
Mbak Siska menunjukkan kepadaku baju-baju berlengan panjang dengan model yang beraneka ragam. Dia berbicara begitu lancar dengan menyebutkan keunggulan dari setiap barang yang ia bawa. Saking hebohnya Mbak Siska, aku sampai belum bisa menentukan pilihanku sendiri.
"Nah, itu pasti cocok buat kamu. Warnanya kalem, kayak kamu. Best seller, tinggal satu! Bahannya juga bagus, nggak bikin gerah," ucap Mbak Siska kala aku mengambil sebuah baju yang masih terlipat rapi berbungkus plastik.
"Kamu bingung, ya, Dev? Terserah, sih, kata bapakmu pokoknya disuruh ambil tiga potong."
"Iya, Mbak aku bingung. Bingung karena banyak pilihan, bingung juga karena Bapak tiba-tiba nyuruh aku buat beli baju," ucapku.
"Ya, udah, dipilih dulu. Nanti kalau cocok langsung masuk ke kantong. Nggak usah bingung uangnya, nanti dibayar bapakmu."
"Iya, Mbak."
Mbak Siska memberiku sebuah kantong plastik berukuran besar agar aku tidak kesusahan ketika membawa baju-baju nanti. Sepertinya Mbak Siska tahu jika melanjutkan ke pesantren bukanlah keinginanku sendiri. Seraya memilih dan memilah baju-baju yang ditawarkan, kudengarkan Mbak Siska yang tengah mengenang masa mudanya ketika di pesantren.
"Di pesantren itu seru, lho, Dev. Banyak temannya, kamu nggak akan kesepian," ucap Mbak Siska.
"Dulu awalnya aku juga dipaksa sama ibuku, kok. Tiap hari aku nangis, soalnya kangen bapak ibu terus. Pas malam juga susah tidur, soalnya di pesantren nggak pernah sepi meskipun udah malam."
Cerita Mbak Siska sepertinya bisa menjadi alasan ke Bapak agar mengurungkan niatnya memasukkanku ke pesantren. Akan tetapi, masa iya aku senekat itu. Sayang juga sudah bayar biaya pendaftaran meskipun baru menyicil.
"Hal semacam itu cuma aku rasain sekitar tiga bulan, kok, Dev. Lama-lama aku betah di sana. Malah, pas sudah lulus dari SMA, kan kebanyakan temanku ada yang kerja atau kuliah terus boyong, keluar dari pondok. Nah, aku justru nggak mau, masih betah di pesantren, sayang banget sama ngajinya." Mbak Siska masih melanjutkan ceritanya.
"Ngaji terus capek nggak, sih, Mbak? Soalnya kemarin di brosur pesantren itu kegiatannya padat banget. Kayaknya bakal nggak betah aku," keluhku pada Mbak Siska.
"Emang kamu mau ke pesantren mana?"
"Di pesantrennya Mbak Eva."
"Oh, aku dulu juga di situ. Memang kalau di brosur itu kegiatannya ditulis rinci banget, padahal aslinya nggak sepadat itu."
"Masa, sih, Mbak?"
__ADS_1
"Iya, justru lebih enak di pesantren daripada di rumah. Di rumah di suruh-suruh, dimarahi sama ibu. Kalau di pesantren, kan, tinggal fokus belajar aja, Dev," bisik Mbak Siska sambil tersenyum.
"Terus dapat uang saku sama kiriman jajan banyak. Beneran, deh, orang tua bakal nggak tega sebenarnya kalau kita jauh. Pas ada kunjungan ke pesantren pasti heboh bawa makanan macam-macam. Duh, jadi nostalgia, kan. Pengen masuk pesantren lagi," ungkap Mbak Siska yang memberikan iming-iming menggiurkan namun tidak juga membuatku tertarik.
"Kalau kangen orang-orang di rumah gimana?" tanyaku. Hal itu menjadi alasan terbesarku merasa berat hati untuk melanjutkan ke pesantren.
"Ya Allah, Dev. Kamu itu juga dikasih waktu liburan, lho. Kamu pikir bakal terus di pesantren? Nggak, lah."
"Ya, juga, sih, Mbak. Tapi aku belum yakin bisa betah di sana."
"Harus dicoba. Jangan menyerah sebelum berperang! Belum dicoba, bisa-bisanya nyerah duluan. Aku juga dukung Pak Basir kalau gitu. Pergaulan di luar terlalu bebas, Dev. Ya, meskipun pesantren tidak menjamin semua santrinya menjadi baik, setidaknya jika berada di pesantren menurutku akan sangat lebih baik dan aman."
"Kalau gitu doa-in aku, ya, Mbak. Mudah-mudahan bisa betah dia sana, biar Bapak bangga."
