
"Pak, mau ke mana?"
Aku penasaran dengan Bapak yang sedari pulang dari mengantarkan ayam tampak bingung sendiri. Rasa sungkanku untuk bertanya akhirnya terkalahkan, terlebih ketika kulihat Bapak memasang ekspresi tidak terduga. Sepertinya akan ada rencana besar.
"Mau cari bambu di belakang rumah. Buat kandang ayam-ayam kecil," jawab Bapak yang siap dengan parang dan gergaji.
Sesaat kemudian Bapak berjalan melewati pintu belakang. Bapak pasti akan ke kebun peninggalan kakek yang di dalamnya tumbuh subur pohon bambu. Meskipun lahan yang tersebut sudah hak milik Budhe Asih, tapi Bapak masih diperkenankan untuk mengambil kayu-kayu kecil atau bambu di sana.
"Pak, ikut!" teriakku.
Aku dan Bapak tiba di kebun yang hanya berjarak 100 meter dari rumah itu. Sebenarnya tidak begitu jauh, tapi rasanya sudah hampir lama aku tidak menjamah tempat ini. Bapak beberapa kali memintaku untuk pulang, di tempat tersebut banyak nyamuk.
"Aku bantu, ya, Pak?"
Selagi Bapak tampak menebas ranting-ranting kecil dari bambu, aku penasaran dengan gergaji yang ditaruh di tanah. Bapak tidak menjawab, mungkin artinya menyetujui ucapanku. Segera kuambil benda yang salah satu sisinya bergerigi itu dan perlahan menggeseknya ke permukaan bambu.
"Nduk, hati-hati," ucap Bapak begitu menyadari aku yang masih berusaha mematahkan batang bambu. Ternyata tidak semudah yang kukira, bahkan gergaji yang kugunakan seolah tidak menembus lapisan terluar dari batang bambu itu.
"Ternyata susah, ya, Pak?" Kuserahkan gergaji tersebut pada Bapak. Bapak tersenyum kepadaku.
"Seperti ini memang pekerjaan laki-laki, Nduk. Kamu itu di dapur saja, gak perlu susah-susah kayak Bapak gini," ucap Bapak.
"Kan pengen nyoba, Pak."
Setelah dirasa cukup, Bapak menyudahi kegiatan menebang bambu. Aku hanya memperhatikan, Bapak masih sibuk membuat bambu itu menjadi bilah-bilah yang lebih kecil. Bapak begitu terampil, mungkin jika aku mencobanya bisa membutuhkan waktu yang sangat lama.
"Bapak mau es?" tawarku.
Sebenarnya itu hanya akal-akalanku saja. Justru aku yang menginginkan minuman dingin itu. Sengaja berdalih dengan menawari Bapak, siapa tahu Bapak juga kehausan.
"Beli es batu satu, Nduk. Bikin es teh mau?"
Bapak memang suka begitu. Sungkan jika harus langsung meminta. Ya, sekadar menginginkan es teh saja tanya dahulu apakah aku bersedia.
"Mau! Seger banget kayaknya, ya, Pak?"
"Iya. Ambil uangnya di lemari dapur buat beli es!"
__ADS_1
Aku beranjak menuju dapur dan menyalakan kompor untuk merebus air. Termos yang biasanya diisi ternyata begitu ringan tak berisi ketika kuperiksa tadi. Sembari menunggu air mendidih, aku pergi membeli es batu di warung Mbak Siti.
Sebuah es batu sudah kudapatkan. Aku berjalan dengan tergesa-gesa agar cepat tiba di rumah, tanganku seperti mati rasa. Salahku juga, tadi tidak mau menerima kantong kresek yang ditawarkan Mbak Siti.
Aku kembali ke rumah untuk mempersiapkan pembuatan teh. Teh tubruk yang sudah kusiapkan di teko segera kusiram dengan air mendidih dengan tambahan gula secukupnya. Aku ingat masih ada piring kotor yang belum kucuci. Sembari menunggu teh berwarna pekat, aku memutuskan untuk mencuci piring.
"Mbak Devi mau bikin es?" Rehan menghampiriku dengan keadaan terengah-engah dan peluh yang mengucur deras di pelipisnya.
"Iya, tapi biar warnanya kecokelatan dulu tehnya. Kamu haus banget, ya?"
"Iya, Mbak. Habis main bola."
"Ya udah, coba kamu aduk-aduk lagi terus dicicipi, udah manis belum. Kalau udah disaring, dipindah di teko lain terus tambahin es," jelasku.
