Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Dilabrak


__ADS_3

"Nduk, nanti pulang sekolah jam berapa?"


Kuhentikan aktifitas mengunyah makanan pagiku ketika Bapak mengajukan pertanyaan tersebut. Rasanya mendadak lupa sekarang hari apa. Aku mengamati seragam yang kukenakan, seragam Pramuka! Oh, bisa-bisanya aku lupa kalau sekarang hari Sabtu.


"Pulang jam 12, Pak. Kenapa?"


"Kemarin Bapak pesan pakan ayam ke Mas Ovi. Nanti kamu bisa sekalian bawakan? Kan, dekat sekolahmu tokonya," jelas Bapak meminta kepadaku.


"Oh, bisa, kok, Pak. Itu tokonya di sebelah mana?" Aku belum paham dengan toko milik Mas Ovi, setahuku berada di dekat jalan raya.


"Selatan pasar, nama tokonya Rahayu."


"Oke, Pak. Nanti aku mampir ke sana, deh!"


"Ini uangnya."


***


Pukul enam lebih sepuluh menit aku berangkat sekolah. Sempat aku menawarkan pada Rehan untuk berangkat bersama, namun ia menolak dan memilih untuk pergi dengan berjalan kaki. Perlahan motorku membelah sepinya pagi hingga tiba di sekolah pada pukul setengah tujuh.


Selepas memarkirkan sepeda, aku bergegas menuju sekolah. Sialnya di parkiran tadi aku bertemu Syiham hingga akhirnya kami berdua bersamaan untuk menuju sekolah. Aku sengaja melangkah dengan cepat agar segera sampai di kelas dan bisa berpisah dengan Syiham. Akan tetapi, lelaki itu terus berusaha mengimbangi langkahku hingga diriku yang akhirnya menyerah.


"Kenapa buru-buru, Dev? Ini masih pagi, lho."


"Nggak papa."


"Kamu kenapa, sih, Dev, cuek banget sama aku?"


"Malas, risih aku!" tegasku pada Syiham dengan jujur.


"Aku emangnya kenapa?"


"Jangan tanya mulu! Aku itu udah malu, dikira teman-temanku kita ada hubungan."


"Kalau memang ada hubungan kenapa, Dev? Kamu nggak mau sama aku?"


"Ish, udah, Ham. Jangan kamu pikir aku nggak tahu kalau kamu deketin aku itu cuma buat mainan. Kamu itu playboy, yang kamu cari dari aku apa?" Bahkan aku sampai menghentikan langkah karena ingin menjelaskan hal itu.


"Maaf kalau aku kayak gitu. Tapi aku janji, dapat kamu kulepas yang lain." Syiham menunjukkan telunjuk dan jari tengahnya, swear!


Padahal aku tidak tahu-menahu mengenai hubungan Syiham dengan siapapun. Yang kuucapkan tadi juga asal-asalan, eh, ternyata malah Syiham jujur kalau sedang dekat dengan banyak perempuan. Aku semakin ilfeel berdekatan dengan Syiham.


"Ih, PD banget jadi manusia. Sok ganteng!"


"Buktinya emang gitu, kan? Banyak tuh yang antre pengen jadi pacarku." Syiham tertawa. Aku meninggalkannya dengan berjalan mendahuluinya.


"Tunggu, Dev!"


"Dev, beri aku alasan kenapa kamu nggak mau jadi pacarku."


Aduh, drama apa lagi ini. Syiham bahkan mencengkeram tanganku karena dari tadi tidak kutanggapi. Untung saja tidak ada orang lain di sini, dramatis sekali.


"Intinya aku nggak mau! Aku harus gimana biar kamu berhenti mengejar aku?" tanyaku dengan nada meninggi.


"Kalau sudah ada yang punya, aku akan menyerah!"

__ADS_1


Tadinya aku ingin berbohong dengan mengatakan jika Alwi adalah pacarku. Akan tetapi, sepertinya Syiham sudah tahu jika Alwi sudah berpacaran dengan Nindi. Aha! terlintas ide cemerlang di otakku.


"Ada. Serius aku udah punya," ucapku.


"Siapa? Sekolah di sini juga?"


"Bukan, kamu masih ingat Mas Ovi?"


"Mas Ovi warung?" Aku mengangguk, sepertinya Syiham mengingat-ingat tentang Mas Ovi. Dulu memang teman-teman SD suka memanggil Mas Ovi dengan nama itu.


"Iya, kah? Kamu bohong!" Syiham mengerutkan keningnya menyelidiki.


"Aku nggak bohong, bahkan kami akan menikah ketika lulus SMA nanti," ucapku begitu lancar membohongi Syiham. Semoga dia bisa percaya.


"Aku tidak pernah lihat kalian berduaan."


"Ya, karena dalam hal hubungan memang Mas Ovi meminta hal itu untuk tidak dipublikasikan. Cukup kami berdua yang tahu."


"Cih, seleramu om-om!" cibir Syiham kepadaku.


"Om-om? Mas Ovi belum tua, lho. Justru kedewasaannya yang membuatku semakin betah dengannya, aku merasa benar-benar terlindungi dan mendapat kasih sayang yang begitu tulus." Bagus, aku sangat mendalami peran di sini. Kurasa Syiham sudah mulai percaya.


"Aku masih belum percaya. Bisa jadi itu hanya karanganmu saja," tindas Syiham kepadaku.


