Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Yang Paling Menyakitkan


__ADS_3

Semenjak pelajaran Bahas Inggris tadi aku benar-benar merasa tidak bersemangat. Samping kanan kiriku tidak ada yang mengajakku bicara. Padahal biasanya juga ada beberapa yang meminjam alat tulis atau buku catatan kepadaku. Hmm, apa mereka ikut membenciku?


Perjalanan jam akhirnya tiba pada waktu pulang sekolah. Setidaknya setelah ini aku sedikit mengistirahatkan otakku dari beberapa mata pelajaran. Kalau bisa, kujelaskan pada Nindi apa yang terjadi sebenarnya.


"Nin, tumben langsung pulang!"


Aku menoleh ke arah Nindi. Dia hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Oliv seraya mengemasi buku-bukunya. Sangat jarang Nindi pulang awal, biasanya dia selalu menghabiskan waktu bersama Alwi terlebih dahulu.


"Nggak bareng Alwi?" tanya Heni yang bangkunya berada satu deret dengan Nindi.


Entah dia tidak tahu apa-apa atau memang ingin membuat panas, yang jelas aku tidak suka pertanyaan yang ia lontarkan saat ini. Nindi pun juga tidak banyak bicara, dia menanggapi sekenanya dengan gerak tubuh entah mengangguk atau menggeleng. Kalau seperti ini terus, rasanya aku semakin bersalah.


Aku mengejar Nindi yang sudah berada di luar kelas. Aku dan dia tampak asing untuk saat ini. Semua ini karena kesalahpahaman, aku ingin kembali seperti semula.


"Nin, aku mau bicara sebentar," lirihku ikut duduk di samping Nindi yang tengah mengenakan sepatu.


"Aku sedang buru-buru, aku lagi sakit." Nindi berdiri kemudian meninggalkanku begitu saja.


Dia sakit? sakit hati? Aku yakin Nindi berusaha menghindariku. Rasanya lemas sekali, ternyata sesakit ini dijauhi sahabat sendiri.


Aku berniat kembali ke kelas untuk mengambil tasku. Baru kusadari ternyata ada Risa yang sedang berdiri mengamatiku di pintu kelas. Dia tampak begitu bahagia melihatku renggang dengan Nindi. Dasar perempuan licik!


"Santai aja, Dev!" seloroh Risa yang memang sengaja kudorong tubuhnya.


"Aku lagi santai, lho, Ris!"


"Ish, dasar cewek nyebelin?" What? Jadi siapa yang sebenarnya nyebelin?


Aku melupakan nasi goreng dari Bu Salma. Bahkan gara-gara kejadian setelah istirahat tadi, rasa lapar yang biasa menyerang perutku tiba-tiba enggan untuk datang. Daripada dibawa pulang, sebaiknya kumakan sekarang sambil menunggu kelas sepi.


Selama lebih dari sepuluh menit aku di bangkuku dan menyelesaikan kegiatan memakan nasi goreng tadi. Hingga akhirnya kelas berangsur sepi dan hanya tersisa aku dan Alwi. Aku heran kenapa dia belum juga pulang, ternyata aku baru ingat jika ia tadi berangkat bersamaku.


"Udah sepi, Dev. Mau pulang sekarang?" tanya Alwi menghampiriku.


"Iya, sekarang aja, deh."


"Aku keluar dulu, ya." Aku hanya mengangguk.


Aku menyusul Alwi dan kudapati dia sedang berada di halaman kelas. Dia memetik satu jambu biji dan langsung memakannya begitu saja. Sekolahku memang dikelilingi oleh sawah mulai dari sisi timur, utara dan baratnya. Untuk bagian selatannya merupakan tempat pemakaman umum. Bagian depan kelas ditanami beberapa pohon seperti jambu, delima, mulberry, kedondong, dan jati yang masih belum begitu besar. Satu langkah ke depan dari tempat tumbuhnya pepohonan tersebut, langsung berupa lahan sawah yang kuceritakan tadi.


"Kalau ketahuan guru bisa dimarahi, lho, Al," ucapku pada Alwi.


"Lha, kenapa harus dimarahi? Kita udah disuruh merawatnya, lho. Bukannya memetik buahnya itu hak kita?" Alwi begitu santai mengunyah jambu bijinya.

__ADS_1


"Iya juga, sih. Terserah, deh, Al."


