Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Akur Lagi


__ADS_3

Pagi ini aku tidak lagi berangkat bersama Alwi. Gara-gara membantunya tempo hari, hubunganku dengan Nindi menjadi kacau. Tidak bisa kubayangkan jika hari ini Nindi masih enggan berbicara denganku. Semoga saja ada kesempatan bagiku untuk menjelaskan yang sebenarnya.


Aku berjalan pelan setelah memarkirkan motor. Kebetulan hari ini ada pasar tumpah yang diadakan di pinggiran jalan menuju sekolah. Berbagai jajanan tampak begitu menggiurkan. Sayangnya uangku tidak cukup, aku tidak bisa untuk membelinya.


Aku berhenti di tepian jalan untuk sesaat. Tali sepatuku ternyata lepas dari simpulnya. Aku berjongkok untuk membetulkan. Aku mendongak ketika ada seseorang berhenti di sampingku, dari sepatunya terlihat seperti Nindi.


"Eh, Nindi," ucapku sedikit canggung kali ini.


"Udah? Ayo berdiri, aku bantu!" Nindi mengulurkan tangannya untuk membantuku.


"Tumben berangkat pagi, Nin."


Rasanya seperti bertemu dengan orang baru. Sulit mencari topik yang cocok dan benar-benar terasa sungkan. Akan tetapi, kedatangan Nindi kali ini membuatku merasa sedikit lega. Itu artinya Nindi sudah tidak lagi marah kepadaku, bukan?


"Tadi nenekku nebeng mau bareng ke pasar tumpah. Dia yang mau nebeng, dia juga yang nyuruh aku buru-buru." Nindi cemberut, dia sepertinya benar-benar kesal.


"Terus nenek kamu sekarang di mana?" Nindi mengendikkan bahunya.


"Nenek tadi udah duluan, aku masih parkir."


Aku dan Nindi berjalan santai di antara orang-orang yang tengah berlalu-lalang. Pasar tumpah yang diadakan seminggu sekali ini memang ramai. Sedikit membuat kesal, mempersulit akses menuju sekolah saja.


"Nah, itu nenekku lagi beli jajanan."


Nindi kemudian memanggil wanita berusia lanjut yang ia perkenalkan sebagai neneknya tadi. Sang nenek justru melambaikan tangan dan mengisyaratkan untuk mendatanginya. Nindi menarikku dan aku mengikutinya yang setengah berlari.


"Mau yang mana?" tanya nenek Nindi menawarkan berbagai kue basah.


"Yang itu namanya apa, Nek?" Nindi menunjuk makanan berwarna cokelat dengan tekstur sedikit berair.



"Itu kicak, mau?"


"Rasanya manis, Nek?"

__ADS_1


Aku pernah memakan kudapan itu. Dulu Ibu sering membuatnya ketika bulan puasa. Bapak pun sangat menyukai kicak buatan Ibu, begitu juga aku dan Rehan.


Makanan tersebut dibuat dari tepung singkong atau yang biasa disebut tiwul yang dikukus kemudian ditumbuk halus atau istilah Jawanya ditetel. Bahan pemanisnya dibuat dari parutan kelapa, gula pasir, gula merah, sedikit garam, dan daun pandan sebagai penambah aromanya. Aku jadi rindu dengan kicak buatan Ibu, tapi kurasa Gatot lebih menarik.


Berbeda dengan kicak yang memiliki rasa manis, gatot memiliki rasa cenderung asin gurih. Gatot sendiri merupakan makanan yang berbahan dasar singkong. Singkong yang sudah dikupas, dikeringkan, bahkan sengaja dihujan-hujankan hingga warnanya menjadi kehitaman karena adanya jamur. Meskipun warna dan aromanya aneh, gatot tetap saja nikmat untuk disantap. Gatot diolah dengan cara dikukus dan untuk penyajiannya cukup sederhana, yaitu dengan menambahkan parutan kelapa.


"Aku mau, Nek. Devi mau apa?" tawar Nindi kepadaku.


"Oh, temanmu mau apa? Sekalian Nenek belikan." Jadi sungkan kalau begini.


"Gatot aja, Nin."


"Gatot itu yang mana?" Nindi ternyata kurang familiar dengan makanan tradisional itu. Dia belum pernah menyantap sebelumnya.



