
Tidak terasa matahari semakin meninggi. Beberapa kali aku mengusap keringat yang berkeliaran di pelipis dan dagu menggunakan siku tangan. Zaki dan temannya juga tampak sudah kelelahan. Mereka yang bertugas mencangkul tampak sebentar-sebentar berhenti seraya mengusap pinggang, kasihan sekali.
"Kalian dari kapan?" tanyaku mencoba memulai pembicaraan agar tidak terlalu sepi.
"Hampir bareng sama kamu, kok. Mungkin sekitar sepuluh menit lebih awal dari kamu," jelas Zaki.
"Kalian dihukum gara-gara apa sebenarnya?"
"Berangkat telat, nggak ngerjain PR," celetuk teman Zaki.
"Cuma itu?"
"Kita udah telat dua kali. Yang pertama kemarin dapat peringatan, dan kali ini kita merasa bebas dari Bu Marni!" seru Zaki disambung tos dengan temannya.
"Kenapa bangga sekali?"
"Udah capek sama Bu Marni. Sebenarnya kita telat tadi juga bukan karena disengaja. Kita tadi naik bis ke sini, kebetulan bisnya mogok," jelas Zaki.
"Oh, terus Bu Marni nggak percaya?"
"Sesuai kesepakatan sebelumnya, telat lagi berarti dapat sanksi."
"Oh, begitu. Siapa nama temanmu?" tanyaku pada Zaki.
"Oh, kita belum berkenalan. Namaku Fatih." Fatih mengulurkan tangannya kepadaku.
"Salam kenal, Fatih. Tapi maaf, aku nggak mau jabat tanganmu, tanganku kotor!" ucapku menunjukkan tanganku yang berwarna kecokelatan sebab terkena tanah yang lembek.
"Oh, iya. Lupa!"
"Ini tinggal sedikit lagi bunganya. Ayo kita selesaikan!" ajakku bersemangat.
"Dev, itu masih ada sekitar 15 bunga. Kamu bilang tinggal sedikit? Kamu sendiri aja yang kerjain." Aku hanya tertawa mendengar penuturan Zaki. Ya, dia benar-benar kelelahan.
"Sudah selesai?" Pak Edi menghampiri kami.
"Belum, Pak."
"Ya sudah. Terima kasih sudah membantu. Silahkan kembali ke kelas," ucap Pak Edi.
"Devi saja atau kita semua, Pak?" tanya Zaki.
"Kalian semua. Bu Marni tadi sudah memasrahkan hukuman kalian kepada Bapak. Setelah ini, semoga kalian nggak mengulangi hal yang sama, ya."
"Semoga bisnya nggak mogok lagi, Pak," lirih Fatih yang sempat kudengar.
"Bapak ke kantor dulu. Minta tolong peralatannya di simpan di gudang, ya," pesan Pak Edi sebelum meninggalkan kami.
"Iya, Pak. Siap!"
Zaki dan Fatih kemudian duduk di bawah pohon. Kukira mereka akan segera kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran. Zaki memanggil namaku dan memberikan isyarat agar ikut duduk di dekatnya. Aku hanya mengangguk dan tidak mengiyakan ajakannya.
__ADS_1
"Kalian nggak ke kelas?" tanyaku.
"Tanggung, habis ini pelajaran Bu Marni juga selesai."
"Bukannya masih ada satu jam pelajaran?"
"Lebih baik di sini daripada di kelas bikin emosi," seloroh Fatih. Iya, aku paham. Suasana hati keduanya sedang tidak mendukung.
"Dev, kamu temannya Nindi, kan?"
Seketika aku melirik tajam Zaki. Aku paham arah pembicaraannya, mungkin nantinya dia akan meminta dikenalkan, atau bisa juga minta nomor teleponnya.
"Kata siapa?" tanyaku.
"Aku sering lihat kalian di taman," jawab Zaki.
"Masa?"
"Beneran. Aku sering lihat kalian ngobrol setelah dari musola," jelas Zaki lagi.
"Itu kamu tahu. Kenapa masih nanya?"
"Nggak papa, aku minta nomornya Nindi, dong!"
"Eh, mau buat apa? Jangan cari mangsa lagi, Wan!" sungut Fatih seolah tidak terima.
"Kamu diam aja bisa nggak, Tih?"
Aku hanya tersenyum mendengar perdebatan keduanya. Enak sekali menjadi seorang Nindi yang diperebutkan oleh banyak laki-laki. Kalaupun aku merasakan demikian pasti hanya dalam mimpi. Siapa pula yang akan tertarik dengan seorang Devi yang tidak cantik dan juga memiliki kapasitas otak yang pas-pasan.
