Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Arisan


__ADS_3

Siang itu aku pulang dari sekolah dan tiba di rumah pada pukul satu. Segera kumasukkan motor ke bagian samping rumah yang mana masih satu petak dengan dapur. Salam kuucapkan, ada Bapak dan Rehan yang menjawabnya.


"Langsung ganti baju terus makan, Nduk!" perintah Bapak kepadaku.


Aku hanya mengangguk, setelah itu aku menuju kamar untuk menaruh tas dan mengganti baju.


Begitu sampai di kamar, aku malah merebahkan badan di atas kasur. Tidak biasanya aku selemas ini. Sejak jam pelajaran kedua tadi aku merasakan tubuhku kurang sehat. Masa iya masuk angin gara-gara berangkat terlalu pagi?


"Mbak ... tidur?" Rehan mengetuk pintu kamarku pelan. Dia hanya hanya di ambang pintu tanpa menghampiriku.


"Eh, aku ketiduran, ya?" Seketika aku merubah posisi menjadi duduk. Aku memang suka linglung ketika sakit.


"Pak, Mbak Devi kayaknya sakit." Rehan setengah berteriak memberitahu Bapak.


"Aku nggak sakit, Re. Beneran! Aku cuma ngantuk aja," ucapku berbohong agar Bapak dan Rehan tidak panik.


"Sakit, Nduk?" Bapak tampak bergabung di belakang Rehan. Semenjak aku beranjak remaja, Bapak menghargai privasiku. Beliau tidak pernah lagi masuk kamarku, kalaupun ada keperluan beliau selalu meminta izin dulu.


"Aduh, Rehan, kenapa bikin Bapak panik. Aku, lho, sehat-sehat aja!"


Untung saja badanku bisa diajak berkompromi. Sebenarnya masih terasa sedikit sakit. Akan tetapi, menurutku nantinya aku akan kembali sehat jika banyak melakukan pergerakan.


Rehan dan Bapak meninggalkanku setelah aku berusaha meyakinkan mereka. Segera kuganti seragam sekolah dengan pakaian sehari-hari berupa kaos. Kuhela napas panjang sebelum beranjak dari kamar. Aku harus kuat!


Rupanya Bapak masih menunjukkan tanda kekhawatirannya padaku. Kata Rehan, nasi yang sudah berada di meja disiapkan Bapak khusus untukku. Lauknya pun juga tersedia di wadah yang berbeda, ada sayur bening, sambal bawang, serta tempe goreng. Belum kuketahui keberadaan Bapak. Kata Rehan, Bapak sedang pergi ke warung.


"Kamu mau bikin apa, Re?" tanyaku pada Rehan yang dari tadi sibuk sendiri.


"Bikin ketapel, mau berburu burung."


"Emang kamu bisa bikin ketapelnya?" tanyaku sedikit meledek.


"Jangan menghina, Mbak. Ketapel buatanku ini kualitas paling baik. Beberapa temanku juga minta dibuatkan malah," jawab Rehan disertai sikap sombongnya.


"Lho, nggak kamu kasih tarif? Lumayan lho itu."


"Itu pasti, Mbak. Nanti aku bakal minta upah kalau udah jadi."


"Nah, gitu, dong! Baru keren."

__ADS_1


Aku mulai melanjutkan makanku yang sempat tertunda gara-gara harus mengobrol bersama Rehan. Sesaat kemudian Bapak datang dengan barang belanjaan di kantong plastik bening yang berukuran besar.


"Dari mana, Pak?" tanyaku.


"Habis beli teh sama gula. Kamu mau susu? Bapak tadi beli dua sachet kental manis." Bapak mengeluarkan barang-barang yang sudah dibelinya.


"Aku mau, Pak. Aku buat sendiri aja, Bapak istirahat dulu," pintaku pada Bapak, namun sepertinya beliau tidak mengindahkan ucapanku.


Sebelum didahului Bapak, segera aku bergegas untuk mengambil gelas dan sendok. Air yang berada di dalam termos kurasa masih hangat, itu cukup untuk membuat susu.


Handphone yang berada di saku baju Bapak tiba-tiba berdering. Bapak segera mengambil benda kotak itu. Panggilan tersebut berhasil ia angkat. Aku menyimak Bapak yang tengah bercakap-cakap dengan seseorang di seberang sana.


"Oh, iya, iya, habis Asar nanti pasti ke sana." Bapak mengangguk-angguk.


"...."


