Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Boneka Jerapah


__ADS_3

"Ya Allah, Mas. Jangan dibiasakan kayak gitu!" protes Bu Salma ketika Alwi bersendawa tak terkendali. Aku pun sempat meliriknya sebelumnya. Alwi tersenyum malu, tidak biasanya dia sembarangan bersendawa.


"Hehehe ... maaf, nggak sengaja, Ma. Kelepasan!"


"Mbak Devi udah makannya?" tanya Bu Salma kepadaku.


"Sudah, Bu. Alhamdulillah kenyang."


Aku suka menatap Bu Salma, dia seorang ibu yang cantik dengan penampilan selalu mengenakan gamis dan berjilbab. Sekilas senyum ramah Bu Salma mengobati rasa rindu pada Ibu. Belum lagi tutur lembut ucapannya, persis seperti Ibu. Hanya doa, semoga Ibu bahagia di alam sana.


"Gimana, Mbak Devi?" Alwi menyenggol lenganku, aku gelagapan.


"Eh, ada apa?" tanyaku.


"Itu mama tanya," ucap Alwi. Astaghfirullah, ternyata aku melamun.


"Bu Salma tanya apa?" tanyaku pelan merasa sungkan, Bu Salma tertawa pelan.


"Katanya Mbak Devi hobi menulis cerita sama puisi, ya?" Kulirik Alwi, seketika dia meringis dan menggaruk tengkuknya. Dasar ember bocor.


"Bu Salma yang ngasih tahu Alwi?"


"Iya, Mas Alwi sering cerita."


"Duh, Alwi, aku jadi malu!"


"Kenapa harus malu? Itu namanya bakat yang baik, harus dikembangkan. Benar, kan, Pak Basir?" sergah Pak Herman.


"Saya justru nggak tahu. Devi pemalu soalnya," ungkap Bapak. Hm, bukannya kebalik, Pak?


"Aku sering diam-diam baca tulisan Mbak Devi, bagus. Apalagi yang dikasih gambar-gambar, lucu!" celetuk Rehan. Wah, kenapa malah pada membongkar rahasiaku.


"Itu waktu aku masih SD yang ada gambarnya."


"Oh, hobinya udah dari kecil?" Bu Salma tampak penasaran.


"Dulu Ibu sering beli tempe, bungkusnya biasanya dari kertas. Di kertas-kertas bungkus tempe itu aku sering membaca cerita-cerita. Jadinya aku tertarik untuk mencoba menulis sendiri," jelasku.


"Bagus, membaca itu budaya yang baik. Ibu jadi tertarik juga untuk membaca ceritamu."


"Nah, kata Nindi, Devi ini punya banyak buku tulis yang berisi ceritanya, Ma. Besok kamu bawa, ya, Dev." Alwi menepuk bahuku.


"Lho, jangan! Aku nggak PD!"


"Kalau kamu nggak berusaha show up ke orang lain, gimana kamu memulai langkah untuk menjadi penulis hebat? Nggak usah malu, Nak," ucap Bu Salma.


"Papa ada kenalan penerbit, kali aja nanti bukunya mau diterbitkan, bisa Papa bantu," tambah Pak Herman.


"Tuh, gimana, Dev? Yakin masih nggak PD?"

__ADS_1


"Aku sendiri, sih, masih belum yakin. Harus izin Bapak juga, kan?"


"Lho, apapun yang kamu lakukan selama itu baik Bapak selalu mendukung, Nduk," tandas Bapak.


"Apalagi aku, aku juga mendukung!" seru Rehan.


Haru, malu, dan senang bercampur menjadi satu. Saat ini sudah ada beberapa yang mendukung bakatku. Masalahnya, aku sendiri belum yakin dengan diriku. Takut jika di luar sana akan ada yang tidak menyukai tulisanku.


"Kayaknya kalau untuk niat menerbitkan karya belum, Pak. Aku masih perlu banyak belajar."


"Ya, udah, nggak memaksa. Kalau Mbak Devi sewaktu-waktu sudah buat menerbitkan karya, bilang aja ke Mas Alwi, oke?" tawar Bu Salma, aku mengangguk.


Acara makan di warung sudah selesai. Bapak dan Pak Herman membayar ke tempat kasir. Selanjutnya Rehan ingin membeli tas bersama Bapak. Pak Herman dan Bu Salma ingin berjalan-jalan berduaan. Alwi mengajakku untuk mengikutinya, katanya ke tempat surganya perempuan. Daripada sendirian, lebih baik aku ikut dengannya.


Suasana pasar malam semakin ramai. Mulai dari anak-anak hingga orang tua pun ada di sini. Alwi menggenggam tanganku dan menuntunku untuk mengekornya. Aku hanya pasrah, tidak tahu juga apa yang hendak ia tuju.


