
"Wangi banget, ya. Siapa yang pakai parfum pagi-pagi?"
Aku hanya tersenyum ketika Rehan menyadari aroma minyak wangi yang kutinggalkan. Mungkin beberapa hari ke depan, benda cair yang kubeli beberapa bulan lalu dan jarang kugunakan tersebut akan sedikit berfungsi.
"Aku sebenarnya cantik nggak, sih, Re?" tanyaku pada Rehan seraya kedua tangan memegang pipi.
"Kenapa tanya gitu, Mbak?"
"Ya nggak papa, sih. Cuma tanya."
"Ibu pernah bilang, semua perempuan itu cantik. Masa Mbak lupa?"
"Iya, Re. Bapak ke mana, Re?"
"Tadi katanya mau ke sawah sebentar."
"Ya udah, aku berangkat dulu. Itu nasi goreng di meja jatahmu sama Bapak, ya."
"Oke, Mbak."
Pagi ini aku begitu bersemangat untuk berangkat sekolah. Kalau saja Alwi memang benar-benar menyukaiku, bukankah itu bagus, berarti rasaku bersambut. Ah, rasanya ingin segera bertemu Alwi.
"Devi, tunggu!"
Dalam perjalanan, kudengar suara yang sangat tidak asing memanggil namaku. Aku sempat menoleh ke sumber suara dan ternyata itu Alwi yang juga tengah mengayuh sepeda. Hmm, dia semakin membuatku senam jantung pagi ini.
"Kamu biasa berangkat jam segini?" tanyaku memulai pembicaraan.
"Iya sekitar jam segini. Soalnya jauh kan jarak ke sekolah," ujarnya.
Rasanya ingin sekali aku memperjelas perihal cokelat yang ia berikan kepadaku. Akan tetapi, rasanya malu-malu sendiri. Jalanan pedesaan di pagi hari masih sangat lengang, aku berada tepat di samping Alwi. Jalan yang sedikit berlubang dan becek membuatku harus berhati-hati. Jangan sampai aku menerjang kubangan air yang nantinya akan merugikan diriku sendiri.
"Emmm ... Alwi!"
"Devi!"
Aduh, kenapa bisa saling memanggil secara bersamaan seperti ini.
"Kamu duluan aja," ucap Alwi.
Aku suka lelaki seperti ini. Bukankah itu tandanya dia menghargai perempuan? Sebenarnya niatku tadi ingin bertanya tentang cokelat itu. Namun, lidahku sudah kelu dan susah untuk memulai mengajukan pertanyaan itu.
"PR-mu sudah selesai?" tanyaku.
"Oh, matematika? Sudah, dong! Sebelum pulang sekolah kemarin aku langsung kerjain," jawabnya.
"Oh, yang kemarin itu?"
"Iya."
Sepertinya waktu yang tepat untuk mengulik masalah cokelat.
"Kamu selain ngerjain tugas ngapain hayo?" godaku berusaha memancingnya.
"Aku? Nggak ngapa-ngapain," ucapnya beriring senyum malu-malu yang tertahan.
"Masa?"
"Iya, habis ngerjain tugas aku pulang sekolah, kan? Sama kamu gitu."
__ADS_1
Baiklah, belum mau mengaku. Nanti saja ketika sampai sekolah, aku akan menginterogasinya.
****
"Kenapa parkir di situ?" tanya Alwi begitu menyadari aku parkir berada jauh dari sepedanya.
Meskipun berangkat pagi, aku sudah berlangganan menaruh sepeda di bagian depan. Tujuannya tidak lain adalah agar mudah untuk mengeluarkannya ketika pulang nanti.
"Biar nggak susah ngeluarinnya," jelasku.
Alwi menghampiriku dan merebut sepedaku. Sepeda berwarna biru tersebut kemudian Alwi tuntun hingga berada di samping sepedanya.
"Tenang aja, nanti aku yang bantu keluarin." Aku hanya mengangguk.
Seperti biasanya, kondisi sekolah masih sangat sepi. Tidak ada guru atau siswa lain kecuali aku dan Alwi. Tampak juga di sisi utara ada tukang kebun yang tengah membersihkan halaman.
"Masih sepi," ucap Alwi pelan.
"Baru juga jam enam seperempat," kilahku.
"Aku mau piket. Ternyata sekarang jadwalku." Alwi mengambil satu sapu di lemari kebersihan.
"Kamu mau nyapu lantai?" tanyaku sedikit meledek.
"Iya, kenapa? Emang gak boleh?"
