Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Semua Orang Layak Bahagia?


__ADS_3

"Kamu pulang bareng aku, nggak, Al?" tanyaku kepada Alwi yang tampak masih sibuk dengan Nindi.


"Kamu duluan aja. Habis ini aku mau ke perpustakaan daerah sama Nindi," jawab Alwi singkat.


Aku mengemasi buku dan alat tulis yang semula memang kuletakkan asal sebelum salat Zuhur tadi. Dua minggu sudah Alwi dan Nindi berpacaran. Dan, semenjak itu hariku banyak berubah, aku menjadi kesepian.


Agenda curhat rutin di taman yang biasa kulakukan bersama Nindi sudah jarang terjadi. Kalaupun terjadi, itu pasti hanya beberapa menit sebab selalu datang Alwi yang mengganggu. Laki-laki itu sungguh bucin.


Aku akui Alwi dan Nindi adalah pasangan yang keren. Mereka selalu menggunakan waktu berduaan dengan mengerjakan tugas atau sekedar me-review pelajaran ketika teman-teman sudah pulang. Sebenarnya mereka juga menawariku untuk bergabung, tapi justru teman yang lain tampak tidak suka ketika aku menerima tawarannya. Katanya, aku seperti obat nyamuk. Aneh sekali, bukan? Oleh sebab itu, aku selalu berasalan jika di rumah sedang repot dan mengakibatkan aku harus segera pulang.


Apapun yang dilakukan sendiri akan terasa lebih berat. Begitu juga perjalanan pulangku dari sekolah. Semenjak tidak pulang bersama Alwi, jarak yang kutempuh terasa lebih lama dan sangat melelahkan. Belum lagi jika harus melewati jalan sepanjang area persawahan, rasa takut membayangi jika tiba-tiba ada orang berniat buruk kepadaku.


Setibanya di rumah, kulihat ada sebuah mobil yang berada di halaman. Bapak sedang ada tamu, sepertinya keluarga Budhe Asih. Aku memilih masuk rumah melalui pintu dapur. Sejenak aku ingin membasahi tenggorokanku dengan air putih, mungkin setelah itu baru kutemui keluarga Budhe Asih.


"Ladang itu milik Bapak, Min. Dan Bapak sudah berpesan agar aku yang merawatnya. Dulu memang aku belum bisa merawatnya, tapi untuk sekarang ladang itu mau kuambil."


Kudengar suara Pakdhe Kasim, suami Budhe Asih dengan nada tinggi. Niatku untuk menemui keluarga itu sirna sudah. Aku paham untuk selanjutnya, pasti Bapak akan pasrah dan menuruti kemauan keluarga yang super serakah itu.


Kedatangan Budhe Asih di rumah memang selalu tidak murni silaturahmi. Dulu mereka pernah bertandang ke sini, itu pun juga demi harta warisan. Bapak pun tidak pernah ambil pusing, kalau pun tidak mendapat bagian, Bapak tetap ikhlas. Kata beliau itu lebih baik daripada harus ada perselisihan.


"Eh, kok, malah bengong? Jadi gimana?" Kali ini terdengar suara Budhe Asih yang seolah meledek.


"Silahkan kalau mau diambil, Mbak. Tapi aku mau minta waktu sampai masa panen, ya. Nanti biar aku buat modal."


Aku masih menguping pembicaraan mereka. Entah apa rencana Bapak selanjutnya, aku berharap itu yang terbaik.


"Modal? Kamu mau usaha apa? Sok-sokan mau buka usaha!"


Aku yang mendengarnya saja ikut geram. Kalau saja membunuh itu tidak termasuk dosa besar, sudah kubunuh keluarga sombong itu.

__ADS_1


"Belum tahu juga, Mbak. Semoga saja nanti bisa. Buat biaya sekolah anak-anak, mau mewujudkan keinginan Ibu biar anak-anak bisa sampai kuliah."


"Mimpimu terlalu tinggi, paling-paling anakmu itu nanti cuma tamat SMA, atau malau nggak lulus! Kamu aja kerja cuma jadi buruh orang, kayak gitu cita-cita punya anak sarjana. Kamu tahu anakku Sita? Dia kuliah itu bayar pakai uang, berjuta-juta, nggak pakai daun!"


Demi Allah, aku tidak rela Bapakku dihina seperti itu. Semoga saja suatu saat aku bisa mengangkat derajat Bapak. Ingin sekali aku membungkam mulut orang-orang dengan prestasiku.


"Mbak, sudah pulang?" Rehan datang mengagetkanku dari belakang, dia mendekatkan jarinya ke bibir, menyuruhku untuk tidak bersuara.


