Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Aku Sudah Baligh


__ADS_3

Aku dan Rehan berpamitan pada Mbak Ani. Kami pergi begitu saja tanpa mempedulikan tatapan sinis dari Bu Titi. Mulutnya juga kuperhatikan begitu lentur komat-kamit. Kata Bapak jika ada orang yang seperti ini jangan terlalu digubris. Doakan saja hatinya bisa menjadi lembut, kalaupun masih jahat biar Allah yang membalas. Jadi orang miskin memang harus kuat, kuat untuk menghadapi segala jenis cacian.


Perjalanan menuju rumah ditempuh dengan rute yang berbeda. Jika berangkat tadi aku dan Rehan memilih lewat jalan utama, kali ini kami memilih lewat jalan pintas yaitu kebun-kebun tetangga. Kebun di dekat pemukiman memang tidak begitu dimanfaatkan untuk menanam palawija. Akan tetapi, kebun ini mayoritas ditanami dengan pohon-pohon besar seperti mahoni, jati, dan bambu.


"Kamu kepikiran sama ucapan Bu Titi?" tanyaku pada Rehan yang cemberut.


Aku tahu adikku itu tengah kesal. Dari cara berjalannya yang seolah menghentak-hentak, tampak jika ia sedang marah. Sebenarnya aku juga kesal. Siapa juga yang tidak kesal dengan kejulidan Bu Titi. Tapi aku sudah kebal, buang waktu kalau meladeni orang seperti itu.


"Mbak, ada banyak!" Rehan menunjuk asam yang berserakan di bawah pohonnya. Adikku itu kemudian mengambil satu buah dan membuka kulit keras dari asam.


"Enak, Mbak." Rehan mengacungkan ibu jarinya, tapi dari ekspresi wajahnya, kurasa dia berbohong.


"Kalau enak kenapa meringis? ledekku seraya menggeleng pelan.


"Sesuai namanya, Mbak. Asam! Tapi beneran enak, asam manis," ucap Rehan sambil melahapnya lagi.


Aku yang penasaran kemudian mencoba membuktikan ucapan Rehan. Rehan memperhatikanku dengan saksama. Sepertinya dia menungguku untuk memberikan review dari buah asam yang sudah kumakan.


"Gimana?" tanya Rehan.


"Lumayan, nggak terlalu asam, ada manisnya, rasanya mirip asam," komentarku seperti seorang juri kompetisi masakan.


"Lha, kan, emang asam, mbak!" Aku kemudian tertawa.


Pohon asam ini kata Bapak adalah milik Mbah Dulah. Beliau adalah seorang kakek yang termasyhur di kampung karena tanah dan sawahnya yang cukup banyak. Meskipun demikian, Mbah Dulah bukanlah orang yang pelit dan sombong. Bahkan, sebagian tanahnya sampai diwakafkan untuk kepentingan masyarakat. Begitu juga dengan pohon asam ini, buahnya bebas diambil siapa saja. Mau ambil berapa saja tidak akan ada yang mempermasalahkan.


Aku dan Rehan tiba di halaman rumah. Pintu rumah tampak tertutup sementara yang buka adalah pintu dapur. Tercium aroma ikan asin yang tengah digoreng. Sepertinya Bapaklah yang tengah memasaknya. Perutku sangat sensitif, mencium aroma seperti ini mendadak ia lapar.


"Jadi lapar, ya, Mbak." Rehan menghirup dalam-dalam aroma sedap tersebut.


"Langsung ke dapur aja, pasti Bapak lagi masak!" Aku berjalan lebih dahulu menuju dapur.


Aku menghampiri Bapak yang tengah berada di samping tungku kayu. Bunyi khas ikan asin yang dimasukkan ke dalam wajan itu membuatku candu. Semerbak aromanya kembali keluar. Rehan duduk di depan tungku dan memasukkan beberapa kayu di mulut tungku.


"Gasnya habis, Pak?" tanyaku pelan, biasanya jika sekadar memasak lauk Bapak memilih memasak di kompor.


"Nggak, kok. Cuma tadi Bapak mau sekalian rebus singkong, mau bikin tape," jawab Bapak, aku hanya mengangguk-angguk.

__ADS_1


"Jadi lapar, Pak," ucap Rehan yang sepertinya berkata jujur.


"Tadi nasinya tinggal sedikit, jadi Bapak masak lagi di magic com. Kayaknya belum matang, tunggu dulu, ya. Itu ada singkong bakar kalau mau," tawar Bapak sambil menunjuk singkong yang permukaannya berwarna hitam yang berada di bangku bambu.


"Kamu mau nggak, Re?"


Dengan senang hati aku mengambil singkong bakar yang Bapak maksud. Aku membukanya menjadi dua bagian yang merekah. Asap yang keluar menandakan bahwa singkong itu baru saja masak. Aku suka, selain itu tekstur dari singkongnya juga lembut.


