
Satu bulan berlalu
Masa SMP hanya tinggal menghitung bulan. Seminggu ini kelas sembilan disibukkan dengan kegiatan ujian praktek. Kabar baiknya, hari ini merupakan hari terakhir untuk ujian tersebut.
"Gimana nilai ujian agama kamu, Dev?" tanya Nindi yang tampak sumringah setelah melihat buku miliknya yang baru dibagikan oleh Alwi. Materi yang diujikan adalah hafalan surat pendek yang sudah ditentukan oleh guru agama. Nilainya pun langsung dicantumkan di buku tugas masing-masing.
"Aku dapat A sama A-, sih. Emang hafalan suratku kurang lancar," jawabku cukup santai.
"Wah, calon ustazah memang keren! Aku cuma dapat A- sama B+, lho."
"Nggak papa, Nin. Sesekali biar aku lebih unggul dikit dari kamu, lah," candaku pada Nindi, dia tidak akan marah juga.
"Iya, Dev. Kamu mau langsung pulang?" tanya Nindi seraya memasukan buku ke dalam tasnya. Aku mengangguk, tapi tadi Bapak memintaku untuk mampir ke toko Mas Ovi terlebih dahulu.
"Oh, ya udah. Hati-hati, ya, Dev. Aku sama Alwi masih mau di sini dulu."
"Oke, duluan kalau gitu!"
Memang sebenarnya bel tanda berakhirnya semua pelajaran sudah berbunyi sedari tadi. Hanya saja dari guru agama meminta agar tidak pulang terlebih dahulu untuk menunggu nilai hasil ujian praktek tadi. Untung saja tidak memerlukan waktu yang lama saat menunggunya.
Aku berjalan dengan langkah yang cepat menuju tempat parkir yang memerlukan jarak tempuh sekitar 100 dari sekolah. Kalau tidak ada teman memang membosankan, inginnya cepat-cepat sampai tujuan. Belum lagi ada rasa takut yang datang ketika orang tidak dikenal tiba-tiba melintas dengan bersiul menggoda. Meskipun belum pernah merasakannya secara langsung, cerita dari beberapa teman cukup membuatku was-was.
Aku terkejut ketika sebuah motor melintas dengan sebelumnya beberapa kali membunyikan klakson yang cukup mengganggu. Aku yang merasa tidak salah karena memang berjalan di tepi refleks melihat si biang suara tersebut. Ternyata Syiham yang tengah membonceng Rita pelakunya.
"Duluan, Mbak. Mau nge-date dulu, ya." Rita dengan percaya dirinya melambaikan tangan ke arahku.
Ah, dasar adik kelas tidak tahu diuntung. Padahal mereka diliburkan selama kelas sembilan ujian praktek. Harusnya kesempatan itu digunakan untuk belajar secara mandiri di rumah. Eh, malah Syiham dan Rita menggunakannya untuk bermesraan, mana lewat depan sekolah. Semoga ketahuan guru!
__ADS_1
Dari semua gadis yang pernah digosipkan dekat atau berpacaran, memang sepertinya hanya Rita yang benar-benar dicintai dengan tulus oleh Syiham. Aku jadi berpikir bagaimana jadinya jika waktu itu terbawa perasaan dengan semua perlakuan Syiham. Untung saja benteng pertahananku sangat kuat dan tidak mudah goyah. Mungkin aku akan menjadi manusia paling sedih karena ditinggalkan oleh Syiham.
Memikirkan hal tersebut kurasa tidak berguna. Kalau dibilang menyesal karena tak lagi diperhatikan oleh Syiham, itu salah! Aku justru sangat-sangat bahagia, tidak ada lagi sosok pengganggu.
Mengambil motor di parkiran kemudian bergegas untuk memenuhi permintaan Bapak tadi pagi. Entah mengapa aku seolah menunggu momen seperti ini. Apa aku merasa senang karena akan bertemu dengan Mas Ovi? Bisa jadi, semenjak hari dimana aku mendaftar di pesantren, belum pernah lagi aku bertemu dengan tetangga rasa kakak itu.
Setibanya di halaman toko Mas Ovi, aku segera mematikan motor dan mencoba mengintip apakah ada Mas Ovi di sana? Tumben sekali dia tidak terlihat, biasanya juga hobi duduk di tempat kasir. Akan tetapi, kulihat seorang gadis yang dari seragamnya tampak jika dia merupakan siswi SMA. Dia tampak duduk tepat di bangku depan toko dengan membawa kotak styrofoam, siapakah dia?