Rehan lantas masuk ke dapur tanpa mengucapkan apapun kepadaku. Segera kuhajar semua piring-piring kotor dan beberapa perabotan dapur lainnya. Setelah itu aku masuk ke dapur untuk menghampiri Rehan.
"Lho, udah diminum aja. Emangnya gak panas?" tanyaku begitu melihat Rehan meneguk es teh dari gelas.
"Aku tambah air dingin, Mbak. Biar gak kelamaan."
"Ya udah, kamu antar esnya ke belakang. Ada Bapak di sana."
"Bikin kandang ayam."
"Mau ikut kalau gitu!"
Rehan menenteng teko dan dua cangkir untuk diberikan ke Bapak. Sementara itu aku masih sibuk menata piring dan perabotan yang sudah kucuci tadi. Setelah ini aku ingin ikut Bapak lagi.
"Assalamualaikum, Pak Basir?"
Baru saja hendak menyusul Bapak, rupanya ada tamu.
"Waalaikum salam. Nyari Bapak, Bu?" Ternyata tamu tersebut adalah Bu Lia.
"Iya. Bapakmu jualan ayam kampung, ya? Tadi Ibu lihat dia bawa banyak banget. Kalau ada, tolong lusa antar ke rumah Ibu empat ekor. Mau ada acara di rumah," jelas Bu Lia menjelaskan maksud dari kedatangannya.
Perasaan Bapak tidak memiliki persediaan ayam. Baru juga berjualan sehari, sudah ada saja calon pembeli. Mungkin ini rizki untuk Bapak.
__ADS_1
"Sebentar, ya, Bu. Saya panggilkan dulu, Bapak masih di belakang buat kandang ayam. Duduk dulu, Bu," ucapku mempersilahkan kemudian segera berlari kecil menghampiri Bapak.
Ternyata kerangka kandang ayam buatan Bapak sudah jadi. Hebat sekali, bisa secepat itu membuatnya. Aku memberi tahu Bapak bahwa ada Bu Lia di rumah. Bapak akhirnya menghampiri Bu Lia.
"Bapak rencananya mau jualan sama pelihara ayam, Re. Kamu siap bantu, nggak?" tanyaku.
"Harus siap, dong. Tadi Bapak juga udah ngasih tahu, kok. Nanti tiap pagi aku yang bagian ngasih makan ayam."
"Bagus kalau gitu. Soalnya nanti Bapak kalau pagi juga jualan ke pasar, jadi kamu harus bantu-bantu."
"Siap, kok, Mbak!"
Tak berselang lama Bapak kembali. Beliau datang dengan raut muka yang menyiratkan kebahagiaan. Aku senang melihat Bapak tersenyum, mungkin itu menjadi daya tarik saat mendekati Ibu waktu itu.
"Gimana, Pak?" Jiwa kepoku tidak bisa untuk ditahan.
"Alhamdulillah, Bu Lia pesan lima ekor. Sudah dikasih uang DP setengahnya. Nanti Bapak usahakan cari," terang Bapak.
"Lho, jadinya lima? Tadi minta cuma empat."
"Bagus, dong, Mbak. Semakin banyak pesanan semakin banyak uang juga," sahur Rehan.
"Iya, alhamdulillah."
"Terus Bapak nanti nyari ayamnya gimana?" Masih saja aku penasaran.
"Ada banyak kenalan Bapak. Nanti bisalah cari-cari."
Mungkin Bapak sudah banyak kenalan sehingga masih bisa santai seperti itu. Lumayan juga jika nantinya usaha kecil Bapak ini bisa berkembang. Aku dan Rehan sangat bersemangat untuk membantu.
"Kalau segini emangnya muat, Pak?" tanya Rehan menunjuk kerangka kandang yang berukuran 1×2×1 meter.
"Ini rencananya mau buat anak-anak ayam dulu. Yang besar nanti dipikirkan lagi. Semoga ada rejeki," jawab Bapak.
"Pakai celengan Rehan dulu aja, Pak. Buat tambah modal," saran Rehan. Tidak kusangka dia begitu berinisiatif.
"Nggak usah, Le. Bapak masih ada tabungan hasil ladang. Itu kamu simpan aja, suatu saat pasti kamu perlu."
__ADS_1
"Uangnya buat aku aja, Re," godaku.
"Eh, enak aja!" Aku tertawa, seketika ekspresi Rehan berubah.