
Sudah hampir lima belas menit aku dan Bapak menunggu Rehan di teras. Rupanya bocah itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Kukira itu memang akal bulusnya agar tidak ikut ke rumah Budhe Dewi.
Aku yang masih sakit sama sekali tidak berinisiatif untuk mengajak Bapak segera berangkat. Kalau bisa, aku malah menghendaki jika tidak ikut ke sana. Aku sedari memerhatikan Bapak, beliau beberapa kali melihat pintu dapur. Mungkin berharap Rehan segera muncul dari pintu itu.
"Rehan sakit perut lagi, tho, Nduk?" tanya Bapak yang sepertinya merasa sudah menunggu terlalu lama.
"Devi juga nggak tahu, Pak. Jangan-jangan dia makan rujak lagi," ucapku hanya menebak.
"Bapak lihat dia dulu, ya?"
Aku janya mengangguk, Bapak kembali amsuk ke dapur untuk menyusul Rehan. Aku menghela napas berat, ada rasa sakit yang kembali kurasa. Terlebih keringat dingin mulai bermunculan, kepalaku juga terasa pusing.
Aku kembali lagi ke arah dapur. Obat sakit kepala yang biasa Bapak beli dari warung sangat kubutuhkan saat ini. Aku sering melihat Bapak mengonsumsi pil yang berbentuk bulat yang memiliki dua sisi warna yaitu putih dan oranye. Katanya, obat warung tidak baik jika dikonsumsi jangka panjang, beberapa kali juga aku melarang Bapak untuk meminumnya. Ya, untuk sekarang ini aku sendiri yang membutuhkan peranan obat itu.
"Ada apa, Nduk?" Bapak sempat memergokiku yang sedang meneguk obat.
"Obat Bapak aku minum, ya. Pusing kepalaku."
"Kamu di rumah aja, ya?" Bapak tampak mengkhawatikanku.
"Nggak, Pak, aku ikut. Lagian sebentar lagi pasti hilang sakitnya. Rehan mana?"
"Dia sudah selesai, kok."
"Sakit perut beneran?"
"Nggak, dia malah mainan air."
Rehan kembali dari kamar mandi dengan ekspresi tanpa berdosa. Sempat-sempatnya dia tersenyum ke arahku. Dasar, tidak tahu kalau bapak dan aku sedang menunggu, apa?
"Ayo, Bapak sama Mbak Devi nunggu apa lagi?"
Kurang ajar! Rehan justru menuju motor lebih dulu. PD sekali, padahal ia yang sedari tadi tengah ditunggu.
"Ayo berangkat, Nduk!"
__ADS_1
***
Pukul 16.00 WIB
Bapak mengendarai motor dengan kecepatan sedang. Rehan berada di depan sementara aku dibonceng di belakang. Jarak yang tidak terlalu jauh membuat kami tiba di rumah Budhe Dewi tanpa memerlukan waktu yang lama.
Setibanya di rumah Budhe Dewi, tampak pekarangannya yang masih sepi. Maklum, acara baru dimulai setelah Isya. Budhe Dewi yang mengetahui kedatangan kami langsung menghampiri. Dia berkacak pinggang dengan ekspresi yang menyebalkan.
"Kenapa baru datang, Sir?" tanya Budhe Dewi kepada Bapak.
"Anak-anak tadi baru pulang sekolah, Rehan kebetulan sakit perut," jelas Bapak dengan pelan.
"Alasan saja. Segera ke dapur sana!"
"Devi sama Rehan bantu Budhe Alya menyiapkan makanan. Sementara kamu Basir, kamu bantu cuci piring sama nanti ambil minuman di toko Pak Amin." Budhe Dewi begitu lancar memberikan tugas kepada kami. Sesaat kemudian ia kembali ke rumah meninggalkan kami.
Aku yang sudah turun dari motor memerhatikan Rehan yang mendongak ke arah Bapak. Bapak justru memijat pelan hidung Rehan hingga keduanya tertawa. Tidak hanya aku, aku tahu dua lelaki hebatku itu sedang menahan laranya.
"Kita jadi babu lagi, Pak." Rehan meringis kemudian Bapak memintanya untuk segera turun dari motor.
