Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Alwi Nebeng


__ADS_3

"Gara-gara Mbak Devi aku jadi ikutan berangkat pagi."


Kulirik Rehan sekilas yang masih sibuk menali sepatunya. Pagi ini mungkin dia sangat kesal kepadaku. Ya, dia harus berangkat pagi karena Bapak harus mengantarku ke rumah Alwi juga. Memang dasar si Rehan, padahal dia bisa juga berangkat sekolah dengan jalan kaki. Bukankah itu lebih baik daripada ikut berangkat pagi bersamaku namun dengan perasaan dongkol?


"Lho, itu apa, Pak?" tanyaku begitu Bapak membawa tas dengan beban lumayan berat.


"Isinya ayam buat Pak Herman."


"Bapak bawain berapa ekor?"


"Dua ekor. Ini sama pakannya juga." Bapak mengambil sebuah kantong berisi dedak dan vitamin ayam.


"Bau, Pak." Rehan protes, dia menutup hidungnya.


"Dari tadi cerewet terus si Rehan ini!"


"Jangan berantem, sudah siap semua, kan?" Aku mengangguk.


"Ayo berangkat sekarang."


Tadi sewaktu keluar dari kamar jam baru menunjukkan pukul enam lebih sepuluh menit. Masih terlalu pagi menurutku, apalagi bagi Rehan yang terbiasa berangkat mendekatik waktu masuk. Ya, Bapak harus mengambil ayam setelah mengantarku, makanya kami berangkat sangat awal.


Perlahan Bapak melajukan motor dan menembus pagi yang masih berkabut. Tak butuh waktu lama, akhirnya tibad di tempat tujuan pertama yaitu sekolah Rehan. Ah, kasihan adikku itu, sekolahnya masih begitu sepi.


"Masuk, Re!" Aku menyuruhnya untuk masuk dulu.


"Nunggu ada teman dulu, Mbak. Aku takut di dalam sendiri," jawabnya.


"Kamu takut apa, sih, Re? Nggak ada apa-apa."


"Ya nggak papa, Mbak. Udah, Bapak sama Mbak Devi buruan pergi aja!" Wah, padahal tujuan Bapak tidak segera pergi agar bisa memastikan Rehan tidak berada di tepi jalan, tapi justru dia masih ingin menunggu temannya.


"Ya sudah, Le. Bapak sama Mbak Devi lanjut lagi, mau ke rumah Pak Herman. Belajar yang rajin, ya?" Bapak mengulurkan tangan kepada Rehan. Rehan mengangguk dan mencium punggung tangan Bapak.


"Lho, dicium juga, dong!" protesku ketika Rehan hanya menjabat tanpa mencium tanganku.


"Nggak, tangan Mbak Devi bau bawang." Aku tertawa kemudian melambaikan tangan ke arah Rehan. Hmmm, dia tidak membalas lambaian tanganku. Dasar adik cuek!


Lokasi selanjutnya adalah rumah Alwi. Bapak langsung meninggalkan aku begitu saja setibanya di depan rumah tersebut. Belum juga aku mengucap salam, Pak Herman muncul dari dalam rumah.


"Mbak Devi sudah datang, ayo masuk!"


"Eh, assalamualaikum, Pak!" Segera kuhampiri Pak Herman tak lupa mencium tangannya.


"Waalaikum salam. Ayo duduk dulu, Alwi masih mandi kayaknya. Mas Alwi, dicariin Mbak Devi!" Pak Herman berteriak dengan mengarahkan suaranya ke dalam rumah.


"Iya, Pa. Pagi-pagi udah teriak-teriak aja. Sebentar, Mbak Devi!"


"Aneh, padahal dia sendiri juga teriak-teriak, ya, Mbak." Pak Herman menggelengkan kepalanya mengomentari ucapan Bu Salma.


"Duluan, ya, Mbak. Hari ini harus berangkat pagi." Aku mengangguk, motor yang biasanya dibawa Alwi ke sekolah hendak dikendarai oleh Pak Herman.


Tak berselang lama setelah Pak Herman Pergi, Alwi datang dari balik pintu namun hanya menyembulkan kepalanya.


"Eh, ada apa, Al?" tanyaku yang sedikit terkejut.


"Papa tadi bawa motorku, ya?"


"Iya. Kenapa?"

__ADS_1


"Yaah, Papa kenapa malah bawa motorku, masa iya aku bawa motornya Mama." Alwi tampak kesal dengan Pak Herman yang sudah berhasil membawa motonya pergi.


"Ma, kenapa dibawa beneran, sih?" Alwi memrotes, ternyata Bu Salma datang dengan membawa nampan berisi susu dan setoples biskuit.


"Ya, Mama nggak tahu. Bukannya kemarin sudah bilang ke kamu? Sambil ngemil dulu, Mbak." Bu Salma menaruhnya di atas meja yang berada tepat di depanku.


"Bilang, tapi aku kan nggak kasih izin. Terus Alwi gimana berangkat sekolahnya?" rengek Alwi pada Bu Salma.


"Boncengan sama Mbak Devi?" tanya Bu Salma seolah meminta persetujuan dariku.


"Em, boleh saja, sih, Bu," ujarku. Akan tetapi, terlihat Alwi yang berdecak dengan memasang ekspresi kesal.


"Atau mau pakai sepeda Mama? Eh, nggak bisa tapi. Nanti jam sembilan ada acara posyandu. Udah, sama Mbak Devi aja."


"Ya udah, tunggu, ya, Dev!"


"Iya."


"Maaf, ya, Mbak harus direpotin. Mana belum pakai seragam, tunggu sebentar. Ibu ke dapur dulu, ya."


