Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Ada yang Bertamu


__ADS_3

"Tapi kamu sendiri nggak minat, kan, Dev?" tanya Alwi kepadaku mengenai rencana Bapak menyekolahkanku ke pesantren.


"Hmm, aku ikut Bapak aja pokoknya," lirihku.


"Sayang banget kalau nanti aku, kamu, sama Nindi harus berpisah waktu SMA," ucap Alwi.


"Ya nggak papa, dong, Mas. Kan, nanti kalau waktu liburan bisa kumpul-kumpul, sekalian reuni," ujar Pak Herman.


"Dulu Ibu juga sempat belajar di pesantren, Mbak. Seru, kok, ada banyak teman di sana. Emang ujiannya harus jauh dari orang tua. Tapi kan nanti ada waktu buat jenguk santri, terus yang paling ditunggu-tunggu itu waktu liburan," jelas Bu Salma.


"Tapi bukannya dulu Mama lulusan SMP sama SMA? Maksud Alwi, bukan lulusan pesantren?" Alwi tampak heran.


"Eh, Mama bilang tadi apa? 'sempet' bukan 'lulusan'. Aduh, Mas Alwi, nih," sergah Bu Salma.


"Mama nggak pernah cerita." Alwi masih tidak percaya.


"Mama itu di pondoknya cuma pas kelas satu SMA. Soalnya sakit-sakitan, jadi sama kakekmu disuruh pindah aja," jelas Bu Salma.


"Oh, gitu." Akhirnya Alwi bisa mempercayai ucapan mamanya.


"Bukan karena sakit-sakitan, tapi emang gak betah di pondok. Gak bisa tidur kalau gak di ketek emak," celetuk Pak Herman menggoda istrinya. Aku dan Alwi tertawa.


"Papa jangan mengarang cerita! Tercemar, deh, nama baik Mama."


Di balik keseruan canda tawa ini, aku masih kepikiran untuk segera pulang. Jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh membuatku ingin segera berpamitan. Akan tetapi, suara gemuruh belum juga berhenti. Pun dengan hujan, masih saja setia berjatuhan meskipun tetesnya tidak begitu besar.


"Kenapa, Mbak?" tanya Bu Salma menyadari aku yang berusaha melihat kondisi luar dengan menatap kaca jendela.


"Pengen pulang?" tanya Alwi.


"Iya, kalau udah reda," jawabku.


"Hujannya sih gak seberapa, cuma Ibu khawatir soalnya berpetir. Tunggu dulu, ya!" Bu Salma mengusap bahuku, aku hanya mengangguk.


"Atau ... mungkin Mbak Devi menginap di sini dulu? Semalam aja, nanti sama Ibu tidurnya," saran Bu Salma.

__ADS_1


Sebenarnya dengan senang hati aku menerima tawaran itu. Akan tetapi, aku juga merasa sungkan, sedari sore aku sudah merepotkan keluarga Pak Herman. Belum tentu juga Bapak mengizinkan, yang ada nanti justru Bapak nekat menjemputku dalam kondisi hujan.


"Devi tunggu sampai reda saja, Bu. Mungkin sebentar lagi hujannya berhenti," ucapku.


"Ya, kalau nanti nggak bisa pulang, kita antar naik mobil saja. Papa juga lagi nggak repot, kok," ucap Pak Herman yang semakin membuatku merasa sungkan.


"Nah, ide bagus, tuh, Pa. Kalau nanti Alwi sendiri yang ngantar Devi apa Mama nggak kasihan sama anak Mama yang paling ganteng ini?" tanya Alwi kepada Bu Salma.


"Kamu itu palingan aslinya takut kan, Al?" ledekku pada Alwi.


"Kata siapa?" elaknya.


"Itu tadi kamu bilang."


"Iya kan aku cuma bilang kalau pakai mobil itu lebih baik. Nanti aku sama Mama sekalian ikut, kita jalan-jalan." Aduh, ada-ada saja ide Alwi.


"Nah, Mama setuju. Kali aja nanti Papa mau ngajak Mama belanja gitu. Kan, lumayan bisa menghilangkan penat." Wah, rupanya sama saja dengan mamanya.


Yang sedang diserang tampak begitu tenang dan asyik membaca buku.


"Pa!" seru Alwi.


"Kalian tadi bilang apa?" tanya Pak Herman.


"Kita jalan-jalan sekalian antar Devi, ya, Pa?" Alwi meringis seraya memohon.


