Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Pasar Malam


__ADS_3

Aku masih bersiap-siap di depan cermin. Terdengar suara Rehan yang sedang menyanyi tidak jelas dari depan rumah. Dia paling antusias saat ini, selepas salat tadi dia langsung mengambil jaketnya dan duduk di jok motor untuk menungguku dan Bapak.


Sesaat kemudian aku sudah siap dan menyusul Rehan. Tidak lupa kututup pintu kamar, tidak ada benda berharga, hanya takut jika tiba-tiba ada kucing tetangga yang masuk. Kulihat Bapak yang masih di ruang belakang. Mungkin beliau tahu jika aku sudah siap, Bapak kemudian tampak terburu-buru.


"Lama banget, Mbak!" protes Rehan.


"Lama? Kamu yang kecepatan! Bapak, lho, juga masih siap-siap," elakku.


"Aku sudah nggak sabar." Rehan tertawa kecil.


"Palingan nanti begitu sampai di sana rasanya sama aja," celetukku.


"Nggak, Mbak. Di sana pasti seru!"


"Semangat banget kalian," ucap Bapak sembari mengunci pintu.


Bapak kemudian mengeluarkan motor yang tadinya ditaruh di emperan rumah. Rehan pun enggan untuk turun, dia masih duduk di jok depan motor. Dia justru meledekku ketika kuperingati.


"Ayo naik, Nduk!" ucap Bapak menyuruhku ketika motornya dinyalakan.


Perlahan aku naik di bagian jok belakang. Motor Bapak melaju meninggalkan rumah dan membelah kegelapan. Angin yang bertiup cukup membuatu kedinginan meskipun sudah kukenakan jaket tebal. Perjalanan baru setengahnya dan aku mulai ketakutan ketika melintasi jalanan persawahan yang minim penerangan.


"Pak, aku takut!" rengekku.


"Kalau takut baca doa, merem aja!" Aku mengikuti perintah Bapak. Mulutku juga komat-kamit berdoa, berharap tidak terjadi apapun pada aku, Bapak, dan Rehan.


"Kita sudah sampai di jalan raya, Nduk!" Aku membuka mata dengan pelan, lalu lalang kendaraan yang lancar menghilangkan ketakutanku.


Ternyata seperti ini suasana malam di jalanan. Aku yakin Rehan sangat bahagia, dia masih saja bernyanyi dengan lirik dan nada yang tidak jelas. Sementara aku kebalikannya, rasanya ingin di rumah saja dengan tenang.


"Alhamdulillah sudah sampai!" seru Rehan begitu Bapak membelokkan motor pada salah satu tempat parkir.


Aku dan Rehan turun di pintu masuk parkir, sementara Bapak mematikan mesin dan menuntun motor menuju ke dalam rumah yang saat ada pasar malam berubah fungsi menjadi tempat parkir tersebut.


"Langsung beli tas atau gimana?" Bapak menggandeng tanganku dan Rehan.


"Nanti aja, Pak. Sekarang boleh main dulu nggak, Pak?" Kutebak Bapak pasti memperbolehkannya.


"Mau main apa?" tanya Bapak.


"Naik bianglala!"


"Berani?" tanyaku remeh.


"Emangnya Mbak Devi, penakut!" ledek Rehan kepadaku sementara aku yang sebal hanya menirukan gerak-gerik bibirnya saat mengucapkan demikian.


"Ya, udah. Ayo ke sana. Kamu naik sama Mbak Devi aja, ya?"


"Sendiri nggak berani?" tanyaku.


"Jangan sendiri, aku masih butuh pengawasan."


"Bilang aja takut!"

__ADS_1


"Nggak!" Beberapa orang yang kebetulan melintas menjadikanku dan Rehan sebagai pusat perhatian.


"Ayo naik bianglala, Mbak." Rehan memohon kepadaku.


"Iya, nanti, Re. Sabar!"


Aku dan Bapak mengekor Rehan yang sudah berjalan terlebih dahulu. Adikku itu langsung menyasar ke bagian bianglala. Sadar aku dan Bapak masih jauh, Rehan berhenti di dekat loket dan menunggu kami.


"Naik itu, ya, Pak?"


"Naik sendiri tapi," sergahku.


"Sama Mbak Devi!"


"Emang sama Bapak boleh?" tanyaku meledek Rehan.


"Boleh, ayo ke loketnya!" Bapak merangkul Rehan menuju loket, dengan malas kuikuti mereka.


"Devi!" Aku menoleh, tidak jauh dari tempatku kutemukan Alwi bersama kedua orang tuanya.


