
Bapak bergegas untuk melihat ayam yang dimaksud oleh Mbak Bela. Aku mengikuti langkah Bapak menuju halaman belakang rumah tetanggaku yang sering menjadi provokator keributan tersebut. Sebenarnya aku tidak yakin jika yang dimaksud Mbak Bela adalah ayam Bapak, mengingat jarak di antara rumah kami cukup jauh. Mbak Bela terus mengawasi aku dan Bapak yang celingukan mencari ayam.
"Yang mana ayamnya, Mbak?" tanya Bapak begitu tidak mendapati satu pun ayamnya di sana.
"Pak Basir punya mata, kan? Tuh, lihat ayam-ayamnya sampai bikin pohon pisangku mati, habis kena patuk. Itu bibitnya mahal, lho. Ayam-ayam Pak Basir dijual semua belum tentu bisa buat gantiin biaya pembeliannya." Mbak Bela menunjuk tunas pohon pisang yang sudah hancur bakal daunnya. Aku sangat tidak suka dengan nada bicara Mbak Bela yang selalu menyombongkan dirinya.
"Ayam itu yang Mbak Bela maksud?" Bapak menunjuk empat ekor ayam yang sepertinya masih satu indukan karena memang memiliki corak bulu yang serupa. Mbak Bela pun mengangguk.
"Saya nggak punya ayam kayak gitu, Mbak," ucap Bapak dengan senyum.
"Lho, terus ayam siapa?" Mbak Bela tampak begitu tidak terima.
"Ayam Bu Asti, saya hafal soalnya kalau pagi ikut makan sama ayam-ayam saya."
"tuh, kaki sama sayapnya dikasih rafia biru. Itu tanda punya Bu Asti," imbuh Bapak semakin meyakinkan.
Dalam hati aku terkekeh. Mbak Bela pasti sedang panik dan canggung. Ayam yang difitnah tersebut ternyata milik partner menggunjingnya. Ah, untung sekali dia tadi tidak melibatkan Bu Asti saat menyerang Bapak. Bisa-bisa malah jadi perang dunia jika itu benar terjadi.
"Em, ya saya kira punya Pak Basir. Pak Basir kan ayamnya banyak," timpal Mbak Bela masih tak mau mengakui kesalahannya.
"Bukan, Mbak. Ayam saya hanya berkeliaran di sekitar rumah karena memang saya pagar tinggi."
"Nah, betul, Mbak. Bapak nggak pernah sembarangan lepas ayam. Malah kadang ayam tetangga ikut makan sama ayam Bapak," ucapku.
"Oh, gitu? Bagus, dong. Kan, berbagi itu namanya."
"Iya, Mbak, sekalian niat sedekah ke ayam. Berarti sudah kelar ya, Pak, masalahnya? Ayo pulang ke rumah, Pak!" ajakku pada Bapak.
Tidak habis pikir dengan tetangga yang memiliki pemikiran seperti ini. Tidak hanya sekali dua kali, sering kali keluargaku menjadi korban fitnah tetangga. Mentang-mentang hanya keluarga miskin, mereka seenaknya menuduh kami. Sehina itukah orang miskin?
"Pak, untung tadi nggak banyak orang, ya. Nggak bisa bayangin betapa malunya Mbak Bela," ucapku begitu tiba di dapur.
"Biarin aja, Nduk. Selama kita hidupnya nggak aneh-aneh, jangan takut. Dari awal tadi Bapak juga sudah yakin kalau ayam yang dimaksud bukan milik kita. Bapak cuma mau ngasih dia pelajaran, biar kapok, biar malu." Wah, keren juga Bapak.
__ADS_1
"Pak, tadi Rehan bilang mau ikut ngaji di TPQ," ucapku menyampaikan keinginan Rehan tadi. Sebenarnya sudah tiga kali Rehan mengikuti kegiatan rutin di masjid yang diadakan setiap sore tersebut, namun setahuku ia belum izin ke Bapak.
"Iya, Bapak juga sudah tahu. Orang Rehan setiap sore selalu minta uang buat jajan di sana."
"Bapak ngizinin?" Bapak mengangguk.
