Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Kebaikan Keluarga Alwi


__ADS_3

Sambal tomat yang kubuat sudah beres. Bu Salma masih berkutik dengan kari ayamnya. Aku mendapat tugas lain, membersihkan mentimun, selada, dan kemangi untuk lalapan nantinya.


"Bu Salma sebenarnya ada acara apa? Kok, masak-masak banyak gini?" tanyaku yang penasaran.


"Tidak ada acara apa-apa sebenarnya. Eh, tapi memang syukuran 17 tahun pernikahan, sih." Bu Salma tertawa.


"Wah, hari ini, Bu?" tanyaku antusias.


"Bukan, sudah kelewat sebulan yang lalu." Bu Salma tertawa lagi, aku pun ikut-ikutan. Bisa-bisanya humorku sereceh itu.


"Pak Basir jangan boleh masak, ya. Nanti bawa lauk dari sini. Mas Alwi!" teriak Bu Salma.


"Ada apa, Ma?"


Alwi kini sudah rapi dengan kaos pendek dan celana selututnya. Wajahnya pun tampak lebih segar. Ini jauh lebih lumayan daripada yang tadi.


"Minta tolong kasih kabar Pak Basir kalau anak gadisnya kita culik. Sekalian bilang jangan masak, nanti kita bawakan ke rumahnya," jelas Bu Salma yang membuatku lagi-lagi tidak bisa menahan tawa.


"Siap, komandan!"


Sesaat Alwi pergi dan kembali dengan membawa ponselnya. Dia kemudian tampak menunggu panggilan di seberang sana agar diangkat.


"Halo, assalamualaikum Pak Basir!" ucap Alwi.


"Waalaikum salam, Mas. Ada apa, nggih?" Sepertinya Alwi sengaja me-loud speaker panggilan agar aku dan Bu Salma bisa menyimaknya juga.


"Ini, Mbak Devi masih saya culik. Dia di rumah sekarang, jadi bibi di rumah saya. Sibuk masak-masak sama Mama." Kudengar Bapak tertawa.


"Pantesan belum pulang juga. Iya, nggak papa, Mas."


"Pak Basir jangan masak, ya. Biar kelaparan."


"Eh!" Spontan aku dan Bu Salma tertawa mendengar ucapan Alwi.


"Eh, maksudnya jangan masak soalnya nanti kita bungkuskan makanan dari sini. Dijamin enak, kok, Pak!"


"Alhamdulillah, terima kasih, Mas Alwi. Nanti kalau sampai malam, Nduk berani pulangnya nggak? Kalau nggak saya jemput." Hm, aku terharu. Kenapa Bapak terlalu mengkhawatikanku.


"Jangan khawatir, Pak. Nanti saya yang tanggung, saya antar!"


"Ya Allah, malah merepotkan. Maaf, ya, Mas Alwi."


"Tidak, kok, Pak. Bapak duduk diam di rumah saja sama Rehan. Tapi, jangan lupa bernapas, ya. Hehehe, maaf ya, Pak. Saya cuma becanda, kok." Bapak tertawa begitu keras, aku tidak pernah menemukannya ketika bersamaku.


"Iya, Mas. Sebentar, ya. Ini ada yang mau beli ayam. Saya matikan dulu, assalamualaikum."


"Waalaikum salam."

__ADS_1


Selepas menutup panggilan, Alwi menatap dengan senyum lucu kepadaku dan Bu Salma secara bergantian. Bisa-bisanya dia becanda kepada Bapak yang super pendiam. Aku saja sebagai anaknya tidak pernah tertawa lepas becanda Bapak semenjak menginjak remaja.


"Tuh, udah dapat izin," ucap Alwi kepadaku.


"Nanti nggak usah diantar pulangnya, Al. Aku berani, kok."


"Siapa juga yang mau ngantar, itu tadi cuma biar Pak Basir nggak kerepotan aja." Alwi tertawa.


"Eh, Mas Alwi, nggak boleh gitu! Tenang aja Mbak, nanti pasti diantar, kok!"


"Becanda, Dev. Kayak nggak tahu aku aja!"


"Mas, roti tadi pagi kayaknya masih ada, ya? Boleh minta tolong diambilin?"


Aku begitu kagum dengan keluarga Pak Herman. Sepertinya adab dan sopan santun begitu diajarkan di sini. Lebih tepatnya diajarkan dalam bentuk keteladanan. Orang tua Alwi tidak sekadar menyuruh, namun memberikan contohnya.


"Roti yang ini, kan, Ma?" Alwi membawa sekeranjang kecil aneka kue seperti yang sering ia bawa ke sekolah.


"Iya, taruh aja di meja itu. Biar dimakan Mbak Devi."


"Nih, Dev, ambil sendiri, ya. Biasanya paling doyan, kan?"


"Oke, Al."


"Kamu masih sibuk ngapain, sih, Dev?" tanya Alwi yang kemudian menghampiriku.


"Udah selesai, nyuci sayuran aja, sih."


Alwi mengambil sepotong timun yang sudah kusiapkan. Dia kemudian berjalan ke arah meja makan untuk mencocol timun dengan sambal. Aku memperhatikannya, apakah dia akan berkomentar?


