
Aku tidak tahu siapa yang tengah berbincang dengan Bapak di ruang tamu. Sepertinya bukan Alwi atau Nindi. Beberapa kali terdengar suara Bapak tertawa, itu artinya sang tamu adalah orang yang cukup dekat dengan Bapak.
"Nduk, kamu sudah pulang?" teriak Bapak yang mungkin mendengar suaraku dan Rehan.
"I-iya, Pak. Ini Devi baru pulang."
"Ke sini, lho, Nduk!"
"Iya, Pak."
Rasa curiga tiba-tiba muncul. Aku seolah mendengar suara Syiham di sana. Masa iya dia datang ke rumahku?
"Nah, kamu bohong, ya!"
Seumpama maling yang tengah tertangkap basah, aku hanya bisa diam dengan rasa bersalah. Aduh, pasti Bapak akan memarahiku setelah ini. Aku yakin Syiham sudah bercerita tentang kebohonganku.
"Eh, Syiham, ternyata. Kenapa bawa barang banyak sekali?" Kulirik buah-buahan dan beberapa makanan yang berjejer di meja. Pasti itu bawaan Syiham.
"Emangnya nggak boleh?" tanya Syiham seraya tersenyum kepadaku.
"Duduk dulu, Nduk!" Ah, bisa-bisanya sekadar duduk saja aku bisa lupa.
Akhirnya Bapak pamit ke dapur meninggalkan aku dan Syiham. Akan tetapi, aku justru merasa takut. Jangan-jangan Syiham akan sangat marah padaku dan menyimpan dendam.
"Kamu tadi bilang Bapak?" bisikku sambil sesekali mengawasi pintu, takut tiba-tiba Bapak muncul.
"Bilang apa?" tanya Syiham dengan menyeruput minuman yang sudah disiapkan Bapak.
"Apa reaksi Bapak pas kamu bilang kalau aku lagi sakit?"
"Aku nggak bilang gitu, tenang aja. Kamu takut, kan? Makanya jangan suka bohong. Kamu pikir aku tadi tidak melihatmu di kolong meja? Sebo*oh itukah aku?" Syiham tertawa, kali ini justru aku yang merasa bo*oh.
"Serius kamu nggak bilang?" Syiham mengangguk.
"Terus pas ke sini tadi kamu bilang apa?" Aku masih saja penasaran.
"Bilang mau nyari kamu, terus Pak Basir bilang kalau kamu lagi sekolah. Ya udah, aku bilang mau aku tunggu," jelas Syiham.
__ADS_1
"Kamu udah lama di sini?"
"Sekitar 20 menit. Tidak ada waktu lama untuk menunggu seorang Devi." Syiham mulai kambuh sifat penggodanya.
"Tahu gitu tadi main dulu," timpalku.
"Tetap aku tunggu. Bukankah nanti kamu juga yang kena sial? Pak Basir pasti akan memarahimu."
"Kamu kenapa bisa akrab banget sama Bapak?"
"Tanya bapakmu, dong. Nah, tuh, beliau datang. Pak, Devi mau tanya sesuatu." Ah, aku merasa benar-benar menjadi manusia yang paling sial selama bersama Syiham.
"Tanya apa, Nduk?" Bapak meletakkan tiga mangkuk mie ayam di atas meja. Wah, terlihat sangat menggoda.
"Eh, Devi nggak mau tanya, kok. Syiham nih ada-ada aja."
"Tadi tanya kenapa kita bisa akrab, gitu kata Devi, Pak," jelas Syiham.
"Oh, Mas Syiham ini anak Pak Rudi, teman SD Bapak. Bapak sering main ke sana juga, makanya kita akrab." Saking pendiamnya Bapak, aku bahkan tidak tahu ada cerita seperti ini.
"Oh, gitu. Ini mie ayamnya mau dianggurin, Pak?" ucapku yang sudah sangat tidak tahan ingin memindahkan makanan dalam mangkuk itu ke perutku.
"Rehan sudah, Pak?" tanyaku yang menyadari adik kesayanganku itu sedang tidak ada.
"Dia nggak mau, malah minta jajan." Oh, cerdik juga rupanya.
"Oh, ada maunya. Ya udah kalau udah."
