
Pagi itu aku berangkat seperti biasa dengan mengayuh sepeda. Dalam perjalanan, aku melihat Alwi yang sedang berhenti tidak jauh dari gang rumahnya. Aku mempercepat laju sepedaku, siapa tahu Alwi sedang menungguku.
"Nunggu aku, Al?" tanyaku penuh percaya diri.
"Iya. Tumben lama banget," protes Alwi yang sepertinya sudah menunggu di sini lama.
"Ha? Lama? Kamu di sini dari kapan? Aku emang biasanya berangkat jam segini, lho."
"Sudah ada seperempat jam kayaknya aku di sini. Ayo berangkat, aku sudah semangat banget mau ketemu Nindi!" seru Alwi yang semangatnya tidak bisa disembunyikan.
Katanya jatuh cinta memang seperti itu, bisa merubah sifat manusia dengan seketika. Aku juga merasa senang ketika temanku jatuh cinta. Apalagi masa remaja adalah masa-masa indah di mana seseorang berusaha mencari jati diri, salah satunya mencoba untuk urusan percintaan dengan lawan jenis.
Begitu juga denganku. Terkadang ingin seperti yang lain bisa merasakan jatuh cinta dalam artian pacaran. Akan tetapi, semenjak mengingat ucapan Bapak kemarin, keinginan-keinginan itu hilang untuk sementara. Aku bisa untuk tidak melakukannya, atau mau pilih untuk dinikahkan? Oh, jangan sampai mimpiku masih panjang.
"Eh, malah bengong! Ayo berangkat!"
Aku gelagapan saat Alwi menepuk bahuku. Ternyata aku membuang waktu sebab melamun. Tak mau semakin menjadi bulan-bulanan Alwi, segera kulajukan sepedaku dengan pelan.
"Kamu bawa apa, Al?" tanyaku seraya menatap sebuah kotak yang ia taruh di stang sebelah kiri, aku menduga itu risoles yang ia janjikan kemarin.
"Risoles buat Nindi," ucap Alwi dengan seutas senyum.
"Buat aku?" tanyaku dengan senyum jahat.
"Ekspresinya biasa aja, kali. Jangan pasang tampang pemalak gitu. Aku sudah siapin buat kamu, tapi aku taruh di dalam tas," jelas Alwi menunjuk tasnya. Aku suka!
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, kini aku dan Alwi tiba di sekolah. Tempat ini masih dalam kondisi sepi, namun pintu gerbang sudah terbuka. Lantas aku dan Alwi menuju tempat parkir untuk meletakkan sepeda.
Aku yang sudah memarkirkan sepeda lebih dahulu memilih untuk menunggu Alwi. Lelaki itu benar-benar tampak aura keceriaannya pagi ini. Terdengar juga siulan yang keluar dari mulutnya.
"Bahagia banget, sih. Aku juga ikut happy asal jangan lupa dikasih pajak juga." Lagi, Alwi menghadiahkan sebuah tonyoran di kepalaku.
"Hari ini pokoknya kamu harus bantu aku nembak Nindi, oke?"
"Itu bisa diatur," ucapku menggampangkan.
"Bagus kalau begitu. Ini baru namanya sahabat Alwi." Alwi sempat merengkuh bahuku sesaat. Kami sempat canggung, namun Alwi kembali mencairkan suasana.
"Kamu bawa kado juga?" tanya Alwi.
"Ha? Kado apa?"
Alwi menepuk dahinya, ia sedikit kecewa dengan jawabanku. Aku benar-benar lupa sekarang hari apa. Apa Alwi sedang ulang tahun dan mengodeku untuk memberikan kepadanya hadiah?
"Kenapa bisa lupa? Hari ini Nindi ulang tahun, aku mau nembak dia, Dev," ujar Alwi penuh penegasan.
Ya Allah, aku sama sekali tidak ingat sekarang tanggal berapa. Padahal beberapa hari yang lalu Alwi sudah mengingatkannya. Tapi aku memang tidak pernah memberi kado di saat ulang tahun Nindi, sih.
"Beneran lupa, Al. kapan-kapan kan bisa menyusul kadonya," kilahku mencari alasan.
__ADS_1
Aku dan Alwi langsung menuju kelas. Kondisi kelas masih sepi bahkan pintu masih tertutup. Alwi memutar kenop yang ternyata sudah tidak terkunci. Setelah melepas dan menaruh sepatu pada rak, aku masuk kelas dan menuju ke bangkuku.
"Kamu lagi ngapain, Al?" tanyaku yang penasaran karena Alwi tampak sibuk sendiri mengeluarkan barang-barang yang dibawanya.
"Kamu nggak mau bantuin?" tanya Alwi seolah menguji daya pekaku.
"Apa susahnya bilang minta tolong?" Aku mendengus memahami keanehan temanku itu.
"Harusnya kamu peka," timpalnya tak mau kalah. Aku beranjak dari kursi dan menghampiri Alwi.
"Aku bisa bantu apa?" tawarku ketika berada di samping Alwi.
"Tata lilinnya di donat. Biasanya anak perempuan kalau menghias bisa bagus, estetis gitu," ujar Alwi.
