
Kini semua makanan sudah siap dan tersaji di atas meja makan. Aku duduk di antara Alwi dan Bu Salma. Alwi terlihat mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya. Mungkin dia bosan, Pak Herman yang ditunggu-tunggu belum juga datang.
"Wah, udah lama, ya?" tanya Pak Herman begitu muncul, beliau langsung menarik kursi dan duduk di atasnya.
"Papa lama banget, lapar, nih!" protes Alwi.
"Ish, dasar Mas Alwi. Papa itu tadi baru selesai mandi. Siapa suruh tadi siang nggak makan?" tanya Bu Salma yang menjurus untuk menyalahkan Alwi.
"Sudah, jangan berantem di depan makanan. Ya udah, kita berdoa dulu habis itu makan."
Pak Herman memimpin doa sebelum makan. Alwi begitu bersemangat mengambil piringnya. Aku justru canggung, dari tadi merepotkan saja.
"Udah, Ma. Segitu aja," ucap Pak Herman begitu Bu Salma mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya itu.
"Mbak Devi jangan gitu, sini!" Bu Salma menarik piringku dan mengambil nasi dan lauk dengan porsi banyak.
"Bu, jangan banyak-banyak. Nanti nggak habis, lho!" pekikku karena aku tidak biasa makan dengan porsi sebesar itu.
"Harus habis! Mas Alwi makan juga selalu banyak, kamu masih dalam masa pertumbuhan. Biar nggak lemas!"
Aku melirik Alwi, dia menatapku seolah meledek. Aduh, bisa harus tidak bisa nasi yang diambilkan oleh Bu Salma harus habis. Hmmm, kubayangkan perutku yang nanti sakit selepas makan.
"Nih, dimakan, ya!"
"Ini tumben tempenya pakai tepung, tempe mendoan," ucap Pak Herman menatap tempe goreng di tangannya.
"Itu khas buatan Mbak Devi, Pak. Coba dulu, kata Mas Alwi, sih, enak!"
"Enak banget, kok, Pa. Kasih sambal, tambah mantap," saran Alwi.
"Sambalnya pasti pedas banget!"
"Nggak, kok, Pak. Itu cabainya nggak begitu banyak," elakku.
Pak Herman mencoba melakukan saran dari Alwi. Sementara itu aku belum melanjutkan makanku, aku menunggu reaksi dari Pak Herman. Bilang 'enak', Pak!
"Iya, hmmm, enak ternyata. Nggak kalah enak sama tempe goreng buatan Mama biasanya!"
"Gini, Pa. Makin enak!" Alwi menambahkan sambal pada tempe di tangannya, Pak Herman mengikuti saran Alwi.
"Kok, pintar banget bikin sambal!"
Aku jadi malu jika dipuji seperti ini. Ibulah yang mengajari cara membuat sambal, tidak ada resep khusus. Di rumah pun sambal seolah menjadi menu wajib yang harus ada setiap harinya.
"Pak Basir kesibukan di rumah sekarang apa, Mbak?" tanya Pak Herman.
"Sekarang baru sibuk jual beli ayam kampung. Itu tadi waktu Alwi telpon kayaknya repot ada yang mau beli," jelasku.
__ADS_1
"Wah, bagus, dong. Papa juga rencana mau beli ayam kampung."
"Buat apa, Pa?" tanya Alwi.
"Pengen bikin ayam bakar aja, sih."
"Wah, Mama ada tugas lagi, dong!" Bu Salma tampak memasang ekspresi sebal.
"Wah, cocok tuh, Pa! Siapa tahu kita nanti bisa ajak Devi makan ke sini lagi," ucap Alwi menjadikanku umpan. Tapi lumayan juga sih diajak masak-masak dan makan di rumah ini lagi.
"Oke, kapan-kapan kita pesan ayam ke Pak Basir kalau begitu!" seru Pak Herman.
"Nanti Alwi ngantar Devi ke rumahnya, Pa. Mungkin mau sekalian aja?"
"Boleh, tuh."
Aku melirik ke arah Bu Salma yang menggelengkan kepalanya. Mungkin di rumah ini beliau adalah orang yang paling sabar dan mengalah. Kelihatannya Alwi pun selalu lebih setuju ke Pak Herman.
"Biarin aja, Mbak. Kamu ke ruang depan sana saja, nonton TV," ucap Bu Salma melarang ketika aku sedang membereskan piring dan perabot kotor di meja makan.
