
"Eh, Dev, ini tadi rujaknya mau kamu kasih ke aku beneran apa nggak? Bukannya tadi cuma sandiwara buat manasin Syiham?" tanya Mas Ovi seraya mengambil rujak cingur yang sudah ia letakkan di atas mejanya.
"Itu tadi dari Alwi. Nggak papa buat Mas Ovi aja."
"Ya udah, sebagai gantinya aku beliin yang lain, ya?" tawar Mas Ovi.
"Nggak usah, deh, Mas."
"Mie ayam, bakso, soto, ayam goreng?"
"Eh, nggak usah. Itu buat Mas Ovi aja, nggak usah diganti."
"Ya udah, aku beliin es teler di depan mau? Sekalian mau beliin yang lain juga."
"Mau beliin buat mas-mas yang kerja?" ucapku menanyakan maksud 'yang lain'.
"Iya, Dev. Ya udah, sekalian aku beliin, ya. Enak juga, kok, es telernya."
Aku mengangguk, apapun itu, jika berhubungan dengan makanan aku pasti mau. Hanya saja jika tidak terbiasa, aku malu-malu untuk menerima tawaran dari orang yang kurang akrab. Mas Ovi tampak menghampiri penjual es teler dan menunjukkan jumlah pesanan dengan jarinya. Aku terus mengamatinya hingga ia kembali di dekatku.
"Kalau nanti kesulitan, biar aku bawa aja gimana, Dev?" tawar Mas Ovi kepadaku.
"Kayaknya bisa, deh," ucapku ragu.
"Yakin? Itu bakal bikin kamu kesulitan bawanya, lho."
"Ya juga, sih. Tapi, kalau Mas Ovi yang bawa nanti malah ngerepotin. Terus nanti kalau pakannya mau dipakai sekarang gimana?"
"Ya, kamu bisa bawa yang sekarung. Sisanya nanti aku bawa."
"Iya juga, ya. Eh, emang nggak papa?" Mas Ovi mengangguk.
"Oke, deh."
__ADS_1
Es teler yang dipesan Mas Ovi akhirnya datang. Sangat sesuai dengan kondisi saat ini, lumayan panas dan gerah. Sangat sayang untuk dianggurkan terlalu lama jika tidak segera dinikmati. Tidak perlu basa-basi, aku segera menyuapkan minuman dengan dominan warna merah muda tersebut ke mulutku.
"Nanti jadi mau lanjut ke mana, Dev?" tanya Mas Ovi sembari memakan esnya. Pegawainya pun keluar dari toko dan diperkenankan untuk mengambil sendiri es yang dipesan karena memang tengah sepi pembeli.
"Lanjut ke mana? Ya, ke rumah, lah. Mau ke mana lagi." Aku tertawa.
"Eh, bukan itu. Maksudku habis dari SMP mau lanjut ke mana
"Oh, itu. Kirain tanya mau ke mana setelah dari sini. Em, itu, belum tahu, tapi Bapak minta ke pesantren aja."
"Wah, kalau itu aku dukung Pak Basir. Semoga beneran ke pesantren!" seru Mas Ovi begitu bahagia mendengar kabar itu.
"Kenapa aku malah sedih, ya. Belum pengen jauh dari Bapak sama Rehan," lirihku.
"Belum siap jauh sama aku juga, kan?" Kucubit lengan Mas Ovi karena gemas dengan ucapannya.
"Semoga Bapak lupa sama rencana itu dan nantinya aku bisa sekolah di SMA aja," celetukku.
"Kok, jahat banget, sih!" Mas Ovi malah tertawa.
"Pergaulan di luar semakin bebas, Dev. Kalau kamu bisa jaga diri itu aman. Bayangin kalau kamu mudah terpengaruh, apalagi kamu itu polos. Aku lebih setuju sama Pak Basir."
Yang diucap Mas Ovi benar. Akan tetapi, aku masih belum mau hidup jauh dari keluarga. Di pikiranku, pesantren itu menakutkan. Semua serba dikekang dan penuh aturan. Aku sempat melamun untuk beberapa saat hingga akhirnya Mas Ovi menyadarkan untuk segera menghabiskan es milikku.
