
Sekembalinya dari musola, aku dan Nindi langsung ke kelas. Seperti biasa, ada Alwi yang sudah menunggu Nindi di sana. Aku memerhatikan Alwi yang melempar senyum kepada Nindi, Nindi kemudian membalasnya dengan senyum malu-malu. Eh, aneh sekali dua temanku, senyum-senyum tidak jelas seperti itu.
"Ih, emang kalian berdua freak!"
Nindi dan Alwi seketika kompak menatapku. Kalau Nindi, sih, masih bisa aku maklumi. Akan tetapi, tatapan Alwi seolah memendam emosi.
"Santai aja, Al," ucapku.
"Aku udah santai, kok," jawabnya.
"Habis ini kalian mau ke toko buku, kan? Aku pulang dulu!"
"Nggak, lah, Dev. Tiap hari beli buku kayak kita punya banyak uang aja. Mau bayar pakai daun?" Nindi tertawa.
"Ya, kali aja kalian punya banyak tabungan. Kalian biasanya hobi beli buku, kan?"
"Aku sama Nindi ada rencana beli buku lagi, sih. Tapi masih ngumpulin uang dulu ini."
"Aku mau juga dibeliin novel," candaku.
"Beli buku pelajaran gitu, kek. Biar tambah pintar," sergah Alwi.
"Nggak, ah. Nanti saingan Nindi jadi banyak kalau aku pintar." Aku tertawa.
"Nggak masalah, sih," ucap Nindi yang ikut tertawa.
"Ya udah, aku pulang dulu."
Aku melambaikan tangan pada kedua temanku tersebut. Mereka juga membalas dengan melakukan hal yang sama. Buku dan alat tulis sudah rapi di dalam tas yang kugendong. Kutinggalkan Alwi dan Nindi, jam pulang sekolah adalah milik mereka.
Parkiran sepeda sepi seperti biasa. Kondisi seperti ini membuatku dengan mudah mengeluarkan sepeda. Aku menuntun sepedaku hingga ke gerbang sekolah. Ada Pak Ghani yang sedang berjaga di pos satpam.
"Pulang, Nduk?" tanya Pak Ghani kepadaku.
"Iya, Pak. Nuwun sewu!" Pak Ghani mengangguk seraya tersenyum.
Aku mulai mengayuh sepeda dengan pelan. Tidak ada semangat untuk pulang kali ini. Jarak yang lumayan jauhlah yang menjadi penyebabnya. Kalau saja ada sepeda motor yang bisa kukendarai untuk pergi ke sekolah, mungkin tidak akan membosankan seperti ini. Akan tetapi, aku harus tetap bersyukur. Kendaraan yang sekarang aku miliki adalah impian mereka yang tidak memiliki sepeda.
***
Sepertinya Bapak memiliki tamu siang itu. Sebuah motor bebek terparkir di teras rumah. Motor tersebut tampak asing, seingatku tidak ada sanak saudara yang memiliki motor seperti itu.
Aku langsung menuju dapur untuk mengetahui siapa tamu yang datang. Sepertinya ruang tamu sangat sunyi, tidak ada tanda-tanda sedang ada orang di sana.
"Sudah pulang, Nduk?"
Aku terkejut, ternyata ada Bapak juga di dapur. Kupikir Bapak sedang menyiapkan minum untuk tamu.
__ADS_1
"Siapa tamunya, Pak?" tanyaku sedikit berbisik.
"Tamu apa, tho?"
"Itu di luar ada sepeda motornya," jelasku.
"Itu bukan motor tamu, Nduk. Itu motor buat kamu biar nggak capek waktu ke sekolah."
Rasa haru tiba-tiba menderaku. Dalam kondisi seperti ini, Bapak malah lebih mementingkan kebutuhanku. Padahal, kebutuhannya sendiri sangat banyak.
"Beneran, Pak?" tanyaku masih tidak percaya.
"Iya. Tapi maaf, Nduk, itu cuma motor bekas. InsyaAllah tetap layak pakai." Bapak tersenyum.
Kulepaskan tas dari gendongan dan menaruhnya asal di salah satu kursi. Aku buru-buru keluar untuk melihat kembali kendaraan roda dua yang baru dibelikan Bapak.
"Kunci motornya di dekat TV, Nduk! Kalau mau nyoba nggak papa!" ucap Bapak sedikit berteriak.
Aku bergegas menuju tempat yang digunakan untuk meletakkan kunci motor. Lelah akibat bersepeda dari sekolah seolah tidak terasa lagi. Rasanya sudah berganti, aku bersemangat untuk saat ini.
"Mbak, mau nyoba motor?"
Entah dari mana ia datang, Rehan selalu saja muncul saat aku mendapatkan kebahagiaan. Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan-pertanyaan. Motor itu kukeluarkan pelan-pelan hingga bagian depannya menghadap sisi jalan.
