Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Bakso atau Mie Ayam?


__ADS_3

"Ini mau selesai?" tanyaku saat berangsur pelan dan bianglala yang kunaiki berada di bawah.


"Kayaknya, kita udah putar berkali-kali," jawab Alwi.


Syukurlah kalau begitu, bisa-bisanya jika terus berputar kepalaku semakin pusing. Rehan turun terlebih dahulu ketika petugas membuka bianglala. Alwi memegang tanganku, mungkin aku terlihat ketakutan sekali kali ini.


"Nggak usah, Al. Aku bisa sendiri," tolakku.


"Wajahmu pucat, tanganmu dingin juga. Kamu takut beneran?" Aku hanya tertawa.


"Sedikit pusing, Al."


"Ya udah, kita ikut mama papa sama bapakmu, yuk!"


"Rehan mana?" Tidak kuketahui keberadaan anak kecil yang justru begitu bahagia saat aku lemah seperti ini.


"Dia tadi udah nyusul kayaknya."


Aku dan Alwi berjalan menuju salah satu tenda yang menjadi stand warung mie ayam dan bakso. Begitu tiba di sana, tampak mama papa Alwi dan Bapak yang sedang berbincang-bincang dengan lesehan. Ada juga Rehan di sana, dia sedang menikmati es.


"Gimana, seru?" tanya Bu Salma.


"Seru apaan, Ma? Ini Devi malah kayak orang mabuk!" protes Alwi.


"Ya Allah, ayo duduk di sini. Kalian mau mie ayam atau bakso?"


Alwi mengajakku duduk di dekat Rehan. Meskipun tubuhku sedang terasa kurang enak karena baru saja turun dari bianglala, kalau ditawarkan dengan dua makanan itu, mana bisa aku tolak.


"Aku bakso aja, Ma."


"Mbak Devi apa? Jangan sungkan, Dek Rehan juga sudah pesan, kok."


Siapa juga yang sungkan hehehe. Aku hanya bingung untuk memutuskan pilihan. Mie ayam enak, kuahnya juga membuat ketagihan. Tapi, bakso juga enak, cocok sekali menyeruput kuahnya saat kondisi seperti ini.


"Kamu pusing? Nggak mau makan?" tanya Alwi.


"Nggak, kok. Aku mie ayam aja, Bu."


"Oke. Minumnya mau teh hangat?" tawar Bu Salma.


"Es jeruk!" jawabku dan Alwi kompak."


"Oh, lucu banget. Kenapa bisa kompak gitu?" Bapak dan Pak Hendra juga tertawa.


"Saking semangatnya kita kali, ya, Dev. Jadi barengan gitu," lirih Alwi.


"Tapi kamu emang suka es jeruk?" tanyaku.


"Aku suka semuanya, sih. Selama ada esnya pasti segar."


"Oh, begitu."

__ADS_1


Alwi kemudian mengeluarkan handphonenya. Kutebak dia sedang berkirim pesan dengan Nindi. Dia terus saja tersenyum malu. Sesaat kemudian tampak panggilan datang dari gadis itu.


"Aku habis baik bianglala sama sahabatmu. Dia tapi cemen, gitu aja masuk angin," ucap Alwi kepada Nindi.


"Cuma pusing sedikit, lho!" protesku.


Suara Nindi terdengar, Alwi me-loud speaker panggilannya.


"Kenapa kalian nggak ngajak aku?"


"Kita nggak sengaja ketemu tadi, ada mama papa sama adik dan bapaknya Devi juga, kok. Kamu jangan cemburu," ucap Alwi.


"Selama sama Devi kamu aman, Al. Aku nggak akan marah!"


"Kapan-kapan, deh aku ajak kamu ke sini."


"Sama Devi?"


"Berdua, dong. Biar romantis.


"Kalau ke pasar malam, aku maunya sama Devi. Nggak ada Devi, nggak mau!"


"Hm ... iya, iya, sama Devi. Tapi kapan-kapan aja, ya."


Aku tersenyum, bisa-bisanya Nindi mengatakan hal itu. Apakah dia tidak berpikir jika nantinya aku akan menjadi obat nyamuk?


Tidak lama kemudian pesanan yang diminta tadi datang. Mie ayam di depanku siap untuk dinikmati, ternyata Rehan juga memesan mie ayam seperti. Setelah memberi sedikit pelengkap berupa sambal, saus, dan kecap, kuaduk mie ayamku. Tiba-tiba aroma bakso milik Alwi menyeruak, aku juga menginginkannya. Mungkin inilah definisi rumput tetangga selalu terlihat lebih segar.


