Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Dijenguk


__ADS_3

"Nduk, ini ada jambu biji dari Bu Salma."


Aku melirik Bapak yang meletakkan sekantong jambu biji dari ambang pintu. Setelah itu Bapak tampak menghilang. Aku yang biasanya selalu ingin tahu kali ini memilih diam. Jangankan untuk berbicara, tidur berbaring saja sudah terasa sakit sekujur tubuhku.


Aku masih bisa mencium aroma buah jambu biji yang sudah matang itu. Sepertinya sangat lezat. Akan tetapi, mulutku terasa pahit rasanya tidak lagi tertarik untuk mencicipinya.


Rehan kemudian terdengar menyapaku. Kulihat dia yang sudah rapi dengan seragam merah putihnya. Dia sempat juga menanyakan jambu yang dibawa Bapak. Maaf, untuk saat ini aku benar-benar tidak peduli.


"Mbak, jangan sakit, dong. Aku bingung kalau Mbak Devi sakit." Rehan menggerakkan tubuhku pelan. Dalam hati ingin aku tertawa, ternyata dia bisa galau juga.


"Mbak cepat sembuh, ya. Aku pulang sekolah nanti wajib sudah sembuh. Aku tadi bikin bubur dari nasi buat Mbak Devi, persis seperti yang Mbak Devi buat untuk Ibu. Aku masih ingat cara membuatnya, rasanya juga lumayan enak. Dimakan, ya." Aku terharu mendengarnya.


"Mana buburnya, Re?" Sebenarnya sama sekali tidak berselera, hanya saja aku ingin menghargainya.


"Oh, Mbak Devi mau? Sebentar." Rehan berlalu dan hilang di balik pintu.


Sesaat kemudian Rehan membawa sebuah mangkuk dan gelas. Dia menghidangkan bubur yang ia buat di sampingku. Gila, dia pikir aku monster, apa? Bubur yang ia beri termasuk porsi besar bagi orang yang sakit.


"Nggak habis nanti, Re," lirihku.


"Bentar!" Rehan keluar kamar lagi, kemudian dia kembali dengan piring kosong.


"Taruh di sini, nanti bisa dimakan waktu siang," titahnya.


"Kamu nggak kasih racun di dalamnya, kan?" tuduhku membuat Rehan melotot.


"Ya, kali aja ada niat jahat dari kamu, Re."


"Ya nggak ada, dong, Mbak. Justru di dalam bubur ini mengandung obat yang akan menyembuhkan sakit Mbak Devi." Rehan mengangkat ibu jarinya.


"Masa? Kamu coba dulu, biar aku yakin."


Rehan melahap dua sendok bubur dan cepat-cepat mengunyahnya. Jahil sekali aku ini, sudah sakit masih sempat-sempatnya mengerjai Rehan. Aku berusaha bangkit dan mengubah posisi menjadi duduk.


"Nih, sekarang waktunya Mbak Devi!" Rehan menyodorkan mangkuknya tadi kepadaku.


"Belum minat, Re."


"Ayo, Mbak!"


"Mau disuapin." Aku merengek, jujur aku sendiri sebenarnya jijik jika membayangkan ekspresi manjaku ini.


"Buka mulut!"

__ADS_1


Satu suapan masuk ke mulutku. Aku yakin sebenarnya bubur buatan Rehan tersebut terasa enak dan gurih. Akan tetapi, makanan seenak apapun akan menjadi hambar jika dimakan dalam keadaan sakit.


"Nggak enak, Mbak?"


"Enak, kok. Kamu siap-siap ke sekolah aja." Kurampas mangkuk di tangannya. Sekarang sudah jam setengah tujuh, Rehan bisa telat jika terus menemaniku.


Tak berselang lama terdengar suara Bapak yang memanggil Rehan. Rehan bergegas, pagi ini Bapak akan mengantarkannya ke sekolah.


"Bapak tinggal sebentar, nanti sekalian Bapak panggil tukang pijatnya, ya?"


"Iya, Pak."


***


Bapak tidak bekerja hari ini karena menungguku. Aku merasa sangat bersalah. Sebenarnya sudah kusuruh Bapak untuk meninggalkanku, mungkin Bapak yang tidak tega.


Aku masih meringkuk di kamar, sementara Bapak tampak sibuk membereskan rumah. Iya, kudengar suara sapu yang beradu dengan lantai plesteran. Maaf, Pak, selama sekolah aku menyapu jika sempat saja.


