
"Kok, kamu ke kelas? Terus yang tugas nemenin adik-adik siapa?" tanyaku pada Nindi.
"Mereka masih dikasih materi sama kepala sekolah. Yang bertugas sekarang kelas delapan, kelas sembilan habis istirahat nanti."
"Oh, ternyata dibikin gitu."
"Iya, biar gak terlalu capek. Kalau semua anggota OSIS di situ juga kayak percuma, terlalu banyak orang dan tugasnya gak seberapa. Kasihan yang rajin banget, sementara yang lain malah santai. Kan, mending kayak gini." Aku mengangguk-angguk menanggapi penjelasan Nindi.
Bel istirahat akhirnya berbunyi. Sebenarnya dari tadi terasa seperti di jam istirahat karena memang tidak ada pelajaran yang didapat. Nindi mengajakku pergi ke kantin sekalian melihat murid-murid baru itu. Aku sebenarnya malas, kalau saja Nindi tidak memaksa jelas aku tidak mau.
"Kita ke kantin 2 aja, ya?"
Ha? aku tidak tahu apa rencana Nindi saat ini. Bisa-bisanya dia mengajakku pergi ke kantin dua yang terletak di ujung utara, itu sangat jauh. Alwi yang seolah menjadi bodyguard Nindi setuju-setuju saja.
"Lewatnya di depan kelas tujuh nggak papa? Aku mau ketemu sepupuku sebentar," ucap Nindi.
"Sepupu kamu di sini, Nin?" tanya Alwi.
"Iya. Dia dari dulu suka ikut-ikutan aku, sih. Capek aku, tanteku cerewet banget, katanya aku disuruh jaga anak kesayangannya itu."
"Cewek apa cowok, sih?" Aku penasaran.
"Cewek. Ya kali cowok minta dijagain." Aduh, aku merasa bod*h karena mengajukan pertanyaan itu.
"Tapi cowok juga minta dijagain, lho, Nin. Aku contohnya, aku minta kamu jagain hatiku." Duh, Alwi mulai kambuh bucinnya.
"Terserah kamu, Al!" pekikku.
"Jangan iri dengki!"
Tak lagi kutanggapi Alwi. Aku mengikuti Nindi yang berjalan beberapa langkah di depanku. Langkahnya mengarah pada kelas yang di depannya ramai anak kelas tujuh.
"Ramai banget, Nin. Malu aku," lirihku.
"Santai aja, kakak kelas nggak usah sok-sokan malu."
__ADS_1
"Sepupu kamu kelas apa emangnya?" tanya Alwi yang juga tampak bingung mengekor Nindi.
"Masalahnya itu, aku nggak tahu! Kita coba lihat satu-satu, ya, kelasnya."
"Aduh, iya udah nggak papa."
Aku dan Alwi hanya mengikuti Nindi yang tampak menelusuri tiap kelas dan memastikan sepupunya berada di situ. Sudah dua kelas yang ia kunjungi namun belum menemukan sosok yang dimaksud.
"Rita!" Nindi berteriak hingga kami menjadi pusat perhatian. Sepupunya yang bernama Rita tersebut kemudian menghampiri kami.
"Ada apa, Mbak?" tanyanya sembari melihatku dan Alwi secara bergantian.
"Nanti pulangnya bareng aku. Tante Fira tadi nyuruh aku, dia lagi repot," jelas Nindi.
"Oke, Mbak. Ini teman Mbak Nindi?"
Rita memiliki parasa yang juga tak kalah cantik dengan Nindi, plus dia terlihat masih imut. Mungkin keluarga Nindi memiliki sifat yang tak jauh berbeda. Sama-sama good looking dan mudah membaur dengan orang baru.
"Iya. Ini Devi dan yang cowok Alwi."
"Salam kenal, Mbak, Mas." Rita membungkuk memberikan salam penghormatan.
"Nggak ke kantin kamu?" tanya Nindi lagi.
"Aku bawa jajan dari rumah, Mbak. Aku bawa banyak, nih. Mbak mau? Ayo ke kelasku." Rita menarik Nindi menuju kelasnya. Aku dan Alwi otomatis mengikuti mereka dari belakang.
Kelas yang semula lumayan ramai mendadak sepi begitu penghuninya menyadari kedatangan kami. Mungkin mereka mengira jika ada anggota OSIS yang hendak memberikan pengumuman atau sejenisnya.