"Mbak mau ikut!"
Rehan langsung menimbrung di jok belakang. Untung saja aku sudah tumbuh dan bertambah tinggi, jadinya kakiku bisa menjadi tumpuan agar tetap seimbang.
"Bisa nggak, Mbak?" tanya Rehan menyadari aku yang sedari tadi tidak bisa menyalakan motor.
"Kayaknya nggak bisa pakai strarter. Kamu turun dulu, Re." Rehan menurut. Aku juga turun untuk menyalakan motor dengan cara diengkol menggunakan kaki.
"Susah, ya, Mbak?"
Rasanya jengkel setiap mendengar pertanyaan dari Rehan. Tidakkah dia melihat jika aku sedang berusaha? Aku abaikan pertanyaannya.
"Tuh, bisa, kan! Harus berusaha dulu, Re. Jangan mudah menyerah," ucapku dengan puas.
"Ayo, jadi ikut, nggak?"
"Jadi, dong!"
Rehan kembali duduk di belakangku. Aku masih mencoba untuk memanaskan mesin untuk beberapa saat.
"Pegangan, Re." Rehan menarik sisi kanan dan kiri bajuku sebagai pegangan. Bismillah, aku melajukan motorku dengan pelan.
"Mau ke mana kita, Mbak?"
__ADS_1
"Jalan-jalan aja. Nggak tahu juga mau ke mana."
"Di ujung desa aja, Mbak. Sampai di sekolahku," ucap Rehan memberikan saran.
"Boleh."
Aku masih melajukan motorku dengan pelan. Tiba-tiba aku ingat jika nanti melewati gang rumah Alwi. Jangan-jangan nanti berpapasan, mana masih pakai seragam.
"Kalau kita putar balik gimana, Re?"
"Kenapa, Mbak?"
"Malu kalau ada temanku lihat," ucapku jujur.
"Kenapa harus malu? Mbak ada salah sama dia? Malu itu kalau salah, Mbak. Kalau nggak ada salah jangan malu!" Rehan malah menceramahiku.
Kupikir ucapan adikku itu benar. Lagipula sepertinya Alwi belum pulang dari sekolah. Dia pasti masih berduaan dengan Nindi.
***
Hampir lima belas menit aku dan Rehan berkeliling menggunakan sepeda motor. Dirasa sudah cukup, aku dan Rehan kembali ke rumah. Bapak sedang duduk di depan rumah ketika aku dan Rehan datang. Sepertinya beliau menunggu kami.
"Kok, sudah pulang?" tanya Bapak saat aku mematikan motor.
"Sudah capek, Pak."
"Nggak bisa pakai starter nggak papa, ya?" ucap Bapak seperti merasa bersalah.
"Nggak papa, kok, Pak. Itu juga nggak susah banget nyalainnya."
Aku dan Rehan duduk mengapit Bapak di kursi panjang yang sebelumnya sudah beliau duduki. Aku penasaran dari mana Bapak dapat membeli motor itu.
"Bapak kenapa beli motor? Emangnya ada uang?" tanyaku pelan.
"Biar kamu nggak capek-capek, Nduk. Itu tadi ada teman Bapak yang jual motornya. Sebenarnya Bapak belum pengen beli. Tapi, karena dia bilang lagi butuh uang, Bapak jadi kasihan. Lagian motor itu juga nggak terlalu mahal. Bapak baru bayar setengahnya. Dia nggak keberatan, pembayaran sisanya nanti kalau ladang kita sudah panen," jelas Bapak membuatku paham.
"Tapi kata Bapak uang hasil ladang mau dibuat modal usaha?" Aku teringat ucapan Bapak ketika Budhe Asih datang waktu itu.
"InsyaAllah masih ada sisa dari uang ladang, Nduk. Mulai besok Bapak juga disuruh kerja di sawah Pak Adi. Doakan saja semoga rejeki Bapak lancar."
"Aamiin," jawab Rehan sembari menyapukan dua tangannya di wajah.
Hening muncul kembali. Tidak ada topik untuk dibahas sebagai bahan pembicaraan. Rehan juga sibuk sendiri melipat kertas menjadi pesawat mainan.
"Pak, terima kasih," ucapku hampir lupa.
"Sama-sama, Nduk. Belajar yang rajin, ya. InsyaAllah kamu bisa mengangkat derajat orang tua. Rehan juga, harus semangat belajar." Bapak mengusap kepala Rehan.
__ADS_1
Memiliki anggota keluarga seperti Bapak dan Rehan adalah salah satu nikmat yang tidak terkira. Aku sangat bersyukur hidup dan dibesarkan di lingkungan seperti ini. Meskipun terkadang banyak masalah dan hinaan yang kuterima. Setidaknya selalu ada alasan untuk selalu menjadi manusia kuat.