
Hari ini pembelajaran tidak berjalan begitu efektif. Maklum, mulai Senin depan sudah mulai ujian tengah semester. Beberapa guru hanya mengulang dan membahas materi yang pernah diajarkan kemudian memberikan kisi-kisi soal yang akan dikeluarkan ketika ujian nanti.
Waktu istirahat suasana kelas seketika gaduh. Alwi membawa boneka yang ia beli waktu di pasar malam dan memberikannya kepada Nindi. Sebelum Alwi meminta, aku sudah terlebih dahulu menyingkir dari kursiku. Ya, aku memang peka, toh nantinya Alwi juga mengusirku.
"Dasar bucin!" celetuk Oliv. Ya, dia benar!
"Bilang aja kamu iri!" sergah Firman yang membuat teman-teman lelaki tertawa, Oliv seketika cemberut.
"Ini hadiah monthsary kita yang pertama, udah kelewat lama, tapi nggak papa. Kita udah jalan hampir dua bulan, lho," ucap Alwi kepada Nindi.
"Dev, kamu nggak mau juga kayak si Nindi?" Oliv menyenggol bahuku, kujawab dengan gelengan kepala.
"Kenapa?"
"Buat apa?" tanyaku balik.
"Kamu sebenarnya juga pengen, kan?" kenapa Oliv kepo sekali dengan hidupku.
"Cuma sedikit," jawabku yang masih fokus melihat dua orang yang sedang kasmaran.
"Tapi kamu emang nggak cocok kalau pacaran, kamu masih kayak bocil banget." Oliv dan beberapa temanku tertawa.
"Lagian Bapak udah bilang, aku nggak boleh pacaran. Itu dosa, Liv."
"Oh, begitu?"
"Nindi, Alwi, kalian jangan pacaran! Kalian nggak boleh pacaran. Pacaran itu dosa, lho. Nih, aku yang ngasih tahu si Devi."
Eh, gara-gara Oliv, Alwi dan Nindi menatapku secara bersamaan. Aku takut mereka akan marah. Iya, sih, aku memang beberapa kali pernah menegur Alwi dan itu pun kubungkus dengan bentuk candaan, tidak berani jika langsung ceplas-ceplos apalagi di depan umum.
"Eh, kok, kamu gitu, sih? Aku nggak melarang mereka, lho," kilahku karena merasa diadu domba oleh Oliv. Bahaya jika Nindi dan Alwi sampai marai kepadaku gara-gara kesalahpahaman ini.
"Kamu bilang tadi pacaran dosa. Mereka pacaran, mereka dosa," jelas Oliv.
Kulihat Alwi meraih tangan Nindi dan menggandengnya keluar kelas. Sepertinya mood Alwi sedang buruk gara-gara ucapan Oliv tadi. Aku harus meluruskannya!
"Jangan gitu, dong, Liv. Kalau mereka marah gimana? Padahal kan aku gak bilang secara langsung ke mereka. Menasihati itu baik, tapi lebih baik pakai cara yang sopan. Kalau di depan umum seperti ini, namanya bukan menasihati, tapi mempermalukan!" Baru kali ini aku bisa bicara panjang lebar selain pada Alwi dan Nindi.
Oliv tidak menunjukkan reaksi apapun. Aku benar-benar kecewa kepadanya. Aku beranjak dan berniat untuk menyusul Alwi dan Nindi.
Tempat pertama yang kucari adalah kantin. Alwi biasanya suka membeli jajan di jam istirahat. Kondisi kantin cukup ramai, namun bisa kutelusuri orang-orang yang ada di sana. Nihil, tidak ada dua orang itu di kantin.
Aku mencoba menuju perpustakaan. Barangkali Nindi mengajak Alwi ke tempat itu. Aku masuk ke tempat yang paling sunyi di lingkungan sekolah tersebut. Di sudut ruangan kutemukan Alwi dan Nindi. Mereka tampak sibuk dengan buku bacaan masing-masing. Aku ragu untuk menyapa mereka.
__ADS_1
"Alwi, Nindi!" sapaku pelan ketika berada di dekat mereka.
Mereka sempat melirikku untuk sesaat kemudian kembali fokus ke buku masing-masing. Kapok! sepertinya mereka benar-benar marah. Duh, gara-gara Oliv, nih.
"Aku minta maaf, ya." Kudekati dua orang itu. Nindi sama sekali tidak melihatku, dia masih asyik dengan bukunya. Sementara itu Alwi melirik tajam ke arahku.
"Kenapa ikut ke sini, Dev?" tanya Alwi.
"Mau minta maaf. Itu beneran bukan aku, lho, yang bilang!"
"Beneran sakit hati aku, Dev," lirih Nindi. Aku tidak pernah melihatnya sekecewa itu padaku.
"Tadi yang bilang Oliv, swear, deh!"
"Kamu masih aja nyangkal! Kan, Oliv bilang gitu juga gara-gara kamu!" timpal Alwi. Hm, baru kali ini aku keluar keringat dingin saat bersama mereka.