"Lho, harus sekarang? Devi baru pulang, biar dia istirahat dulu."


Oh, aku tahu, itu pasti telepon dari Budhe Dewi, kakak dari Ibu. Setiap akhir bulan memang selalu ada agenda arisan dari keluarga Ibu dan nanti malam merupakan waktunya. Untuk tempatnya selalu di tempat Budhe Dewi karena memang itu dirasa adil, tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh bagi sanak saudara yang lain.


Setelah sambungan telepon terputus, Bapak tampak melirik ke arahku dan Rehan. Aku tahu, hatinya pasti kecewa setiap waktu arisan keluarga tiba. Saudara-saudara Ibu sebagai besar adalah orang yang berada. Sering kali arisan menjadi ajang memamerkan harta.


"Ya, Le. Kenapa?" Bapak mengelus kepala Rehan.


"Malas, Pak. Kenapa harus ikut, toh, kita selalu dikucilkan." Aku tersenyum mendengar curahan hati Rehan. Perasaanku sudah diwakilinya.


"Kita harus bantu-bantu mereka, Le."


"Bukan bantu-bantu, Pak. Di sana kita jadi babu gratisan. Bapak tidak pernah sadar?"


"Nggak boleh bilang gitu, Re. Kita niatkan silaturahmi saja," ceramahku pada Rehan.


"Halah, Mbak Devi sok-sokan bilang gitu. Padahal aslinya di dalam hati ngedumel juga, kan?" tuduh Rehan kepadaku.


"Sok tahu!"


"Udah, jangan ribut terus. Segera siap-siap!" Lerai Bapak mencegah kami berdebat.


"Kita cari alasan biar nggak berangkat, yuk, Pak!" Rehan masih berusaha membujuk Bapak. Bapak tidak menggubrisnya, beliau langsung ke kamar mandi.

__ADS_1


Selesai makan, piring kotorku kutaruh bersama wadah kotor lainnya. Mungkin nanti malam atau besok pagi baru kucuci. Sekarang waktunya untuk bersiap ke rumah Budhe Dewi. Aku tahu Bapak pasti sedang tidak tenang, biasannya Budhe Dewi selalu marah-marah jika Bapak datang sedikit terlambat dari waktu yang ia minta.


"Rehan mana, Nduk?" tanya Bapak yang masih membersihkan kakinya.


"Masih di sana, Pak. Dia belum beranjak."


"Rehan!" teriak Bapak sedikit keras.


"Iya, iya, Pak. Habis ini!"


Aku kembali dari kamar mandi dan masih melihat Rehan yang tampak bermalas-malasan. Matanya tampak mengekor pergerakanku. Kenapa pula anak laki-laki itu?


"Kenapa bengong? Ayo siap-siap?" tanyaku mematahkan lamunannya.


"Aku mau di rumah aja, Mbak."


"Re, jangan gitu. Nanti teman Mbak siapa?"


"Bukan urusan aku, sih."


Rehan kemudian bangkit dari duduknya dan kemudian menuju kamar mandi. Syukurlah, hatinya sudah sedikit tergerak. Kalau saja bisa memilih, tentu aku memilih untuk di rumah saja daripada harus datang di rumah mewah itu.


Jaket yang berada di gantungan kuambil untuk kukenakan. Segera kusisir rambutku yang mulai tampak kusut. Jangan sampai mereka menganggapku sebagai gembel yang hanya menumpang makan.


Aku sudah siap. Sekarang tinggal menunggu Bapak dan Rehan. Aku memilih untuk menunggu di teras rumah. Sebenarnya tubuhku terasa lemas sekali, tapi aku harus tetap datang agar beban yang diberikan kepada Bapak sedikit berkurang.


"Sudah siap, Pak?" tanyaku pada Bapak yang baru saja muncul dengan membawa kunci.


"Tinggal nunggu Rehan. Dia lama sekali!"


"Dia sakit, Pak?"


"Nggak tahu, coba kamu cek!"


Aku langsung menuju kamar mandi. Beberapa kali suara guyuran air dapat kudengar. Rehan sepertinya sakit perut, dia hampir 15 di tempat itu.


"Kamu sakit, Re?" tanyaku.


"Iya, perutku sakit, Mbak. Mbak kalau berangkat sama Bapak nggak papa, aku nanti di rumah aja.

__ADS_1


Hmm, kurasa itu hanya alasan Rehan untuk memperlambat keberangkatan. Ada-ada saja ulahnya.


__ADS_2