
"Mbak Devi!"
"Eh, ada apa, Re?" Aku tergagap, sengaja pintu kamar kukunci. Akan tetapi, bukan Rehan namanya jika tidak bertindak semaunya sendiri. Dia tampak tersenyum menyebalkan di ambang pintu.
"Tumben pintunya ditutup, Mbak?" ucap Rehan yang masih bermain dengan daun pintu.
Benda berukuran kecil menyerupai ayam yang sebelumnya kubawa, kubuang ke kolong dipan begitu suara Rehan terdengar tadi. Jangan tanya betapa lemasnya tubuhku sebab terkejut dengan kehadiran Rehan. Jangan sampai rencana membobol celenganku ketahuan.
"Hayo, Mbak Devi mau ngapain?" Rehan menghampiriku lantas duduk di sampingku.
"Ih, ada apa, sih, Re?" Aku risih, mungkin Rehan curiga.
"Mbak Devi buka celengan, ya?" Rehan celingukan memindai tempat-tempat di sekitarku.
"Diam, jangan sampai Bapak dengar!" Kutempelkan telunjuk di ujung bibir Rehan, susah sekali membuat adikku itu tidak cerewet.
"Kasih tau bapak, ah," ucap Rehan sengaja membuatku murka. Dia berdiri dan berancang-ancang untuk keluar kamar, buru-buru kutarik ujung baju belakangnya.
"Ih, jangan gitu, dong. Aku lagi butuh uang, nih!"
"Mau buat apa?"
"Kemarin itu ternyata cokelatnya bukan buat aku. Temanku salah orang, mana udah terlanjur kita makan. Sekarang mau nggak mau kita harus ganti," jelasku yang membuat Rehan tertawa mengejek.
"Ih, dibilangin jangan keras-keras, kok!"
"Boleh, minta uang tapi," seloroh Rehan dengan senyum liciknya. Jujur, bukan aku yang mengajarinya bermain suap-menyuap seperti ini.
"Gimana?" tanya Rehan lagi memberiku tawaran.
"Iya, kamu di luar aja. Nanti kukasih uangnya."
"Oke, jangan bohong, ya!"
"Nggak, kok."
Senyuman licik kembali Rehan sunggingkan sebelum keluar kamar. Dia tampak bahagia karena menang kali ini. Baiklah, aku merasa sedikit lega. Setidaknya jangan sampai Bapak tahu. Aku yakin Bapak tidak akan sampai hati untuk memarahiku, hanya saja aku tidak tega jika beliau kecewa.
"Re, Bapak udah pulang?" Aku berteriak dari dalam kamar.
Sejenak aku memasang pendengaran, tidak ada sahutan dari Rehan, padahal suara televisi yang menyala terdengar dari sini. Apakah Rehan tertidur?
"Re? Bapak ada?" tanyaku sekali lagi.
"Re? Rehan?" Aku penasaran, akhirnya kubuka sedikit pintu untuk dapat mengintip Rehan.
Ah, pantas saja setiap bulannya tagihan listrik Bapak selalu naik, rupanya begini kelakuan Rehan. Padahal sudah berkali-kali kuajarkan kepadanya jika alat elektronik apapun jika tidak digunakan hendaknya dimatikan. Aku bangkit dari dudukku dan mencari keberadaan Rehan.
__ADS_1
"Rehan!"
Tidak kutemukan keberadaannya di depan rumah, aku berpindah menuju kamarnya. Tidak ada sandal di depan pintu kamarnya, itu artinya dia juga tidak di kamar. Tempat terakhir di rumah ini, dapur!
"Rehan!" teriakku begitu tiba di dapur.
"Iya, Mbak!" Kudengar suara Rehan, sepertinya dia di kamar mandi.
Aku keluar dari dapur menuju kamar mandi yang terletak di luar rumah, tepatnya berada di bagian timur.
"Ada apa, Re?" tanyaku begitu melihat sandal hijau Rehan terparkir di depan toilet.
"Sakit perut, Mbak."
Aduh, pasti tadi Rehan berulah lagi. Aku tahu adikku itu memiliki perut yang sangat sensitif. Jajan sembarangan atau memakan makanan pedas terlalu banyak langsung menyebabkan perutnya terkena diare.
"Kamu makan apa? Kok, bisa sakit perut?"
"Itu, aku ikut makan rujak di rumah Banu, Mbak!"
"Mbak sudah bilang, jangan makan pedas terlalu banyak. Sakit, kan?"
Aku berbicara dengan nada tinggi, geram menasihati Rehan. Bukan sekali dua kali dia seperti ini. Padahal jika di rumah sudah kuusahakan untuk mengurangi penggunaan bahan makanan yang dapat menyebabkan sakit perut. Nyatanya, Rehan justru diam-diam mengonsumsinya ketika di rumah tetangga.