Ada kalanya aku merasa benar-benar iri kepada Nindi. Setiap kali aku berjalan berdua dengannya, selalu saja ada yang menyapanya baik kakak kelas atau adik kelas. Terkadang rencana ingin ke kantin saja harus tertunda gara-gara ada saja yang mengajak Nindi bercengkerama. Kalau sudah begitu, biasanya aku diabaikan, lebih tepatnya aku yang tidak mau tahu.
Aku yang seolah menjadi kebalikan dari Nindi, sering kali pertanyaan tidak penting berputar di kepalaku. Tentang alasan kenapa Nindi mau menjadi sahabatku, tentang kenapa harus aku yang menjadi sahabatnya.
Aku terkejut ketika Zaki menepukkan dua tangannya tepat di depan wajahku. Kemudian ia dan Fatih tertawa begitu renyah, puas sudah membuatku kaget. Seketika aku cemberut, apakah Zaki tidak memikirkan bagaimana jatungku rasanya hampir melonjak karena ulahnya.
"Jangan marah, dong, Dev. Aku cuma becanda. Lagian kamu diajak ngobrol bengong. Iya, kan, Tih?" ungkap Zaki mencoba mencari dukungan dari temannya.
"Iya, kamu mikir apa, sih, Dev?" Kini Fatih yang menanyaiku.
"Bukannya gitu, aku kaget banget, lho."
"Iya, maaf. Jadi gimana?" tanya Zaki.
"Gimana apanya?" Jujur, aku tidak lagi menyimak percakapan Alwan dengan Fatih semenjak mereka membahas Nindi.
"Nomornya Nindi," celetuk Fatih.
"Nindi nggak ngasih izin nomornya disebar sembarangan," ucapku asal memberi alasan.
"Terus harus izin ke dia dulu?" Aku mengangguk merespon pertanyaan Zaki.
__ADS_1
"I-iya pastinya."
"Kalau begitu aku minta nomormu," ucap Zaki seraya meringis. Ide apa lagi ini.
"Buat apa?" selidikku.
"Biar gampang ngasih info. Siapa tahu Nindinya bolehin."
Oh, masuk akal juga. Aku menuliskan 12 digit nomorku di telapak tangan Zaki. Untung saja pulpen tidak pernah ketinggalan kubawa. Ternyata jika dalam kondisi seperti ini bermanfaat juga.
"Tapi itu nomor Bapakku. Usahakan kalau kirim pesan yang sopan, ya," saranku.
"Nomormu sendiri?"
"Belum punya. Aku balik ke kelas dulu, ya. Peralatan kebersihannya kalian bawa sekalian, ya. Aku malas!" Sapu yang kubawa akhirnya kuserahkan pada Zaki. Meskipun dia tampak cemberut, itu tidak masalah.
Aku berada di depan kelas sekarang. Tampak sepi, hanya terlihat Alwi yang masih berpakaian olahraga.
"Dari mana, Dev?" Alwi tampak kegerahan setelah olahraga. Dia berdiri di depan pintu yang tertutup. Tangannya sibuk menjaga tuas pintu.
"Aku mau lewat sebenarnya." Aku menepis tangannya dan bersiap untuk menggerakkan tuas. Seketika Alwi mendorongku secara perlahan.
"Di kelas masih banyak yang ganti pakaian," jelas Alwi.
"Cewek?"
"Bukan."
"Gitu juga kenapa harus ditutup?" protesku.
"Suka-suka, dong!"
Aku berkacak pinggang merasa kesal. Padahal tujuanku masuk ke kelas sekadar ingin mengambil air minum yang kubawa dari rumah.
"Kamu tadi dari mana, Dev?" Alwi menarik bagian belakang rambutku hingga aku sedikit terjengkang.
"Bantu Pak Edi, nanam bunga di dekat gerbang sekolah."
"Sama?" Kenapa Alwi tampak kepo sekali.
"Ada Zaki sama Fatih juga," jelasku.
"Pasti mereka kena hukuman. Sering banget kayak gitu."
"Kamu kenal sama Zaki?" tanyaku pada Alwi.
"Aku dulu sekelas. Dia sama Fatih memang nakal, bandel," jelas Alwi.
"Oh, pantesan," jawabku.
Pintu kelas mulai terbuka. Beberapa siswa mulai membuyarkan diri. Biasa, anak laki-laki di kelasku sedikit brutal. Aku sempat juga mendapat dorongan dari temanku. Untung saja kakiku kuat menopang, hingga tidak terjatuh.
__ADS_1
"Hati-hati, Dev!"