"Eh, nggak, kok."


"Kamu pasti ngiler lihat baksoku, kan? Hm, enak banget baksonya."


Dasar Alwi, tahu saja kalau aku sedang menginginkan baksonya. Beberapa suapan mie sudah kulahap. Aku menyerbu es jeruk, hingga tak terasa tersisa setengahnya. Yah, jika menuruti keinginan, segelas es pasti kurang.


"Makanya kalau makan jangan sambil minum, tinggal sedikit, kan?"


Aku hanya tersenyum mendengar komentar Alwi. Dia seperti bisa membaca pikiranku saja. Mungkin dia menerka dari gerak-gerikku yang kecewa dengan es jeruk yang tersisa.


"Nambah sambal lagi?" tanya Alwi begitu aku mengambil sesendok sambal, yang tadi kurang nendang rasanya.


"Sedikit aja, Al."


"Cewek selalu lebih kuat kalau makan makanan pedas. Aku satu sendok aja udah nggak kuat," ucap Alwi.


"Iya, Mas. Aku juga gitu, makan pedas sedikit langsung perutku sakit," sergah Rehan, si anak dengan perut sensitif.


"Awas, lho, Dev. Jangan makan sambal banyak-banyak, kasihan perutmu," ucap Alwi kepadaku.


"Sedikit aja, Al."


"Itu udah bukan sedikit lagi, itu banyak banget."

__ADS_1


"Iya, iya. Lain kali nggak banyak-banyak lagi." Kulanjutkan aktivitas makanku, Alwi dan Rehan juga sibuk dengan makanan masing-masing. Bapak, Pak Herman, dan Bu Salma pun juga terlihat sibuk, aku tidak tahu apa yang sedang mereka bahas.


"PR-mu udah, Dev?" tanya Alwi di sela-sela makan.


"PR apa?"


"IPA."


"Udah, aku kerjain di kelas waktu itu."


"Sip, aku juga udah. Sama Nindi waktu itu."


"Sekarang jadi ketularan rajin semenjak pacaran sama Nindi," godaku.


"Lah, itu bonusnya. Bahagia banget, deh, bisa dapatin Nindi."


"Ya, kamu sangat beruntung."


"Kamu nggak lagi dekat sama siapa-siapa, kan, Dev?" tanya Alwi.


"Lagi dekat sama kamu, kan?" jawabku meledek.


"Gimana maksudnya?"


"Ya, kan sekarang aku ada di samping kamu."


"Iya juga, sih. Maksudku kamu dekat sama cowok lain nggak?"


"Nggak ada!"


"Mbak Devi sama Mas Alwi cerewet banget, dari tadi makan sambil ngobrol terus!" protes Rehan yang mungkin merasa terganggu dengan perbincanganku dan Alwi.


"Kamu tinggal makan aja apa susahnya, sih? Anggap aja lagi dengar radio," tukasku.


"Radio rombeng, suara Mbak jelek!"


"Eh, Rehan kalau ngomong suka bener." Alwi tertawa, aku memilih untuk tidak menganggapinya.


***


Rasanya puas sekali bisa makan mie ayam dengan sambal hingga menangis. Kuusap wajah yang penuh keringat dengan tisu. Alwi sepertinya heran melihatku seperti orang yang sedang bersedih.


"Kayak gitu mau diterusin aja makan sambalnya. Mau es lagi?" Kulirik gelas Alwi yang masih berisi cukup banyak di sana. Oh, aku masih punya rasa sungkan, dipikir aku gadis murahan yang mau menerima minuman sisanya?


"Nggak, Al." Aku masih mengibas mulut dengan tanganku.


"Ma, minta es satu lagi buat Devi, boleh? Kasihan, dia nangis kepedasan."


Seketika Bapak, Pak Herman, dan Bu Salma melihatku. Mereka kemudian tertawa kecil karena melihat tingkahku. Aku berusaha tersenyum, ingin rasanya aku berteriak, pedas sekali!


"Ya Allah, kasihan banget. Iya, minta satu lagi. Eh, kalau kamu sama Dek Rehan mau nambah juga gak papa," ucap Bu Salma.

__ADS_1


Alwi kemudian berdiri dan menghampiri penjual. Baik sekali keluarga Alwi.


__ADS_2