***
Pukul satu siang aku berpamitan dengan Mas Ovi. Sesuai sarannya tadi, sekarung kubawa pulang sementara yang lainnya akan diantar olehnya waktu pulang nanti. Katanya, dia juga akan segera pulang, bantu-bantu di rumah Bu Darmi yang besok ada hajatan.
Aku sedikit malu ketika membonceng sekarung pakan ayam di belakang. Apa jadinya jika tadi aku nekat membawa ketiganya sekaligus. Bukankah akan menjadi perhatian orang-orang Untung saja sepanjang perjalanan aku tidak berpapasan dengan temanku.
Aku tiba di rumah dan Bapak sudah menyambutku di halaman. Aku segera mematikan motor dan memarkirkannya di depan pintu.
"Nduk, maaf Bapak asal minta tolong aja. Lupa kalau kamu nggak bisa bawa. Yang lain dibawa Mas Ovi?" Bapak menghampiriku. Sekarung pakan ayam tadi ia angkat dan dipindahkan dari jok motor.
__ADS_1
"Nggak papa, Pak. Untung Mas Ovi bisa bawain nanti."
"Ya udah, segera makan. Istirahat sebentar habis itu lanjut ke rumah Bu Darmi, ya?"
"Iya, Pak." Segera kumasukkan motor dan bergegas untuk berganti baju.
Aku sudah mengisi ulang energi di badan dengan makan siang. Rasa penat sepulang sekolah juga sudah berkurang. Setelah ini, rencanaku segera berangkat ke tempat Bu Darmi.
Rehan yang tengah bermain dengan teman-temannya dan menyadari jika aku hendak rewang terdengar berteriak ke arahku. Katanya ia ingin menyusulku di tempat Bu Darmi dengan temannya nanti. Aku sempat melarangnya, namun temannya malah semakin mempengaruhi Rehan, katanya tidak akan ada yang marah jika ingin menyusulku. Ya sudah, kutinggalkan saja Rehan.
"Devi!"
Seorang gadis dengan tampilan khas santriwati menyapaku. Meskipun hanya mengenakan cardigan panjang, sarung, dan jilbab yang warnanya tidak nyambung, ia tetap cantik. Dia adalah Mbak Eva, kakak kelasku yang dari dulu memang selalu ramah kepada siapapun.
"Mbak Eva kapan pulang?" tanyaku sambil menyalaminya.
"Tadi pagi. Mau rewang juga?" tanyanya kepadaku, aku mengangguk.
"Mbak Eva emang lagi libur?"
"Nggak, aku izin di nikahan Mbak Ika ini. Lumayan bisa pulang, Dev. Jarang-jarang aku pulang," bisik Mbak Eva dilanjut dengan tawa.
Mbak Eva dulunya satu SD juga SMP denganku. Hanya saja setelah SMA dia melanjutkan untuk belajar di pesantren. Dulu sempat terdengar kabar jika Mbak Eva tidak betah dan ingin keluar pesantren. Akan tetapi, semakin berjalanya waktu, Mbak Eva bisa betah di pesantren bahkan jarang pulang.
"Kata Pak Basir kamu juga mau ke pesantren. Bagus itu," ucap Mbak Eva.
"Mbak Eva, kok, tahu?" Aku heran, perasaan tidak pernah aku bilang kepada siapapun.
"Pak Basir pernah datang ke rumah tanya-tanya ke Bapak tentang pesantrenku. Aku bawa brosur pesantren, nanti kalau kamu pulang aku ambilin." Aku menghela napas berat, Bapak ternyata beberapa langkah lebih maju dariku.
Niatku awalnya adalah mencari tahu informasi penerimaan siswa baru di SMA satu dan diam-diam daftar di sana. Nyatanya mengetahui keinginan Bapak yang begitu besar agar aku bisa bersekolah di pesantren membuat nyaliku ciut. Belum lagi beberapa orang begitu mendukung niat baik Bapak tersebut. Bukankah itu sebuah harapan yang mulia? Aku jadi tidak tega jika jadi memilih SMA satu untuk sekolahku selanjutnya.
"Eh, Dev, ayo ke dalam. Dari tadi kita malah ngobrol sendiri." Mbak Eva mengajakku untuk masuk ke rumah Bu Darmi dan segera membantu segala kesibukan di dalamnya.
__ADS_1