
Jarak yang kutempuh hanya sekitar 500 meter lahi. Kurasa Zaki sudah tertinggal jauh, dia tidak terlihat berada di belakangku. Aku memilih melajukan dengan santai dan mengurangi kecepatanku.
Akhirnya aku tiba di tempat parkir yang masih sepi. Aku parkir di tempat biasa. Setelah memastikan motor terparkir dengan rapi, kucabut kuncinya dan mulai bergegas menuju sekolah. Akan tetapi, aku terkejut ketika Zaki baru tiba dan memarkirkan motornya.
Kupercepat langkahku, semoga saja Zaki yang masih sibuk tidak melihat aku yang berjalan dengan tergesa-gesa. Saat ini yang ingin kulakukan hanya menghindar darinya, itu saja.
"Devi, tunggu sebentar!" teriak Zaki.
Niatku ingin berlari, hanya saja ada seorang Ibu yang menyadari jika akulah yang sedang dipanggil Zaki. Ibu tersebut ikut berteriak, tidak mungkin jika aku meninggalkan Zaki. Bisa-bisa orang lain akan ikut geram.
"Mau piket? Kenapa buru-buru?" tanya Zaki.
Aku tidak memperdulikannya. Aku terus berjalan dan Zaki pun juga berjalan di sampingku.
"Kenapa, Dev? Kamu diam terus kalau sama aku. Masih marah, ya?" tanya Zaki membuatku semakin kesal.
"Dev." Kali ini Zaki memegang pergelangan tanganku, aku kesusahan menepis tangannya.
"Kamu mau apa, sih?" tanyaku yang refleks membuat Zaki melepaskan tanganku.
"Nggak, Dev. Aku cuma mau minta maaf, itu aja," jelas Zaki.
"Kamu itu selalu licik, pasti ada sesuatu yang kamu rencanakan." Tuduhku pada Zaki.
"Nggak, Dev. Aku justru mau minta maaf. Beneran!"
"Aku udah maafin, Zak," ucapku berharap Zaki tidak membuntutiki terus.
Sebenarnya masih sakit hati jika mengingat ucapannya waktu itu. Ucapan yang ia hujankan memang benar, tapi bagaimanapun juga menghina orang tidak dibenarkan. Apalagi jika mengingat niat Zaki yang ingin menjadikanku pacarannya hanya sekadar taruhan, semakin sakit hatiku. Apa dia pikir aku semurah itu?
"Aku boleh ke kelasmu nanti?" tanya Zaki.
"Gak ada yang melarang."
"Alwi?" Oh, mungkin Zaki khawatir jika Alwi akan memarahinya.
"Ada apa dengan Alwi?"
"Dia udah berangkat?"
"Kalau sekarang belum pastinya. Udah, ya, Zak. Aku mau ke kelas," pamitku saat tiba di pintu gerbang. Aku berlari begitu saja meninggalkan Zaki menuju kelas. Untung saja dia tidak lagi mengikutiku.
__ADS_1
Aku tiba di kelas dan menuju tempat dudukku. Hari ini juga bukan jadwal piketku, jadi aku bisa tambah bersantai. Aku berinisiatif untuk menghapus papan tulis yang masih berisi materi pelajaran kemarin.
"Assalamualaikum." Kulihat ke arah pintu yang sudah ada Zaki di sana. Ternyata dia tidak bohong.
"Rajin banget, Dev." Aku sama sekali tidak tertarik untuk menanggapinya, masih saja kulanjutkan aktivitas menghapus papan tulisku.
"Kamu selalu datang sepagi ini?" tanya Zaki lagi, aku hanya mengangguk.
"Dev, ini buat kamu. Tenang aja, itu aman, kok. Aku cuma mau minta maaf, maaf dulu aku nggak sopan ke kamu. Aku nggak akan ganggu kamu lagi, kok. Swear!" Zaki meletakkan sesuatu yang berada di dalam kotak styrofoam, sepertinya berupa makanan.
"Nggak usah repot-repot, Zak. Aku juga sudah sarapan tadi," jawabku.
"Buat makan siang. Tadi aku minta bantuan ibuku buat masak. Spesial masakanku. Mau, ya? Sebagai permintaan maaf."
"Iya, biar di situ aja. Nanti aku ambil, kok."
"Oke, Devi. Bagus, deh, kalau gitu. Aku soalnya kepikiran terus, salah banget aku udah ngatain kamu."