"Masih sakit?" Aku marah, tapi tetap khawatir.
"Sudah mendingan, Mbak."
"Aku bikinin oralit, ya?" tawarku.
"Boleh, Mbak. Tapi aku lebih suka dikasih teh tubruk dikasih sedikit garam. Biasanya cepat sembuh," ucap Rehan. Oh, aku baru ingat jika Ibu membuatkan minuman tersebut ketika anggota keluarga terkena diare.
"Oke, tunggu sebentar."
Aku bergerak ke dalam dapur. Tidak berselang lama terdengar pintu toilet yang berbahan seng dibanting dengan keras. Perut Rehan pasti sakit lagi, dia biasa seperti itu.
Air yang sudah mendidih kutuangkan ke dalam gelas yang sebelumnya sudah kuisi dengan teh tubruk dan sejumput garam. Asap yang membaur di udara menyebarkan aroma teh yang segar.
Aku mengadukan teh tersebut hingga terlihat warnanya yang pekat dan tampak sedikit kental. Aku mencicipinya sedikit karena penasaran. Dari dulu meskipun Ibu membuatkannya, tidak pernah sekali pun kuminum.
"Pahit!"
Penasaranku sudah hilang, ternyata rasanya tidak cocok di lidahku. Ah, aku yakin sebenarnya Rehan pun tidak menyukai teh itu. Ya, itu semua karena terpaksa.
"Re, tehnya sudah siap!" teriakku.
"Aduh ... aduh .... Iya, Mbak. Taruh di meja aja, perutku benar-benar sakit. Rasanya aku tidak kuat," rintih Rehan yang kurasa benar-benar kesakitan.
__ADS_1
"Beneran masih sakit?"
"Tubuhku rasanya lemas banget, Mbak!"
"Aduh, Re, jangan gitu, dong. Aku beneran nggak tega kalau kayak gini."
"Aku janji habis ini nggak makan cabe lagi, Mbak," ucap Rehan seolah benar-benar menyesal. Ah, paling-paling tidak lama lagi pasti khilaf.
"Mbak panggil Pak Kardi, ya?"
"Nanti Bapak marah. Uang dari mana."
Aku menghela napas panjang. Sepertinya uang di celenganku cukup sekadar untuk menebus obat dari Pak Kardi. Pak Kardi adalah tetanggku yang menjadi dokter umum di rumah sakit yang berada di kota. Di luar jam kerjanya, Pak Kardi melayani keluhan para warga yang sedang sakit. Biasanya tetangga mengundang Pak Kardi untuk memeriksa langsung di rumah, dan melihat kondisi keluarganya yang sakit.
"Pakai uangku dulu!"
****
"Sementara jangan makan makanan yang pedas dan asam, ya. Minum obatnya juga, itu sudah saya kasih tulisan anjuran minumnya." Pak Kardi menyodokkan sekantong obat berbagai warna dan ukuran. Membayangkannya saja aku tidak mampu. Tidak sanggup jika harus menelan tiga jenis obat.
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama."
Setelah kubayarkan uang dan berpamitan, Pak Kardi akhirnya pulang. Aku melihat Rehan yang sedang berbaring dengan kondisi lemas. Kasihan sekali, tapi jika mengingat kejahilannya, ingin sekali aku menertawakannya.
"Mau makan, Re?" tanyaku.
"Nggak, Mbak."
"Jangan gitu. Minum obat itu perlu makan dulu. Makan, ya, Mbak ambilin."
Tak perlu menunggu persetujuan Rehan. Aku kemudian berjalan menuju dapur. Untung saja tadi pagi aku memasak sayur yang tidak pedas. Nasi yang diguyur kuah sop dengan topping tempe goreng siap dihidangkan untuk Rehan.
"Sakit perut lagi?" tanyaku begitu menyadari Rehan yang sudah duduk di bangku anyaman bambu. Rehan hanya menggeleng.
"Terus mau ngapain?"
"Nggak enak kalau disuruh tidur terus. Mending buat main atau ke ladang gitu," ungkap Rehan.
"Ya udah makan dulu, habis itu minum obat." Aku menginstruksikan Rehan untuk membuka mulutnya. Bagaimana, aku sudah layak menjadi kakak idaman, belum?
"Aku nggak jadi minta uang, deh, Mbak," ucap Rehan.
"Uang apa?"
"Uang hasil celengan. Ditabung lagi aja, Mbak."
__ADS_1
Ingin sekali mencubit pipi atau lengan Rehan. Dengan entengnya dia mengatakan hal itu.
"Rehan adikku sayang, biaya berobatmu itu tadi bahkan sepuluh kali lipat dari uang jajanmu, lho. Jangan macam-macam, kamu!" Aku gemas, Rehan hanya tertawa.