Selepas Zuhur aku kembali merasa kedinginan. Selimut tebal sudah membungkus tubuhku, tapi rasanya percuma. Bapak yang menanyakan keadaanku tampak khawatir, Mbah Rum belum juga datang. Kata Bapak, tadi memang pasien Mbah Rum ramai hari ini.


"Tunggu, ya, Nduk. Mungkin sebentar lagi Mbah Rum datang," ucap Bapak.


Aku kembali memejamkan mata. Selain dingin, pusing juga kembali melanda. Bapak kemudian berada di sampingku, berbisik jika Mbah Rum baru saja datang.


"Pijatnya di mana, Nduk?" tanya Bapak.


"Mau, sebentar, ya. Dia masih menghabiskan rokoknya."


Mbah Rum memang seperti itu. Tukang pijat yang termasyhur di kampungku tersebut memang memiliki kebiasaan merokok. Dia selalu meminta waktu untuk menghisap rokok beberapa saat sebelum kegiatan pemijatan dimulai.


"Tunggu dulu, ya!" Aku hanya mengangguk.


"Nduk, dipijat dulu, ya?"


Ternyata Mbah Rum sudah berada di kamarku. Kakiku tiba-tiba dipijatnya, rasanya geli. Sempat beberapa kali Mbah Rum menyuruhku diam. Akan tetapi tubuhku begitu sensitif dan mudah geli, aku tidak bisa diam kalau begini.


"Jangan banyak gerak, Nduk! Kamu masuk angin, nih!"


"Tadi malam emang udah malam banget baru pulang, Mbah."


"Dari mana?"


"Dari rumah Budhe Dewi."

__ADS_1


"Oh, dikerokin, ya?"


"Nggak, nggak! Udah cukup dipijat aja." Tolakku.


"Biar cepat sembuh! Mau, ya?"


Kali ini saja aku kerokan, selanjutnya jangan lagi. Sakit memang tidak enak di badan. Mbah Rum dengan perlahan mulai mengerok bagian punggungku, ini tidak terlalu buruk.


Ada tamu yang datang, Bapak menjawab salam dari tamu tersebut. Akan tetapi, aku tidak asing dengan suara itu.


"Dev, ada temanmu yang ke sini!" seru Bapak.


"Aku, Dev. Kamu ingat suaraku?"


Itu suara Alwi! Dan, mungkin ia bersama Nindi siang ini. Bapak tampak menjelaskan jika aku sedang dipijat. Nindi pun tidak berani menemaniku, dia menunggu di luar.


Begitu selesai, Mbah Rum berpamitan. Alwi dan Nindi diarahkan Bapak untuk menuju kamar berantakan milikku. Mereka kemudian duduk di dekatku.


"Nggak usah duduk, Dev. Sambil tiduran aja nggak papa," ucap Nindi mencegahku yang berusaha untuk duduk.


"Nggak papa, kok. Kalau tidur terus malah bikin pusing." Aku berusaha duduk dengan bertumpu bantal dan menyandar dinding. Nindi membantuku untuk duduk.


"Jarang banget kamu nggak masuk sekolah. Tadinya aku juga kaget, kata papa ada yang mau nitip surat ke aku," jelas Alwi.


"Iya, untungnya ada kamu, Al. Coba kalau kita nggak sekelas dan aku nggak tahu kalau kamu juga satu sekolah, bakalan bingung nitip ke siapa."


"Sakit apa, sih, Dev?" tanya Alwi.


"Masuk angin, Al. Kemarin habis ada acara, pulang udah larut malam. Mungkin efek kelamaan nggak makan, jadinya masuk angin."


"Kenapa bisa nggak makan?" Alwi sepertinya benar-benar kepo kepadaku.


"Karena belum masak nasi, hehehe."


"Jangan sakit, dong, Dev. Kita kesepian nggak ada kamu," ucap Alwi.


"Kalian suka bohong, sih! Aku jadi nggak percaya."


"Kali ini Alwi nggak bohong, beneran kesepian. Eh, aku bawa bakso buat kamu. Segera dimakan!"


Nindi, bakso yang kamu tawarkan memang lezat. Akan tetapi, waktunya tidak tepat. Kenapa harus repot-repot saat datang ke mari?


Kuperhatikan Alwi yang tampak celingukan melihat kondisi rumahku. Mungkin sangat jauh berbeda dengan kondisi rumahnya.

__ADS_1


"Ada apa, sih, Al? Kok, kamu sibuk sendiri. Kamu fokus lihat apa?"


"Eh, nggak, kok!"


__ADS_2