
"Kamu mau langsung pulang, Dev?" Alwi menghampiriku, aku hanya mengangguk.
"Nggak mau ikut aku sama Nindi ngobrol dulu gitu?"
"Langsung pulang aja, mau istirahat, Al."
"Lho, kok, langsung pulang." Nindi yang baru masuk kelas mengetahui aku yang sudah menggendong tas tampak kecewa.
"Iya, duluan, ya."
"Hati-hati." Alwi menyerang pipiku, dia sudah lupa kalau aku baru saja sembuh.
"Gitu aja sakit," cibir Alwi mengomentari ekspresiku yang meringis.
"Mau tumbuh jerawat soalnya." Kutunjuk bentol kecil yang berada tepat di tulang pipi. Please, ini rasanya nyut-nyutan.
"Ada yang lagi suka sama kamu itu artinya," celetuk Alwi kemudian tertawa.
"Mana ada kayak gitu, jerawat itu dipengaruhi hormon. Ya, kali jerawatan dibilang banyak yang suka." Aku senang sekali kali ini Nindi membelaku. Kapok, makanya jangan sembarangan becanda di depan orang yang pintar.
"Aku pulang dulu." Aku melambaikan tangan dan segera keluar kelas.
***
"Pak, temanku ada yang pesan jamu. Bapak bisa bikin, kan?" ucapku saat menikmati makan siang sepulang sekolah.
"Ini temanmu nggak kamu paksa, kan?" Bapak sepertinya curiga karena ada belasan pemesan jamu.
"Nggak, Pak. Devi cuma bilang, yang mau silahkan beli. Gitu aja."
"Ya udah, nanti Bapak cari bahan-bahannya dulu di warung. Nanti sore kita buat."
"Buatnya dilebihkan, Pak. Nanti coba Devi tawarkan ke tetangga."
"Kamu nggak malu?"
"Nggak. Kalau malu nanti biar Rehan yang nawarin hehehe."
Tanpa menunggu waktu lama, Bapak langsung berpamitan untuk mencari bahan pembuatan jamu. Sempat kulihat Rehan yang heboh sepulang dari bermain karena ingin ikut Bapak. Aku hanya menggeleng, ia pikir Bapak hendak pergi jauh, apa?
Kukira semua perabotan dapur sudah beres tadi pagi. Ternyata masih saja kutemukan beberapa sendok dan piring yang tergeletak di tempat pencucian. Kuurungkan niat untuk beristirahat setelah makan. Nyatanya tidak tega meninggalkan barang-barang yang kotor itu.
Aku pernah mendengar curhatan ibu-ibu. Katanya, pekerjaan ibu rumah tangga tidak ada habisnya. Ya, dan aku merasakannya kini. Beres dengan perabotan dapur, perhatian saat ini tertuju pada jemuran yang sudah tampak kering. Mumpung longgar, siapa tahu habis ini ada kesibukan lain dan tidak sempat mengangkat jemuran.
"Mbak Devi!" Rehan menyambutku yang tengah keteteran membawa jemuran. Dia menunjukkan sesuatu di tangannya.
Segera kubawa baju-baju kering ke keranjang yang ada di dalam rumah. Rehan sepertinya mengikutiku, antusias sekali ingin menunjukkan barang yang ia bawa.
"Apa itu, Re? tanyaku.
"Es krim. Mbak jangan minta. Kan, habis sakit!"
Aku berdecak kesal. Lantas kenapa terus mengikutiku jika tidak mau berbagi sedikit pun. Es krim yang berada dalam cup tersebut tampak begitu menggoda. Dasar, Rehan! Aku jadi ingin mencicipinya.
__ADS_1
"Tumben Bapak beliin yang ukuran besar?" Ya, jarang sekali Bapak membelikan es krim, apalagi yang berukuran besar.
"Bukan Bapak yang beli, ini tadi dikasih."
"Dikasih siapa?"
"Nggak tahu, bapaknya temen Mbak Devi."
"Bapaknya Alwi," sahut Bapak yang tampak membawa sekantor besar belanjaan.
"Kok, ketemu bapaknya Alwi?"
"Kebetulan tadi ketemu di toko. Ada Alwi juga," jelas Bapak.
"Oh, begitu."
"Sebenarnya tadi kamu juga mau dikasih es krim. Tapi Bapak tolak, kamu baru sembuh, kok."
"Iya, Pak. Kita buat jamunya sekarang?" tanyaku seraya membuka kantong belanjaan Bapak. Ternyata Bapak membeli banyak sekali bahan untuk membuat jamu.
"Bapak ada uang? Kok, beli banyak banget?"
"Alhamdulillah, tanaman kacang tanah kita diborong pengepul. Bapak ada sisa sedikit, lainnya buat keperluan sekolah kamu sama Rehan," terang Bapak.
"Sudah panen, Pak? Jadi beli tas baru nanti?" Rehan bersorak gembira kala Bapak menjawab pertanyaannya dengan sebuah anggukan.