Aku, Bapak, dan Rehan segera menuju dapur dari pintu belakang. Kulihat di sana ada Budhe Alya yang sedang sibuk menata beberapa jajanan pasar berupa kue-kue basah ke dalam piring yang berbeda. Budhe Alya bernasib tidak jauh berbeda dengan keluargaku, sebab posisinya yang hanya sebagai anak menantu. Jika ada acara keluarga, beliaulah yang selalu stand by di dapur.
"Lho, baru datang atau dari tadi?" tanya Budhe Alya begitu menyadari aku dan Rehan duduk di sampingnya. Beliau masih repot mengelap permukaan apel.
"Baru saja, Budhe." Aku mencium tangan kakak ipar Ibu itu, Rehan juga melakukan hal yang sama.
"Bantu Budhe, ya. Itu susun buah salak di piring. Jadikan enam piring, ya." Budhe Alya menunjuk keresek hitam besar yang berada di bawah meja.
"Aku aja, Mbak." Rehan bergerak melakukan perintah Budhe Alya.
"Untuk Devi, Devi ngelap sendok aja, deh. Sendoknya ada di atas meja!"
Sebenarnya tidak terlalu repot untuk acara kali ini. Aku, Budhe Alya, dan Rehan hanya perlu mempersiapkan makanan kecil yang akan disajikan di awal acara. Ya, katanya untuk acara hari ini Budhe Dewi memilih untuk menggunakan jasa catering untuk menghidangkan jamuan. Lumayan, nantinya aku tidak terlalu capek.
"Gimana sekolahmu, Dev?" tanya Budhe Alya.
__ADS_1
"Alhamdulillah lancar, Budhe."
"Kalau Rehan?"
"Sama, Budhe."
"Kalian sekolah yang rajin, ya. Semoga bisa jadi orang sukses," ucapj Budhe Alya dengan tersenyum.
"Aamiin, terima kasih, Budhe."
Aroma minyak wangi mulai terasa di indera penciumanku. Seperti inilah aroma yang ditinggalkan ketika orang kaya lewat. Iya, Budhe Dewi pernah berkata demikian dan beliau baru saja berlalu di hadapanku.
"Pokoknya jangan ada yang comot makanan sebelum ditaruh di depan. Mbak Alya harus ingatkan itu sama anak-anak, ya! Jangan sampai Devi dan Rehan ngambil."
Budhe Alya hanya tersenyum mendengar cerocos Budhe Dewi. Dadaku rasanya sakit, aku paham arah pembicaraannya. Mungkin dia menganggap keluargaku yang miskin terlalu hina dan berani begitu saja mengambil apa yang bukan hak kami.
"Nanti setelah Magrib langsung di taruh di depan, ya, Mbak. Jangan lupa itu!"
"Kamu sibuk apa, sih, Wi?" Pertanyaan Budhe Alya mewakili rasa penasaranku.
"Menyambut tamu, dong. Aku tuan rumah, Mbak."
"Ya Allah, Wi. Tamu kamu itu juga saudaramu sendiri, nggak perlu terlalu menyambutnya. Di dapur masih repot, lebih baik kamu membantu," saran Budhe Alya.
"Oh, nggak! Aku habis mandi, nanti yang ada malah bau asem kalau di sini."
"Nggak juga, di sini nggak gerah, lho."
"Ah, udahlah, Mbak. Aku mau kembali ke sana."
Ingin rasanya kucolok mata Budhe Dewi yang melirik ke arahku dan Rehan dengan tajam. Kalau saja bukan karena rasa sungkan Bapak, tidak akan pernah sudi aku untuk bertandang kemari.
Budhe Dewi kembali melenggang menuju ruang depan. Sombong sekali jadi manusia! Biarkan saja rasa sakit hati ini dibalas oleh Allah di lain waktu. Rida kehidupan selalu berputar.
"Jangan terlalu diambil hati ucapan Budhe kalian itu, ya. Kalian tahu sendiri kan sifatnya?"
__ADS_1
Aku menatap Rehan, dia mengangguk.
"Kalau kalian mau, itu Budhe juga bawa donat sama kue lumpur, buatan Budhe sendiri, kok."