
Rupanya dugaanku salah. Setelah Bu Intan pergi, kelas kembali ramai. Aku heran kenapa Syiham belum juga kembali ke kelasnya. Aku curiga, sepertinya ada rencana lain lagi.
"Ini hukuman gara-gara apa, sih?" Aku menghampiri Alwi yang menjadi salah satu sutradara dari drama aneh ini.
"Dia datang terlambat, makan di kelas, ketahuan tidur juga pas ada ada sosialisasi," jelas seorang lelaki di samping Alwi. Aku menatap tajam Syiham, dia tersenyum dan menggaruk tengkuknya.
"Ih, bandel banget, sih!" celaku pada Syiham.
"Maaf maaf, Dev. Aku bosan banget sama acara kayak gitu, bikin ngantuk," celetuk Syiham menjelaskan alasannya. Sebenarnya aku sependapat dengan adik kelas tengil itu, tapi kegiatan yang ia lakukan tidak bisa juga untuk dibenarkan.
"Tuh, dengar, Ham. Malu sama Devi, nggak?"
"Besok lagi jangan diulangi, Ham! Aku nggak mau besok terulang lagi," ucapku yang ternyata membuat sorakan dari teman-teman semakin ramai.
"Cie, perhatian banget," seloroh Risa.
" Bukannya gitu, aku risih kalau dijadikan korban juga. Bukan gara-gara kasihan ke dia." Syiham yang aku maksud.
"Besok nggak aku ulang lagi, kok. Janji." Syiham mengulurkan kelingkingnya di hadapanku. Dia pikir akan kubalas hingga jariku bertaut dengannya? Tidak akan!
"Iya iya. Udah, kembali ke kelasmu sana!" Kulipat tangan di depan dada. Mau bergaya agak songong kali ini.
"Ya, udah. Balik ke kelas dulu, Dev. Mbak, Mas semuanya mohon maaf sudah menggangu." Syiham menangkup kedua tangannya sebagai tanda permintaan maaf. Nah, bagus, pergi saja!
Bel pun berbunyi, waktu istirahat sudah tiba dan hampir semua siswa beranjak untuk keluar kelas. Aku memilih untuk diam di kursiku, masih kesal dengan kejadian tadi, merasa menjadi manusia paling terzalimi. Belum lagi beberapa teman yang melintasi bangkuku selalu menggodaku dan menyebutku dengan julukan baru.
"Hai, pebronis." Oliv mencubit pipiku dan mengucap kata aneh itu.
"Pebronis apaan?" Kuusap pipi yang baru menjadi sasarannya.
"Penyuka brondong manis." Oliv sengaja menekankan kalimatnya, seisi kelas tertawa lagi.
"Oh, jadi filosofinya begini. Pantesan tadi dikasih brownies," ucap Dila menimbrung dan merangkul Oliv.
"Dikasih brownies? Siapa?"
"Devi, dikasih adik kelas tadi." Ingin rasanya memusnahkan Dila dari bumi. Dua potong brownies tadi ternyata tidak mampu membuatnya menyimpan rahasia antara aku dan Syiham tadi pagi.
__ADS_1
"Serius? OMG, aku kira cuma becandaan awalnya. Ternyata antara Devi dan anak tadi memang ada hubungan asmara?" Oliv menutup mulutnya, speechless.
"Eh, aku sama dia nggak ada apa-apa, lho, ya! Dia adik kelasku waktu SD. Kita emang akrab, kok!" sergahku membela diri.
"Oh, ya? Siapa, sih, nama cowok tadi, Dil?" Oliv benar-benar kepo. Bahkan beberapa siswa yang penasaran karena Oliv dan Dila mengepungku pun turut bergabung.
"Ham Ham gitu lho namanya. Apa Ilham, ya?" Dila menatap ke atas mencoba mengingat.
"Syiham nggak, sih? Aku pernah dikasih tahu adikku yang juga kelas tujuh. Dia katanya paling bandel seangkatan." Heny yang baru bergabung kenapa juga harus berkata begitu. Aku tidak pernah membuat perhitungan dengannya, kenapa kali ini ikut-ikutan? Membuatku semakin emosi saja.
"Ih, kalian apaan, sih? Serius aku sama dia nggak ada apa-apa."
"Terus mana browniesnya?" Oliv berusaha mengintip laci mejaku.
