
Seperti biasa aku pulang bersama Alwi siang itu. Dan seperti biasa pula kami menghabiskan banyak waktu dengan diam masing-masing selama dalam perjalanan. Alwi berada di belakangku, katanya biar perempuan yang lebih dahulu.
"Alwi, tadi kamu ngasih Nindi roti?" tanyaku mengingat roti yang diberikan Nindi kepadaku.
"Iya, ada apa?"
"Lain kali jangan sembarang ngasih Nindi makanan. Dia punya pantangan ke beberapa makanan contohnya cokelat dan es krim. Dia juga kurang suka roti. Jadi, baiknya kalau ngasih sesuatu ke aku aja, soalnya aku menerima segala jenis makanan." Aku tertawa kecil. Alwi tampak lebih melajukan sepedanya hingga sejajar di sampingku. Sebuah tonyoran ia hadiahkan di kepalaku.
"Ih, sakit, lho." Ringisku sok manja.
"Lemah, biasanya juga ketabrak mobil nggak nangis," ledek Alwi.
"Kata siapa? Bukan ketabrak mobil, kejatuhan pesawat aja tidak ada luka sedikit pun," timpalku membalas candaannya.
"Pesawat apa dulu, nih? Pesawat kertas?"
"Nah, Anda cerdas!"
"Eh, Dev, terus tadi rotinya gimana?" tanya Alwi penasaran.
"Dia menghargai pemberianmu, lho, Al. Dia makan yang rasa strawberry. Yang cokelat udah basi," ucapku.
"Ah, serius?"
"Serius, serius aku bohong. Yang rasa cokelat sudah nyaman di perutku. Besok lagi kalau ngasih rasa cokelat semua aja, lumayan aku bisa hemat," ucapku serasa menjadi manusia paling tak tahu diri.
"Astaga, Dev. Udah serius juga. Kirain beneran udah basi. Udah panik juga," protes Alwi.
"Jangan gegabah, Al. Hidup harus santai, nikmati alurnya!"
"Tapi dia makan risoles nggak?" Sepertinya besok aku akan kecipratan risoles dari Alwi, bagus!
"Makan, kok. Bawanya sekalian yang banyak kalau mau lancar PDKT-nya. Jangan lupa juga sama aku," terangku sedikit memberikan kode kepada Alwi.
"Harus seperti itu?"
"Mau lancar nggak?"
__ADS_1
"Iya, oke. Besok aku bawain kamu juga," ucap Alwi seperti terpaksa.
"Kalau nggak ikhlas biasanya perutku sakit. Mending nggak usah dibawain kalau gitu."
"Ribet banget, deh. Iya, besok aku bawain. Aku ikhlas lahir batin, Dev."
"Bagus kalau gitu. Aku suka!"
***
Pukul satu siang aku sudah tiba di rumah. Tidak kutemui Bapak dan Rehan. Mungkin mereka sudah pergi ke ladang. Tadi pagi memang ada rencana untuk memanen beberapa sayuran.
Setelah mengganti pakaian dan salat Zuhur, aku berangkat menuju ladang. Aku memilih untuk berjalan kaki saja, rasanya lebih tenang untuk menikmati pemandangan sekitar.
Hampir lima menit aku berjalan hingga tiba di ladang. Aku melihat Bapak dan Rehan yang sedang sibuk mengikat bayam dan sawi. Rasanya senang sekali melihat sayuran yang tampak segar-segar itu. Akan tetapi, jika mengingat harganya yang tidak masuk akal seperti waktu itu, membuatku merasa geram.
"Nanti mau dibawa ke warung Bu Minah lagi, Pak?" tanyaku.
"Lho, sudah pulang, Nduk?" Bapak tidak menjawab pertanyaanku, justru beliau memberiku pertanyaan lain.
"Iya, Pak. Sudah waktunya pulang," jawabku.
"Bagus kalau begitu. Nanti biar Devi sama Rehan yang ngantar, Pak."
"Iya, Nduk. Ini sebentar lagi selesai, langsung kamu antar ke rumahnya, ya."
"Siap, Pak!"
Rehan yang berada di sebelah kiri Bapak seolah tidak menggubris kehadiranku. Sedari tadi dia masih sibuk mengikat bayam dengan tali yang dibuat dari pelepah pisang. Dia mungkin sudah tahu jika sebentar lagi akan kecipratan uang juga.
