
Sesaat aku memejamkan mata yang sudah berair dan bergantian mengedipkannya. Aroma yang keluar dari bawang juga membuat hidung tak kalah perih. Untung saja kegiatan mengupas bawang sudah diselesaikan oleh Bu Ina.
"Nduk, sambil diminum tehnya! Itu sudah dingin, lho." Mbah Ginah menyeruput kopinya dan menunjuk tehku yang sedari tadi masih utuh.
"Nggeh, Mbah."
"Jangan cuma nggah-nggeh, nggah-nggeh. Ayo diminum!" Aku hanya tersenyum kikuk karena kali ini Bu Ina turut menyuruhku.
"Kalau rewang gini nggak perlu sungkan. Apapun yang disediakan tuan rumah boleh dimakan. Nggak usah sungkan, Mbak Devi."
Akhirnya kuminum juga teh yang sudah dingin tersebut. Mungkin bisa kena teguran lagi dari Bu Ina atau Mbah Ginah jika tidak segera kuturuti.
"Kamu temannya Alwi, bukan?" tanya Bu Ina kepadaku.
"Nggeh, Bu. Satu kelas juga sama dia."
"Soalnya Salma pernah cerita kalau Alwi sekelas sama kamu. Ibu masih bersaudara sama Pak Herman, suaminya Bu Salma."
"Oh, iya tho, Bu?"
"Iya, Mbah Ginah ini Mbak Yu dari ibunya Pak Herman," jelas Bu Ina tentang silsilah keluarganya.
"Oh, seperti itu. Baru tahu, Bu."
Perbincangan masih berlanjut dan aku tidak banyak bicara di sini. Hanya sebagai pendengar para ibu yang sedang menyampaikan curahan hati atau sekadar membicarakan seseorang. Sebenarnya aku kurang suka dengan hal seperti ini, tapi mau bagaimana lagi.
Tak berselang lama beberapa anak kecil berlarian menghampiri sang ibu di dapur. Justru aku yang merasa was-was, takut terjatuh atau sekadar tertabrak orang yang sedang berlalu lalang. Kusadari dulu semasa kecil aku juga seperti itu, ternyata terasa menyebalkan bagi orang dewasa.
"Lho, kamu kenapa ke sini, Re?" Kulihat ada Rehan yang berdiri di belakang temannya.
"Aku tadi main sama Irfan, Mbak. Dia mau minta uang ibunya, aku antar ke sini," jelas Rehan dengan menunjuk bocah seusianya yang sedang bersama perempuan yang mungkin merupakan ibunya.
"Lain kali kalau ngantar teman tunggu di luar aja. Jangan ikut masuk, di tempat rewang ramai, repot!" tegasku pada Rehan. Sebenarnya aku takut saja jika ada tetangga yang melihat Rehan, takut dianggap sengaja menginginkan makanan.
"Oalah, Nduk, jangan dimarahi adikmu. Ambilkan krupuk atau jajanan yang lain kalau dia mau." Bu Ina menunjuk beberapa toples yang berisi makanan khas orang hajatan. Aku melirik ke arah Rehan, dia menggeleng dengan cepat. Baguslah kalau begitu.
"Kamu mau jajan sama Irfan?" Aduh, terlihat memprihatinkan sekali adikku itu.
"Iya, Mbak."
"Sudah bawa uang?"
"Sudah. Tadi dikasih Bapak." Pertanyaan tadi meluncur begitu saja, padahal aku tidak membawa uang sama sekali. Apa jadinya tadi jika Rehan menjawab 'tidak'.
__ADS_1
"Ya udah, main sama temanmu sana!"
"Masih nunggu Irfan, Mbak!"
Rehan memilih duduk berjongkok di sampingku. Temannya yang bernama Rehan itu masih setia bersama ibunya. Aku juga tidak tahu wejangan apa yang diberikan oleh perempuan setengah baya itu pada anaknya.
"Ayo makan dulu semuanya, istirahat! istirahat!"
Aku mendongak begitu suara itu terdengar. Seorang perempuan yang semula tampak membawa beban dalam nampan berhenti di sampingku. Dia duduk kemudian membagikan makanan yang sudah disiapkan di dalam piring.
"Salurkan, ya, Mbak." Aku mengangguk begitu ia membagikan sepiring soto kepadaku.
"Re, bantu salurkan!" bisikku pada Rehan namun dengan sigap Bu Ina meraihnya.
Lama sekali aku tidak menikmati soto bening dari orang hajatan. Meskipun Bapak beberapa kali membelikan sepulang dari pasar, namun rasanya tetap beda. Irisan daging yang hanya beberapa buah pada soto ayam di tempat hajatan justru memberikan daya tarik bagiku. Tidak sabar aku menikmatinya.
"Kamu makan dulu, Le!" Bu Ina menaruh sepiring soto di hadapan Rehan. Adikku itu melirik ke arahku seolah meminta izin. Dia paham dengan situasi seperti ini, mungkin takut jika nanti menjadi bahan pembicaraan.
"Makan dulu, Re. Itu temanmu juga lagi makan, kan?" Kutunjuk Irfan yang tengah disuapi ibunya.