"Alwi sekalian juga kayaknya. Nek, kicaknya dua bungkus, ya." Wah, aku senang Nindi mengucap kalimat itu. Artinya memang masalah kemarin sudah selesai, kan? Dia sudah akur lagi denganku dan Alwi


Aku sebenarnya penasaran ingin menanyakan kesalahpahaman kemarin. Akan tetapi, sepertinya hal itu tidak penting lagi untuk dibahas. Kurasa Nindi sudah mendapatkan penjelasan dari Alwi. Ya, mungkin aku akan sedikit menyinggung jika Nindi yang memulai terlebih dahulu.


"Oke, makasih, Nek. Nindi lanjut ke sekolah, ya."


Setibanya di kelas, tempat tersebut masih dalam kondisi pintu tertutup. Itu artinya belum ada siswa yang datang, aku dan Nindi yang pertama. Padahal tadi aku dan Nindi sudah menghabiskan banyak waktu di pasar tumpah.


"Nin, duduk sama aku, kan?" tanyaku seraya menaruh tas di atas meja.


"Iya, lah. Nggak boleh? Ya udah kalau gitu." Aku tahu dia sedang mengusiliku.


"Mohon maaf tuan putri." Aku mengusap kursi dan meja Nindi, menirukan gerakan bersih-bersih menggunakan kemoceng.


"Ini, tempatnya sudah terjamin bersih. Saya persilahkan untuk duduk di singgasana." Nindi malah tertawa, padahal aku sudah totalitas berdrama seolah menjadi pelayan kerajaan.


"Terima kasih wahai dayangku." Nindi membungkuk menirukan karakter Barbie yang elegan. Aduh, malah makin menjadi ternyata.


"Udah lah, Nin. Capek aku, pagi-pagi udah drama aja."

__ADS_1


"Kamu yang mulai, kan, Dev?"


Nindi sebaik ini, tiba-tiba membenciku karena hal kecil yang dilebih-lebihkan. Wajar sekali jika aku terus kepikiran. Untung saja badai kemarin sudah hilang dan berlalu hari ini.


"Dev, aku penasaran sama makanan tadi. Kita makan, yuk!" Nindi mengeluarkan dua makanan berbungkus daun pisang yang dibelikan neneknya tadi.


Dia kemudian membukanya, namun masih tampak penasaran. Sang penjual ternyata menyiapkan tusuk yang digunakan untuk mempermudah saat menyantapnya. Jadinya, tangan tidak akan lengket terkena kuahnya.


"Oh, gini ternyata rasanya. Enak, Dev. Cobain!" Nindi memberikan kepadaku tusuknya tadi.


"Aku udah pernah makan, sih, Nin. Emang enak, dulu Ibu sering buatin. Aku mau, ya." Enak, tapi aku lebih merindukan kicak buatan Ibu.


"Kamu nggak penasaran sama yang aku minta tadi?" Kubuka gatot yang mungkin bagi sebagian orang terlihat tidak menarik karena warnanya yang tidak menggoda.


"Kayak gitu, sih. Emang enak?" Nindi meringis ketika aku memakan gatot tersebut.


"Eh, ini enak, lho. Kamu nggak mau nyoba? Satu dulu aja." Akhirnya Nindi mau mencoba.


"Penampilan tidak mencerminkan rasanya. Rasanya enak banget." Nindi mengacungkan jempolnya.


Sudah pukul 06.40 WIB, tapi belum juga ada tambahan siswa yang datang. Aku sedikit curiga, mungkin sebagian dari mereka ada yang menyangkut di pasar tumpah tadi. Selain aneka jajanan, di sana juga menyediakan aksesoris yang menarik dengan harga murah.


"Wih, pagi-pagi sarapan apa, tuh." Alwi yang baru datang langsung menghampiriku dan Nindi.


"Masih sepi, Al. Tadi ketemu teman-teman nggak?" tanyaku.


"Aku ada lihat beberapa anak masih di pasar tumpah tadi. Bukannya buru-buru berangkat sekolah, malah mampir ke situ." Alwi melahap satu suapan kicak milik Nindi.


"Enak. Beli di mana?"


"Di pasar tumpah tadi. Aku juga beliin buat kamu, ini." Nindi menyerahkan makanan yang dibeli khusus untuk Alwi tadi.


"Makasih Nindiku sayang. Ih, makin cantik deh sekarang." Alwi menarik pipi Nindi hingga gadis itu mengaduh.


"Jangan gitu, dong. Sakit tahu!" protes Nindi.

__ADS_1


Aku berdehem dan pura-pura tersedak. Aduh, seperti pasangan suami istri yang baru saja baikan. Aku tercampakkan, Ya Allah.


"Dev, dibeliin jajan sama pacar emang romantis, tapi pernah nggak sih kamu punya pacar?" Huh, aku benci kalimat yang diucapkan Alwi itu.


__ADS_2