Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Mas Ovi


__ADS_3

Aku meluruskan kaki ketika pekerjaan membuat kotak wadah snack sudah terselesaikan. Sempat kulirik arah luar yang tampak dari tralis jendela, tampak mendung pekat di atas sana. Kurasa tidak ada lagi pekerjaan di sini, aku ingin pulang daripada nantinya kehujanan. Akan tetapi, aku merasa bingung, pada siapa aku harus berpamitan sementara Bu Ina masih tampak asyik berbicara dengan ibu-ibu di sampingnya.


"Mbak Devi mau pulang dulu? Nggak papa, itu mau hujan, lho." Mungkin Bu Ina mendeteksi kegelisahan yang kurasakan karena sedari tadi terus menatap ke arah mendung yang berarak.


"Kalau pulang memangnya nggak papa, Bu?" tanyaku sedikit berbisik.


"Nggak papa. Ini juga udah nggak ada kerjaan."


Akhirnya aku berpamitan dengan Bu Ina dan beberapa teman mengobrolnya. Selanjutnya harus berjalan ke arah dapur karena tadi kutanggalkan sandal di sana. Dapur yang tidak terlalu luas membuat keadaan di dalamnya begitu panas. Terdengar beberapa suara keluhan karena gerah. Aku lewat dengan sedikit membungkuk seraya berkata permisi.


Aku tertegun ketika tiba di halaman yang sudah beratap tenda pernikahan. Beberapa pemuda dan bapak-bapak tampak sedang mengobrol, mungkin selesai melakukan pekerjaan usung-usung yaitu meminjam kursi, meja, dan perabotan dapur yang berada di rumah pak RT. Meskipun aku yakin tidak akan menjadi pusat perhatian, tetapi aku tetap malu jika harus melintas di samping mereka.


"Mau ke mana, Dev?" Kuperhatikan orang yang menyapaku tersebut. Dia yang sedang berada di tempat perkumpulan tadi membuat beberapa orang di sampingnya turut menatapku. Aku berpikir sejenak, tampak sedikit asing dengan wajahnya.


"Eh, ditanya malah diam!" ucapnya lagi.


"Kamu lupa sama aku?" tanyanya namun tidak kujawab.


"Dev, sini bentar!" Aku menggeleng menolak perintahnya.


"Kamu mau ke mana?" Akhirnya lelaki tadi menghampiriku.


"Astaghfirullah, ini ternyata Mas Ovi?" ucapku begitu menyadari jika yang sedari tadi mengajakku bicara adalah lelaki yang sering kukunjungi karena selalu jajan di warungnya.


"Bisa lupa, ya? Pangling?" Aku hanya meringis.


"Bisa-bisa lupa sama cowok ganteng kayak aku." Mas Ovi membetulkan kerah kemeja yang sebenarnya tidak berantakan. Dari dulu dia memang suka berpakaian rapi.


"Namanya juga lama nggak ketemu," sahutku dengan tertawa.


"Oh, kangen? Sama kalau gitu," celetuknya.


"Eh, siapa yang bilang."


Mas Ovi kemudian tampak menatap tajam teman-teman yang sedang meledeknya. Mengetahui itu, aku hanya menunduk dan ingin buru-buru pergi dari sini. Malu sekali rasanya.


"Devi mau pulang?"


"Iya, mendung soalnya. Takut nanti hujan deras nggak bisa pulang."


"Mau barengan?" tawar Mas Ovi kepadaku.


"Nggak usah. Jalan kaki aja juga sampai."


"Sekalian aja, Dev. Aku mau beli ayam di rumahmu juga. Katanya Pak Basir jualan ayam."

__ADS_1


"Oh, ya udah kalau gitu."


Aku mengamati Mas Ovi yang sedang berpamitan dengan teman-temannya. Tidak tahu apa yang sedang mereka bahas, tetapi sepertinya masih ada kaitannya denganku karena beberapa kali melirik ke arahku. Belum lagi teman-temannya seperti menggoda Mas Ovi, apa maksudnya?


"Ayo, Dev. Motorku ada di luar." Aku hanya mengikuti langkah Mas Ovi ketika dia mengajakku.


Sebenarnya hanya menempuh jarak 100 meter untuk tiba di rumahku. Rasanya tanggung sekali kalau harus naik sepeda motor. Kalau saja bukan karena Mas Ovi ingin mencari Bapak, tentu aku lebih memilih untuk berjalan kaki. Sepanjang perjalanan aku hanya diam, canggung.


"Sekarang kelas berapa, Dev?"


"Sembilan."


