Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Apel Rutin


__ADS_3

Semester ganjil di kelas sembilan sudah terlewati seminggu lamanya. Beberapa pelajaran sudah mulai efektif semenjak berakhirnya kegiatan MPLS kelas tujuh. Ada rasa senang dan sedih. Senang karena tidak ada lagi rasa sia-sia berangkat sekolah dan sedih karena terkadang harus bertemu pelajaran yang materinya tidak bisa dicerna oleh otak. Lebih mengesalkan lagi, Syiham selalu melakukan apel rutin di kelasku setiap pagi sebelum bel masuk berbunyi.


Aku tidak tahu apa tujuannya melakukan hal itu. Semenjak hari di mana ia memberiku brownies, aku sering menjadi buah bibir teman-teman di kelas. Bukan hanya aku, Syiham pun tidak luput juga, tapi nyatanya dia tidak juga jera. Dasar adik kelas gila! aku tidak yakin jika dia memang menginginkanku, pasti ada sesuatu di balik semua perhatiannya. Bukan bermaksud untuk menyamakan semua lelaki yang mendekatiku, hanya saja berkaca dari pengamalan. Siapa juga yang mau dekat denganku kecuali memang ada sesuatu lain direncanakan.


Seperti biasa, aku berangkat ke sekolah lumayan awal pagi ini. Kelas belum ada siapapun hingga beberapa menit kemudian datang Dea dan Dila yang juga langganan datang pagi. Kusandarkan tubuh dan kepala di kursi, hari ini aku tidak begitu bersemangat. Ah, pasti setelah ini akan datang Syiham juga.


Sebuah ide terpikirkan di otakku. Segera aku berlari ke bagian belakang kelas dan duduk di atas lantai yang mana memungkinkan untuk tidak terlihat jika dilihat dari arah depan kelas. Kuharap hari ini tidak ada gangguan dari Syiham.


"Dila, Dea, nanti kalau Syiham ke sini kalian bilang kalau aku nggak masuk, ya."


"Lho, kenapa? Harusnya jangan sembunyi, kasihan cowokmu." Dila tertawa meledek.


"Cowok, cowok, gundulmu. Aku nggak pacaran sama dia. Pokoknya bilang aja kalau aku lagi nggak masuk. Oke, Dila? Dea?" Keduanya mengangguk.


Tak berselang lama sosok yang ditunggu pun datang.


"Assalamualaikum, Syiham datang." Aku mengintip dari kolong hingga tampak kaki dari si pemilik suara yang tengah berada di dekat pintu.


"Waalaikum salam, Syiham. Ada apa?"


"Cari Partiyem." Kututup mulutku agar tidak menimbulkan suara tawa. Siapa Partiyem? Di kelas ini tidak ada siswa dengan nama seperti itu.


"Partiyem siapa?" Dea juga heran sepertinya.


"Devi!" Heh, aku tidak terima dia mengganti namaku. Seperti nama teman nenek saja!


"Sembarang ganti nama orang!" seloroh Dila berpihak padaku. Aku yang mengamati mereka adu mulut dalam persembunyian ingin sekali tertawa.


"Bukan gitu, Partiyem itu nama kesayangan aku untuk Devi. Artinya perempuan yang PARas dan TIngkahnya bikin hati aYEM." Hampir saja tawaku pecah gara-gara per-partiyem-an itu. Dila dan Dea tampak memegang perut karena terlalu lantang saat tertawa.


"Eh, malah ketawa. Mana Devi?" omel Syiham pada Dea dan Dila.


"Dia nggak masuk," timpal Dila.


"Serius dia nggak masuk? Pantes tadi nggak ada motornya di parkiran," ucap Syiham tampak kecewa.


Wah, ternyata ada untungnya memarkirkan motor di tempat yang berbeda dari biasanya. Kalau saja tempat yang biasa menjadi pemberhentian motorku tidak digunakan oleh ibu-ibu yang hendak belanja di pasar tumpah, mungkin rencana menipu Syiham tidak bisa berjalan maksimal.


"Iya, dia nggak masuk. Itu suratnya di meja guru." Tumben Dila jenius, ia menunjuk amplop di meja guru yang sebenarnya surat izin milik siswa dari hari kemarin.

__ADS_1


"Sakit apa dia?" Syiham berjalan beberapa langkah, tapi hal itu membuatku merasa cemas. Jangan-jangan Syiham merasa penasaran dengan surat yang ditunjuk Dila tadi dan sengaja untuk memastikan isinya.


"Mau ke mana, Ham?"


"Lihat suratnya," jawab Syiham begitu santai.


"Lancang sekali, itu surat untuk guru. Kamu nggak boleh asal membukanya." tegas Dea pada Syiham.


"Oh, maaf kalau begitu. Ya udah, Kakak-kakak semua, aku pamit ke kelasku," pamit Syiham.


