
Ujian untuk mata pelajaran Bahasa Inggris sudah selesai dan dilanjutkan dengan pelajaran kesenian yang mana ujiannya berupa membuat karya seni rupa. Selain olahraga, kesenian juga menjadi salah satu mata pelajaran yang tidak kusukai. Anehnya, pelajaran yang kubenci justru disukai oleh sebagian besar temanku.
Selama dua jam pelajaran guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk menuangkan kreativitas dalam menggambar. Di meja guru sengaja disediakan sebuah teko dan cangkir. Guru meminta untuk menggambar sesuai sudut pandang siswa.
Si ambisius Nindi terlihat begitu tertarik kali ini. Dari awal dia sudah sangat antusias, bahkan sampai beberapa kali mendekat ke objek gambaran tersebut agar bisa menggambar dengan detail. Di sisi lain, aku justru dilanda rasa ragu. Bagaimana tidak, beberapa kali pensil kugores dan sebanyak itu pula aku menghapusnya.
"Gimana, Dev, udah mau selesai?" tanya Nindi tanpa melihatku.
"Sudah, nih!"
"Astaghfirullah!" seburuk itukah gambarku?
"Kamu nggak mau berusaha bikin yang lebih baik, gitu?" tanya Nindi.
"Pengen, sih, tapi aku sama sekali nggak ada minat buat menggambar. Mungkin habis ini aku coba gambar yang lebih bagus lagi," ucapku sembari menatap jam di dinding yang menunjukkan waktu untuk menggambar hanya tinggal 20 menit lagi.
"Sebentar lagi mau istirahat, yakin mau buat yang baru?" Nindi pun meragukan niatku.
"Ya, usaha dulu, dong." Kertas yang sudah berisi gambar kurobek begitu saja. Nindi pun tak terkejut.
Aku kemudian mengambil penggaris dan membuat bingkai berbentuk persegi panjang sebagai pembatas gambar. Kuhela napas panjang dan bertekad untuk menggambar lebih baik. Beberapa menit kemudian terbesit rasa sesal karena sudah membuang gambar awal tanpa pertimbangan yang matang. Aduh, apes sekali!
"Dev, ayo! Jangan bengong!"
Meskipun dengan susah payah, gambar yang kubuat selesai tepat waktu. Jangan tanya bagaimana hasilnya, yang jelas sedikit lebih baik daripada gambar yang awal. Ah, akhirnya terlewati juga mata pelajaran kesenian yang cukup membuat minder jiwa seniku.
"Teman-teman, yang kemarin pesan jamu silahkan diambil!" ucapku ketika waktu istirahat sudah tiba dan tentunya tidak ada guru di kelas.
Sudah dua hari aku berjualan di kelas. Hari ini lumayan juga pesananku. Aku juga membawa selain pesanan untuk persediaan jika ada yang tiba-tiba berminat. Teman-teman langsung menyerbu bangkuku.
__ADS_1
"Eh, minum jamu kalau makan kue-kue tradisional juga cocok, nih. Siapa tahu ada yang minat, ada donat, pastel, risol, bikang, sama pisang molen. Yang mau langsung ke sini, ya. Menerima pesanan juga!" teriak Alwi sembari bergabung bersamaku. Wah, bisa-bisanya mejaku menjadi lapak berjualan.
Ternyata Alwi keren juga. Dia bisa memanfaatkan peluang untuk berjualan bersamaku. Aku tidak tahu jika hari ini dia membawa barang dagangannya. Begitu teman-teman kembali ke meja masing-masing, kulihat kue di keranjang Alwi yang hanya tinggal beberapa biji. Pun dengan jamuku, hanya tersisa empat plastik.
"Lumayan juga, ya, jualan di kelas. Simbiosis mutualisme, nggak, sih?" tanya Alwi kepada Nindi.
"Iya, juga, sih. Kalian untung, teman-teman juga untung soalnya gak perlu repot-repot ke kantin," jawab Nindi sembari menikmati puding yang sengaja diberikan oleh Alwi. Untung saja aku juga diberi, awas saja jika tidak!
"Dev, jamunya masih ada?" tanya Oliv.
"Masih, sini-sini!" Oliv menghampiriku dan tampak memilih mana yang hendak ia ambil.
"Kamu mau juga, Ris?" tanya Oliv pada Risa.