Rehan tersenyum lebar begitu mendengar jawabanku. Sesekali tidak apa membiarkan Rehan ikut berbahagia di acara tetangga. Mungkin aku yang terlalu berlebihan, sering melarangnya ketika ingin ikut aku rewang.
"Kenapa nggak dimakan?" tanyaku melihat Rehan yang masih membiarkan sotonya tak tersentuh.
Akhirnya datang lagi soto kloter kedua. Semua sudah memegang jatah masing-masing. Rehan mulai menyantap makanannya. Sedap sekali, kuahnya adalah yang paling kusuka.
"Mbak, sambalnya taruh mana?" Rehan menunjukkan sendoknya yang berisi sambal dari soto.
"Taruh ke piringku aja!" Rehan melakukan perintahku.
Untung saja Rehan tidak membandel dan bisa menjaga diri. Perutnya yang sensitif dapat dengan mudah terserang diare jika makan dengan sembarang. Dulu Rehan masih suka mencuri-curi kesempatan untuk menyantap makanan pedas. Akan tetapi, untuk saat ini Rehan sepertinya benar-benar jera.
"Mau dagingnya?" tanyaku pada Rehan. Aku tahu dia sedari tadi melirik piringku.
"Punya Mbak Devi udah habis," timpalnya.
"Masih ada sepotong, ini buat kamu." Kupindahkan sesuwir daging yang sebenarnya masih aku inginkan itu. Hanya saja melihat Rehan yang begitu lahap membuatku ingin memberikan kepadanya.
"Nduk, ini punya Mbah Ginah nggak dimakan. Kamu mau?" Bu Ina menyerahkan piring yang masih utuh.
"Sudah, Bu. Terima kasih. Ini sudah kenyang," tolakku dengan halus.
"Oh, ambil dagingnya aja!" Bu Ina menaruh potongan daging ke piringku.
__ADS_1
"Terima kasih, Bu."
"Iya, ayo lanjut makannya!"
Piring Rehan bersih dengan begitu cepat. Dia celingukan, mungkin tenggorakannya butuh minum untuk saat ini. Kasian sekali, berbisik padaku saja tidak berani. Untung saja Rehan memiliki kakak yang sangat peka seperti aku, akhirnya kusodorkan tehku yang baru kuminum sedikit.
"Hehehe, Mbak Devi tahu aja." Rehan tampak terkekeh.
"Tahu dong, kan bisa baca pikiran kamu," celetukku sedikit sombong.
"Ah, bohong!" Eh, Rehan tega sekali tidak menyisakan sedikit pun teh tadi untukku.
"Mbak, aku mau main dulu, ya. Itu Irfan juga sudah selesai." Irfan pun menghampiri Rehan.
"Kalian mau ke mana?"
"Beli jajan."
"Astaghfirullah, bukannya udah kenyang. Kok, tetap beli jajan?" keluhku pada dua bocah yang sepertinya memiliki persamaan prinsip itu.
"Jajan itu kewajiban, Mbak. Bagaimana pun kondisinya harus tetap dikerjakan." Pintar juga adikku itu. Aku harus berterima kasih pada gurunya yang sudah mengajarkan tentang hak dan kewajiban.
"Ya udah, Re. Terserah kamu mau main atau jajan juga terserah!"
Akhirnya Rehan dan Irfan pergi menuju halaman rumah. Setelah makan, lanjut ke kegiatan yang lain. Bu Ina mengajakku untuk ke bagian depan. Di sana sedang sibuk mempersiapkan kotak snack untuk tamu di acara resepsi nanti.
"Ayo, Mbak. Kita duduk di situ!" Bu Ina menunjuk tempat yang kosong pada gelaran tikar.
Di tempat tersebut ada beberapa kegiatan yang harus di lakukan. Beberapa orang tampak membuat kardus wadah snack, sementara yang lain membungkus makanan seperti kripik tempe dan kacang telur.
Aku hanya mengikuti Bu Ina yang mengajakku membungkus kacang telur. Dengan menggunakan sendok aku menaruh beberapa butir ke dalam plastik khusus pembungkus kacang telur. Kuperhatikan Bu Ina yang beberapa kali memasukkan makanan dengan rasa manis itu ke mulutnya.
"Mbak, kalau mau icip-icip boleh, lho!" ucap Bu Ina. Aku hanya mengangguk.
"Eh, kamu bagian lipat kardus aja. Jangan di bagian makanan." Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku, ternyata Bu Riris.
"Kenapa?" tanya Bu Ina.
"Takut kalau kebanyakan makan kacangnya," sahut Bu Riris.
Ah, lagi-lagi si perempuan rempong ini mengacaukan hidupku. Aku merasa jika Bu Riris berpikiran bahwa aku anak yang murahan mau ambil ini itu. Oh, itu jelas bukan aku.
"Dia nggak makan kacang, lho. Justru aku yang dari tadi makan," celetuk Bu Ina yang sama sekali tidak digubris oleh Bu Riris dan malah ditinggal begitu saja.
__ADS_1