
"Kayaknya enak, tuh!" Dila menunjuk brownies pemberian Syiham tadi. Ah, masalah begini cepat sekali dia menanggapai.
Kuberikan pada Dila dua potong brownies pada Dila dengan syarat agar dia tutup mulut soal Syiham yang bertandang ke sini. Dia mengangguk setuju, semoga saja dia tidak berbohong.
"Selamat pagi, ternyata masih sepi!" Alwi berseru seraya melempar tas yang sepertinya tak berisi ke atas mejanya.
"Devi tidak pernah terkalahkan masalah berangkat paling pagi. Btw, ada keperluan apa si Syiham tadi ke sini?" tanya Alwi seraya mendekatiku. Pertanyaannya berhasil membuatku panik.
"Kenal Syiham?" Aduh, aku malah tanya begini.
"Semua panitia pasti tahu, Dev. Dia paling bandel satu angkatan." Oh, kukira dia tahu soal aku yang sempat satu sekolah dengan Syiham.
"Oh, jadi dikenal lewat jalur nakal, ya?" Aku tertawa, sebenarnya tidak lucu.
"Eh, dia itu dari SD 02, berarti satu sekolah sama kamu, kan, Dev?"
"Eh, iya. Kita dulu satu sekolah."
"Eh, yang di pojokan itu lagi makan apa, sih? Kok nggak bagi-bagi." Haduh, si Dila kurang briefing, harusnya dia berhenti makan ketika Alwi datang.
"Brownies, Al."
"Mau, dong."
"Minta Devi, aku dikasih dia." Healah, percuma sekali tadi meminta Dila untuk tutup mulut. Kenyataannya dia santai saja waktu keceplosan.
"Lho, Devi bawa?" Alwi seperti tidak yakin. Dia mendekati laci mejaku, pasti dia akan melakukan penggeledahan.
"Eh, aku nggak bawa. Dila ngarang, tuh."
Alwi menarikku agar pergi karena aku berusaha menghalanginya. Aku menatap tajam Dila, sepertinya ingatannya baru pulih, dia mulai panik!
"Eh, bukan. Bukan Devi yang bawa!" pekik Dila yang nyatanya tidak membuat Alwi mengurungkan niatnya.
"Eh, kenapa kalian heboh, sih? Aku cuma mau lihat aja. Nah, ini apa?" Alwi berhasil menemukannya.
"Ambil aja kalau mau," ucapku pasrah.
"Tumben bawa brownies. Beli atau bikin sendiri?"
"Dikasih adik kelas yang tadi, lho!" Aduh, Dila! Drama kita belum selesai, kenapa malah dibeberkan? Sudahlah, wes sak karepmu!
"Siapa? Cowok apa cewek?"
"Cowok."
"Syiham, Dev?" Aku mengangguk.
"Dia saudaramu?" Aku menggeleng.
"Terus kenapa dia bisa ngasih ini ke kamu?" Dasar Alwi kepo.
__ADS_1
"Karena dia baik."
"Kayak aku, dong. Ih, jadi kepo kenapa bisa tiba-tiba dikasih sama Syiham. Nanti cari tahu, ah!"
"Cari tahu apaan, dia adik kelasku. Emang dulu pas SD dia suka ngasih aku, kok," ucapku sedikit bernada tinggi.
"Makin curiga, nih. Harusnya kalau emang gak ada apa-apa, jawabnya slow aja. Kenapa malah ngegas?" Alwi tertawa.
"Alwi, ayo ke lapangan. Udah pada kumpul, tuh!" Seorang laki-laki yang kuduga juga anggota OSIS tampak memanggil Alwi. Syukur, deh, kalau dia segera pergi.
"Aku masih nunggu Nindi," sahut Alwi begitu santai. Bisa-bisanya mendahulukan kepentingan pribadi.
"Dia sudah di sana, kok."
"Lho, malah aku ditinggal. Ya, udah, ayo ke sana. Dev, sisain dua potong buat aku sama Nindi, ya!" Alwi meletakkan brownies tersebut dan keluar kelas.
"Dev, maaf, keceplosan." Dila menyengir begitu Alwi hilang dan tinggal kami berdua di kelas. Ah, mbuh, Dil! Nesu aku!
"Hmmm."
"Dev ... maaf."
"Iya."
