Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Membuat Zaki Jera


__ADS_3

Alwi menyerobot kertas 'surat cinta' yang tengah kubaca. Sejenak ia tampak membaca dengan tersenyum remeh. Alwi melirikku sekilas kemudian merobek kertas itu. Aku tidak keberatan, toh, itu bukan sesuatu yang berharga bagiku.


"Kok, nggak marah?" tanya Alwi kepadaku.


"Marah kenapa?"


"Kertasmu."


"Nggak penting, sobek aja!"


"Kok, kalian nggak menghargai pemberian orang?" omel Nindi yang berbeda pemikiran denganku dan Alwi.


"Bukannya gitu, Nin. Kita udah menghargai, kok. Semua yang dikasih Alwi kita makan. Aku itu cuma nggak mau kalau Zaki PDKT sama Devi. Zaki itu bukan anak baik, dia suka main perempuan," jelas Alwi.


"Terus rencana kalian apa?" Nindi penasaran.


"Nggak ada, sih. Ya, kalau dia ngasih sesuatu diterima aja. Tapi kalau dia nembak nggak usah diterima." Alwi tertawa.


"Terus kalau dia masing ngejar-ngejar Devi gimana?"


"Aku yang maju. Pokoknya jangan sampai Devi jatuh ke perangkap orang jahat itu," ucap Alwi begitu tegas. Aku rindu dengan Alwi yang dulu selalu bersikap seolah melindungiku. Dan, saat ini ucapannya tersebut membuat rinduku sedikit terobati.


"Masa iya si Zaki jahat?" tanya Oliv.


"Perasaan dia baik, deh. Dia tadi juga ngasih kita cokelat." Dila menunjukkan cokelat batangan di tangan kirinya.


"Wah, kalian juga pasti jadi incarannya. Dia emang suka pacaran sama banyak cewek. Nggak cukup satu!" tegas Alwi.


"Kok, ngeri, sih! Dia bilang nanti waktu istirahat mau ke sini, mau nemuin Devi."


Aku berdecak heran mendengar berita buruk dari Dila. Ternyata Zaki belum menyerah juga. Sebenarnya apa yang dia inginkan dariku? Padahal perempuan di luar sana banyak yang jauh lebih cantik dan menarik dariku.


"Biarin aja, kamu nanti coba temuin dia. Tanyain apa yang dia mau. Sekiranya kamu terancam, panggil aku atau Nindi, ya. Kamu jangan sungkan-sungkan buat minta tolong, Dev." Aku menatap Nindi, ia mengangguk setuju dengan ucapan Alwi.


"Oke, terima kasih. Kalian baik sekali," gumamku.


"Kalau kamu bukan temanku, mana mungkin mau nolong kamu, Dev!"


"Iya, iya, Al!"

__ADS_1


****


Di waktu istirahat Alwi melarangku untuk keluar kelas. Dia menawarkan kepadaku jika ingin menitip makanan di kantin. Larangan itu bukan tanpa alasan, Alwi memintaku agar bersiap jika nanti Zaki datang.


Setelah menyebutkan pesenanku, Alwi dan Nindi berpamitan untuk ke kantin. Selain menolongku, sebenarnya itu juga menjadi modus agar mereka bisa ke kantin berduaan. Ah, cerdik sekali dua orang itu!


Aku duduk di bangku dengan perasaan tidak tenang. Sesekali aku berdiri, menengok luar kelas dari kaca jendela. Zaki belum juga terlihat, atau mungkin dia tidak jadi ke sini.


"Devi, ada yang nyariin kamu," ucap Firman yang baru tiba di kelas.


"Siapa, Fir?"


"Zaki."


Aku buru-buru keluar kelas untuk menghampiri Zaki. Aku sempat menyisir bagian depan kelas untuk mencari keberadaan lelaki itu. Aku menemukannya di bangku cor-coran permanen yang berada di depan kelas. Zaki tampak tersenyum ketiak ia menyadari aku menatapnya.


"Kamu berani juga ketemu sama aku," ucap Alwi menghampiriku terlebih dahulu.


"Ada apa? Kamu sendiri?" tanyaku basa-basi.


"Fatih nggak masuk, jadi aku ke sini sendiri."


"Mau tanya yang kemarin? Mau jadi pacarku, nggak?"


"Aduh, kamu mau tanya persoalan nggak penting itu?"


"Nggak penting? Justru ini penting banget, Dev. Kamu nggak mau jadi pacarku beneran?"


