Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Berangkat Pagi


__ADS_3

Hari ini pertama kali aku ke sekolah dengan mengendarai sepeda motor. Sebenarnya tidak perlu berangkat pagi-pagi sebab tidak lebih dari sepuluh menit aku bisa sampai ke sana. Akan tetapi, kebiasaan berangkat pagi seolah terlanjur melekat padaku. Dan, hari ini aku berangkat seperti biasanya.


Kulajukan sepeda motorku dengan kecepatan 20 km/jam, pelan sekali. Aku ingin menikmati udara pagi yang masih berselimut kabut tipis. Jalanan juga masih sangat sepi, aku bisa leluasa memilih jalanan desa yang beberapa bagiannya sudah tidak mulus lagi.


Gang arah rumah Alwi baru saja kulewati. Temanku itu belum menampakkan diri di sana. Wajar, dia sudah tidak perlu berangkat pagi untuk pergi ke sekolah. Bisa jadi dia berangkat dari rumah setengah tujuh dan tentunya dengan kecepatan yang luar biasa.


Rute yang kulalui berbeda dari biasanya. Jalanan tersebut nantinya akan bermuara pada tempat penitipan sepeda motor yang berada di selatan sekolah. Ya, meskipun jaraknya lebih jauh dari rute ketika bersepeda, ini tidak ada apa-apa dibandingkan dengan lelahnya ketika mengayuh sepeda.


Setelah hampir sepuluh menit menempuh perjalanan, aku tiba di depan tempat parkir Pak Ageng. Tempat parkir Pak Ageng merupakan salah satu tempat parkir favorit teman-teman karena memang jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolah. Pagi ini memang aku berangkat sangat awal, buktinya hanya ada motorku yang terparkir di situ.


"Saya nitip sepeda, Pak," ucapku pada Pak Ageng yang sedang menyapu halaman. Aku tahu jika beliau Pak Ageng karena waktu itu aku pernah menemani Nindi mengambil sepeda motornya.


"Iya, Nduk. Baru pertama ke sini, ya?" tanya Pak Ageng. Mungkin dia asing dengan diriku.


"Iya, Pak. Saya baru kali ini bawa motor."


"Oh, pantesan, jarang lihat kamu, Nduk."


"Iya, Pak. Mari, Pak. Saya duluan," ucapku yang dibalas dengan anggukan dan senyum ramah Pak Ageng.


Selanjutnya aku harus berjalan sejauh 100 meter untuk sampai ke sekolah. Di pertigaan jalan, aku berpapasan dengan Alwi yang sedang membonceng Nindi. Mereka sempat memanggil namaku hingga aku sedikit terkejut.


"Tunggu kami sebentar!" teriak Nindi.


"Tunggu di situ!"


Aku berdecak, kenapa mereka seheboh itu. Untung saja tidak ada siapa-siapa di sini. Mungkin akan beda kondisi jika ada orang yang mengetahui suara berisik kami.


"Devi!" Nindi berlari kecil menghampiriku, sepertinya Alwi ia tinggalkan begitu saja.


"Aduh, jangan teriak-teriak. Kamu nggak pantas kayak gitu. Biasanya kalem, pasti ketularan Alwi," celetukku mencela sikap Nindi. Nindi hanya meringis mereseponku.

__ADS_1


"Kamu bawa motor?" Sudah kuduga, pasti pertanyaan itu akan Nindi ajukan.


"Nggak, aku tadi bareng tetanggaku. Kebetulan dia lewat sini, jadi aku minta diturunkan di sini," ucapku bohong namun masuk akal.


"Oh, kenapa nggak minta turun di sekolah aja?" tanya Nindi lagi.


"Aduh, Nin, mau aja dibohongin. Devi itu bawa motor sendiri tadi. Aku tadi lihat dia berangkat pagi-pagi. Cuma dia kayaknya emang jalannya lelet, kayak kura-kura," jelas Alwi meledekku. Kurasa aku tadi tidak melihatnya.


"Kamu jangan bikin cerita sendiri, Al. Kata siapa kamu?"


"Aku tadi di warung waktu kamu lewat. Aku sempet panggil kamu, tapi kamu emang dasar bud*g, jadi tetap jalan terus, kan?"


Aku hanya meringis, memang kenyataannya tidak kudengar suara siapapun sewaktu mengendarai motor tadi. Alwi yang berhasil mengusut kebohonganku justru menirukan aku yang meringis. Dia kemudian melakukan kebiasaannya, mencubit lenganku tanpa merasa berdosa.