"Nduk, ada temanmu yang SMS. Bapak nggak tahu, jadi tadi sudah Bapak buka," ucap Bapak memberitahuku.


"Nindi, Pak?"


"Bukan, nomor baru. Kamu lihat sendiri, HP-nya di dekat TV."


Aku curiga jika Zaki yang mengirim pesan. Segera aku mengambil benda kotak milik Bapak itu.


[Hai Devi yang cantik. Gimana nomor Nindinya?]


Memang aku pernah berharap mendapatkan sapaan 'cantik' dari laki-laki. Akan tetapi, setelah saat ini aku mendapatkannya, menurutku justru menjijikkan. Wah, aku jadi kepikiran bagaimana ekspresi Bapak ketika membaca pesan ini. Apakah Bapak akan mengira aku dan Zaki sedang berpacaran?


[Kalau dia nggak mau, aku mau sama kamu aja]


[Ha? Gimana maksudnya? Jangan SMS aneh-aneh, Zak. Bapakku nanti kalau tahu bisa marah] Aku sedikit emosi, menyesal kenapa tadi dengan mudah kuberikan nomorku kepada Zaki.


[Justru itu, nanti kalau Bapakmu tahu sekalian aku izin untuk pacaran sama kamu]


[Gila, jadi malas aku sama kamu]


Percakapanku dengan Zaki tersebut segera kuhapus. Akan menjadi lebih buruk jika Bapak mengetahuinya. Sejenak aku kebingungan, bingung bagaimana menjelaskan kepada Bapak apabila beliau salah paham. Tapi aku, kan, tidak salah. Kenapa harus takut?


Aku kembali ke dapur dan melihat Bapak sudah menyiram tungku dengan air. Itu artinya aktivitas memasak sudah selesai. Sebagai anak perempuan, terkadang aku merasa bersalah jika kegiatan memasak malah dilakukan oleh Bapak. Akan tetapi, tidak pernah sekalipun Bapak marah kepadaku.


"Makan ... makan ...." Rehan mengadu piring dengan sendok hingga terdengar bunyi dentingan. Dia sudah kelaparan berat.


Bapak memerintahkanku untuk mengangkat nasi yang berada di magic com. Makanan sederhana berupa urap-urap sayur bayam dan ikan asin goreng sungguh menggugah selera. Rehan sudah duduk tenang di kursi, di hadapannya tersedia piring dan sendok yang ia bawa tadi.


"Ayo makan, Pak!" ucap Rehan seolah tidak sabar.

__ADS_1


"Iya, ayo. Jangan lupa berdoa dulu," saran Bapak.


Bapak mengambil seporsi makanan kemudian memilih duduk di kursi kecil yang berada di depan tungku. Aku duduk di sebelah Rehan. Aku dan Rehan makan dengan lahap, rasanya benar-benar nikmat. Saking semangatnya Rehan sampai terbatuk-batuk, dia tersedak.


"Minum dulu, Re." Aku menuangkan air putih ke gelas Rehan. Dia kemudian meneguknya.


"Pak, Bapak lihat SMS yang tadi?" tanyaku pelan. Sebenarnya Bapak tidak menyinggungnya, tapi aku takut jika terjadi kesalahpahaman.


"Lihat, Nduk."


"Bapak nggak marah?" tanyaku.


"Bapak belum tahu apa yang terjadi sebenarnya, belum waktunya marah," jawab Bapak membuatku bingung.


"Maksudnya, Pak?"


"Bapak akan marah jika anak perempuan Bapak berpacaran. Sementara temanmu tadi cuma baru SMS satu kali, Bapak tidak bisa menyimpulkannya," terang Bapak.


"Oh, begitu. Tapi dia beneran cuma teman Devi, kok, Pak. Devi nggak pacaran," ujarku.


"Bagus kalau begitu. Tugas kamu itu cuma belajar, membantu Bapak di rumah, berbakti kepada Bapak, dan menyayangi adikmu."


"Iya, Pak."


"Kalau Mbak Devi sampai pacaran apa yang mau Bapak lakukan?" tanya si kecil Rehan yang ternyata tahu alur pembicaraan.


"Suruh nikah!" jawab Bapak tegas yang membuatku terkejut.


"Kok, gitu, Pak?"


"Makanya, jangan berani-berani pacaran!"


Rehan tertawa meledekku. Aku benci ekspresi menyebalkannya.


"Kamu sudah baligh, Nduk. Rambutmu itu termasuk aurat. Bapak berharap kamu segera membiasakan memakai jilbab," lirih Bapak membuatku terenyuh.


Sudah lama aku memiliki niat untuk berjilbab. Akan tetapi, kondisi lingkungan yang mayoritas anak seusiaku tidak berjilbab membuatku ragu. Aku malu jika dianggap sok religius. Hanya itu yang kutakutkan.

__ADS_1


__ADS_2