"Ini tadi Mama atau Devi yang bikin sambalnya?"


"Mbak Devi. Kenapa? Enak?"


"Mantap, Ma. Rasanya pas, cocok banget kalau jadi tukang ulek sambal." Alwi mengacungkan ibu jarinya.


Bagaimana maksudnya ini? Ini sebuah pujian atau yang lainnya? Maksudku tidak adakah pekerjaan yang lebih pantas dari sekadar pengulek sambal? Calon istri misalnya, eh.


"Sembarang banget kalau ngomong. Mama yang nggak setuju sama ucapan Mas Alwi!" Bu Salma membelaku.


"Kan emang cocok, Ma, hahaha. Ini sudah siap semuanya, Ma?" Alwi tampak celingukan melihat bahan makan yang disediakan di atas meja.


"Tempe gorengnya belum. Papa nggak bisa makan tanpa tempe goreng. Mbak Devi bisa gorengnya, kan?"


"Bisa, kok, Bu."


"Ya udah, aku bantu, nih, Dev." Alwi meraih tempe bungkusan daun dan membukanya.

__ADS_1


Baik, Alwi sudah mengurangi bebanku meskipun hanya sedikit. Cobek dan ulekan sudah berada di jangkauanku. Aku terbiasa membuat bumbu tempe sendiri daripada membeli tepung bumbu instan. Kebetulan bahan-bahan di dapur Bu Salma sangat lengkap, seolah menjadi surga bagi penyuka kegiatan masak sepertiku.


"Kamu tahu itu namanya apa, Dev?" tanya Alwi menunjuk bahan-bahan yang siap di cobek. Ah, dia seperti menyepelekanku.


"Ini bawang putih, kunyit, kalau ini namanya ketumbar," ucapku sambil menunjuk satu per satu.


"Bukannya itu merica?"


"Kalau merica itu yang bulatannya lebih besar. Ini ketumbar."


"Oh, gitu. Lho, kok dikasih tepung?" Aku terkejut mendengar ucapan Alwi. Di rumah aku terbiasa menggoreng tempe berbalut tepung.


"Emang biasanya gimana?" tanyaku.


"Mama biasanya goreng tanpa tepung. Iya, kan, Ma?"


"Ada apa?" Bu Salma penasaran dan menghampiri kami. Mungkin tadi beliau terlalu sibuk dengan kari ayam yang akhirnya sudah siap.


"Devi bikin adonan bertepung buat tempenya."


"Nggak papa, sekali-kali tempe gorengnya dibumbui gitu."


"Ya udah, deh. Pokoknya selama itu kamu, apapun yang kamu lakukan selalu benar, Dev." Aku meringis. Memang kenyataannya dari tadi Bu Salma selalu membelaku.


Aku mulai menyalakan kompor untuk menggoreng tempe. Di atas tungkunya terdapat sebuah wajan yang sudah berisi minyak sebelumnya. Sambil menunggu minyak panas, aku bergurau dengan Alwi.


"Udah lapar banget emangnya?" ledekku pada Alwi yang menopangkan dagunya pada sandaran kursi. Dia tampak seperti anak yang kelaparan.


"Iya, nih. Dari siang belum makan, sih."


"Salah siapa nggak makan? Mama tadi juga sudah menyuruh kamu, kan? Jadi anak itu mbok yo sekali-kali jangan bandel, Mas." Bu Salma datang dari sebuah ruangan dengan membawa beberapa piring dan sendok. Pasti Alwi kesal sekali.


"Ya, gitu. Anak sendiri dimarahi terus. Kalau orang lain malah disayang." Wah, sepertinya sedang menyindirku.


"Marahin kamu itu artinya sayang sama kamu, Mas. Kalau nggak sayang, Mama pasti udah ogah-ogahan nyuruh makan, nyuruh belajar," tukas Bu Salma menceramahi Alwi.


"Iya, iya, Ma. Aku sayang Mama, deh." Alwi menghampiri Bu Salma kemudian memberikan pelukan dan sebuah ciuman. Hmmm, aku jadi rindu Ibu.


Minyak yang sudah panas segera kuisi dengan tempe dengan adonan tepung. Alwi menghampiriku, mungkin dia tertarik dengan suara yang dihasilkan dari penggorengan.


"Baunya enak, Dev. Rasanya pasti juga enak. Dikasih sambal tadi pasti lebih mantap," ucap Alwi sambil menengok ke arah wajan.


"Nggak kalah enak sama tempe tanpa tepung. Ini favorit Bapak sama Rehan."


"Mungkin akan jadi favoritku juga." Alwi tertawa kecil.


Alwi masih menunggu di sampingku hingga tempe goreng matang. Baru juga diangkat, Alwi sudah berlari dan mengambilkan sebuah piring untukku.

__ADS_1


"Satu, ya, Dev." Wah, ternyata itu motif dari kebaikannya.


"Enak, Dev. Aku mau lagi, tapi nanti kalau semuanya udah matang aja, deh." Nah, kan, ketagihan.


__ADS_2