"Enak saja. Kamu pikir aku sedang berhalusinasi? Kalau tidak percaya lihat saja nanti, sepulang sekolah aku akan apel ke toko Mas Ovi." Aduh, senjata makan tuan. Aku yakin jika Syiham punya keinginan dia tidak akan main-main. Bagaimana jika dia nekat mengikuti waktu aku pulang nanti?


"Oh, baiklah, semoga kamu nggak bohong! Aku siap mencari tahu semuanya. Eh, tunggu dulu, Dev, aku ada sesuatu buat kamu."


Syiham memindahkan posisi tas yang semula di punggung menjadi di depan dada. Dia membuka resleting dan mengambil sesuatu dari tas tersebut. Sesuatu di dalam kotak bekal diberikan Syiham kepadaku, baik sekali, bukan?


"Terima, setelah ini aku tidak akan mengganggumu. Tapi, jika hubunganmu dengan Mas Ovi memang bukan bohongan." Semula aku senang mendengarnya, tapi kenapa harus ada syarat seperti itu.


"Oke. Silahkan kalau mau jalan dulu, aku tahu kamu risih dari tadi." Ah, kenapa baru peka? Selama ini ke mana saja?


***


Pelajaran IPS akhirnya berakhir ketika bel istirahat berbunyi. Kalau saja Nindi tidak menyenggol lenganku, mungkin aku tidak sadar jika Bu Ati sudah menutup kegiatan pembelajaran. Siapapun, beri aku solusi untuk tidak tidur saat pelajaran IPS.


"Kamu mau ikut ke kantin?" tawar Nindi kepadaku, Alwi sudah stand by untuk mengajak Nindi.


"Nggak, mau titip aja, boleh?" Aku mengambil uang di dalam saku seragam.


"Apa?"


"Es teh aja. Soalnya tadi udah dikasih makanan sama Syiham, kok."


"Cie, makin banyak kemajuan, nih," ledek Nindi sembari menyerobot uangku.


"Kemajuan banget, ini makanan tanda perpisahan. Dia nggak bakal ganggu aku lagi," ucapku dengan bangga seraya mengeluarkan kotak bekal dari Syiham tadi.


"Kenapa begitu?"


"Udah, kalian ke kantin dulu. Nanti aku jelasin!"


Bagus, sepasang kekasih tersebut tidak banyak tanya lagi. Mereka lantas meninggalkan kelas dan menuju kantin. Aku bertopang dagu, rasanya nyawaku masih belum kembali sepenuhnya setelah tertidur waktu pelajaran tadi.

__ADS_1


"Dev, ada yang nyari kamu," ucap Dila yang baru masuk kelas.


"Syiham?" Dia bohong katanya tidak lagi menggangguku.


"Bukan. Cewek, kok. Kelas tujuh juga kayaknya." Seingatku aku tidak punya kenalan anak kelas tujuh, apalagi perempuan.


"Oke, Dil. Makasih, aku lihat dulu siapa dia."


Langkahku malas untuk keluar kelas. Begitu sampai di depan kelas, kulihat ada dua perempuan yang tampak saling berbisik ketika mengetahui keberadaanku. Oh, aku ingat salah satu dari mereka adalah Rita, sepupu Nindi.


"Mbak Devi?" tanya Rita, dia belum tahu namaku ternyata.


"Iya, ada apa, Rita?" tanyaku balik, dia tampak terkejut karena aku menyebut namanya.


"Tahu namaku?"


"Kamu kan sepupunya Nindi."


"Em, dulu pernah diajak ke kelasku?" Aku mengangguk.


"Ada apa cari aku?"


Rita menarik tanganku dan mengajakku duduk di bangku yang terbuat dari cor-coran yang berada di depan ruang kelas, temannya yang tadi sengaja ditinggalkan. Sepertinya ada masalah serius yang berkaitan denganku. Tapi apa? aku bahkan tidak tahu apa pun tentang Rita.


"Maaf, ya, Mbak Devi. Kamu pacaran sama Syiham?" lirih Rita.


"Nggak, kenapa?"


"Mbak, jangan bohong!" Kulihat Rita yang tampak berkaca-kaca.


"Eh, ada Rita. Lagi apa, nih?"


Nindi sudah datang bersama Alwi. Mereka kemudian menghampiriku yang sedang bersama Rita. Rita berusaha menghapus air mata yang sempat menetes.


"Hayo, kenapa nangis?" Nindi merengkuh Rita.


"Pacarku jahat," lirih Rita.


"Pacar? Kamu punya pacar?"


"Iya, kita jadian sejak MPLS kemarin. Mbak Nindi tahu Syiham, kan? Dia jahat sama aku!" Rita yang malang, tangisnya semakin menjadi. Jahatkah aku?


"Dia kenapa?" tanya Nindi.


"Dia selingkuh, tapi nggak mau aku putusin."


"Selingkuh sama siapa?" Alwi sepertinya juga kepo.


"Banyak, salah satunya Mbak Devi."


"Eh, aku nggak ada hubungan apa-apa sama Syiham, lho. Serius!" tegasku tidak terima difitnah.


"Iya, Rita. Devi nggak ada hubungan apa-apa sama Syiham, tapi emang Syiham suka gatel samperin Devi."


"Beneran?"

__ADS_1


"Iya, aku juga sudah punya pacar, kok!" celetukku membuat Nindi dan Alwi langsung menatapku tajam.


"Devi!"


__ADS_2