
"Dev, pulang bareng lagi, kan?"
Aku yang semula sibuk bergurau dengan Nindi dikagetkan oleh kedatangan Alwi. Seketika ekspresi wajahku berubah. Mengingat dirinya yang salah menaruh cokelat, hasrat ingin menjitak kepalanya begitu tinggi. Aku tahu, dia sebenarnya tidak berniat untuk pulang bersamaku. Mungkin itu alasannya agar bisa menghampiriku dan Nindi yang sedang berada di taman sekolah.
"Kenapa?" tanyaku memperjelas.
"Bareng kamu lagi, ya," lirih Alwi.
"Aku belum mau pulang. Duluan aja," ucapku.
"Nggak papa, kita nanti pulang bareng. Aku udah janji mau bantuin ngeluarin sepedamu. Aku tunggu di kelas."
Tanpa menunggu persetujuan dariku, Alwi berlalu saja menuju kelas. Aku sempat melihat Alwi yang melirik Nindi. Ah, dasar modus!
"Ehem ...." Aku berdeham. Nindi terkejut, ketahuan diam-diam memerhatikan Alwi.
"Jadi gimana?" godaku.
"Gimana apanya?"
"Mau jadi pacarnya Alwi nggak?" Bahuku sengaja kugunakan untuk menghempas badannya.
"Jangan gitu, dong. Aku malu," ucap Nindi, wajahnya memerah.
"Cie Nindi ...."
***
"Pulang duluan, ya, Nin!"
Tas ranselku sudah berada di punggu, aku melirik Alwi yang masih sibuk di bangkunya. Padahal sengaja tadi kukeraskan suaraku agar Alwi tahu jika aku sudah siap. Nyatanya, dia masih tampak sibuk sendiri.
"Alwi, aku duluan, ya," ucapku.
"Eh, tunggu. Udah ditungguin malah mau ditinggal," protesnya.
Nindi menundukkan kepalanya, aku tahu dia menahan tawa.
"Eh, kenapa ketawa, Nin?" tanyaku.
"Nggak ada, kok," sanggahnya.
"Alwi, tuh, si Nindi ngetawain kamu. Marah, dong!"
"Apaan, sih, Dev."
"Oh, iya, nggak mungkinlah seorang Alwi marah-marah ke Nindi."
"Ah, udah. Ayo pulang, Dev."
Alwi melewatiku begitu saja. Tiba di depan pintu sejenak ia berhenti.
"Duluan, Nin," ucap Alwi.
"Cie ... cie ...."
Alwi berjalan di depanku. Aku masih membuntutinya hingga di tempat parkir. Sesuai janjinya tadi pagi, sesampainya di tempat itu ia langsung mengambilkan sepedaku, baik sekali!
__ADS_1
"Makasih, Al," ucapku.
"Iya."
"Kalau sama aku cuek banget," omelku.
"Ayo pulang!"
Astaga, ucapanku sama sekali tidak digubris. Baiklah, pertanyaannya, memang aku siapa?
Aku menatap bentangan tanaman padi yang mulai merunduk dan warnanya sedikit menguning. Pada bagian depannya, terdapat aliran sungai kecil yang berasal dari gunung. Saat ini sedang musim kemarau, volume air yang ada di sungai pun tampak hanya berupa genangan.
Kondisi jalan yang sudah hancur membuatku harus bisa memilih dengan hati-hati. Beberapa batu dan pasir bisa saja mengganggu perjalanan. Jalanan yang kanan kirinya berupa lahan persawahan ini sebenarnya bukan satu-satunya akses untuk menuju sekolah. Ada tiga pilihan rute untuk sampai ke sekolah dari rumah. Namun, jaraknya lebih jauh dibandingkan rute yang kupilih saat ini.
"Kamu marah sama aku, Dev?"
Alwi yang berada di depanku akhirnya membuka suara. Nah, kalau begini aku suka. Kenapa tidak sedari tadi sana, sih? Aku bosan jika sama-sama diam seperti tadi.
"Marah kenapa?" tanyaku pura-pura tidak tahu, sepertinya ia akan membahas kejadian yang berkaitan dengan cokelat.
"Marah karena aku udah bikin kamu berharap."
"Berharap apa?" Sengaja aku memancing.
"Ya, aku kan salah alamat. Takutnya kamu ngira kalau aku ada rasa ke kamu terus kamu suka aku," jelas Alwi. Ah, basi!
"Santai aja kali, Al. Sebenarnya dari awal aku udah tahu kalau salah alamat. Ya, logikanya mana ada cowok yang suka sama cewek kayak aku. Cewek yang cantik di luar sana banyak," ucapku berbohong.
"Jangan gitu, dong, Dev. Semua perempuan cantik, kok."
