Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Rencana Beli Tas


__ADS_3

Rehan berlari mendahuluiku begitu tiba di depan rumah. Dia sangat bahagia dan katanya tadi ingin bercerita dengan Bapak mengenai pengalaman pertamanya berjualan. Aku juga berspekulasi lain, sepertinya Rehan juga ingin menagih tas yang dijanjikan Bapak.


"Nanti malam, ya, Pak!" Rehan tampak bergelayut di lengan Bapak. Tebakanku sepertinya benar.


"Ada apa, Re?"


"Ngajak Bapak beli tas."


"Aduh, Re. Besok-besok aja kenapa? Hari Minggu kita ke pasar," saranku.


"Kelamaan, Mbak. Kata temenku ada pasar malam di lapangan kecamatan. Banyak permainan juga di sana, aku mau ngajak Bapak ke sana," jelas Rehan.


"Modus! Kamu nanti malah minta yang lain-lain kalau ke pasar malam." Aku duduk dan meneguk segelas air yang sangat menolong rasa hausku.


"Iya, nanti malam kita berangkat." Aku berdecak, Bapak selalu membuat Rehan meledekku. Ya, Bapak lebih memihak Rehan dan bertolak belakang dengan saran dariku.


"Bapak, kok, gitu? Nanti Rehan tuman, lho!"


"Sesekali nggak papa, Nduk, mumpung Bapak ada uang. Kamu mau sekalian beli juga?" Aku menggeleng menjawab tawaran dari Bapak.


"Tuh, Mbak! Bapak itu juga jarang-jarang bisa nuruti kemauan kita. Habis Magrib, ya, Pak?" Bapak mengangguk-angguk.


Sudah pasti adikku itu senang sekali. Dari dulu barang itu selalu dimintanya.


"Sebentar lagi Magrib, siap-siap wudu habis itu sambil nunggu azan kalian ngaji," ucap Bapak.


"Setelah salat, langsung berangkat!" seru Rehan.


"Iya, makanya segera wudu!"


Aku, Bapak, dan Rehan berkumpul di ruangan yang biasa digunakan untuk berjamaah. Rehan mengaji dan disimak oleh Bapak. Sementara itu, aku duduk bersila di samping mereka sembari mengulang bacaan Alquran yang sudah disimak Bapak tempo hari. Bapak adalah guru mengajiku.


Dulu sebenarnya sempat aku ikut mengaji di TPQ dekat rumah yang memang sebagian besar siswanya adalah anak-anak yang masih satu desa. Hanya saja waktu itu bacaanku masih belum lancar hingga terkadang ragu-ragu dan grogi ketika disimak oleh pengajar. Aku yang waktu itu terkenal biang gaduh seketika benar-benar merasa malu dan cukup trauma.


"Gimana bacanya? Nggak kedengeran! Biasanya juga kalau teriak-teriak sampai mau putus uratnya. Giliran ngaji kayak angin!" kata pengajarku yang sering kuingat sampai saat ini.


Setelah kejadian itu aku mogok mengaji lebih dari dua minggu. Sialnya, begitu aku masuk kembali untuk mengaji, ada donatur yang ingin memberikan seragam kepada para siswa TPQ. Aku baru tiba di halaman masjid yang menjadi tempat digunakan untuk mengaji, tiba-tiba temanku memberondongku dengan berbagai sindiran.

__ADS_1


"Lama banget nggak masuk, Dev? Oh, mungkin kamu tahu kalau hari ini ada pengukuran baju seragam, makanya kamu datang, ya?"


"Nggak, kok. Aku emang niat mau mengaji."


"Halah, jujur aja! Kamu itu udah nggak boleh lagi ngaji di sini. Udah lama nggak ngaji, tiba-tiba datang pas mau dapat seragam. Hush! pulang sana!"


Jelas sekali suara tawa renyah dari teman-teman lainnya. Sungguh saat itu hatiku begitu teriris, akhirnya aku memilih pulang dengan rasa kecewa. Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi berminat untuk ikut mengaji di TPQ. Begitu juga dengan Rehan, dia selalu menjadi pengikutiku. Meskipun waktu itu dia tidak melihatku secara langsung, tapi dia benar-benar merasa trauma jika disuruh mengaji. Aku tidak mau kayak Mbak Devi. Nanti nggak boleh ikut ngaji, begitu katanya.


"Mbak, kok, bengong?" Pikiran yang sudah menerawang jauh terbuyarkan oleh ucapan Rehan.