"Kapan, Pak?" tanya Rehan lagi.
"Kapan-kapan, Re. Tasmu masih bagus, lho," sergahku.
"Iya, nanti, ya!" Pasti senang sekali si Rehan.
***
Pukul empat sore jamu yang dibuat telah siap dan baru saja melalui proses perebusan. Bapak hanya membuat sedikit jamu yang nantinya akan dijual ke tetangga. Katanya, untuk yang dibawa sekolah akan dibuatkan nanti malam saja.
Bapak memintaku dan Rehan untuk segera mandi dan salat Asar. Rencananya setelah jamu menjadi dingin akan ditawarkan kepada para tetangga. Rehan sudah lebih dulu siap, dia menungguku di depan tungku.
"Sudah boleh dibawa, Pak?" tanya Rehan mengintip jamu yang dikemas dalam plastik-plastik kecil.
"Sudah, coba kamu tawarkan ke tetangga, ya, Nduk."
Tidak terlalu banyak jamu yang disiapkan Bapak. Sebenarnya ada rasa malu, tapi kata Rehan dilawan saja rasa malunya. Di depan rumah Bu Lastri kebetulan ada beberapa orang yang sedang berkumpul untuk mengobrol. Rehan memintaku untuk menawarkan kepada mereka.
"Nuwun sewu, Bu, silahkan yang berminat jamu kunir asam," ucapku.
"Masih anget, ya. Mau satu, Mbak." Bu Lastri mengambil sebungkus dan langsung membayar. Alhamdulillah sudah berkurang satu.
"Ini nggak ada yang mau beli? Seger, lho, jamunya," ucap Bu Lastri mencoba mengajak ibu-ibu yang lain untuk membeli.
"Aku mau tiga, Mbak. Nanti sekalian buat anakku di rumah."
Rehan bersemangat melayani, dia membantu menaruh jamu-jamu yang sudah dipesan ke dalam kantong plastik.
__ADS_1
"Ini Mbak Devi baru jualan hari ini, ya?" tanya Bu Lastri.
"Iya, Bu. Alhamdulillah ada yang beli."
"Masih berapa, tho, Mbak?"
"Tinggal tiga, Bu."
"Mbak Titi, mampir sini. Aku kasih jamu!"
Rehan menyenggol lenganku, dia seperti memberiku kode.
"Ada apa, Re?"
"Ada ibu julid."
"Bu Titi?"
"Iya, siapa lagi."
Bu Titi menghampiri Bu Lastri. Jujur saja aku malas jika bertemu tetangga yang satu ini. Dia pasti akan berkomentar panjang lebar kepadaku. Aku sudah siap jika dia akan mencari kekurangan dari jamu buatan Bapak.
"Jamu apa, nih, Jeng?"
"Jamu kunyit asam. Bapaknya Mbak Devi yang buat." Seketika Bu Titi menatapku dan Rehan secara bergantian.
"Enak nggak?"
"Enak! Coba dulu baru berkomentar."
Bu Titi duduk dan segera meminum jamu pemberian Bu Lastri. Aku dan Rehan belum pergi karena memang menunggu uang pembayaran dari Bu Lastri. Aku penasaran menunggu reaksi Bu Titi, dia seperti juri perlombaan masak yang siap menghakimi peserta.
"Enak, sih. Kukira nggak seenak ini. Cocoknya kalau ditaruh di kulkas, nih."
Dasar Bu Titi, mau mengaku kalau enak saja harus ada yang dikritik.
"Eh, kenapa kalian masih diam di situ?" tanya Bu Titi kepadaku dan Rehan.
"Mereka memang belum aku kasih uang. Sebentar, ya, Le, Nduk." Aku dan Rehan hanya mengangguk.
Bu Lastri berpamitan masuk rumah untuk mengambil uang. Di sini masih ada Bu Titi dan ibu-ibu lainnya yang masih asyik membahas topik yang tidak kuketahui.
"Ya Allah, jerawatmu mau tumbuh, ya, Dev?"
Aku tersenyum. Sepertinya Bu Titi sengaja mengeraskan suara agar orang-orang yang lain melihatku. Dan, hal itu sukses membuatku menjadi pusat perhatian.
"Sudah remaja, harusnya mulai menjaga kesehatan badan termasuk wajah. Masa udah mau SMA masih aja kusam."
"Iya, Bu. Emang Devi kalau di rumah biasa pakai sabun badan buat cuci muka."
"Itu gak bagus buat muka, astaghfirullah!"
"Ada apa, Bu? Kok, heboh?" Bu Lastri yang baru dari rumah merasa heran dengan tingkah Bu Titi.
__ADS_1
"Ini, lho, si Devi. Wajahnya kusam banyak jerawat."
"Terima kasih, Bu. Saya pamit dulu." Aku dan Rehan pergi begitu saja setelah Bu Lastri memberi uang. Biarkan saja Bu Titi menganggapku tidak sopan. Dia jauh tidak sopan sebenarnya.