"Kita tahu, Dev. Pacaran itu salah. Tapi, kita pun pacaran juga nggak aneh-aneh."
Sebenarnya bukan masalah melakukan hal aneh-anehnya yang salah. Pacaran itu setahuku mendekati zina. Zina adalah dosa besar, bukankah ketika pacaran berarti mendekati dosa besar? Ah, aku sendiri juga minim ilmu agama. Bagaimanapun juga, seindah apapun cerita orang berpacaran, aku tidak tertarik untuk mencobanya. Aku lebih takut jika Bapak kecewa.
"Maafin aku, ya?" Kutatap Alwi dan Nindi secara bergantian dengan penuh harap. Tega, mereka malah meninggalkanku.
Baiklah, mungkin mereka benar-benar marah. Semua butuh waktu, mungkin akan kucoba meminta maaf nanti sepulang sekolah atau besok.
Hari ini pulang lebih awal, jam sebelas siang bel tanda pulang sudah berbunyi. Selama pelajaran tadi benar-benar sepi, Nindi sama sekali tidak mau berbicara kepadaku. Bayangkan saja, aku dan dia begitu dekat namun masing-masing memilih bungkam. Bukan masing-masing, sih. Lebih tepatnya setiap ucapanku sama sekali tidak ditanggapinya.
Beberapa siswa sudah bersiap dan keluar kelas untuk pulang. Aku mengemasi semua peralatanku, lebih baik segera pulang untuk persiapan ujian hari Senin nanti. Alwi datang menghampiri Nindi, namun dia seolah tidak menganggap keberadaanku.
"Hari ini kita belajar lagi, yuk! Di perpustakaan daerah aja," ucap Alwi.
"Hmm, boleh. Tapi gimana, masa bonekanya mau kita bawa ke sana juga?"
"Bawa pulang ke rumahmu sebentar. Habis itu baru ke sana," saran Alwi.
Aku cemberut, sedih sekali ternyata diasingkan seperti ini. Ingin rasanya aku membuat perhitungan dengan Oliv, semua ini gara-gara dia.
"Jangan cuma berdua, gak baik katanya. Aku ajak Firman, ya?" tanya Alwi.
"Boleh."
Kenapa mereka melupakanku? Alwi dan Nindi keluar kelas tanpa berpamitan denganku. Ya, tidak seperti biasanya.
"Lho, kok, kamu gak diajak?" tanya Oliv.
__ADS_1
"Aku mau pulang, kok," jawabku.
"Lemes banget, jadi kasihan."
"Ya, gara-gara kamu, kan!"
"Kok, aku?"
"Lain kali jangan gitu, Liv. Aku juga gak bermaksud bikin mereka sakit hati. Tega banget kamu sama aku," ucapku hampir berkaca-kaca.
"Eh, jangan nangis. Kan, aku bicara apa adanya."
"Kamu, sih, ngomong gitu waktu itu. Aku, kan juga cuma niruin ucapanmu. Dan kebetulan waktu itu ada yang pacaran, ya aku negur mereka sekalian, lah!" Enteng sekali Oliv berbicara.
"Kasihan mereka. Aku nggak bakal seberani itu negur mereka di depan banyak orang."
"Cup ... cup .... Jangan nangis." Oliv menepuk kedua bahuku.
"Aku bingung, Alwi sama Nindi gak mau maafin aku," ucapku berusaha menyeka air mata.
"Maaf, ya!"
"Selamat ulang tahun, kami ucapakan ...."
Aku terkejut, Alwi dan Nindi kembali ke kelas dan mengajak teman-teman yang lain untuk bernyanyi. Apa ini? apakah hari ulang tahunku.
"Tiup lilinnya ... tiup lilinnya ...."
Nindi yang membawa donat dengan lilin menyala mendekat ke arahku. Aku beneran terharu, lho. Aku bahkan lupa jika sekarang ulang tahunku.
"Yeeee!" seru Alwi saat lilin tersebut kutiup. Dia kemudian menyerahkan boneka berbentuk buaya berukuran sedang kepadaku.
"Kok, buaya?" protesku.
"Biar selalu terhibur. Buaya kan suka menghibur," jawab Alwi.
"Jerapah bagus padahal."
"Makanya nanti dikasih makan biar lehernya panjang."
"Nggak gitu, Al. Eh, makasih, ya. Kalian marah beneran sama aku?" tanyaku.
"Nggak, lah. Tadi itu sebenarnya nggak sengaja. Ini semua rencana Alwi, dia yang usil. Donat sama bonekanya tadi masih hutang juga," papar Nindi.
__ADS_1
"Kita nggak marah, Dev. Emang kita itu salah kalau pacaran. Tapi niat untuk berhenti pacaran itu sepertinya belum. Tetap semangat, ya. Janga polos-polos banget jadi anak. Kita jadi nggak tega kalau mau jahilin lagi." Alwi mengacak-acak rambutku.