Bayam dan sawi yang dipetik kini sudah dalam bentuk ikatan. Bapak menaruhnya dalam bakul besar yang terbuat dari anyaman bambu. Sayuran tadi ternyata cukup banyak, totalnya ada sekitar 15 ikat. Bapak memerintahkan kepadaku dan Rehan untuk pulang, beliau berjalan duluan dengan memikul bakul tadi.
Sesampainya di rumah Bapak memindahkan sayuran tadi ke dalam tas berukuran besar. Aku tidak akan mampu jika membawanya seorang diri. Rehan bersemangat untuk membantu, bahkan tanpa harus disuruh Bapak.
Sebelumnya Bapak menyuruhku dan Rehan untuk mandi karena memang kondisi kaki bahkan tangan masih penuh dengan lumpur. Bapak juga menyuruh untuk mengenakan pakaian yang sopan. Sekadar berjaga-jaga jika di sana banyak sanak saudara dari Mbak Ani.
Bapak tidak mematok harga, kata beliau biarkan Mbak Ani yang memperkirakan harganya. Bapak menerima berapa pun uang yang diberikan. Setelah menjual sayur di warung Bu Minah, seolah tidak begitu berharap pada hasil sayur.
__ADS_1
"Kuat nggak, Re?"
"Kuat, kok."
Aku dan Rehan berjalan beriringan dengan hati-hati. Sebentar-sebentar kami juga berhenti, bergantian sisi agar kedua tangan juga bisa sama-sama merasakan beban. Jarak dari rumah menuju rumah Mbak Ani tidak jauh, hanya sekitar 400 meter. Akan tetapi, cukup untuk menguras energi.
Begitu tiba di rumah Mbak Ani, aku dan Rehan merasa terkejut. Kami yang berpakaian lusuh merasa malu ketika melihat banyak orang di sana. Mbak Ani menemui kami di depan pintu dapur. Setahuku dia memang orang baik dan dermawan. Setelah memberiku uang, dia masuk lagi ke dapur dan meminta agar aku dan Rehan menunggunya sebentar.
"Ternyata rame, Re," ucapku pada Rehan.
Adikku itu mengabaikan ucapanku. Dia sibuk melihat beberapa anak yang sedang bermain di halaman depan rumah Mbak Ani.
Seorang wanita paruh baya yang merupakan tetangga Mbak Ani menghampiri kami. Aku mengenalnya dengan nama Bu Titi. Dia terkenal biang gosip dan suka julid. Duh, kenapa Mbak Ani belum muncul juga? Aku malas jika nantinya Bu Titi malah mengajakku ngobrol.
"Ini Devi sama Rehan, ya?" tanya Bu Titi sembari menunjukku dan Rehan secara berganti-ganti, aku hanya mengangguk.
"Ngantar sayuran?" tanya Bu Titi lagi.
"Nggeh, Bu. Disuruh Bapak antar sayuran ke sini," jawabku dengan sopan.
"Sudah mandi?" Ha, pertanyaan yang kurasa tidak begitu penting untuk dibahas oleh orang-orang yang kurang akrab.
"Sudah, Bu," ucap Rehan.
"Oh, sudah mandi. Kirain belum, masih kucel gitu."
Bukan sekali dua kali aku mendapatkan ucapan yang memiliki makna yang sama dengan ucapan Bu Titi. Memang pada kenyataannya baju yang biasa kukenakan tampak berwarna kusam. Maklum, baju yang kumiliki sebagian besar adalah baju bekas layak pakai pemberian orang.
"Kalau sudah mandi itu pakai pakaian yang bagus. Jangan pakai pakaian kayak gini, gembel!" Bu Titi berbisik seraya menjumput lengan Rehan seolah jijik.
Sakit hati aku mendengar ucapan Bu Titi. Bisa-bisanya dia lancar menghina orang tanpa memikirkan perasaanya. Mungkin roda kehidupannya sangat baik untuk saat ini hingga tidak sadar sampai merendahkan orang lain.
"Lho, apa itu, Mbak?" tanya Bu Titi begitu mengetahui Mbak Ani memberiku sesuatu dalam kantong keresek.
"Jajanan buat Devi sama adiknya," jawab Mbak Ani santai.
"Tuh, aku tahu alasan kalian berdua ke sini. Biar dikasih jajan banyak, kan?" tandas Bu Titi.
__ADS_1
"Aduh, Bu Titi suka suuzon. Mereka ke sini memang disuruh bapaknya, Bu," ucap Mbak Ani.