"Permisi, Mbak. Nggak ada orang di dalam?" tanyaku berbasa-basi sembari melihat ke dalam toko yang tampak sepi.
Perempuan tadi tidak menjawab pertanyaanku. Dia mendongak kemudian memperhatikanku dari kepala hingga ujung kaki. Dilihat dari lagaknya, perempuan tersebut pandai menilai penampilan orang lain. Dia kemudian memalingkan wajahnya tanpa menjawab pertanyaan yang sudah kuajukan. Memangnya ada yang salah dengan penampilanku?
"Eh, Mas Erwin! Mas Ovi ke mana?" ucap perempuan tadi kepada salah satu pegawai Mas Ovi yang baru muncul dari bagian dalam.
"Oh, masih ada urusan di kota. Ada apa, Nel?"
"Titip ini, ya, Mas. Kasih ke Mas Ovi, bukan buat kamu!" tegas perempuan tadi dengan menyerahkan kotak yang kumaksud tadi.
"Apa ini isinya?" Mas Erwin menenteng dan menimbang untuk memperkirakan isinya.
"Nugget pisang, spesial buatan Nela untuk Mas Ovi. Udah, ya, aku duluan. Nanti dikasih pokoknya!"
"Iya, iya."
"Oke, aku mau dulu, Mas Erwin. Ada kerja kelompok habis ini."
Perempuan yang menyebut dirinya dengan nama Nela tadi akhirnya meluncur pergi dengan motornya. Bahkan dia mengabaikan senyumku dan berlalu dengan sikap angkuhnya. Perasaan aku belum pernah bertemu dengannya, kenapa dia tampak begitu kesal denganku?
__ADS_1
Apakah Nela memiliki kedekatan khusus dengan Mas Ovi? Pantas saja Mas Ovi sudah tidak sempat lagi bermain ke rumah, mungkin sibuk dengan Nela. Itu bagus, tapi kurasa Mas Ovi tidak cocok dengan perempuan seperti Nela.
"Tetangganya Mas Ovi, kan?" tanya Mas Erwin yang sepertinya masih ingat jika aku pernah ke sini waktu itu. Aku yang sempat melamun akhirnya tersadar.
"Iya, Mas. Mau nyari titipan Bapak. Ini ada catatannya." Kuserahkan kertas catatan yang disiapkan Bapak tadi kepada Mas Erwin, dia membacanya sekilas.
"Oh, iya. Tadi Mas Ovi bilang, kalau kamu ke sini disuruh nunggu sebentar. Tunggu, ya. Habis ini pasti pulang."
"Emangnya ke mana Mas Ovi? Katanya tadi ke kota."
"Masih salat di belakang. Tadi memang sengaja bilang ke kota, soalnya Mas Ovi risih sama Nela. Dia udah setengah jam di sini, akhirnya nyerah juga dia," jelas Mas Erwin. Oh, aku jadi penasaran, siapa Nela sebenarnya?
"Kenapa nggak tanya dari awal dianya? Udah nunggu lama, ternyata nggak ada yang dicari."
"Dia nggak berani ganggu orang toko kalau kelihatan lagi sibuk. Mas Ovi pernah menegurnya. Padahal sebenarnya aku tadi nggak sibuk, cuma malas kalau ada dia, pasti ngajak ngobrol terus," ungkap Mas Erwin menceritakan kebiasaan Nela.
"Eh, ada Devi. Nyari pesanan bapakmu, Dev?" Mas Ovi pun baru keluar dari persembunyiannya. Mas Erwin memberikan pesanan Nela tadi, tapi Mas Ovi tampak tidak tertarik dan berniat memberikannya kepada Mas Erwin.
"Kamu makan aja, Win. Eh, Devi mau nugget pisang?" Aku menggeleng.
"Kamu bawa aja, Win," imbuh Mas Ovi.
"Emangnya Bapak kemarin bilang kalau mau beli?" tanyaku menyadari ucapan Mas Erwin yang katanya Mas Ovi berpesan agar aku menunggunya dulu. Itu berarti Mas Ovi tahu jika aku akan ke sini.
"Iya, tadi sore aku ke rumah. Kamu nggak ada."
"Masih sibuk persiapan ujian praktek. Siapa Nela, Mas?" tanyaku yang sudah kepo dengan perempuan tadi.
__ADS_1