"Nggak papa, Bu. Sekalian mau cuci tangan," jawabku mencari alasan.
"Oh, ya udah. Bantu bawa piring-piring kotor ke wastafel aja."
Aku langsung membawa piring itu ke tempat yang diminta Bu Salma. Sementara itu Bu Salma masih menyimpan beberapa lauk yang masih tersisa. Tadinya yang dimasak terlalu banyak, jadinya banyak yang tidak termakan. Coba saja kalau di rumah, kadang makanan yang ada jumlahnya terbatas, bahkan harus dibagi-bagi agar merata.
"Kenapa harus repot-repot, Bu?" Aku merasa sungkan.
"Bukan repot-repot, Ibu memang sengaja masak banyak. Lagi pula sisanya masih sangat banyak. Kasihan kalau nggak dimakan malah mubazir," jelas Bu Salma.
"Terima kasih, Bu."
"Lho, kamu sudah selesai cuci piring?" Bu Salma tampak terkejut ketika menghampiriku.
"Sudah, Bu."
"Ibu biasanya cuci piring itu besok pagi. Malah kamu cuci langsung. Kalau di rumah ini santai saja, anggap seperti di rumah sendiri," ucap Bu Salma.
Dianggap seperti rumah sendiri? Kalau begitu kalau rumah ini kujual apakah boleh, ya? Hahaha, tidak, kok, aku becanda. Eh, tapi kalau boleh lumayan juga.
"Mau langsung pulang, Mbak?" Bu Salma membuka pintu belakang untuk memastikan cuaca saat ini.
"Gelap banget, Mbak. Kayaknya mau hujan deras."
Yah, baru juga Bu Salma mengakhiri ucapannya, hujan turun begitu deras. Jam yang berada di dinding menunjukkan pukul tujuh malam. Rencana pulang setelah ini pupus sudah.
"Nggak papa, Mbak. Pasti sebentar lagi reda. Ayo ikut ke ruang tengah." Bu Salma merengkuh bahuku dan mengajakku untuk bergabung dengan Alwi dan Pak Herman.
__ADS_1
"Ketika Devi berencana untuk pergi dari tempat ini
Hujan tiba-tiba datang seolah tidak merestui
Gadis itu tampak gundah gulana
Memikirkan nasib pulangnya nanti
Oh, sungguh malang."
Alwi menyambutku dengan puisinya. Sejak kapan dia belajar merangkai kata-kata. Pak Herman justru memberikan tepuk tangan. Mungkin bangga dengan putranya yang bisa berpuisi.
"Puisinya bagus, Al. Pasti kalau diikutkan lomba bisa menang," ucapku menggodanya.
"Menang-gung malu? Ngapain sih berdiri terus sini, duduk!" Alwi menepuk bagian karpet kosong di sampingnya. Aku duduk di situ, sementara Bu Salma tampak kembali lagi ke dapur.
"Besok ada PR nggak, Al? Aku belum belajar," ucapku kepada Alwi. Pak Herman tampak sibuk dengan koran di genggamannya.
"Seingatku nggak ada. Kenapa?"
"Ya, aku kan belum belajar," ucapku.
"Emang pernah belajar? Bukannya setiap hari nggak belajar?" ledek Alwi.
"Itu kamu kali, Al."
"Enak aja."
"Kalian ribut apa, sih?" Bu Salma datang dengan empat gelas jahe hangat dan kue kering. Hmm, enak sekali padahal perut masih kenyang, ada saja yang disuguhkan.
"Diminum jahenya, Mbak. Biar hangat!" Bu Salma mempersilahkan kepadaku sebelum akhirnya beliau menyeruput isi gelasnya.
"Minum, Dev. Jahe buatan Mama seger, lho!" Alwi mengambilkan segelas dan menaruhnya tepat di depanku.
"Makasih."
"Iya."
"Mbak Devi setelah SMP mau ke mana?" tanya Bu Salma.
"Belum tahu, Bu. Tapi Bapak minta di suruh ke pesantren."
"Nggak ke SMA 1 saja?"
"Sama Bapak nggak diizinin."
Sebuah kilatan muncul, tak lama kemudian bunyi gemuruh menggema di angkasa. Wah, aku semakin takut untuk pulang. Masa iya harus di rumah ini terus?
__ADS_1