Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Kunyit Asam Buatan Bapak


__ADS_3

Keadaanku semakin berangsur baik. Malam harinya aku menata buku sesuai jadwal untuk esok. Aku baru ingat, ada tugas Bahasa Inggris di LKS yang belum kukerjakan. Untung saja waktu itu aku sempat membahasnya dengan Nindi. Dan, sekarang aku tinggal menyalinnya di buku tugas.


"Nduk, sudah tidur?" Bapak mengetuk pintu kamarku. Aku bergegas untuk membukanya.


"Belum, Pak. Ada apa?" Begitu pintu kubuka, Bapak menyodorkan kepadaku segelas minuman berwarna oranye.


"Jamu?" tanyaku memastikan bahwa yang dibawa Bapak adalah kunyit asam.


"Diminum, biar sehat!"


"Bapak sama Rehan udah minum?" Biasanya Rehan suka sekali meminum jamu dengan rasa manis dan sedikit asam tersebut.


"Masih ada di dapur. Ini buat kamu."


"Terima kasih, Pak." Bapak kemudian berlalu menuju dapur tanpa menjawab ucapanku.


Kembali kututup pintu dan menghampiri tumpukan buku yang bentuknya tak beraturan. Tugas yang kusalin baru separuh, segera kuselesaikan semuanya. Pukul delapan malam, seluruh tugasku sudah tuntas.


Aku duduk di atas tikar yang menjadi alas kamarku. Setelah ini tidak ada hal lain yang perlu kukerjakan. Minuman yang diberikan Bapak tadi hampir saja terlupakan. Aku segera meraihnya, semoga saja ramah di mulutku yang masih terasa pahit.


"Alhamdulillah." Dalam sekali tegukan minuman itu habis. Kuletakkan gelas yang sudah kosong tersebut di sudut kamar, malas membawanya keluar.


Sakit dan banyak menghabiskan waktu untuk tidur di siang hari. Akibatnya, saat ini aku masih saja terjaga. Kuambil buku binder yang berada di tumpukan paling bawah. Buku itu berisi cerita-cerita dan puisi yang kutulis sejak dulu. Mungkin dari kelas enam SD.


Perlahan lembar demi lembar kubuka. Selama ini aku terlalu fokus menulis hingga lupa membaca karyaku sendiri. Terkadang timbul rasa malu ketika melihat tulisan yang kubuat. Cerita yang tidak masuk akal, bahkan penulisan yang masih salah kaprah.


Aku pernah menemukan kata-kata. Kira-kira seperti ini bunyinya. Mungkin suatu saat kamu akan merasa malu dengan tulisan yang pernah kamu buat. Atau bahkan mungkin kamu bisa menilai bahwa tulisanmu yang dulu banyak kesalahannya seperti dalam hal penulisan. Jika menemukan hal demikian, harusnya tidak perlu malu, itu artinya kamu sudah mengalami progres. Tulisan yang baik tidak serta merta lolos dari kritik dan saran.


Semakin lama semakin terasa pedih di mata. Kututup buku binder dan menyimpannya di tempat semula. Rasa kantuk mulai menghampiri, ternyata sudah hampir jam setengah sepuluh, saatnya mengistirahatkan diri.


***


"Berangkat sama aku aja, Re."

__ADS_1


Pagi ini aku sudah siap dengan seragam sekolahku. Begitu juga dengan Rehan, namun dia masih asyik menikmati sarapannya.


"Mbak duluan aja, nanti telat," ucap Rehan.


"Nggak, kok. Lagian aku kan naik motor, jadi bisa cepat!"


"Tapi kita beda arah, Mbak."


"Nggak papa. Ayo, aku tunggu, nih!"


Rehan biasanya memang naik sepeda atau diantarkan Bapak ketika sekolah. Jarak sekolahnya juga tidak begitu jauh. Akan tetapi, kali ini aku ingin sekalian mengantarnya ke sekolah.


Setengah tujuh aku dan Rehan sudah siap. Motor yang sebelumnya sudah dipanaskan siap dikendarai pula. Rehan naik motor dan duduk di belakangku. Pintu rumah sudah dalam kondisi terkunci, Bapak juga sudah berada di ladang sejak pagi. Perlahan kutinggalkan pekarangan dan mulai menerobos pagi yang sudah lumayan ramai.


"Yang di depan itu apa, Mbak?" Aku melihat ke arah telunjuk Rehan. Di tempat gantungan bawang stang terdapat tas dari kain yang kuminta dari Bapak.


