Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Menjadi Pusat Perhatian


__ADS_3

"Tempatnya di mana, Pak?" tanyaku pada Bapak yang masih terus mengajakku berjalan cukup jauh, mungkin ada sekitar 50 meter.


"Katanya, untuk administrasi sekalian ambil seragamnya di kesekretariatan putra, di gedung depan. Yang dekat gerbang masuk tadi," jelas Bapak seraya masih menggandeng tanganku.


Beberapa santri putri mengangguk sembari melemparkan senyum ke arahku dan Bapak. Mereka sedang berjaga di pos yang menjadi perbatasan area putra dan putri. Aku sempat melihat salah satu dari mereka berbisik ke temannya yang melirik ke arahku. Aku yakin mereka sedang berkomentar tentang penampilanku. Ya, memang aku yang salah.


Pos penjagaan, kemudian ada tempat fotocopy untuk santri putra. Kulihat di sana ramai beberapa remaja laki-laki dengan seragam khas SMP dan SMA, mungkin santri juga. Selain itu terdapat orang tua bersama anak laki-laki dengan pakaian baju koko dan celana panjang, kuduga dia adalah calon santri yang masih berusaha melengkapi persyaratan untuk mendaftar.


"Eh, kamu dicari cewekmu, tuh!" Refleks aku menatap ke sumber suara.


Malu bukan kepalang, saat aku mendongak kulihat beberapa siswa SMA tampak berjejer di pagar pembatas balkon lantai dua dan tiga. Entah mengapa rasanya berbeda, padahal sewaktu di sekolah pun aku merasa biasa saja saat lewat di koridor yang penuh anak laki-laki. Ya, bisa jadi karena aku merasa malu dengan penampilanku yang tidak sesuai dengan tempat.


"Calon santri baru, Pak?" Seorang perempuan datang dari dalam kelas dan menghampiri kami, aku hanya mengangguk.


"Ruang pendaftaran di lantai satu, nanti di bagian atas pintunya ada tulisan aula. Di situ, tapi sekarang belum dibuka pendaftarannya. Ditunggu sebentar, nggeh?"


"Iya, Mbak. Terima kasih."


"Nduk, nanti Bapak tunggu di luar, ya. Kamu masuk sendiri," ucap Bapak membuatku heran, namun masih juga kusetujui.


Aku dan Bapak menunggu di depan ruangan yang dimaksud perempuan tadi. Terlihat pula beberapa orang tua dan anaknya yang sepertinya hendak mendaftar sepertiku. Ternyata kedatanganku terlalu awal.


"Monggo, waktu untuk pendaftaran sudah bisa dilakukan sekarang. Silahkan masuk dengan membawa berkas persyaratan." Perempuan yang tadi menyembulkan kepalanya dari dalam ruangan. Bapak memintaku untuk segera masuk. Beberapa calon santri sudah masuk terlebih dahulu, aku menyusul mereka.


Sesampainya di dalam, seorang santriwati memberikan pengarahan. Ada tiga meja di sana yang masing-masing memiliki tugas tersendiri. Meja pertama untuk mengecek kelengkapan berkas pendaftaran, meja kedua untuk mengurus keuangan, dan meja terakhir untuk tempat pengambilan seragam.


"Mbak, silahkan ke sini!" Akhirnya tiba pada giliranku. Aku segera maju ke meja nomor satu.


"Boleh saya lihat berkas-berkasnya, Mbak?" tanya sang petugas, aku menyerahkan stopmap kertas yang sudah dipersiapkan Bapak dari kemarin.


"Orang tuanya ke mana, Mbak?" tanyanya lagi.


"Di luar. Perlu saya panggilkan?" tawarku.


"Sebentar, oh tidak usah. Ini untuk tanda tangannya soalnya sudah diisi juga. Saya cek dulu, ya."

__ADS_1


Lembar demi lembar akhirnya ia teliti. Sebenarnya di sampingku juga ada seorang perempuan calon santriwati bersama orang tuanya. Aku yang selalu kesulitan untuk mengenal orang baru hanya diam. Padahal, dari tadi kami saling menatap.


"Materainya mana, Mbak?"


Oh, bisa-bisanya aku lupa. Segera kuambil tasku dan kuserahkan benda tipis dengan bentuk persegi panjang. Aduh, lupa tidak bawa lem lagi. Kalau saja di rumah, bisa dimanfaatkan ludahku untuk merekatkannya.