"Nggak, biasanya anak laki-laki lebih milih hapus papan tulis atau buang sampah, tumben ini mau nyapu."
"Aku sudah biasa nyapu kalau di rumah."
"Oh, begitu. Aku mau ke kamar mandi dulu, Al."
Tidak ada yang mencurigakan, Alwi terlihat masih menyapu lantai. Aku masih mengamati pergerakannya. Dia juga tampak celingukan mengamati sekitar. Alwi kemudian mengambil sesuatu dari tasnya dan benar saja dia menuju bangkuku.
Aku masih menunggu waktu yang tepat, biarkan Alwi kembali pada aktivitasnya. Begitu waktu itu tiba, aku masuk kelas menghampiri bangkuku.
"Ini dari kamu, Al?" tanyaku mengambil bungkusan yang tadi diletakkan Alwi. Nah, temanku itu gelagapan.
"I-iya," jawabnya gugup.
"Kemarin juga dari kamu?"
"Apa?"
"Cokelat," jawabku sedikit tersenyum.
"Kamu tahu?"
"Iya, aku udah makan tadi malam. Makasih, ya!"
"Lho, kamu dikasih Nindi?"
"Nindi?" Aku bingung.
"Iya, aku kasih buat Nindi."
"Lho, bukan buat aku?"
Aduh, sepertinya ada kekeliruan. Aku jadi malu sendiri kalau begini. Mana terlanjur aku makan, terlebih aku terlanjur terbawa perasaan.
__ADS_1
"Nanti aku ganti! beneran!" tegasku panik. Bungkusan yang baru Alwi letakkan kukembalikan padanya.
"Jadi yang kemarin itu bukumu?"
"Aduh, maaf, ya, Al. Aku kira itu beneran kamu kasih ke aku."
"Aku yang minta maaf, Dev. Aku asal naruh aja kemarin," ucap Alwi.
"Beneran, nanti aku ganti cokelatnya."
"Nggak usah, Dev!"
"Pokoknya aku ganti. Aku mau ke kamar mandi dulu," ucapku.
"Lho, tadi bukannya udah di kamar mandi?"
"Perutku sakit, harus ke toilet lagi," jelasku dengan berbohong.
Aku berlari keluar kelas. Koridor sekolah masih sepi dan air mataku mengucur begitu saja. Rasanya aku ingin berteriak memaki diriku sendiri. Bahkan beberapa siswa yang mulai berdatangan tidak kupedulikan. Mereka mungkin heran melihatku yang berlari seraya menangis.
Pintu kamar mandi kubanting dengan keras. Kran air sengaja kunyalakan supayan menyamarkan suara tangisku. Ingin marah, malu, dan yang paling parah rasanya patah hati. Kenapa aku bisa se-percaya diri itu mengira Alwi menyukaiku. Padahal, hal itu sangat mustahil terjadi.
Aku melirik jam di tangan kiriku. Tak terasa sepuluh menit lagi bel berbunyi. Aku belum ingin pergi dari sini. Rasanya dadaku masih sesak sebab terguncang oleh harapku sendiri. Aku membasuh wajahku dengan air, barangkali nanti dapat menghapus sisa tangisku.
"Woi, ada orang nggak, sih, di dalam?" Aku terperanjat saat seseorang mengetuk pintu dari luar. Aku tidak asing dengan suaranya, seperti suara Aryani, teman sekelasku.
"A-ada," jawabku gugup.
"Oh, Devi. Gantian, dong! Dari tadi belum juga selesai?"
Aduh, aku semakin takut. Ketika aku membuka pintu nanti, mungkin akan menjadi bulan-bulanan orang tersebut.
"Udah, kok. Sebentar, ya!"
Aku membuka pintu pelan. Aryani yang sudah berada tepat di hadapan pintu tersenyum sebal ke arahku.
"Kenapa lama banget? Sakit perut?" tanyanya.
"I-iya!"
"Harusnya izin dulu kalau sakit. Matamu juga merah, tuh."
"Maaf, ya, Yan," ucapku.
"Sebenarnya aku cuma mau cuci muka, hihihi." Aryani tertawa kecil.
"Aku duluan, Yan!"
"Kamu tadi dicari Nindi," ucap Aryani.
"Dia nyari aku?"
"Iya. Tadi dikira kamu di kantin."
"Nggak, aku di sini."
"Nanti pulang dulu aja, Dev. Kayaknya kamu beneran nggak sehat. Wajahmu merah juga."
Ragaku sehat saja sebenarnya, tetapi hatiku rasanya sedang terluka, Yan!
__ADS_1