"Sebentar lagi SMA, dong. Makin cantik kamu."


Aduh, aduh, baru kali ini ada lelaki yang memujiku. Panas dingin aku gara-gara mendengarkannya. Akan tetapi, kenapa harus Mas Ovi yang usianya terpaut cukup jauh denganku. Seingatku waktu aku masih kelas tiga SD Mas Ovi sudah lulus SMA.


"Eh, kenapa diam?"


"Em, nggak papa."


"Ada tamu di rumahmu, Dev?"


Begitu tiba di depan rumah, kuperhatikan motor yang terparkir di sana. Oh, ternyata motor Alwi. Ada keperluan apa dia datang di sore hari? Bisa jadi Pak Herman yang sedang ada keperluan dengan Bapak.


"Kamu sama siapa ke sini?" tanyaku.


"Sama Papa, dong. Cowokmu, Dev?" tanya Alwi menatap Mas Ovi, Mas Ovi malah mengulurkan tangannya kepada Alwi mengajak berkenalan.


"Ovi," ucap Mas Ovi.


"Alwi, Mas. Teman sekelasnya Devi."


"Oh, kalian teman sekelas? Bukan pacarnya Devi?" Spontan kutatap tajam Mas Ovi. Bisa-bisanya mengira kalau Alwi pacarku. Dilihat dari mana coba?


"Bukan. Aku udah ada cewek, Mas. Aku, Devi, sama cewekku emang sahabatan," ungkap Alwi.


"Eh, bisa gitu? Sekolah yang rajin, jangan pacaran terus. Kamu juga, Dev. Pacarannya kalau udah nikah aja," ucap Mas Ovi menasihatiku.


"Eh, aku nggak pacaran, lho," elakku karena merasa seolah disudutkan oleh Mas Ovi. Dia pikir aku punya pacar, apa?


"Devi nggak pernah pacaran, Mas. Cuma ada tuh adek kelas yang ngejar-ngejar dia." Alwi tertawa.


"Eh, enak aja. Nggak, itu becanda."


"Siapa?" Aduh, kenapa harus terus dibahas.

__ADS_1


"Mas Ovi kenal Syiham? Soalnya dia adek kelas Devi waktu SD juga."


"Oh, kenal aku. Anaknya Pak Rudi itu, kan?" Rupanya Mas Ovi masih ingat juga.


"Ya, aku nggak kenal nama bapaknya, Mas." Alwi terkekeh.


"Iya, Syiham anaknya Pak Rudi. Tapi aku nggak suka sama dia. Kayaknya dia cuma buat mainan aja dekatin aku."


"Oh, gitu. Pokoknya harus sekolah yang rajin dulu, Dev. Kamu harus bisa mengangkat derajat orang tua. Semangat!" Mas Ovi mencubit pipiku. Sepertinya enak juga kalau punya kakak laki-laki, sayangnya aku anak perempuan pertama.


"Siap, Mas!"


"Ini ada apa? Kok, nggak masuk aja?" Bapak turut keluar rumah menghampiri kami.


"Lho, ada Mas Ovi. Kapan pulangnya?" Mas Ovi menghampiri dan mencium punggung tangan Bapak.


"Lho, Pak Basir nggak tahu kalau saya di rumah terus? Sudah dua bulan saya di rumah."


"Kapan berangkat lagi?"


Setahuku memang Mas Ovi bekerja di luar negeri. Kata orang-orang bekerja di pelayaran. Entah, aku hanya pernah mendengar tapi tidak tahu lebih spesifiknya.


"Udah nggak berangkat lagi, Pak."


"Lha, kenapa?"


"Di rumah aja, temenin Ibu sambil buka usaha." Mas Ovi tampak malu-malu menjelaskannya.


"Usaha apa, Mas?" tanyaku.


"Toko pakan ternak kecil-kecilan. Barangkali Pak Basir kalau mau beli makanan ayam bisa mampir ke warung Ovi."


"Iya, Mas. Kapan-kapan. Ayo masuk dulu. Mau nyari siapa, tho?" tanya Bapak pada Mas Ovi.


"Nggak tau, tuh. Tadi katanya mau ketemu Bapak, lihat ayam," ucapku.


"Oh, begitu? Ya, nanti sekalian lihat ayamnya bareng Pak Herman. Dia mau nyari ayam juga."


"Iya, Pak. Tapi nanti saja. Saya nggak buru-buru pulang, kok."


"Udah mau hujan, lho, Mas," ucapku.


"Nggak papa. Kamu ngusir aku?"


"Eh, nggak gitu."

__ADS_1


__ADS_2