"Udah, lupain aja kenapa, sih?"
"Nggak lega kalau nggak minta maaf."
"Jangan gitu, Dev. Aku jadi merasa bersalah, kan."
"Pasti ada maunya, kan?" tandasku, susah mempercayai orang seperti Zaki.
"Nggak ada, serius! Eh, Dev, tapi aku mau minta tolong. Bisa kasih ini ke Risa?" Zaki memberikan bungkusan terakhir yang berada di tangannya kepadaku.
Kan, baru saja aku menduga ternyata memang ada maunya. Eh, maksudnya apa? Aku sedang tidak akur dengan Risa, bisa-bisanya dimintai tolong untuk memberikan sesuatu pada gadis itu.
"Kamu pacaran sama Risa?" selidikku ketika mengintip isi dari kantong plastik milik Zaki yang ternyata berupa cokelat, kotak bekal, dan susu UHT.
"Belum, sih. Baru dekat." Zaki tersenyum malu.
"Kalian emang cocok, sih." Aku menahan tawa. Ya, mereka sama-sama menyebalkan, mungkin sangat serasi jika menjadi pasangan kekasih.
"Masa, sih? Hahaha, bisa aja kamu, Dev."
"Serius, kalian cocok. Aku dukung pertama kali, deh."
"Makasih, deh. Eh, Dev, kayaknya bakal ada yang datang, aku balik ke kelasku, ya. Jangan lupa dikasih ke Risa, harus dikasih pokoknya, bye!" Zaki meninggalkan kelas. Benar katanya, tak berselang lama datang Dila kemudian Firman. Tidak mau ada yang curiga, semua pemberian Zaki tadi kusembunyikan di loker mejaku.
__ADS_1
"Dev, tugas IPS udah selesai?" tanya Dila.
"Yang mana?"
"Di LKS, pilihan ganda sama yang isian singkat."
Aduh, bisa-bisanya aku melupakan PR-ku. Aku benar-benar panik, IPS jam pelajaran kedua. Tidak mungkin juga mengerjakannya kalau bukan sekarang.
"Makanya belajar yang rajin, Dev," celetuk Firman yang tampak cuek namun menyadari keteledoranku.
"Diam, Man. Aku lupa, itu manusiawi. Kayak nggak pernah lupa aja!" tukasku begitu sinis.
"Emang klop kalau sama Nindi, saling melengkapi. Satunya rajin satunya nggak," celoteh Firman mulai membanding-bandingkan aku dengan Nindi.
"satunya cantik, satunya ...." Firman menggantungkan kalimatnya begitu menyadari tatapan tajam dariku. Ya, aku tahu itu, tidak usah diperjelas.
"Emang aku nggak cantik, kok, Man. Kenapa nggak dilanjutin omongnya, aku nggak bakal tersinggung, kok," sahutku yang masih fokus mengerjakan soal.
"Bukan gitu, Dev. Nggak sengaja tadi."
"Gak usah ngelak, santai aja."
"Makanya, Dev, mulai belajar merawat diri. Biar nggak keliatan kumal gitu."
Astaga, Firman makin melunjak. Apa itu suara hatinya untuk mengritikku? Aku semakin merasa menjadi si buruk rupa. Sebenarnya aku juga sudah berusaha merawat tubuh dan wajahku dengan rajin mencuci muka yang katanya khusus untuk kulit berminyak dan berjerawat.
"Jangan gitu, dong, Man. Kita itu emang masih remaja, jerawat di wajah itu emang sering muncul. Kayak gitu bukan berati kita nggak merawat diri, emang dasar hormonnya aja," ucap Dila yang mungkin geram dengan ucapan Firman.
"Iya, iya, cerewet!"
"Sudah salah, bukannya minta maaf. Malah ngatain mulu!" protes Dila.
"Tadi aku udah minta maaf, lho. Tapi kamu masih menghina lagi, Man."
"Udah, udah. Nggak usah berdebat lagi. Nggak papa, kok," ucapku melerai Dila dan Firman.
"Ah, akhirnya selesai!" seruku kemudian berdiri untuk meregangkan otot.
"Kok, cepat banget. Diisi asal, ya?" tanya Firman.
Ah, lama-lama darah tinggi jika terus menanggapinya. Kubiarkan saja dia terus berceloteh. Lagipula jika menanggapinya juga tidak ada untung bagiku.
__ADS_1