"Estetis gundulmu! Bilang aja sebenarnya nggak bisa," selorohku yang mulai menata lilin warna-warni di atas donat.
"Bukan nggak bisa, cuma malas aja," aku Alwi yang dibarengi dengan tawa.
"Donatnya kelihatan enak, Al," ucapku jujur.
"Iya, Dev. Selesaikan dulu tugasmu, nanti aku kasih." Aku suka kalau seperti ini. Tapi kenapa kesannya aku seperti babu yang digaji dengan donat?
"Nah, udah selesai," ucapku yang kemudian menengadah meminta bayaran.
"Ini!" Alwi mengeluarkan sebuah kotak makanan. Hm, baik sekali!
"Kok gosong?" protesku ketika melihat dua dari empat donat dalam kotak yang warnanya hitam.
"Itu spesial, Dev. Spesial aku yang goreng buat kamu."
Aku yang semula sedikit kecewa berusaha untuk memasang ekspresi bahagia. Bersyukur memiliki teman yang selalu mengistimewakan temannya. Ingin rasanya kubuatkan juga kopi spesial ditambah sianida untuk Alwi.
"Ya Allah, aku speechless. Nggak nyangka punya teman sebaik ini, terima kasih, Ya Allah." Aku menengadahkan tangan berusaha khusyuk.
"Aamiin, aamiin, Ya Allah," ucap Alwi mengaminkan doaku.
"Gemas banget punya teman kayak kamu, makin cinta, deh." Kutarik pipi kanan Alwi hingga ia meringis. Benar-benar gemas aku kepadanya.
"Ih, sakit tau!" Alwi menepis tanganku, aku jamin pipinya benar-benar sakit saat ini.
"Besok-besok kalau ngasih jangan yang gosong, dong! Aku juga mau yang kayak gitu." Aku menunjuk kotak donat spesial untuk Nindi.
"Ya, itu gampang," ucap Alwi.
"kalau aku sudah suka sama kamu, nanti aku kasih kayak gitu," lanjutnya dengan berbisik. Aku geli sendiri mendengarnya.
"Sudah suka?" tanyaku memperjelas ucapan Alwi tadi.
"Iya, kenapa?"
__ADS_1
"'Sudah' itu lawan katanya 'belum'. Berarti sekarang belum suka, ya?"
"Iya, kenapa, Dev?"
"Kalau 'belum', itu artinya suatu saat ada masanya 'sudah'?
"Iya, Devi, astaghfirullah, Ya Allah." Alwi geram sekali sepertinya.
"Kamu suka sama aku?" tanyaku seolah tak tahu malu.
"Kata siapa?"
"Itu tadi?"
"Aku nggak bilang, Dev. Tapi nggak tahu kalau habis ini suka sama kamu juga. Soalnya kamu lucu." Alwi mencubit pipiku, sepertinya balas dendam yang tadi.
"Eh, kok, gitu?"
"Selagi bisa dua, kenapa harus satu?"
Tolong sadarkan aku jika dia bukan Alwi. Setahuku dia tidak seperti ini. Kenapa aku malah takut sendiri.
"Ih, kok, aku jadi takut sama kamu," ucapku jujur.
"Aduh, kamu itu polos banget jadi cewek, Dev. Nggak mungkin aku kayak gitu. Jangan terlalu serius. Aku serius ke satu cewek, ya fokus ke cewek itu aja, nggak ada yang lain," jelas Alwi.
"Oh, jadi tadi becanda?" tanyaku.
"Pastilah!"
Aduh, Devi, kenapa kamu sepolos itu? Terkadang aku malu dengan sifatku yang ini. Padahal tahu kalau Alwi memang hanya suka Nindi, kenapa masih berharap kepada Alwi?
"Allah itu maha membolak-balikkan hati. Bisa saja saat ini kamu suka banget sama seseorang, kemudian Allah yang membalikkan hati, bisa saja kamu jadi benci kepadanya, begitu juga sebaliknya," jelas Alwi.
"Lalu bagaimana jika suatu saat kamu suka kepada perempuan lain dan tidak lagi menyukai Nindi. Apakah kamu bilang bahwa itu Allah yang membalikkan?"
"Allah itu yang menentukan, sementara tugas kita hanya berusaha dan memohon doa. Kalaupun aku sama Nindi nanti bisa sampai pacaran, aku akan berusaha tetap sama dia terus, kalau bisa sampai nikah. Aku akan berusaha untuk tidak menyakiti hatinya dengan mendekati perempuan lain. InsyaAllah kalau niat baik, apa yang didapat juga baik, kok," terang Alwi panjang lebar.
"Ya Allah, kita masih SMP, lho. Kenapa kamu mikir sejauh itu?" tanyaku yang takjub dengan pemikiran Alwi.
"Kita hidup itu harus punya target yang jelas dan baik."
Ya Allah, sisakan satu laki-laki seperti Alwi! Aku mengangguk-angguk setiap mendengar penjelasan darinya.
"Eh, Al, tapi kan pacaran itu dilarang agama?"
Alwi hanya meringis, pertanyaanku sepertinya membuatnya tersudut. Dia bahkan salah tingkah karena tak bisa menjawab pertanyaan tersebut.
"Gimana, ya?"
__ADS_1