"Siap, pasti itu, Dev!"
Suara motor mulai terdengar di halaman rumah Mbak Siska. Dari awal aku mengira jika itu Bapak dan ternyata memang benar. Pasalnya, tak berselang lama kalimat salam diucapkan dari arah pintu depan. Mbak Siska menyahut, ia mempersilahkan Bapak untuk bergabung di ruang belakang.
"Gimana, ada yang cocok?" tanya Bapak kepadaku.
"Eh, sudah, Pak. Aku udah dapat, ini!" Kutunjuk tiga baju dengan warna yang berbeda di hadapanku.
"Nah, itu bagus-bagus juga, kan? Ya udah, kamu bungkus sendiri aja, ya, Dev!
"Iya, Mbak."
"Sudah, ya, Pak. Ini aku ambil tiga baju. Beneran Bapak yang bayar? Memang ada uang?" tanyaku pada Bapak.
"Iya, Nduk. Kamu ambil saja, buat ganti-ganti di pesantren nanti. Mumpung Bapak ada rejeki. Berapa Mbak Siska semuanya?"
Dulu sewaktu Ibu masih hidup, aku sering ikut berbelanja di pasar. Namanya ibu-ibu ketika belanja di pasar tradisional tidak afdol jika belum menawar barang yang ingin dibeli dengan si pedagang. Tak jarang adegan dramatis yang membuatku kesal dilakukan oleh Ibu. Berpura-pura meninggalkan si pedagang ketika harga yang diminta tidak sesuai, eh, ending-nya juga dipanggil lagi oleh si penjual dan Ibu yang menjadi pemenang.
__ADS_1
Sekarang tidak kurasakan lagi hal itu. Bapak jarang berbelanja di pasar bersamaku. Kalaupun aku diajak membeli sesuatu, Bapak lebih memilih toko yang memiliki sistem harga pas. Tidak ada lagi drama menjauh dari penjual demi mendapatkan harga yang lebih murah.
Mbak Siska menyebutkan nominal uang yang harus dibayarkan. Tanpa berniat untuk menurunkan harga, Bapak mengeluarkan dompet dan menyerahkan uang kepada Mbak Siska begitu saja. Padahal, dulu sempat kulihat Bu Titi membeli pakaian di Mbak Siska dan mereka pun melakukan kegiatan tawar-menawar. Ah, memang Bapak saja yang tidak berani melakukannya.
"Sudah, Nduk?" tanya Bapak setelah aku memasukkan baju ke kantong dan mengikatnya.
"Sudah, Pak."
Selepas berpamitan dengan Mbak Siska, Bapak mengajakku untuk pulang. Masih menjadi pertanyaan, dari mana Bapak mendapatkan uang yang cukup banyak untuk membelikanku baju-baju tadi. Bukan apa-apa, tapi menurutku alangkah lebih baiknya jika uang tersebut digunakan untuk memenuhi keperluan yang lebih penting lainnya.
Bapak memarkirkan motornya begitu tiba di depan rumah. Aku yang diboncengnya langsung turun dan berlari membawa baju yang baru dibeli tadi ke rumah. Untung saja Rehan tidak di rumah, kalau dia tahu bisa-bisa akan merasa iri karena tidak dibelikan oleh Bapak.
"Hayo, Mbak Devi bawa apa itu!"
Ternyata dugaanku salah. Begitu memasuki rumah, ternyata ada Rehan yang sedang menonton TV. Dia sepertinya baru pulang setelah bermain, keringat di wajahnya belum kering padahal kipas dalam kondisi menyala.
"Nggak apa-apa," jawabku begitu sengit.
"Ih, galaknya. Dikira aku nggak tahu, Mbak Devi itu habis beli baju, kan?" Rehan menyerobot kantong plastik yang kubawa.
"Tuh, bener baju, kan!"
"Iya, Re, buat ganti-ganti pas di pesantren nanti. Kamu jangan iri, ya, kasihan Bapak kalau kamu minta juga."
"Emang siapa yang iri? Nggak, Mbak. Kan, habis ini Mbak Devi udah nggak di rumah, jadi harus dimanja," ledek Rehan.
"Sebel sama Rehan!" Adikku yang jahat itu justru tertawa.
"Nggak, kok, Mbak. Aku cuma becanda. Semangat, ya, Mbak. Semoga betah. Nanti aku sering-sering jenguk sama Mas Ovi, deh."
"Eh, ngapain bawa-bawa Mas Ovi?"
__ADS_1
"Ya, dia yang bilang gitu, kok."
Begitu banyak dukungan yang kudapatkan. Bagaimana aku bisa seegois itu sementara banyak yang berekspektasi kepadaku? Aku harus bertekad, semoga bisa betah.