ramah seperti itu.


"Sudah habis, kok, Nduk!"


Aku yang hendak menuju ruang tamu dicegah oleh Budhe Alya. Rupanya semua piring kotor sudah ia bawa. Aku bergabung ikut Bapak.


"Habis SMP Devi rencana mau ke mana?" tanya Mas Aiman kepadaku. Lagi-lagi aku tersenyum, sebab belum terpikirkan sekolah mana yang akan kupilih nanti.

__ADS_1


"Rencananya Devi akan aku masukkan ke pesantren. Semoga saja ada rizki," jawab Bapak.


"Oh, kirain mau satu sekolah sama aku. Kalau di SMA-ku, nanti biar kita berangkat bareng," ujar Mas Aiman.


"Aku nurut ucapan Bapak aja, Mas."


Mas Aiman sekolah di SMA 1 yang berada di kota. Sebenarnya SMA tersebut merupakan sekolah impianku. Namun, aku hanya bisa mengikuti semua kemauan Bapak.


"Dewi, mana nasinya?" Budhe Alya bertanya demikian ketika Budhe Dewi datang.


"Itu di atas meja, Mbak."


Aku melihat hanya ada sekotak nasi di sana. Sepertinya memang khusus diberikan kepada Budhe Alya saja.


"Cuma satu?"


"Iya, itu buat kamu, Mbak."


"Buat Basir sama anak-anaknya?"


"Duh, udah habis, Mbak. Mereka biar makan bolu pisang aja."


"Ya Allah, Wi, kamu tega banget. Mereka dari sore di sini, lho. Bahkan Rehan tadi sampai kelaparan."


"Ya, itu emang nasinya aku pesen pas, Mbak."


"Mereka itu juga masih saudaramu, lho. Bisa-bisanya kamu cuma memanfaatkan mereka. Dari dulu aku diam karena aku tahan, Wi. Tapi untuk kali ini aku nggak bisa!"


"Budhe Alya, nasi Aiman biar dimakan Rehan. Punya mama sama papa pasti juga nggak dimakan. Aku bawa ke sini, ya!"


"Eh, nggak usah, Mas," ucap Bapak mencegah Mas Aiman.


"Iya, Mas. Nggak usah," tambahku.


"Basir, besok Devi sama Rehan harus sekolah. Kamu pulang dulu saja," ucap Budhe Alya menyuruh Bapak pulang.


"Ini belum selesai, Mbak."


"Biarkan saja. Aku habis ini juga mau pulang."


"Iya, Pak. Ayo kita pulang saja," lirih Rehan.


Sempat kulihat Bapak yang tampak ragu, dia melirik ke arah Budhe Dewi yang terdiam.

__ADS_1


"Sudah, Sir. Jangan terlalu baik, bisa-bisa yang kamu tolong malah ngelunjak. Segera pulang! Ini buat Devi dan Rehan." Budhe Alya menyelipkan dua lembar ke genggamanku. Setelah ini aku, Bapak, dan Rehan segera pulang.


__ADS_2