"Eh. Sudah selesai kamu?" Rehan menggeser tubuhnya dan mempersilahkanku untuk duduk di hadapan Bapak.


"Ayo, taawuz dulu!" perintah Bapak kepadaku.


Aku mulai membaca taawuz dan melanjutkannya bacaan mengaji sebelumnya. Sesekali Bapak mengoreksi bacaanku dan memberi tahu pelafalan yang tepat. Bapak orang yang hebat, Bapak bilang jika dulu beliau pernah menimba ilmu di pesantren meskipun hanya beberapa tahun.


Bapak sebenarnya sangat betah jika di pesantren, tapi karena waktu itu Nenek sedang sibuk di rumah, Bapak diminta untuk pulang dan berhenti mondok. Beberapa hal yang pernah diajar di pondok perlahan hilang dari pikiran Bapak karena terlalu sibuk dengan urusan kehidupan. Bapak sangat menyayangkan hal itu. Dari pengalaman itulah Bapak memintaku untuk masuk pesantren, kata beliau agar mendapat keberkahan hidup di pondok.


"Shodaqallahulazim"


"Aku, Pak?" Bapak mengangguk. Kembali kubuka Alquran tepat pada bagian yang sudah ditandai dengan pita warna biru.


"Yang ini, Pak?" tanyaku sembari menunjuk ayat kumaksud.


"Iya, coba dibaca."


"وَاِ ذْ تَاَ ذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَاَ زِيْدَنَّـكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَا بِيْ لَشَدِيْدٌ"


"Artinya?" tanya Bapak kepadaku. Aku melirik Rehan, dia yang memiliki Alquran dengan terjemahan.


"Aku, Mbak?" Aku gemas, aku mendekat ke arah Rehan dan membantunya untuk mencari.


"Nah, ini ketemu! Kamu yang baca artinya!" perintahku pada Rehan.


"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat."


"Ayat ini mengajarkan kita untuk selalu bersyukur, ya, Nduk, Le. Apapun yang kita dapatkan, berapa pun rizki yang kita miliki harus selalu kita syukuri. Kita memiliki ilmu, kalian tahu bagaimana cara mensyukurinya?" Aku dan Rehan kompak menggeleng.

__ADS_1


"Ilmu itu termasuk rizki, kita berterima kasih kepada Allah atas ilmu yang telah diberikan caranya yaitu dengan belajar dan mengamalkannya."


"Kalau diberi badan yang sehat itu termasuk rizki bukan, Pak?" tanya Rehan.


"Pasti! Kemarin Mbak Devi waktu sakit rasanya gimana?" Bapak menanyaiku.


"Nggak enak, dong, Pak! Makanan seenak apapun gak ada rasanya," jawabku.


"Makanya, kita punya tubuh yang sehat harus selalu bersyukur. Caranya bagaimana?" Pancing Bapak lagi.


"Nah, aku pernah belajar kalau ini di pelajar tematik," cetuk Rehan.


"Gimana, Re?" tanyaku.


"Dengan memakan makanan bergizi, rajin berolahraga, dan mengistirahatkan badan dan pikiran."


"Betul sekali!" seru Bapak.


"Dan, jalan-jalan itu termasuk mengistirahatkan badan, nggak, sih, Pak?" Rehan tersenyum.


"Maksudmu gimana, Re?"


"Kan, kalau kita jalan-jalan tubuh jadi lebih rileks. Jadinya tubuh segar kembali."


"Bener!"


"Nah, itu artinya habis ini kita harus segera pergi ke pasar malam, ya, Pak?" Wah, Rehan bisa saja.


"Kamu nggak sabaran banget, sih, Re!"


"Iya, dong, Mbak. Kan, mau beli tas baru."


"Ya, sebentar lagi azan. Jangan gaduh! Dengarkan azan dan jawab setiap kalimatnya, Bapak dulu pernah mengajarkan. Kalian masih ingat, kan?"


Aku dan Rehan mengangguk. Beruntung sekali memiliki orang tua seperti Bapak. Beliau bagiku lebih dari cukup. Terkadang aku terharu, hal-hal yang terlihat sederhana pun selalu beliau ingatkan.


Azan mulai berkumandang. Aku, Bapak, dan Rehan duduk dengan tenang. Ketika azan berhenti, kami segera mendirikan salat Magrib dan bersiap untuk pergi ke pasar malam.

__ADS_1


__ADS_2