"Nggak, Zak. Maaf!"


"Kenapa? Pasti kamu dengar kalau aku punya banyak pacar, kan? Iya, emang benar. Tapi aku kalau udah dapat kamu nggak bakal main perempuan lain," ucap Zaki memohon. Akan tetapi, aku tidak bisa mempercayainya begitu saja.


"Aku nggak percaya, kalaupun kamu serius, aku juga nggak mau. Bapakku melarang aku pacaran."


"Jangan bilang bapakmu kalau pacaran, diam-diam saja," lirih Zaki.


"Ini udah nggak bener, kamu ngajak aku pacaran itu aja udah termasuk perbuatan dosa, lho. Apakah kamu ngajarin aku buat bohong. Maaf, Zak, kamu bukan tipeku!" tegasku supaya lelaki itu mundur.


"Baru kali ini ditolak cewek. Oke, lagian banyak perempuan di luar sana yang mau sama aku."

__ADS_1


"Ya udah, cari aja yang mau menerima kamu apa adanya." Rasa ingin memukul lelaki itu begitu tinggi.


"Dasar cewek dekil, jelek, bau! Kalau aja bukan karena taruhan, nggak mungkinlah aku mau kejar-kejar kamu. Jijik banget!" Well, jika ungkapan kurang baik itu dapat membuat Zaki merasa puas, aku persilahkan!


"Eh, ada yang seru, nih? Ada apa, Zak? Kok, masih ke sini?"


Aku menoleh ke belakang, ada Alwi dan Nindi yang baru datang dari kantin. Rasanya sedikit tenang, setidaknya ada yang akan membelaku jika Zaki tiba-tiba melakukan sesuatu.


"Berani-beraninya bawa pasukan. Dasar lemah!" Zaki meledekku.


"Kalau berani jangan sama perempuan, Zak. Itu nggak adil namanya. Kalau mau, ayo kelahi sama aku!" tantang Alwi yang sepertinya sudah emosi hingga ubun-ubun.


"Malas kalau berhadapan sama kayak gini. Santai aja, Al. Habis ini gak bakal ganggu Devi lagi, najis!"


"Bilang sekali lagi! Aku nggak masalah masuk BK asal bisa nonjok wajah kamu!" bentak Alwi yang membuatnya menjadi pusat perhatian. Aku yakin, nyali Zaki saat ini sedang teruji.


"Tenang, Al, tenang. Jangan main kasar! Oke, aku pergi!"


Zaki kembali ke kelasnya dengan membawa kekalahan. Aku berharap setelah ini dia benar-benar sudah jera dan tidak lagi menggangguku. Nindi masih merengkuhku, mungkin ia kira jika aku sedang ketakutan. Amarah Alwi tadi memang benar-benar mengerikan.


"Ayo masuk!" Alwi terlebih dahulu masuk ke kelas, aku dan Nindi mengikutinya dari belakang.


"Gimana udah lega, kan?" tanya Nindi.


"Alhamdulillah, udah baik."


"Tuh, Dev, jangan mudah percaya kalau ada orang suka sama kamu. Mereka itu tidak tulus, mau memanfaatkan kamu aja," celetuk Alwi begitu aku berada di bangkuku.


"Kayaknya aku memang nggak boleh bahagia, Al. Buktinya Zaki ngejar-ngejar aku cuma buat memang taruhan."


"Itulah, Dev. Jangan mudah percaya sama orang lain. Kamu tahu apa artinya?" tanya Alwi, aku hanya menggeleng. Alwi juga tampak memberi kode Nindi untuk menjawabnya, tapi gadis itu juga sepertinya sama denganku.


"Itu artinya Devi disuruh fokus belajar, jangan cari cowok dulu," ujar Alwi kemudian tertawa.


"Dari kemarin aku terus yang kamu nasihati. Sekali-kali kamu nasihati Nindi juga, jangan pilih kasih! Dia nggak boleh pacaran juga!" protesku membuat Alwi dan Nindi saling tatap.


"Lho, kalau nanti Nindi putusin cowoknya, kasian cowoknya, lah! Iya, kan, Nin?" Alwi tersenyum menaik-turunkan alisnya. Hm, bisa-bisanya dia.


"Itu alasan kamu aja, Al. Itu curang namanya. Kalian nggak boleh pacaran juga!" ucapku yang sudah geram. Keduanya hanya tertawa.

__ADS_1


__ADS_2