"Kamu mau naik bianglala?" tanya Alwi yang menghampiriku, aku hanya menggeleng.


"Eh, ada Pak Herman sama Bu Salma," ucap Bapak menyadari keberadaan kedua orang tua Alwi.


"Iya, Pak. Ini tadi lagi pengen beli jajan, sekalian mampir ke sini," jawab Pak Herman.


"Mau naik bianglala?" tanya Bu Salma.


"Mas Alwi kali aja mau ikut," tawar Bu Salma pada Alwi.


"Malu, Ma. Udah SMP masa naik bianglala?" Alwi tertawa.


"Mbak Devi ikutan juga, ya?" Bu Salma memegang lenganku berharap aku mau.


"Ibu langsung bayar di loket aja untuk tiga orang. Tiga anak ini biar naik, kita sama Pak Basir nunggu di warung bakso aja," saran Pak Herman.


"Nah, iya. Ayo kalian ikut Ibu!"


Aku pasrah, tidak enak juga jika menolak ajakan orang. Begitu juga dengan Alwi, sepertinya dia juga begitu terpaksa. Rehan? jangan tanya, dia sangat bahagia. Dia bahkan mengajak Alwi bergurau. Padahal setahuku mereka hanya beberapa kali bertemu.


"Masa Mas Alwi takut?" ledek Rehan.


"Kata siapa?" sergah Alwi.


"Itu tadi nggak mau."


"Malas aja, sih, Re. Kan, udah gede."


"Mbak Devi, tuh, yang takut!" sindir Rehan kepadaku.


"Enak, aja. Aku berani!"


"Kalian kenapa ribut? Ayo siap-siap ke sana. Bentar lagi bianglalanya berhenti."

__ADS_1


Aku, Alwi, dan Rehan mendekat ke tempat untuk menurun dan menaikkan penumpang. Ada sedikit rasa takut, takut jika tiba-tiba tepat di atas kemudian mesinnya rusak. Semoga saja tidak.


"Yey, naik!" seru Rehan begitu pintu bianglala terbuka. Alwi mengikuti Rehan dan duduk di sebelahnya. Aku duduk di kursi yang berada di hadapan mereka.


"Mas, duduk di dekat Mbak Devi, ya? Aku mau duduk sendiri," lirih Rehan mengusir Alwi.


"Eh, nggak boleh! Alwi biar sama kamu!" protesku.


"Please, Mbak. Aku mau bebas."


Alwi mengalah, dia pindah duduk di sampingku. Dasar Rehan! bikin malu saja.


Perlahan bianglala bergerak bagai jarum jam. Aku berpegangan kuat pada pagar besi yang berada di dekatku. Dulu aku sangat menyukai permainan ini, tapi entah mengapa sekarang sedikit takut ketinggian.


Tepat di puncak ketinggian, tiba-tiba bianglala berhenti. Refleks aku menutup mata dan kupegang tangan Alwi, dia pun langsung sigap mendekap tanganku.


"Kamu takut, Dev?" tanya Alwi.


"Sedikit."


"Gitu aja takut, Mbak. Padahal di atas sini pemandangannya kelihatan bagus banget," celetuk Rehan.


"Beneran, lho. Coba buka mata, Dev."


Aku membuka mata pelan. Dari atas sini lampu-lampu yang menghiasi tampak begitu indah.


"Eh, maaf!" ternyata belum juga kujauhkan tanganku dari dekapan Alwi, dia tersenyum.


"Santai aja!"


"Cie," goda Rehan.


"Eh, anak kecil gak boleh gitu!" larangku.


"Nanti aku kasih tahu Bapak, ah!" Wah, si kecil mulai berani mengancam.


"Ya Allah, Re, aku juga gak sengaja lho tadi."


"Mas Alwi sama Mbak Devi katanya tadi malas naik, eh tahunya sampai di sini malah bermesraan."


"Rehan, jangan gitu! Nanti bapakmu marah, lho kalau salah paham. Toh, aku sama Devi ini gak ada apa-apa, kita sahabat!" Alwi malah merengkuh bahuku.


"Nah, itu pelukan lagi," seloroh Rehan.


"Astaghfirullah, maaf ini tadi gak sengaja." Alwi terkekeh.


"Beneran aku kasih tahu ke Bapak, ya, Mbak?"


"Terserah kamu, Re!"


"Ya udah, beliin es habis ini."


"Cerdas juga kamu!" Alwi tersenyum. Ah, Rehan bikin kesal saja.

__ADS_1


__ADS_2