Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Olahraga


__ADS_3

Sebenarnya saat ini belum waktunya bel masuk. Akan tetapi, aku yang terbiasa berangkat pagi-pagi merasa kesiangan untuk hari ini. Ini semua gara-gara Rehan yang terus-terusan diare semalam. Dia bahkan menangis karena perutnya masih sakit, dan jika sudah begitu aku tidak akan mungkin bisa tidur.


Begitu tiba di parkiran sekolah, pandanganku langsung tertuju pada sepeda milik Alwi. Ternyata dia masih konsisten berangkat pagi. Ini momen yang langka sekali, meletakkan sepedaku di deretan belakang, jangan sampai besok terulang lagi. Setelah memarkirkan sepeda, aku segera menuju kelas. Aku mengira pasti kelas sudah dalam kondisi ramai. Dan, dugaanku itu benar terjadi.


"Cie ...." Riuh itu terdengar bersamaan ketika aku memasuki kelas.


"Ada apa, nih?" tanyaku pada Firman yang kebetulan berada di dekatku.


"Masih seperti kemarin, Alwi PDKT sama Nindi."


"Oh!"


Aku memerhatikan Alwi yang berada di bangkunya, dia tampak malu-malu. Begitu juga Nindi, dia sepertinya sengaja duduk di bangku belakang karena risih dengan teman-teman yang terus menggodanya.


Tas yang semula di gendongan kuletakkan begitu saja di atas meja. Sepertinya Nindi baru mengetahui keberadaanku, dia buru-buru menghampiriku.


"Kok, baru datang, Dev?" tanya Nindi.


"Aku bangun kesiangan," ucapku seraya duduk di kursi dan tak lama kemudian Nindi melakukan hal yang sama.


"Aku malu, Dev," lirih Nindi.


"Aduh, yang lagi jatuh cinta! Sok-sokan malu," ucapku sekalian menggodanya. Wajah Nindi yang merona seketika, dia salah tingkah.


Bel masuk akhirnya berbunyi. Seperti biasanya, pelajaran selalu dimulai dengan kegiatan berdoa. Para siswa berdoa dengan khusyuk.


Kebetulan jam pertama adalah pelajaran olahraga. Sengaja dari rumah tadi aku mengenakan seragam olahraga. Beberapa siswa ada juga yang masih mengenakan seragam batik khas sekolah, mereka perlu untuk mengganti pakaian. Teman-teman perempuanku beranjak menuju kamar mandi. Aku dan Nindi yang sudah siap dengan pakaian olahraga tetap di kelas.


"Eh, kalian nggak keluar kelas?" Firman berbicara kepadaku seolah mengajak ribut.


"Suka-suka, dong!" jawabku tak kalah sengit.


"Oh, mau bintitan gara-gara lihat cowok ganti baju?" sergah Rosyid yang membuatku berpikir keras.


"Anak cowok mau ganti baju, Dev. Kita keluar dulu, yuk," bisik Nindi. Astaga, aku terkejut seketika. Bisa-bisanya aku lupa dengan hal itu. Lagipula kenapa Nindi tidak mengingatkan dari tadi?


Aku dan Nindi keluar kelas diiringi dengan sorakan anak laki-laki. Wah, serasa menjadi artis saja kalau begini, bertemu para fans. Akhirnya aku dan Nindi memilih untuk langsung ke lapangan.

__ADS_1


"Semalam Alwi ngirim pesan ke aku." Nindi tiba-tiba bercerita dengan malu-malu.


"Beneran? Kok, bisa?"


"Iya, dia nanya PR," jawab Nindi.


"Kamu kasih tahu?" Nindi mengangguk. Ah, aku yakin itu hanya modus Alwi agar bisa dekat dengan Nindi.


"Kamu juga suka sama Alwi?" tanyaku menyelidiki.


"Gimana, ya? Sebenarnya aku biasa aja sama Alwi, sih. Cuma kalau disoraki teman-teman rasanya kayak gimana gitu," ujar Nindi menjelaskan ekspresi yang tidak bisa dideskripsikan.


"Benih-benih cinta mulai bersemi. Habis ini aku dapat traktiran dari kalian." Aku tertawa, Nindi mencubit lenganku.