Mengikuti kegiatan TPQ memang sesuatu yang baik. Tapi jika kuingat ketika masih ikut TPQ, yang ada hanya menjadi bahan bully-an. Aku dan Rehan pun sudah lama tidak ikut kegiatan tersebut karena memang tidak nyaman dengan kondisi yang ada di sana. Lagi pula ada Bapak yang siap mengajar kami setiap selepas Magrib. Akan tetapi, entah dorongan dari mana asalnya, sudah dua hari Rehan tergerak untuk ikut lagi.
Rehan pun akhirnya menampakkan diri setelah pulang dari bermain. Keringat masih mengucur di pelipisnya, dia mungkin sudah puas bermain hingga akhirnya memilih pulang. Setelah meneguk air dari teko secara langsung, Rehan pun menghampiri Bapak.
"Pak, kemarin aku dapat undangan ulang tahun dari Sinta, nggak?" Sinta adalah teman satu sekolah Rehan yang juga masih satu dusun.
"Nggak ada. Memang kenapa? Eh, kali aja Mbak Devi yang dikasih tahu," ucap Bapak.
"Nggak ada, kok. Emang nggak diundang berarti," timpalku.
"Tega banget sama aku, ya? Padahal yang rumahnya jauh-jauh tapi tetap diundang, lho." Rehan begitu kecewa karena mungkin sudah berangan-angan akan mendapatkan undangan ulang tahun tersebut.
"Kalau diundang ya harus bawa kado. Kamu nggak diundang ada hikmahnya juga, kan? Soalnya kamu nggak ada uang buat kasih kado."
"Apa karena Rehan bajunya jelek-jelek semua, ya, Pak? Makanya nggak diundang, takut malu-maluin." Bisa jadi ucapan Rehan memang benar.
"Re, Re, kayak gitu aja kamu pikir terus. Sudah, dong, mending persiapan buat pergi ngaji ke TPQ," saranku pada Rehan.
"Jam berapa emangnya?"
"Sudah jam tiga, Re."
"Iya, udah, Mbak. Mau mandi dulu kalau gitu."
***
Sore hari rumah begitu sepi. Bapak pergi keluar mencari ayam dagangan, sementara Rehan masih mengaji. Semua pekerjaan rumah sudah terselesaikan, aku ingin bersantai sejenak dengan menonton TV.
__ADS_1
Tak berselang lama Rehan datang dan langsung duduk di sampingku. Tumben sekali dia mau mendekatiku. Segera kutanya apa tujuannya ke sini.
"Mbak, sepedaku hilang," lirih Rehan dengan mata berkaca-kaca.
"Lho, kenapa bisa hilang?"
"Nggak tahu, kayaknya ada yang lagi usil."
Tidak menunggu lama lagi, TV yang masih seru-serunya acara langsung kumatikan. Aku menggandeng adik laki-lakiku itu dan mengajaknya kembali ke masjid. Rehan kemudian menarikku ke tempat ia terakhir parkir.
"Eh, malah ajak-ajak kakaknya, pasti nggak berani sendiri, kan?" ledek beberapa anak seumuran Rehan.
"Diam! Dasar bocah nggak ada sopan santun," sahutku.
"Eh, Mbak. Kalau ke sini coba pakai jilbabnya. Kasih contoh yang baik buat anak-anak kecil." Seorang nenek yang menunggu cucunya begitu lancar mengomentariku.
"Maaf, Bu. Tadi saya ke sini tergesa-gesa, jadi belum sempat ganti jilbab," jelasku.
"Gimana, sih!" celetuk nenek tersebut.
Tak lagi kupedulikan perempuan yang sepertinya sangat suka menilai penampilan orang tersebut. Aku kemudian mencoba mengamati sepeda-sepeda yang tengah diparkiran di halaman masjid.
"Kalian nyari apa?" Seorang lelaki tua bekerja sebagai tukang bersih-bersih masjid menanyaiku.
"Sepeda, Pak. Punya adek saya tapi hilang. Kayaknya di sembunyikan temannya," jelasku.
"Coba kamu cari di belakang kamar mandi. Kayaknya tadi Bapak lihat pas nyapu."
"Oke, Pak."
Aku benar-benar menjadi pusat perhatian saat ini. Beberapa anak yang penasaran pun menghampiriku dan memberitahu letak persembunyian dari sepedaku
"Akhirnya sudah kelar satu permasalahan."
__ADS_1