Aku memiliki sebuah ide setelah Bapak memberikan jamunya tadi malam. Rencananya aku hendak meminta temanku untuk mencicipi minuman tersebut. Jika memang ada yang minat, nantinya akan ada open order untuk jamu tersebut. Semoga saja keisenganku ini bisa menjadikan pundi-pundi rupiah untuk Bapak.


"Jamu, Re. Jamu buatan Bapak. Mau aku promosikan ke teman-teman."


"Belum tahu. Kan, baru dicoba!"


"Oh, begitu."


Rehan turun begitu motor yang kami kendarai berhenti di samping gerbang sekolah Rehan. Dia mencium tanganku seraya mengucap salam. Dia sempat melambaikan tangan sebelum akhirnya aku kembali menyusuri jalan menuju sekolahku.


Tidak seperti biasanya, kali ini kulajukan motorku sedikit lebih cepat. Di jalan aku juga bertemu dengan beberapa teman berseragam sama yang diantarkan oleh orang tuanya. Aku sedikit lebih terlambat dari biasanya.


Setibanya di tempat parkir, sudah banyak siswa yang menitipkan kendaraannya di sana. Setelah menaruh motor, aku segera pergi dari tempat parkir menuju sekolah. Aku sempat melihat Zaki dan beberapa temannya yang masih mengobrol di halaman parkiran. Aku sempat mendengar dia yang menyebutkan namaku, tapi aku tidak mempedulikannya.


Di gerbang sekolah sudah ada beberapa guru yang menyambut kedatangan siswa. Para siswa akan menjabat tangan guru dan menciumnya. Sungguh, sepertinya baru kali ini aku datang kesiangan.


Aku langsung menuju kelas, ternyata sudah banyak temanku yang datang termasuk Nindi dan Alwi. Sepertinya Alwi mengira aku belum bisa masuk, tasnya berada di mejaku. Apa dia kemarin juga duduk sebangku dengan Nindi?

__ADS_1


"Sudah masuk, Dev? Silahkan duduk!" Alwi berpindah ke tempat duduk lain dan mengosongkan kursi yang semula ia gunakan.


"Sudah sembuh beneran, Dev?" tanya Nindi.


"Sudah, dong. Kalau sakit nggak mungkin aku masuk."


"Kita rindu banget sama kamu, Dev. Kamu kenapa sakit, sih?" Oliv menghampiriku dan menyerbu pipiku, rasanya sakit. Aku meringis.


"Nggak percaya!"


"Ih, beneran. Biasanya kamu selalu rame kalau usilin Alwi."


"Aku usilin Alwi? Yang ada Alwi usilin aku!" Kulirik Alwi yang tampak tersenyum setuju dengan ucapan Oliv.


"Ya, intinya kalian berdua nggak pernah akur. Kita rindu itu!"


"Suka banget lihat orang berantem!" protes Alwi yang tiba-tiba menyerobot tas kainku tadi.


"Ini apa?" tanya Alwi.


"Em, itu jamu. Kali aja kamu mau coba, gratis! Kalau kalian minat aku menerima pesanan untuk besok," jelasku ketika Alwi mengeluarkan salah satu minuman berbungkus plastik bening itu.


"Teman-teman, ini ada tester jamu dari Devi. Kali aja kalian minat, boleh ambil! Satu anak satu, ya. Kalau mau lagi, besok bisa pesan!" teriak Alwi membuat seisi kelas mendengarkan pengumumannya. Tak butuh waktu lama, bangkuku dipenuhi oleh teman-teman yang penasaran.


"Gimana rasanya?" tanyaku pada Nindi yang sedang menyeruput jamu dari ujung plastiknya.


"Seger, nenekku biasanya beli. Aku pesan dua, ya."


"Aku juga mau, Dev. Nanti aku kasih ke mamaku," ucap Alwi.


Segera kukeluarkan kertas kecil untuk mendata beberapa teman yang memesan. Aku seneng ada yang memesan meskipun hanya teman terdekat. Mungkin beberapa teman lain lainnya belum berminat. Semoga saja ada tambahan pemesan lainnya.


"Aku juga mau, Dev. Dua, ya!" Bagas yang berada di bangkunya berteriak. Alhamdulillah.

__ADS_1


"Aku juga mau, Dev. Satu aja!"


"Oke!"


__ADS_2