"Hujannya masih awet, Pa. Meskipun cuma gerimis tapi kasihan kalau Mbak Devi nekat naik sepeda. Nanti diantar naik mobil aja, sepeda motornya biar di sini. Besok pagi kalau mau sekolah biar Mas Alwi ke sana dulu buat jemput Mbak Devi," imbuh Bu Salma. Aduh, kupikir-pikir ternyata aku adalah sumber dari segala permasalahan.


"Nggak papa, Bu. Hujan kayak gini nggak akan bikin basah kuyup. Rumah Devi juga nggak begitu jauh. Nanti pulang sendiri naik motor aja," ucapku berusaha menolak kebaikan keluarga ini.


"Mau aja, Dev. Biar aku sama Mama bisa jalan-jalan sekalian." Bisik Alwi namun kurasa masih bisa di dengar Pak Herman dan Bu Salma.


"Nah, itu cocok banget," tambah Bu Salma.


"Iya, iya. Malah Mama sama Mas Alwi yang heboh. Nanti Papa antar naik mobil." Pak Herman mengalah.

__ADS_1


"Atau sekarang aja, Pa?" tanya Alwi.


"Iya, Pa. Biar nggak kemalaman!" Pak Herman hanya mengangguk menanggapi anak dan istrinya yang heboh.


Lantas Pak Herman berlalu dari ruang keluarga. Alwi dan Bu Salma juga melakukan demikian, bersiap-siap untuk pergi. Aku hanya diam menunggu mereka, sudah sedikit tenang, sebentar lagi bisa pulang.


"Makanan yang Ibu bungkus tadi jangan lupa dibawa, Mbak." Bu Salma muncul dengan membawa tas berwarna abu-abu yang memiliki ukuran cukup besar. Wah, rupanya rencana kegiatan jalan-jalan mendadak itu dengan mudah diwujudkan.


"Masih di dapur, Bu. Saya ambil, ya?" ucapku meminta izin.


Aku kembali dengan sekantor plastik besar yang berisi makanan. Seingatku tadi ukuran plastiknya tidak begitu besar. Mungkin Bu Salma menambahkan beberapa makanan lain.


Terdengar suara deru mobil yang sedang dipanaskan di depan rumah. Pak Herman sudah berada di luar dan menunggu seraya memanaskan mesin. Alwi yang sudah siap langsung menyusul Pak Herman. Aku masih menunggu Bu Salma yang kembali lagi ke kamarnya, entah, mungkin ada sesuatu yang tertinggal.


"Yuk, Mbak!" ajak Bu Salma.


***


Setelah menempuh perjalanan yang sama sekali tidak memakan waktu banyak, mobil yang dikendarai Pak Herman tiba di halaman rumahku. Dari kaca tampak Rehan yang tampak bahagia begitu mengetahui ada mobil parkir di depan rumah. Tak berselang lama Bapak pun ikut keluar.


"Silahkan masuk!" ucap Bapak mempersilahkan keluarga Pak Herman.


Rumah yang masih berserakan membuatkan merasa malu mendapatkan tamu dari keluarga Pak Herman. Ini pasti ulah Rehan, beberapa bungkus makanan ringan mengisi ruang tamu. Selain itu piring dan gelas kotor juga tampak di tempat tersebut. Rehan memang semaunya sendiri jika tidak ada aku di rumah.


"Maaf, ya, rumahnya kayak kapal pecah gini," ucapku sembari membersihkannya.


Bapak kemudian bercengkrama dengan Pak Herman. Aku segera ke dapur untuk membuatkan minuman. Begitu tiba di dapur, kulihat ada panci yang berisi jamu kunyit asam. Mungkin Bapak baru membuatnya. Kusuguhkan ini saja, masih lumayan hangat, cocok untuk cuaca seperti saat ini.


Kubawa empat gelas minuman kunyit asam dan setoples keripik pisang pada sebuah nampan. Mungkin keluarga Pak Herman tidak begitu memikirkan apapun yang kusuguhkan. Hanya saja aku merasa sungkan, mereka benar-benar memuliakanku sebagai tamu.


"Kenapa repot-repot, Mbak," ucap Bu Salma.


"Nggak, kok, Bu. Adanya cuma ini, silahkan diminum, Pak Herman, Al!"


"Kunyit asamnya enak banget, lho. Devi sering bawa ke sekolah," ucap Alwi.

__ADS_1


"Itu mumpung masih hangat, biar bisa menghangatkan tubuh."


Aku duduk di kursi dan bergabung dengan pembicaraan mereka. Ternyata mereka sedang membahas sekolahku setelah SMP nanti. Hmmm, aku jadi sedih kalau ingat harus ke pesantren setelah lulus.


__ADS_2