"Ada apa?" bisikku.


"Budhe Asih, tapi aku nggak tahu mereka mau ngapain," lirih Rehan.


"Kamu udah ketemu mereka?" Rehan menggeleng.


"Malas! Paling nantinya mereka mau ngatain kita."


Aku dan Rehan memilih untuk tetap di dapur. Untung saja Budhe Asih dan Pakdhe Kasim tidak berlama-lama di sini. Aku sudah sangat muak dengan kehadiran mereka. Begitu mobil mereka meninggalkan pekarangan rumah, aku dan Rehan menghampiri Bapak.


"Itu ladang mereka, Nduk. Jadi mereka berhak untuk memintanya."


"Dari dulu Bapak yang merawatnya?"


"Sebenarnya itu lahan PERHUTANI. Mereka berbaik hati memperbolehkan warga untuk memanfaatkan tanah tersebut. Waktu itu masih berbentuk hutan jati. Kayu jati akhirnya ditebang oleh pihak PERHUTANI. Setelah itu para warga berbondong-bondong membuka lahan dan salah satunya adalah kakek kalian. Kakek sebenarnya memasrahkannya kepada Pakdhe Kasim, tapi Pakdhe Kasim tidak mau untuk merawatnya. Bapak meminta izin kepada kakek, dan beliau mengizinkannya."


"Licik sekali Pakdhe Kasim, kenapa mau enaknya saja!" protes Rehan.


"Seperti nggak tahu watak mereka aja, Re."


"Sudah, sudah, jangan terlalu meributkan masalah yang nggak penting. Toh, beberapa tahun lagi lahan itu akan diminta lagi oleh pihak PERHUTANI untuk ditanami pohon lagi," ucap Bapak yang kurang aku pahami.

__ADS_1


"Bapak serius mau biayain kita sampai kuliah?" tanyaku penuh harap.


"InsyaAllah, Nduk. Walaupun Bapak sekolah SD saja tidak lulus, semoga anak-anak Bapak bisa jadi sarjana, syukur-syukur bisa lebih tinggi."


"Aamiin .... Semoga saja, ya, Pak!"


"Kalau besar nanti Rehan nggak udah dikuliahin. Rehan mau jadi blantik, Pak," ucap Rehan.


"Blantik apaan, Re?" tanyaku.


"Yang biasanya jual beli kambing itu, lho, Mbak." Aku tertawa mendengar cita-cita Rehan yang menurutku tidak diidam-idamkan oleh anak-anak di luar sana.


"Eh, kok, malah ketawa? Mbak Devi nggak tahu, kan? Pak Harto blantik itu selalu pegang banyak uang, Mbak. Kadang Rehan sama teman-teman dikasih buat beli jajan. Baik banget, kan? Rehan jadi pengen."


"Cita-cita apa pun baik, Le. Tapi Bapak berharap semoga kamu tidak lupa untuk selalu belajar. Cita-cita kamu apa, Nduk?" Bapak kini menanyaiku.


"Em, apa, ya? Aku masih bingung, Pak. Tapi kalau ada yang tanya aku suka jawab asal pengen jadi dokter," jelasku.


"Semoga saja bisa jadi dokter, Nduk. Tapi, dulu ibumu pernah bilang, pengen punya anak yang jadi guru. Karena apa? Karena guru adalah pekerjaan mulia, mendidik anak untuk menghilangkan kebodohan. Bayangkan, jika siswa yang kamu ajarkan nantinya bisa mengamalkan apa yang ia pelajari, pahala untuk kamu pasti akan terus mengalir, shodaqoh jariyah!"


"Tapi guru itu nggak enak, Pak. Kerjanya marah terus," celetuk Rehan yang kuakui kebenarannya.


"Nggak boleh begitu, Le!"


"Kalau Devi besar nanti mau jadi penulis buku terkenal, boleh, Pak?" tanyaku yang mulai terlintas mimpi itu.


"Boleh, selama cita-citamu bisa memberikan manfaat, Bapak akan selalu mendukung."


"Pak, sebentar lagi Devi mau kelas sembilan. Nanti setelah lulus Devi mau ke SMA 1, ya?"

__ADS_1


"Bapak berharap kamu ke pesantren, Nduk. Di rumah Bapak belum bisa mendidikmu agar menjadi anak yang baik, karena itu Bapak berharap kamu masuk ke pesantren," lirih Bapak pelan.


Aku tidak pernah membayangkan diri untuk masuk ke pesantren. Kalau itu memang keinginan Bapak, semoga saja aku bisa memenuhi permintaan sederhana itu.


__ADS_2