Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Ujian Tengah Semester


__ADS_3

Pagi ini tidak sesunyi biasanya. Tak berselang lama aku tiba di kelas, beberapa teman juga datang. Ya, hari ini adalah hari pertama ujian tengah semester. Sebagian besar teman yang datang meniatkan berangkat awal untuk belajar.


Di sudut kelas tampak beberapa teman yang belajar bersama-sama dengan Dila sebagai tutornya. Aku memilih untuk tidak bergabung dengan teman-teman yang belajar secara berkelompok. Maklum, aku lebih bisa memahami materi jika dalam suasana tenang. Karena hal itulah biasanya aku belajar dengan mengasingkan diri.


"Sudah siap untuk hari ini, Dev?" tanya Nindi ketika baru tiba di kelas.


"Sudah belajar, sih, tapi nggak tau nanti. Semoga bisa ngerjain," jawabku dengan tertawa.


"Aku malah belum belajar, Dev." Nindi menjatuhkan tasnya di atas meja.


Aku hanya tersenyum, jangan terlalu percaya ketika si bintang kelas berkata demikian. Biasanya mereka tidak belajar karena memang semua sudah tersimpan di otak.


"Serius banget, Dev?" lirih Nindi lagi.


"Sstt, kamu jangan cerewet! Kalau mau rame, sama Alwi sana!" Kutunjuk Alwi yang tak kalah sibuk dengan bukunya. Ya, beginilah susahnya berada di kelas unggulan, penghuninya terlalu serius ketika belajar.


Nindi kemudian mengambil bukunya dan membuka beberapa lembar awal. Sesekali kuperhatikan Nindi, dia seperti hanya membolak-balik kertas, mungkin semuanya sudah masuk di kepala. Tak berselang lama bel berbunyi, kami pun segera duduk dengan rapi dan berdoa.


Tidak seperti ujian akhir semester yang jadwalnya terstruktur, ujian tengah semester biasanya diselenggarakan sesuai jadwal mata pelajaran. Karena Bahasa Inggris dalam jadwal pelajaran harian jatuh pada jam pelajaran pertama, maka untuk UTS yang pertama adalah Bahas Inggris.


Pelaksanaannya pun tidak seformal ujian akhir semester. Untuk pola duduk juga sama ketika jam pelajaran biasa. Tidak ada lembar jawaban dari guru, para siswa diminta untuk menyediakan kertas masing-masing. Pun dengan soal, tidak dibagikan dalam bentuk print out melainkan guru mendiktekannya.


"Hanya sepuluh soal dan Ibu rasa kalian sudah pernah mempelajari materinya. Ibu harap tidak ada kecurangan dalam pengerjaannya. Tolong simak baik-baik, karena soal disampaikan dalam bentuk lisan!"


Bu Intan memberikan pengumuman tersebut. Firasatku sudah tidak enak, biasanya guru Bahas Inggris tersebut suka memberi kejutan. Lima pertanyaan tersebut disampaikan Bu Intan dengan jelas, tapi aku sudah pusing duluan. Iya, memang soalnya hanya lima butir, tetapi memiliki cabang tiga hingga lima poin.


Aku melirik ke arah Nindi, dia tampak menunduk dan fokus di kertasnya. Meskipun dia sahabatku, tidak pernah sekalipun aku meminta bantuannya ketika ujian. Aku selalu berusaha mengerjakan semampuku, walaupun terkadang jawaban yang kutulis tidak sesuai dengan perintah yang diminta.


Suasana kelas semula sangat tenang, hingga akhirnya terdengar suara handphone Bu Intan. Bu Intan keluar kelas untuk mengangkat panggilan tersebut. Tidak berselang lama kegaduhan terjadi, Nindi diserang oleh beberapa teman.


"Nin, yang nomor dua kayak gimana?" tanya Oliv begitu keras dari bangkunya.

__ADS_1


Begitu juga yang terjadi pada para siswa. Mereka tampak kebingungan bahkan saling bertukar lembar jawaban. Aku hanya menggeleng dan berdecak, kapasitas otakku yang pas-pasan ternyata berfungsi juga. Buktinya tidak ada yang bertanya satu anak pun kepadaku. Ya, itu artinya aku memang tidak recommended untuk dijadikan tempat mencari contekan.


"Baru juga ditinggal sebentar, malah gaduh kalian!" celetuk Bu Intan begitu kembali dari luar kelas. Suasana kelas kembali sunyi, lebih tepatnya karena merasa takut.


Bu Intan tampak stand by di meja guru, beliau kemudian membuka laptop dan entah mengerjakan apa. Kuperhatikan beberapa teman mencuri-curi untuk mendapatkan jawaban. Ah, nekat sekali!