"Tapi emang kenyataannya begitu, kan? Santai aja, sih, Al. Aku biasa aja waktu baca surat dari kamu kemarin," ucapku bingung mencari alasan.
"Nggak papa, sih. Kamu makan aja, nggak usah diganti."
"Nggak, Al. Aku ganti besok, deh," janjiku.
"Nggak usah, Dev."
"Iya, iya."
"Eh, tapi kamu belum cerita ke siapa-siapa, kan kalau kamu salah sasaran?" Alwi tersenyum, aku curiga, jangan-jangan dia sudah bercerita, barang kepada Firman teman sebangkunya.
"Santai aja, aman, kok."
"Beneran nggak cerita ke siapa-siapa?"
"Beneran!"
Aku dan Alwi kembali ke mode sunyi lagi. Sebenarnya aku tidak suka dengan kondisi seperti ini. Akan tetapi, mau bagaimana lagi, tidak ada topik untuk dibahas. Lagipula Alwi juga sepertinya tidak mempedulikanku, dia berada satu meter di depanku.
Aneh, semudah itu aku suka pada Alwi dan semudah itu pulalah aku seolah mati rasa kepadanya. Aku berharap Alwi merahasiakan kebodohan terbesarku tersebut. Atau, jangan-jangan dia sudah bercerita kepada seseorang perihal cokelat itu.
"Dev, nggak nyangka semudah ini kita akrab," ujar Alwi. Dia memelankan laju sepedanya hingga sejajar denganku.
"Terus?"
"Ya, aku bakalan minta tolong ke kamu terus. Minta tolong biar aku sama Nindi bisa semakin dekat, lebih-lebih kalau sampai jadian." Tawa licik Alwi keluar, jadi ini alasannya ingin berteman denganku. Sadarkan aku, ini bukan Alwi yang biasanya kukagumi.
__ADS_1
"Aku bisa bantuin apa emangnya?" tanyaku lagi.
"Bantu si Nindi biar yakin kalau aku ini layak jadi pacarnya," ucap Alwi begitu percaya diri.
"Ha? PD banget, aku aja nggak yakin," selorohku membuat Alwi melotot.
"Ya, ya emang nggak meyakinkan. Aku aja nggak yakin, ragu," ucapku jujur.
"Terus harus gimana biar meyakinkan?"
"Ya seenggaknya berjuang apa gitu, kek."
"Ya ampun, Devi. Ini kan juga bentuk perjuanganku biar dapatin si Nindi, tapi lewat perantara kamu," jelas Alwi tampak geram.
"Kenapa harus Nindi, sih?" tanyaku penasaran.
"Apanya?"
"Cewek yang kamu suka."
"Nggak boleh?"
"Boleh, sih. Ah, kenapa, ya, aku tanya gitu?" Aku tambah semakin pusing.
"Eh, jahil banget, sih!" Alwi menarik bagian belakang rambutku.
Alwi semakin geregetan, dia kemudian mengacak-acak rambutku. Aku hampir kehilangan keseimbangan, untungnya masih bisa kukendalikan diri. Alwi tertawa, sepertinya puas sekali.
"Pokoknya kamu harus bantu aku."
Aku heran dengan sikap Alwi yang begitu menggebu-gebu menginginkan Nindi. Justru dia terlihat aneh, lebih nyaman dipandang ketika dia tidak bertingkah di kelas. Atau mungkin memang selama ini aku yang salah menilai hingga mengira ia lelaki paling 'mendingan' di kelas.
"Bantu, ya, Dev, please!"
"Bantu apa?"
"Beberapa hari ini aku mau ngasih sesuatu ke Nindi. Dia pasti malu kalau aku yang ngasih langsung. Aku titip ke kamu, ya?"
"Titip?" Alwi mengangguk.
"Ada pajaknya." Iseng aku bercanda kepada Alwi.
"Iya, gampang! Kamu mau apa?"
"Mau ibuku kembali," lirihku kemudian terasa sunyi untuk beberapa saat.
"Dev, sabar, ya," ucap Alwi.
"Eh, nggak, kok, Al. Aku cuma bercanda. Pasti aku bantu," ujarku berusaha agar kembali ada perbincangan.
"Beneran? Makasih, Devi."
"Kita kayak udah sahabatan lama banget nggak, sih, rasanya?"
"Iya, nih. Dan ini semua gara-gara Nindi."
Aku membuang napas berat. Akan tetapi, memang kenyataannya aku bisa dekat dengan Alwi juga disebabkan oleh Nindi. Ya, mungkin begitulah kira-kira rasanya orang yang sedang jatuh cinta.
__ADS_1
"Lusa Nindi ulang tahun, aku mau nembak dia!"
Seketika kuhentikan sepedaku, menatap Alwi yang masih tampak santai di depanku. Keren, dia bahkan tahu tanggal ulang tahun Nindi, aku yang sahabatnya saja sudah lupa.