Sejenak aku melihat pada gadis yang sedang duduk di sudut kelas yang berada di dekat jendela. Tatapannya sangat tajam kepadaku, mungkin masih kesal gara-gara ulangan Bahasa Inggris tadi. Bukankah seharusnya aku yang kesal kepadanya? Risa tidak menjawab pertanyaan Oliv, dia hanya membuang tatapan seolah meremehkan disertai decakan.
"Sorry, aku nggak level sama minuman kayak gitu. Perutku nggak bisa sembarang menerima makanan atau minuman. Kan, belum tahu itu higenis nggaknya," jawab Risa yang tentunya menghinaku.
"Kalau nggak mau ya udah," lirih Oliv pelan seraya memberikan uang yang pas kepadaku. Untung saja Oliv tidak menanggapi ucapan si temannya itu.
"Eh, kalian kenapa diam?" tanya Alwi kepadaku dan Nindi.
"Nggak papa, Al," jawabku.
"Aku tahu, kok, cerita sebenarnya. Kamu hanya korban, kan, Dev? Risa emang aneh kayak gitu, nggak tahu terima kasih dan sopan santun," bisik Alwi mengajak bergunjing.
"Dia aneh, berani banget sama Nindi. Padahal dia penghuni baru kelas ini," timpalku begitu mengingat Risa adalah anak pindahan dari kelas reguler.
"Dia berani kayak gitu karena emang ayahku sama ayahnya akrab. Aku cuma takut kalau dia gak dikasih jawaban terus marah dan bilang ke ayahnya," jelas Nindi.
__ADS_1
"Oh, pantesan. Tapi itu kan emang bentuk kecurangan, Nin," tukasku.
"Nggak usah takut, Nin. Nanti kalau dia ngadu, aku sama Devi siap bantu kamu. Palingan si Risa yang malah dimarahi orang tuanya." Aku mengangguk, setuju dengan ucapan Alwi.
"Sstt ... dia mau lewat." Nindi memberi isyarat agar aku dan Alwi berhenti membicarakan tentang Risa. Tepat ketika aku menoleh ke belakang, Risa sudah berada di dekatku.
"Eh, maaf." Sepertinya memang sengaja Risa menyenggolku, padahal aku tidak menghalangi jalannya. Jelas-jelas aku duduk di kursiku.
"Ya, gitu kalau pohon pisang dikasih nyawa. Punya jantung tapi gak ada hati. Nggak punya perasaan, udah ditolong malah song*ng!"
Aku bahkan tidak menyangka jika Alwi bisa berkata begitu. Laki-laki ternyata bisa lebih pedas mulutnya ketika menyindir. Aduh, mungkin setelah ini hidupku tidak tenang karena mulai memiliki musuh. Oh, padahal aku juga tidak menganggap Risa sebagai musuh.
"Nyindir aku?" Risa menatap tajam ke arah Alwi.
"Aku nggak bilang kalau lagi nyindir kamu. Tapi kalau kamu ngerasa kayak gitu berarti kamu emang sebenarnya song*ng!" Alwi tertawa dan diikuti teman-teman lainnya. Aku dan Nindi saling menatap, sepertinya Alwi sedang mencari penyakit.
"Awas, ya!" Risa menunjuk ke arahku, Alwi, dan Nindi secara bergantian. Ngeri juga punya teman model seperti ini.
"Aku takut, teman-teman minta tolong, dong!" Risa menghentak-hentakkan kakinya, kesal dengan ucapan Alwi. Gadis itu kemudian keluar kelas.
Mata pelajaran setelah istirahat adalah agama. Ujiannya tidak dalam bentuk pengerjaan tes tertulis, melainkan tes mengaji karena memang keseluruhan siswa di kelas beragama Islam.
"Alwi sama Nindi dapat panggilan dari Bu Irma!"
Aku terkejut, Anton, anak kelas samping datang ke kelasku. Dia memberi pengumuman yang cukup menakutkan itu. Aku tidak tahu kenapa guru BK itu memanggilku bersama Alwi. Apa gara-gara Risa tidak terima, kemudian dia membuat laporan kepada Bu Irma?
"Ya udah ke sana, yuk, Dev. Kita nggak usah takut, orang kita juga gak sepenuhnya salah!"
Aku mengikuti Alwi, dia tampak begitu santai.
__ADS_1