"Mau beli boneka, Al?" tanyaku begitu Alwi membawaku pada stand yang berisi penuh boneka dari yang berukuran kecil hingga super jumbo.


"Iya. Coba kamu pilih satu yang bagus, dong!"


"Aku yang milih?" tanyaku ragu, masa iya Alwi ngasih aku boneka.


"Iya!"


"Kalau aku suka yang bentuknya kayak itu!" Kutunjuk boneka berukuran sedang berbentuk karakter jerapah.


"Ih, iya lucu ternyata. Nindi suka nggak, ya?"


"Iya lah. Buat siapa lagi?"


Lagi-lagi aku menertawakan diriku, bisa-bisanya terlalu percaya diri dan menganggap Alwi akan membelikan boneka untukku.


"Kalau Nindi sukanya karakter Doraemon. Bilang dari tadi, kek!"


"Ya, pikirku semua cewek seleranya sama," terang Alwi.


"Nggak, dong. Kali aja suatu saat kamu ngasih aku boneka, boleh yang bentuknya jerapah kayak tadi," candaku.


"Oh, bagus banget to the point! Kapan-kapan aku kasih kado, deh!"


"Oke, aku siap menunggu!"


Alwi menjatuhkan pilihannya pada sebuah boneka Doraemon berukuran besar. Aku tidak tahu berapa harganya, yang jelas harganya mahal. Dia menabung berapa lama untuk membeli benda empuk itu?


"Selanjutnya kita ke stand aksesoris, ya," ucap Alwi. Alwi sempat mengajakku duduk di kursi yang tersedia di depan stand penjual boneka tadi.


"Mau beli apa lagi?"


"Gelang gitu, gelang couple."

__ADS_1


"Mentang-mentang ada pacar, sukanya beli yang berpasangan."


"Lho, ini nanti aku kasih ke kamu. Gelang persahabatan kita. Hitung-hitung sebagai ganti beliin kamu boneka," jelas Alwi.


"Tapi itu nggak sepadan, harganya jauuuuh lebih murah dari boneka." Aku tertawa, aku protes hanya bermaksud mengajak Alwi bergurau.


"Harusnya bersyukur! Kamu mau aku beliin jilbab?" tawar Alwi.


"Kenapa jilbab?"


"Kamu kan udah baligh, sudah wajib menutup aurat sebenarnya."


"Tapi aku masih malu kalau pakai jilbab. Pasti nanti ada yang bilang sok alim."


"Ya udah, lain kali aku beliin. Tapi berhijab itu kewajiban sebenarnya. Kamu harus mulai membiasakan. Kasihan bapakmu kalau kamu masih terus membuka aurat. Nindi pun juga mulai aku nasihati," jelas Alwi.


"Nasihati buat pakai jilbab?" Alwi mengangguk.


"Nasihati buat nggak pacaran pernah?" godaku, ini pasti akan membuat Alwi sensitif.


"Jangan gitu, dong, Dev. Aku malu jadinya. Aku tahu pacaran itu termasuk perbuatan mendekati zina, tapi aku bingung aku sudah terlanjur cinta sama Nindi."


"Gitu terus alasannya!"


"Ya udah, ayo cari gelang!"


Aku dan Alwi tiba di tempat penjual berbagai aksesoris. Berbagai pernak-pernik seperti kalung, gelang, dan cincin tampak begitu indah, tapi aku sama sekali tidak tertarik untuk memilikinya.


"Bagusan yang mana, Dev?" Alwi menunjukkan dua buah gelang kepadaku.


Gelang yang terbuat dari benang itu menurutku tidak ada bedanya. mungkin hanya berbeda dari warnanya. Aku mengendikkan bahu, tidak tahu harus memilih yang mana.


"Kok, nggak tahu?"


"Ya, emang nggak tahu."


"Bagus yang hitam atau abu-abu?" tanya Alwi.


"Hitam bagus, kalaupun kotor nggak begitu terlihat," ucapku menjelaskan alasan memilih warna hitam.


"Kamu beli tiga, kan? Buat aku, kamu, sama Nindi."


"Dua aja kenapa?" tanya Alwi yang tampak bingung.


"Dua buat siapa?"


"Aku sama kamu."


"Kalau gelang sahabat, berarti ya tiga. Kita bertiga, kan, bersahabat!"

__ADS_1


Aku tidak mau nantinya akan ada permasalahan antara aku dan Nindi hanya gara-gara gelang ini. Lebih baik begitu jalan tengahnya, sama-sama memiliki.


Maaf kalau bab ini gak jelas banget. Authornya mumet wkwkwk


__ADS_2