"Saya nggak ada lem, Mbak. Mbak ada?" tanyaku pada petugas, pikirku si petugas bisa saja menyediakannya.


"Nggak ada, Mbak."


"Bentar, ya. Saya keluar sebentar, cari lem," izinku pada petugas.


"Eh, ini, Mbak. Saya ada lem, pakai ini saja." Calon santriwati yang berada di sampingku tadi memegang tanganku dan mencegahku yang hendak keluar kelas. Baik sekali dia.


"Saya minta sedikit, ya, Mbak."


"Iya, silahkan!"


Setelah selesai menyapukan lem pada bagian yang diminta dan merekatkan materai di atasnya, kuserahkan kembali lembar tadi sang petugas. Lemnya pun kuserahkan lagi kepada si pemilik, dia tersenyum ketika aku mengucapkan terima kasih. Belum sempat aku berkenalan dengannya, dia sudah pindah ke meja dua karena memang antrean sudah panjang dan harus bergantian.


"Iya, Mbak. Maaf, saya tadi buru-buru waktu berangkat. Bapak pun gak sadar pas saya pakai kulot," jelasku padanya.


"Aduh, dimana, sih? Ibu juga nggak ngingetin?" tanya perempuan dengan name tag Aisyah yang tertera pada jilbabnya. Aku tahu dia bermaksud mengajakku agar lebih akrab.


"Ibu? Ibu sudah meninggal, Mbak."


"Eh, maaf. Saya nggak tahu."


"Iya, Mbak. Nggak papa."


"Ya udah, lanjut ke meja dua, ya." Aku mengangguk.


Senyum ramah menyambutku begitu tiba di meja dua. Setelah mengecek data yang diberikan dari petugas meja satu, aku diminta untuk menyerahkan uang pendaftaran. Uang dengan nominalnya cukup banyak yang diberikan Bapak kemarin, hanya singgah sebentar kepadaku.


"Langsung dilunasi atau nyicil dulu, Mbak?" tanya si petugas kepadaku.

__ADS_1


"Kata Bapak, langsung dilunasi semua, Mbak."


"Oh, saya hitung dulu!"


Setelah memastikan uang yang kuberikan pas, aku diperkenankan beralih ke meja terakhir. Dibanding meja-meja yang lain, di sini paling cepat karena langsung diberikan beberapa lembar kain dan baju olahraga yang sesuai. Semua urusanku sudah selesai, aku segera keluar dan menghampiri Bapak.


"Sudah, Nduk?"


"Sudah, Pak."


Bapak menyerobot kantong besar berisi kain untuk seragamku. Aku sudah menolaknya karena bisa membawa sendiri. Akan tetapi, Bapak bersikukuh untuk membawakannya dan memintaku untuk segera kembali menghampiri Mas Ovi dan Rehan.


Lagi-lagi terdengar suara siulan dari arah atas begitu aku melintas di bawah gedung yang bertuliskan "Madrasah Aliyah Putra". Bisa-bisanya mereka yang berstatus sebagai santri melakukan hal seperti itu. Apakah mereka memang sering menggoda santriwati yang sedang berlalu? Yang membuatku semakin merasa heran adalah apakah mereka tidak menyadari ada Bapak di sampingku?


"Anak-anak itu dari tadi ramai terus, apa nggak ada pelajaran?" celetuk Bapak yang ternyata menyadarinya.


"Nggak tahu juga, tuh. Dari tadi pas kita lewat dilihatin terus, Pak. Kayaknya gara-gara Devi pakai celana, makanya kelihatan aneh bagi mereka."


"Nggak papa, Nduk. Bapak tadi juga nggak sadar kalau kamu nggak pakai rok. Ini buat pembelajaran, besok lagi jangan diulang."


"Iya, Pak."


Bahkan hingga melintasi tempat fotocopy dan pos jaga putri, aku masih saja menjadi pusat perhatian. Ternyata begini rasanya. Hanya gara-gara berbeda, bisa jadi merasa begit hina.


"Gimana, lancar?" tanya Mas Ovi yang langsung menyerobot bawaan Bapak.


"Eh, nggak papa, Mas. Saya bawa aja," ucap Bapak.


"Ditaruh di belakang aja, Pak. Gimana tadi?"


"Lancar, kok. Mau langsung pulang, nih?" tanyaku.


"Boleh, atau kita jalan-jalan dulu," saran Mas Ovi.


"Nah, Rehan setuju!"

__ADS_1


__ADS_2