Baru tiba di ambang pintu, mataku mengedar ke seisi kelas. Dulu waktu aku masih kelas tujuh tidak seperti ini, aku dan teman-teman dulu masih saling diam saat hari pertama sekolah. Kurasa adik kelasku mudah sekali akrab dengan orang baru.
Di dekat jendela kulihat anak laki-laki yang tampak menatap ke arah luar. Nindi dan Rita tampak heboh sendiri hingga anak laki-laki tadi menoleh. Saat itu aku beradu tatap dengannya untuk beberapa saat. Hah, kenapa ada dia? Aku keluar kelas dengan tergesa-gesa.
"Eh, ada apa, Dev?" Alwi menyusulku keluar kelas.
"Pengen di luar aja, Al."
__ADS_1
"Kirain ada apa. Kenapa kayak buru-buru gitu?"
"Nggak papa, sih."
"Ayo masuk lagi kalau gitu."
"Nggak, deh. Aku tunggu di sini sambil cari angin, ya." Aku mengibaskan tangan pura-pura seolah tengah kegerahan. Alwi kembali masuk ikut Nindi.
Lama-lama aku bosan menunggu Nindi dan Alwi di sini. Aku yakin mereka tengah mengobrol sesuatu yang tidak jelas. Apakah mereka lupa jika aku sedang menunggu di sini seorang diri?
"Devi!" Aku menoleh. Aduh, ternyata Syiham, adik kelas yang kumaksud tadi masih mengingatku.
"Apa kabar, Dev?" tanyanya seraya tersenyum manis.
"Sopan sedikit, dong. Masa panggil kakak kelas asal nyebut nama aja. Panggil Mbak Devi!" tegasku pada Syiham.
"Mbak? Kita seumuran, lahir di tahun yang sama. Kamu lahir bulan Juli aku Desember." Eh, bisa tahu bulan lahirku juga dia.
"Panggil Mbak Devi, kamu adik kelasku!"
"Padahal malah pengen kupanggil Dek Devi." Tawa Syiham sangat membuatku jijik.
Kebencianku pada Syiham berawal dari kejahilannya yang ditunjukkan kepadaku tiada henti. Dari kelas lima, aku selalu menjadi korbannya. Dia selalu selalu datang ke kelasku dan mengganggu di waktu istirahat.
Motifnya tidak kuketahui pasti. Akan tetapi, Syiham pernah berkata jika dia hanya berniat membalas dendam karena saat itu aku tidak sengaja membuat sepedanya yang tengah terparkir ambruk. Aku melakukan kesalahan sekali, tapi kenapa dihantui seumur hidup?
Aku dan Syiham dulunya memang hanya selisih satu tingkat kelas. Saat aku kelas dua, dia kelas satu. Akan tetapi, dia sempat sakit dalam waktu yang lama hingga akhirnya orang tuanya meminta agar ia tinggal di kelas dan ikut mengulang kelas yang sama di tahun berikutnya.
Syiham sebenarnya cukup tampan dan memiliki badan yang tampak terawat. Dulu waktu SD mamanya selalu rempong jika mengantar Syiham ke sekolah. Aku pernah mendengar jika sang mama melarang Syiham jajan sembarangan dan lebih memilih membawakan makanan kecil sendiri dari rumah. Ah, nyatanya Syiham juga sering mencari-cari kesempatan. Syiham yang rese selalu meminta jajan temannya, jika cocok malah bisa-bisa ia yang menghabiskan.
"Kenapa pas tahu aku sekolah di sini kayak kaget gitu?" Saat ini aku dan Syiham menjadi perhatian utama adik-adik kelas tujuh. Mungkin mereka bertanya-tanya, kakak kelas secantik aku bisa-bisanya ngobrol sama Syiham.
"Siapa yang kaget? Sok tahu!"
"Tadi kaget. Akhirnya satu sekolah lagi, bisa dekat sama Devi terus, deh."
__ADS_1
Tidak habis pikir dengan Syiham. Dari dulu dia suka sekali bersikap seolah mengejarku. Entah itu memang hanya candaan atau memang serius, yang jelas aku tidak peduli.
"Dev, kamu kelas 9A, kan? Besok pagi aku ke kelasmu, ya."