***
Diperkirakan pembelajaran efektif akan dimulai beberapa hari lagi, tepatnya ketika kegiatan MPLS kelas tujuh sudah selesai. Meskipun sudah ada jadwal, nyatanya kelas sering mengalaminya jam kosong. Kalaupun ada tugas, mungkin hanya sekadar membaca atau mencari buku di perpustakaan.
"Permisi kakak-kakak semuanya. Kak Devinya ada?"
Aku yang semula melamun reflek menoleh ke arah pintu. Heh, kenapa Syiham cengar-cengir di situ. Tunggu, dia tadi menyebut namaku? Ada apa ini?
"Tuh, lagi mikir cara lunasin hutang negara!" Tunjuk Firman ke arahku dengan ucapan yang membuat seisi kelas tertawa.
"Enak aja!" sahutku sengit.
Syiham berjalan mendekatiku. Tangannya diarahkan ke belakang seperti tengah menyembunyikan sesuatu. Aku curiga, ada rencana apa ini?
Aku berdiri dan mengintip dari jendela. Di luar ternyata ada beberapa siswa anggota OSIS, termasuk Alwi. Apakah Syiham mendapatkan tugas dari kakak-kakak kelasnya itu?
"Ada apa, Ham?" tanyaku dengan malas.
"Apa kabar, nih?"
"Baik."
"Udah makan belum?"
"Langsung bilang aja mau ngapain." Mendadak seisi kelas sunyi karena tengah memperhatikan aku dan Syiham.
"Jawab dulu!"
__ADS_1
"Udah, tadi pagi."
"Bagus, deh, kalau gitu. Kamu cantik banget hari ini. Tolong diterima, ya!" Syiham berlutut seraya memberikan dua tangkai bunga yang kuyakini ia petik dari pekarangan depan kelas.
"Ih, ogah!"
"Please, terima aja. Habis itu mau kamu buang nggak papa. Aku lagi dihukum sama panitia," lirih Syiham dengan memohon.
"Oalah, oke oke." Kuterima bunganya kemudian kelas begitu ramai dengan sorakan.
"Si Devi pantesan pilih jomblo terus. Seleranya berondong ternyata." Ucapan Oliv semakin membuat kelas gaduh.
"Eh, tapi si Devi pinter milih nggak, sih? Nyarinya yang ganteng." Aduh, si Risa malah semakin kacau saja pemikirannya.
Alwi yang berada di ambang pintu tertawa ke arahku. Pasti dia dalang dari semuanya. Kuarahkan kepalan tangan ke arahnya, awas saja nanti!
"Syiham, sini!" Lelaki yang tengah dikerjai itu begitu pasrah dan menghampiri Alwi yang memanggilnya.
Aku tidak tahu apa yang sedang mereka diskusikan. Akan tetapi, sepertinya ada rencana gila lain setelah ini. Dasar Alwi, aku ingin melemparnya dengan kotak pensil. Ih, Syiham justru tampak mengangguk menuruti ucapan Alwi. Syiham mendatangiku lagi.
"Devi, pinjam tangan kamu." Syiham membuka tangan kanannya dan meminta agar tanganku dirapatkan di situ.
"Apa lagi, sih?"
"Please, Dev, habis ini hukumanku selesai."
"Ya udah, nih."
Syiham menyematkan cincin yang terbuat dari rumput. Mungkin terlihat romantis, seperti pasangan kekasih yang sedang menjalani prosesi lamaran. Ih, justru aku jijik, apalagi sorakan dari teman-teman membuatku semakin risih.
'*Cie'
'Cie'
'Cie*'
Cie-cie gundulmu! Seharusnya Syiham yang malu. Tapi kenapa dia terlihat biasa saja? Ya, bukan Syiham namanya kalau tidak aneh.
"Ada apa ini? Dari tadi gaduh sekali!"
Bu Intan datang membuat kelas menjadi senyap. Aduh, aku pasti juga yang kena. Bu Intan menatap tajam Alwi dan teman-temannya. Nah, marahin mereka saja, Bu.
"Ini ada apa, Al?"
"Itu, Bu. Ini kan anak kelas tujuh dia. Dia lagi dihukum."
"Kalau bisa, beri hukuman yang sekiranya membuat dia mengakui kesalahannya. Jangan cuma bikin dia malu aja!"
"Iya, Bu. Maaf!"
"Jangan diulangi lagi seperti ini. Menggangu kelas lain!" Bu Intan keluar kelas, baguslah. Drama ini sudah berakhir setelah datangnya Bu Intan tadi.
__ADS_1