"Devi, tolong kasih ke Nindi." Risa yang berada di seberang bangkuku terdengar berbisik. Apalagi ini?


"Apaan?" Aku menoleh dengan ragu.


"Kasih kertas ini ke Nindi!" Risa melemparkan kertas itu kepadaku. Refleks kulihat Bu Intan, takut jika beliau memergoki.


"Ini dari Risa, Nin." Kuberikan kertas tadi pada Nindi. Gadis itu membuang napas kesal. Walaupun begitu, kukira nanti Nindi pasti akan memberikan jawabannya juga.


"Kamu kasih ke dia." Nindi menggeser kertas dan memintaku untuk memberikan ke Risa. Aku melaksanakan sesuai permintaan.


"Nin, kalau kamu keberatan, mending sesekali kamu tolak. Jangan dikasih terus, nanti mereka ngelunjak, lho," lirihku pada Nindi.


"Aku nggak enak kalau ada yang minta tolong."


"Iya, maaf, Dev. Lain kali aku lebih tegas lagi."


Baru juga Nindi berkata demikian, Risa melemparkan kertasnya padaku. Sialnya, kertas itu jatuh dan Risa yang tidak sabaran justru memarahiku.


"Cepetan diambil!" pekik Risa. Dia semakin geram dan heboh sendiri, aku sengaja seolah tak begitu memperhatikannya.


"Aneh banget nggak, sih, dia? Hari biasa aja kayak nggak kenal. Waktu ujian malah ngemis-ngemis gitu, mana maksa lagi!" ucapku pada Nindi menggunjing sikap Risa.


"Ish, Devi! Ambil kertasnya!"


"Dev, minta tolong kamu ambil!" pinta Nindi.

__ADS_1


Aku memutar bola mata kesal. Nindi memang terkadang merasa takut dan sungkan. Padahal baru saja dia berjanji akan bersikap tegas.


Aku membungkuk untuk meraih kertas yang terjatuh tadi. Kurang beberapa sentimeter untuk aku mendapatkannya. Dasar Risa, membuat orang lain kesusahan saja.


"Eh, siapa kamu? Devi, kan, namamu?"


Sial, Bu Intan memergokiku. Aku langsung memasang posisi duduk tegap dan fokus ke jawabanku. Aku semakin ketakutan ketika Bu Intan mendekatiku.


"Kamu Ibu perhatikan dari tadi gerak mulu? Kamu nyari jawaban?" cecar Bu Intan hingga membuatku menjadi pusat perhatian seisi kelas.


"Ng-nggak, kok, Bu. Tadi penghapus saya jatuh, terus saya ambil," ucapku berusaha Bu Intan tidak curiga.


"Sekali lagi Ibu lihat kamu berulah bahkan ketahuan mencontek, Ibu pastikan nilai kamu nol!" ancam Bu Intan membuat jantungku semakin berpacu dengan kencang.


"Iya, Bu. Maaf kalau saya menggangu ketenangan," ujarku.


Bu Intan kembali ke mejanya, aku merasa sedikit lega. Kudengar Risa yang menggerutu, mungkin kesal karena gagal mendapatkan jawaban. Hei, tidakkah dia peduli dengan aku yang berada di ujung tanduk?


Nindi mengusap bahuku pelan dan memintaku untuk bersabar. Dia juga meminta maaf, karena ulahnya bersama Risa, aku yang jadi terkena imbas. Ya, Nindi selalu begitu merasa tidak enakan.


Setelah Bu Intan memarahiku, kondisi kelas semakin kondusif. Tidak ada lagi suara bisik-bisik peminta jawaban. Aku jauh lebih senang seperti ini meskipun harus aku yang menjadi tumbalnya.


"Waktunya kurang lima belas menit," ucap Bu Intan yang akhirnya membuat panik seisi kelas.


"Anak-anak, please jangan gaduh! Lima belas menit itu masih lumayan banyak!"


Bagaimana tidak panik, masih ada tiga soal yang belum kujawab. Aku berusaha mengingat-ingat materi dari soal tersebut.


"Belum selesai, Dev? Mau dibantu?" lirih Nindi.


"Nggak usah, Nin."

__ADS_1


Jangan sampai Bu Intan memberiku nilai nol gara-gara kebaikan hati Nindi.


Bel tanda pergantian jam berbunyi. Itu artinya berakhir pulalah waktu pengerjaan untuk Bahasa Inggris. Bu Intan memerintahkan untuk segera mengumpulkan jawaban di meja guru. Aku dan teman-teman semakin kalang kabut tatkala Bu Intan menghitung dari angka sepuluh mundur. Entahlah, bagaimana pun hasilnya nanti, ini adalah usahaku sendiri.


__ADS_2