Tanpa bicara kami menghabiskan mie masing-masing. Aku habis paling awal, antara lapar dan doyan. Sempat kulihat Syiham memasang ekspresi terkejut ketika melihatku menaruh mangkuk kosong dalam waktu yang singkat. Aku tidak peduli, kalaupun dia illfeel padaku itu justru menjadi hal yang baik.
"Eh, maaf, kelepasan." Kututup mulutku selepas bersendawa. Bapak pun juga melongo, mungkin hanya Rehan yang sering melihatku refleks melakukan hal demikian.
"Kamu udah kenyang, Dev? Atau mau lagi?" tanya Syiham.
"Menurutmu gimana? Kamu tanya apa nyindir, sih, Ham?" Aku merasa kesal dengan pertanyaan Syiham.
"Eh, itu beneran tanya. Kamu kayak lahap banget kalau makan. Aku suka lihat cewek kayak gitu, gemesin tau! Makin cantik!" Ih, niat bikin illfeel malah bikin dia semakin kesemsem.
__ADS_1
"Apaan, sih? Sengaja, ya? Ngeledek, kan?" tindasku.
"Dari tadi kenapa harus ngomong pakai nada kayak gitu, Nduk? Perempuan, harus lebih halus kalau bertutur. Kamu ada masalah apa sama Mas Syiham?" Kapok, ternyata Bapak terlalu peka dan menyadari kejutekanku.
"Eh, nggak, kok, Pak. Aku sama Syiham emang sering becanda kayak gini. Aslinya kita akur-akur aja, ya, kan, Ham?" Kukedipkan mata beberapa kali memberi kode pada Syiham.
"Iya, kok, Pak Basir. Devi ini kalau di sekolah humoris banget. Suka bikin orang-orang ketawa. Dia mungkin cita-citanya jadi badut," ucap Alwi seenak jidatnya.
"Perasaan kita satu sekolah baru seminggu, sok-sokan akrab gitu," celetukku.
"Emang kita akrab, kan? Gimana, sih, Dev?"
Kepulangan Syiham yang sangat kutunggu. Lelaki itu bisa-bisanya merasa sangat betah bertamu denganku. Mungkin kalau ia tidak ingat ada janji dengan mamanya, mungkin kegiatan mengobrol bisa berlanjut hingga ribuan episode.
Syiham melambaikan tangan ketika motornya sudah dinyalakan. Bapak hanya mengangguk seraya tersenyum ramah. Sementara aku sedang tidak seirama dengan dua lelaki itu, aku tampak tak peduli.
"Tadi Mas Syiham repot-repot bawa sate ayam juga, kita nggak perlu masak, Nduk," ucap Bapak saat memasuki rumah. Nah, kenapa tadi harus beli mie ayam jika sudah tersedia makanan dari Syiham.
"Terus tadi tumben beli mie banyak. Biasanya satu bungkus dibagi tiga," ledekku pada Bapak.
"Itu tadi juga yang bawa Mas Syiham. Bapak jadi sungkan banget sama dia. Bawa barang banyak banget buat kita." Syiham adalah Alwi kedua, sama-sama suka memberi makanan dan menyebalkan.
"Menolak rizki nggak baik, Pak. Syukuri saja, hitung-hitung hemat pengeluaran, Pak." Aku tersenyum.
"Iya betul juga, tapi tetap sungkan jadinya, Nduk."
"Buang semua rasa sungkannya, Pak. Alhamdulillah gitu aja."
Aku dan Bapak memutuskan untuk membereskan ruang tamu, Rehan pun juga di situ. Setelah tikar digulung, Rehan membantuku menyapu lantai yang masih beralas lantai cor-coran.
"Nduk, kamu sudah dekat sama Syiham dari lama?" tanya Bapak berhasil membuatku tertawa. Aku sama sekali tidak dekat dengan Syiham.
"Aku sama dia cuma teman, kok, Pak. Bapak kira kita ngapain? Pacaran? Jangankan pacaran, ketemu dia aja malas," ucapku dengan sangat jujur
"Beneran? Bagus, deh, kalau gitu. Bapak nggak pernah suka lihat anak-anak Bapak sampai berani pacaran. Jadi contoh yang baik untuk adikmu."
"Iya, Pak."
__ADS_1
"Pak Basir, ini ayamnya kenapa dibiarkan berkeliaran? Habis tanamanku dimakan sama ayammu."
Bapak langsung mencari sumber suara tadi, aku pun mengekornya. Ternyata ada Mbak Bela yang tengah berkacak pinggang karena sudah emosi.