"Iya, Bu. Eh, Bu, ini ada titipan dari Bapak."


"Apa, Mbak?"


"Ayam sama pakannya." Bu Salma mengambil karung berisi ayam yang semula kupegang.


"Aduh, ini gara-gara si Papa. Pasti Pak Basir kepikiran. Harganya berapa, Mbak?"


"Kata Bapak biar dimasak aja, Bu."


"Aduh, jangan. Ini barang dagangan. Nanti Ibu kasih uangnya."


"Ya udah. Titip salam buat Pak Basir, bilangin terima kasih, ya, Mbak."


"Iya, Bu.


"Ya udah, ini Ibu ke dapur lagi, ya."


Aku mengambil satu biskuit dan mencelupkan ke susu yang diberikan Bu Salma tadi. Enak! tapi aku yang merasa tidak enak hati. Sambil menunggu Alwi, aku sibuk mengamati bunga-bunga kecil yang menghiasi pekarangan Bu Salma. Sebenarnya aku sering menemukan bunga-bunga itu di rumah para tetangga. Akan tetapi, kondisinya tidak begitu terawat sehingga tidak menarik. Bu Salma dan Pak Herman pasti sangat rajin menyiram dan merawatnya.


Ada tapak dara, bunga pukul empat, matahari, mawar, bunga kertas, dan bunga kerokot. Gemas sekali, bunga-bunga yang masing-masing ditanam dalam pot menandakan jika si pemilik benar-benar dalam merawatnya. Hmm, rasanya ingin kuculik salah satunya.


"Mbak, ini nanti buat Mbak Devi. Mas Alwi sudah Ibu kasih sendiri." Bu Salma meletakkan sesuatu dalam kantong plastik di atas meja.


"Lho, apa itu, Bu?" tanyaku seraya menghampiri Bu Salma.


"Nasi goreng. Dimakan, ya."


"Kenapa repot-repot, sih, Bu?"


"Nggak repot. Mbak Devi lihat-lihat bunga emangnya mau?"


Firasatku sudah tidak enak, pasti setelah ini Bu Salma menawariku untuk membawa salah satunya untuk pulang. Bukan ke-PD-an, tapi menurut pengalaman sebelumnya, kurasa hal itu akan terjadi.


"Suka aja lihatnya, Bu," jawabku.


"Nanti pulang sekolah Ibu bawakan. Mau apa aja?" Nah, kan.


"Nggak usah, Bu.

__ADS_1


"Nggak papa."


Aku maklum jika keluarga Alwi begitu baik kepada keluargaku. Dulu memang Pak Herman dan Bapak sempat satu sekolah dan menjadi teman bermain. Untuk lebih pastinya aku kurang tahu, yang jelas hanya itu yang kutahu.


"Ayo masukin ke tas, Mbak!" Bu Salma menghampiriku dan membuka tas punggungku yang isinya sudah penuh dengan buku.


"Udah gak muat, bawa aja, ya, Mbak."


"Iya, Bu. Terima kasih."


"Susunya dihabisin. Mas Alwi juga sudah minum, kok, tadi. Biar lebih bertenaga."


"Iya, Bu. Nanti pasti aku habisin. Ibu sudah selesai masaknya?" tanyaku begitu Bu Salma duduk di kursi.


"Sudah, tinggal nyuci piring. Masih malas."


"Ma, Alwi berangkat dulu, ya!" Alwi keluar rumah dengan kondisi sudah rapi, hanya belum memakai sepatu saja.


"Iya, hati-hati. Bekalnya sudah masuk di tas, ya."


"Oke, Mama. Terima kasih." Alwi mencium kedua pipi Bu Salma dengan bergantian. Aku pun ingin melakukan hal yang sama andai saja Ibu masih ada.


"Dev, ayo! Kenapa bengong?" tanya Alwi mengagetkanku.


"Eh, iya. Saya pamit dulu, Bu." Aku menjabat tangan Bu Salma.


"Iya, nanti pulang sekolah ingatin Mama, ya, Mas. Mbak Devi mau Mama kasih bunga."


"Oke, Ma."


"Kuncinya masih nyangkut di motor, Al."


"Lho, aku yang nyetir?" tanya Alwi sembari memasangkan sepatu di kakinya.


"Ya kali cewek bonceng cowok. Kamu lah, Mas." Alwi meringis mendengar komentar mamanya.


Alwi berjalan untuk mengeluarkan motor dari garasi. Aku mengambil gelas yang masih berisi sedikit susu tadi. Aku sedikit sungkan, Bu Salma seolah mengawasiku agar minuman itu kuhabiskan.


"Nah, bagus kalau dihabiskan."


"Iya, Bu, hehehe."


"Ayo naik, Dev!"


"Nyalain dulu, Al. Starternya nggak bisa!"


Sengaja aku ingin mengerjai Alwi. Aku yakin dia tidak bisa menyalakan motorku. Ya, motor itu tidak bisa ramah di beberapa orang.


"Susah, Dev. Kamu gini setiap hari?" tanya Alwi.


"Laki-laki gak bisa gitu? Lemah!" ledek Bu Salma.


"Susah, lho, Ma."


Alwi menjauh dari motorku dan menyerahkan keluhannya tadi. Hmm, untung saja motorku penurut. Sekali saja aku mencoba langsung menyala.


"Ayo, Al." Kini aku yang menyerahkan motor kepada Alwi agar dia yang mengendarainya.


"Hati-hati, ya."

__ADS_1


"Berangkat dulu, Bu. Assalamualaikum."


__ADS_2