"Ih, sakit tahu. Nin, lain kali diajarin sopan santun, dong, pacarnya!" protesku pada Nindi.


"Terus minta apa? Minta dicium?" Alwi memonyongkan bibirnya, seketika Nindi menatap tajam pacarnya itu.


"Pecat saja jadi pacarmu. Dia jadi pacar nggak ada gunanya juga," ucapku menghasut Nindi. Aku dan dua temanku itu masih melanjutkan keributan meski sedang dalam perjalanan menuju sekolah.


"Eh, enak aja! Aku sudah susah payah dapat Nindi, bisa-bisanya kamu nyuruh dia pecat aku!" cerocos Alwi.


"Eh, kamu lupa, siapa yang bantu kamu buat nyatain perasaan ke Nindi? Ya, gini, kacang lupa akan kulitnya!"


Nindi yang kebetulan berada di antara aku dan Alwi tampak diam saja. Dia memijat pelipisnya, mungkin pusing dengan percekcokan Alwi denganku. Nindi pun melerai kami.


"Aduh, pusing aku. Kalian kenapa harus ribut pagi-pagi?" tanya Nindi yang sudah lelah menghadapi aku dan Alwi.


"Ya, kalau ribut tengah malam justru nggak bagus, makanya kita ribut sekarang," celetukku.


"Nah, itu betul," timpal Alwi setuju dengan ucapanku.

__ADS_1


Nindi menggeleng-gelengkan kepalanya seraya berdecak. Dia kemudian berjalan beberapa langkah mendahului aku dan Alwi. Alwi berusaha secepatnya untuk mengejar sang kekasih hati. Perlahan kuperhatikan Alwi yang menautkan jemarinya ke tangan Nindi. Keduanya bahkan berhenti sejenak, sepertinya Alwi meminta maaf atas sikapnya yang mengacaukan mood Nindi pagi ini. Weh, pagi-pagi dapat pemandangan segar seperti ini. Aku juga ingin, Ya Allah!


"Dunia milik berdua, yang lain cuma mengungsi," sindirku ketika mendahului mereka. Tatapan tajam Alwi dihadiahkan padaku, namun kubalas dengan mulut yang menye-menye meledeknya.


"Astaghfirullah, Nin, please, temannya diajarin sopan santun!" Alwi menunjuk ke arahku. Lama-lama aku kasihan pada Nindi, sedari tadi dia menjadi korbanku dan Alwi.


Keributan yang belum berakhir itu sementara kuhentikan. Lebih baik aku segera menuju kelas daripada terus menerus bersama dua manusia yang sedang saling mabuk asmara itu.


Setibanya di sekolah, kudapati gerbang yang masih belum terbuka. Aku berusaha berjinjit untuk mengintip Pak Ghani apakah ada di tempatnya. Sayang, kaca dari pos satpam yang hitam tidak membantuku menemukan Pak Ghani di sana.


"Ada apa, Nduk?" Kudengar suara Pak Ghani.


"Gerbangnya belum dibuka, ya?" tanyaku.


"Kamu buka sendiri, ya. Itu sudah nggak dikunci."


Sekilas aku mengamati bagian penguncinya. Ternyata memang ada gembok yang kondisinya sudah berjodoh dengan sang kunci, artinya sudah dibuka. Aku mendorong gerbang hingga akses untuk memasuki halaman sekolah tidak lagi dibatasi.


"Makasih, Bi. Jangan lupa sayur kemarin sore dihangatkan lagi!"


As*m! dipikir aku ini pembantunya. Alwi berjalan melenggang menggandeng tangan Nindi seolah memancing amarahku. Duh, Gusti, Ya Allah, aku mencabut doaku yang pernah minta ingin berangkat bersama Alwi lagi. Ternyata dia cukup membuatku darah tinggi kali ini.


"Alwi, sampai kelas jangan harap kamu selamat!" teriakku yang sudah tidak tahan lagi.


Alwi berlari meninggalkan Nindi. Mungkin dia sudah berfirasat jika aku akan membalas perbuatannya. Aku lantas menghampiri Nindi yang tertawa.


"Kalian lucu banget, dari tadi sebenarnya perutku sakit gara-gara tertawa," ucap Nindi merangkulku.


"Kamu nggak marah?"


"Marah? Nggaklah, aku tadi cuma akting."

__ADS_1


Huh! aman kalau begitu. Pikirku Nindi benar-benar marah tadinya.


__ADS_2