Aku keluar dari persembunyian ketika tidak terdengar lagi suara Syiham. Aku juga mengintip dari jendela, ternyata dia sudah berjalan sampai di lapangan. Kerja yang bagus, Dila dan Dea!


"Oke, makasih, ya!" ucapku pada Dila dan Dea.


"Sama-sama."


Aku kembali ke bangku dan duduk di sana. Alwi dan Nindi juga datang, mungkin mereka tadi janjian berangkat bareng. Alwi menatapku dengan heran, dia juga tampak membawa tas kain yang berukuran sedang.


"Lho, ini si Devi masuk," ujar Alwi.


"Kenapa emangnya?" tanyaku.


"Aku tadi sembunyi. Capek kalau ketemu dia terus," keluhku.


"Bukannya semakin baik? Kalau jadian jangan lupa traktiran," goda Nindi.


"Kamu aja yang sama dia. Aku ogah sama Syiham," selorohku yang sudah terlanjur kesal.


"Eh, nggak bisa, dong. Nindi cuma boleh sama aku!" tegas Alwi.


"Terserah kamu, Al. Eh, ini apa? Dari Syiham?" Aku membuka sesuatu yang berada di dalam tas yang dibawa Alwi.


"Buat kamu aja, Dev. Itu spesial dari Syiham."


"Eh, nggak mau. Ini kan tadi kamu yang dikasih." Kugeser tas tadi hingga tepat di hadapan Alwi.


"Niatnya itu buat kamu, Dev. Makan aja, nanti rencana mau beli soto sama Nindi pas istirahat. Daripada nasinya nggak dimakan terus mubazir, mending buat kamu," jelas Alwi sembari menatap Nindi genit, jijik!


"Aku nggak kalian aja?" tanyaku.

__ADS_1


"Tidak, kita pengen berduaan." sahut Nindi.


"Nin, di kantin mana bisa berduaan?" Aku tertawa.


"Kita makannya nggak di kantin, di belakang kelas. Angin sepoi-sepoi, pemandangan sawah yang indah, berduaan, romantis banget, kan?" Alwi tersenyum, mungkin ia dan Nindi sudah pernah makan di sana sebelumnya.


"Ya udah, iya. Nggak ikut nanti aku. Lagian aku mau di kelas aja, ketahuan Syiham malah bisa bahaya."


"Nah, kamu harus di kelas aja."


***


Jam terakhir yang membosankan. Kebetulan juga mata pelajarannya adalah IPS. Bu Yana masih bersemangat menjelaskan tentang benua-benua yang ada di dunia. Kondisi Bu Yana berbanding terbalik dengan para siswanya yang mulai mengantuk dan asyik sendiri. Aku pun juga demikian, bahkan Nindi juga terlihat tidak tertarik dengan mata pelajaran kali ini.


"Kamu mau buat apa, Nin?" Aku heran dengan Nindi yang sibuk menyobek kertas menjadi potongan-potongan kecil.


"Lagi bosan aja, Dev."


"Ih, tumben." Nindi tidak menggubris ucapanku.


"Dev, Devi!" Nindi menghamburkan potongan kertasnya hingga mengenaiku.


"Devi! Ada apa itu? Kamu bikin kelas kotor saja." Aku mendapat teguran dari Bu Yana. Ah, seketika aku menjadi pusat perhatian teman-teman. Yang salah itu Nindi, ke apa aku yang diserbu?


Bel tanda waktu pulang akhirnya berbunyi. Syukurlah, waktu yang sangat kutunggu akhirnya tiba. Setelah ini aku akan langsung pulang dan jika memungkinkan akan tidur siang.


Setelah mengambil motor di parkiran, aku segera pulang. Hari ini semuanya berjalan lancar tanpa ada masalah serius. Yang lebih menyenangkan lagi, Syiham tidak menampakkan batang hidungnya di hadapanku untuk hari ini.


Setibanya di rumah, aku dikejutkan dengan tamu yang datang. Bapak jarang-jarang membuka pintu bagian depan jika siang hari. Selain itu adanya motor di halaman memperkuat dugaanku jika sedang ada tamu. Mungkin teman Bapak atau seseorang yang hendak memesan ayam.


"Mbak, kok, baru pulang. Ada yang nyari dari tadi." Rehan menghampiriku yang sedang meletakkan motor.


"Temanku? Siapa?"


"Nggak tahu, Mbak ke sana aja."


Siapakah tamu yang datang?


Hai teman-teman semuanya terima kasih sudah mampir di karya amatirku ini. Nggak tahu lagi, mungkin akhir-akhir ini nggak bisa up rutin. Aku masih ada kesibukan lain di rumah. Mohon doanya teman-teman, aku sedang melakukan penelitian guna mengambil data untuk skripisku. Terima kasih yang sebesar-besarnya ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2