"Kalau mau bilang aja, masih ada satu, tuh. Aku petikin." Bahkan aku tidak mengatakan apapun,, Alwi langsung memetik asal dan memberikannya padaku.


"Kok dipetik lagi, sih!"


"Oh, bentar." Alwi justru mengelap permukaan jambu dengan seragamnya lalu memberikan kembali kepadaku.


"Udah bersih. Nih, lumayan, lho. Enak!"


"Nggak, ah. Aku udah."


"Yakin? Santai aja, nggak akan kena marah. Ini biasanya yang ambil aku sama Firman juga, kok." Alwi tertawa.


"Oh, jadi kalian pelakunya." Namun akhirnya kuterima juga jambu biji pemberian Alwi tadi.


"Pelakunya bertambah satu, kamu!"


"Tapi aman, kan?"


"Sangat terjamin aman, Bos!"


"Oke. Aku habisin ini dulu kalau gitu."


"Mau ini juga, Dev?" tawar Alwi padaku.


"Nggak, aku lihat kamu aja udah kemecer."


"Enak, lho."


"Maaf, nggak tertarik."


"Ya udah kalau gitu. Udah belum makan jambu bijinya?"


"Udah mau selesai. Pulang sekarang?"


"Sekarang aja, yuk!"


Aku merasa heran dengan Alwi yang tampak tidak mendapatkan masalah apa-apa. Justru aku yang merasa panik, takut jika Nindi keterusan membenciku. Rencana untuk menjelaskan kejadian sebenarnya juga gagal, Nindi masih dikuasai oleh amarahnya.


"Tadi Nindi beneran marah, Al?" tanyaku dengan pelan.


"Iya, tapi santai aja, lah, Dev. Besok juga dia udah baikan lagi. Jangan terlalu dipikir."

__ADS_1


"Jangan terlalu dipikir gimana? Jelas kepikiran, lah. Baru kali ini Nindi marah besar ke aku. Pasti tadi si Risa nambahin cerita yang nggak sesuai fakta."


"Itu pasti!"


"Terus kamu diam aja?" Aku mulai kesal dengan Alwi.


"Bukannya aku diam, aku mau ngasih pembelaan selalu disela sama Risa. Nindi juga nggak ngasih kesempatan aku buat jelasin."


Yah, masuk di akal. Memang seperti itu sifat Risa. Aku jadi kasihan ke Alwi sekarang. Aku bisa membayangkan bagaimana keadaan Alwi saat istirahat tadi, mungkin ia menjadi bulan-bulanan satu kelas gara-gara ucapan Risa.


"Emang apa aja yang dibilang Risa?" tanyaku penasaran.


"Si Risa bilang kalau kita becanda waktu di jalan, ketawa lepas gitu. Terus katanya kamu peluk aku erat-erat. Padahal nggak sesuai fakta, ya."


"Dasar si kompor. Suka aja ganggu hidup orang. Perlu dikasih pelajaran si Risa!"


"Sabar aja, Dev. Tenang aja, nanti aku bakal jelasin ke Nindi. Kalau dia tahu cerita sebenarnya pasti nggak akan marah. Dia kesulut emosi aja."


"Tenang, tenang, gundulmu! Aku udah panik kayak gini masih juga disuruh tenang. Bahkan beberapa teman kita menganggap aku sebagai pelakor, teman makan teman, cewek murahan."


"Emang ada yang bilang gitu?" tanya Alwi seraya menyerngitkan dahinya.


"Secara langsung, sih, nggak ada. Tapi mereka kayak menghindar dari aku. Kayak merasa jijik gitu."


"Perasaan kamu aja kali, Dev."


"Ya, emang cuma aku yang ngerasain."


"Ya udah, santai aja, Dev. Tenang gitu, lho."


"Terus tadi Nindi marah ke kamu juga?"


"Iya. Habis si Risa berkoar-koar, aku waktu dekatin Nindi, dia malah dorong-dorong aku biar pergi. Kayak lagi latihan drama tau!"


"Terus akhirnya?"


"Ya udah, aku pergi. Malu juga jadi tontonan sekelas. Mana disorakin lagi. Untung kamu nggak disorakin, kan?"


"Kasian banget kamu. Cuma gara-gara berangkat bareng aku, malah jadi apes. Kayaknya aku biang keroknya, deh."


"Udah, deh, Dev. Jangan ngerasa bersalah terus. Nggak capek nyalahin diri sendiri?"


"Hmm."

__ADS_1


__ADS_2