****


Para siswa kini berkumpul di lapangan dan membuat tiga saf barisan. Aku biasanya memilih tempat paling belakang, dan kali ini aku melakukan hal yang sama. Nindi ada di depanku dan di depan Nindi ada Alwi. Itu juga karena ulah teman-teman, sengaja menyisakan satu tempat untuk Alwi di depan Nindi. Ada-ada saja teman-temanku itu!


Pemanasan sebelum olahraga pun dimulai. Pak Edi, guru olahraga kami sering mengatakan manfaat melakukan pemanasan sebelum olahraga. Kata beliau, pemanasan dapat mengurangi ketegangan otot dan mencegah cedera. Maka dari itu, pemanasan harus dilakukan sungguh-sungguh. Meskipun sudah ditegaskan demikian, masih saja ada beberapa siswa yang melakukan pemanasan dengan asal-asalan.


Anak laki-laki yang kebetulan hanya berjumlah delapan orang wajib mengikuti voli semuanya. Sementara untuk memenuhi jumlah pemain setiap kelompok, dipilih beberapa tambahan dari anak perempuan. Ya, kalau begini sudah pasti aku tidak akan terpilih. Wajar, aku sama sekali tidak bisa bermain voli. Karena sudah tidak minat, aku memilih olahraga yang lain saja.


Aku menimbrung Dila dan Oliv yang sedang bermain bulu tangkis. Tidak bermain, hanya berperan sebagai penonton di permainan mereka. Rasanya membosankan sekali jika selama pelajaran olahraga terus menerus duduk seperti ini. Sementara aku perhatikan Nindi yang asyik bermain voli. Tidak jauh dari tempatnya ada Alwi yang sedang tertawa. Aku jadi curiga, jangan-jangan Alwi yang memilih Nindi tadi.


"Kamu ngapain, Nduk?" tanya Pak Edi yang menghampiriku.


"Nggak ngapa-ngapain, Pak."


"Bantuin Bapak, bisa?"


"Bantu apa, Pak?"


"Bersih-bersih di utara gerbang."


Seperti novel yang pernah kubaca, 'tidak ada penolakan' untuk kali ini. Lagipula aku juga tidak begitu keberatan dengan tugas dari Pak Edi. Aku menyetujui permintaan Pak Edi kemudian mengekor di belakang beliau yang menuju utara gerbang.


"Lho, ternyata ada banyak orang di sini," ucapku refleks ketika melihat ada beberapa siswa yang tengah membersihkan dan menanam pohon di pekarangan.

__ADS_1


"Mereka kena hukuman," jawab Pak Edi.


"Gara-gara apa, Pak?"


"Biasanya kalau Bu Marni itu karena tidur di kelas," jelas Pak Edi. Oh, ternyata hukuman dari guru lain.


"Mereka biar yang bikin lubang tanaman, kamu yang menanam, ya. Bapak mau potong rumput dulu."


"Oh, iya, Pak."


Pak Edi meninggalkanku setelah sebelumnya memberi tahu alat dan tanaman yang hendak ditanam. Aku segera menghampiri dua siswa yang katanya tengah mendapat hukuman itu.


Aku canggung untuk tiba-tiba menimbrung mereka. Dilihat dari badge yang tertera di lengan kiri keduanya, mereka sepertinya juga satu angkat denganku.


"Eh, ada yang dihukum juga," bisik salah satu dari mereka yang sempat kudengar. Sontak aku dan dua orang itu beradu tatap.


"Eh, Zaki" pekikku seketika setelah menyadari salah satu dari mereka adalah teman SD-ku.


"Devi?" Oh, apakah wajahku ini memang sudah berubah sehingga banyak teman yang sudah lupa kepadaku?


"Iya, lupa?" tanyaku. Sementara temannya tampak menyenggol lengan Zaki seperti ingin tahu siapa yang sedang diajak temannya bicara .


"Namanya Devi, teman waktu SD dulu. Mau tanya apa lagi?" ucap Zaki kepada temannya, sementara temannya hanya meringis.


"Kamu kenapa? Nggak ngerjain PR Bu Marni juga?" tandas Zaki seolah mengejek.


"Enak aja, aku nggak diajar Bu Marni malahan," elakku tidak terima.


"Terus ke sini ngapain?"


"Disuruh Pak Edi."


"Memang anak teladan," celetuk teman Zaki.


"Terus kenapa kalian bisa dihukum?"


"Bukan urusanmu," jawab Zaki bersungut-sungut.

__ADS_1


__ADS_2