"Gak ada! Udah, kalian pergi sana!"
"Udah, yuk, lama-lama Devi bisa murka sama kita." Oliv tertawa dan mengajak para sahabatnya keluar kelas. Baguslah kalau begitu.
Kelas berangsur sepi karena hanya ada aku dan beberapa lainnya. Rasa lapar yang sempat datang tiba-tiba hilang dan berganti dengan rasa kesal. Ah, semua ini gara-gara ada Syiham.
Aku hanya cemberut ketika Alwi dan Nindi datang. Keduanya tampak tersenyum seolah meledekku. Sudah dapat dipastikan jika Alwi bercerita mengenai hukuman konyol Syiham tadi.
"Jangan ketawa, gak suka aku!" protesku pada mereka yang tengah duduk asal di kursi.
"Marah-marah mulu, deh, perasaan. Kenapa, Bestie?" Alwi mencubit pipiku dengan sengaja, aku sedikit jijik. Padahal aku sering menganggap hal itu romantis ketika ia melakukan hal tersebut pada Nindi.
"Ternyata sama Syiham sekarang. Bagus deh sahabatku udah nggak jomblo lagi," ucap Nindi dengan halus namun masih membuatku merasa kesal.
"Nin, jangan percaya sama mereka."
"Gak mau percaya gimana? Orang dia sampai nitip ini ke aku." Nindi mengeluarkan cup besar berisi es teh yang permukaannya tampak mengembun. Terlihat menggoda sekali, bukan?
"Siapa?" tanyaku pura-pura tak paham.
"Syiham nitip ini, katanya buat kamu."
"Jangan aneh-aneh, kalian pasti aslinya yang beli tapi sok-sokan bilang kalau ini pemberian Syiham," tandasku tak percaya.
__ADS_1
"Eh, serius, kok. Kamu tadi dikasih dia brownies, kan? Dia bilang maaf, katanya lupa cuma ngasih makanan tapi gak dikasih minuman. Kalau ayang Devi tersedak, gimana? Syiham juga kan yang panik?" Nindi dan Alwi tertawa. Ya sudah, kuminum saja es teh yang dibawa Nindi tadi.
"Segar, kan? Soalnya dibeli penuh cinta. Dia tadi ngotot buat meracik sendiri es tehnya. Kayaknya anak orang kaya, ya? Dia tadi ngasih ibu kantin uang yang banyak demi bisa buat es teh ini," ujar Alwi panjang lebar.
"Kamu ikut Syiham terus emangnya? Kok, bisa tahu?"
"Ya tadi kebetulan sama-sama di kantin."
"Oh, gitu."
"Mana browniesnya? Aku mau, dong. Pasti enak banget, ya? Kayak teh tadi, pasti browniesnya juga dibuat dengan penuh cinta." Kali ini Nindi yang membuatku kesal.
"Nih, baru berkurang dua potong dimakan Dila."
"Mau, dong!" Alwi menyerobot kemudian memakan satu potong.
"Kamu udah makan, Dev? Serius ini enak, Mama jarang kalau bikin brownies." Alwi masih asyik mengunyah kue dengan warna dan rasa cokelat itu.
"Belum, aku nanti aja."
"Besok lagi jangan ada ide gila kayak gitu, dong! Aku malu tahu!" protesku seraya mengambil sepotong. Bisa habis di Nindi dan Alwi jika aku tidak segera ikut memakannya.
"Tadi itu awalnya cuma becanda, Dev. Dia aku singgung gitu soal kamu. Karena dia bandel, sekalian aku suruh buat samperin kamu. Dia berani, dong."
"Nggak dimarahin sama guru?" Itu yang menjadi pertanyaanku dari tadi.
"Setengah jam sebelum istirahat itu kita santai-santai. Jadi tadi aman!" Nindi mengacungkan ibu jarinya.
"Pasti anak kelas tujuh ikut heboh juga," ucapku yang hanya menduga.
"Sangat heboh. Di sana kena teguran guru, tapi itu nggak masalah."
"Dasar anak OSIS gila!"
"Bukan gila, itu namanya kreatif."
Aku bersungut-sungut ketika keduanya tertawa. Mereka pikir ini sesuatu yang lucu? Tidak! Kalau saja bukan sahabatku, mungkin mereka sudah kuacak-acak. Ah, menyebalkan.
__ADS_1