Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Hajatan Tetangga


__ADS_3

"Kamu sudah ngaji, Re?" tanyaku pada Rehan.


"Sudah, makanya tadi Rehan pulang buat panggil Mbak Devi. Habis ini mau main, diajak teman sepedaan."


Begini yang tidak kusukai ketika Rehan ikut mengaji di TPQ. Anak yang ikut mengaji jumlahnya sangat banyak sementara tenaga pengajarnya hanya sedikit. Hal ini membuat beberapa anak yang sedang tidak mengaji justru asyik bermain sendiri atau malah mengganggu temannya yang sedang menyetorkan bacaannya pada sang guru.


"Kalau sudah ngaji ayo pulang aja. Kamu nanti paling cuma main sama jajan aja. Ayo pulang!"


"Nanti, ya, Mbak?"


"Mbak bilangin ke Bapak, lho. Kamu kalau di TPQ bukannya ngaji malah main terus." Harus diancam, kalau tidak begini tidak akan membuat Rehan menurut.


"Ya udah, ayo. Aku ambil tas dulu, pamit ke ustaz."


Benar-benar tidak tahu malu, sudah datang ke TPQ tanpa jilbab, sekarang mengajak paksa adiknya pulang. Ah, kalaupun ada yang mencibir seperti itu aku tidak peduli. Akhirnya aku dan Rehan kembali ke rumah. Mungkin sebenarnya Rehan sudah tidak malas untuk mengikuti TPQ, makanya dia menerima ajakanku.


"Kamu tahu siapa pelakunya?" tanyaku membahas masalah sepeda Rehan yang disembunyikan temannya tadi.


"Tahu, tapi Mbak Devi aku kasih tahu namanya juga nggak bakal tahu. Dia emang anak nakal."


"Kenapa bisa disembunyikan sepedanya?"


"Nggak tahu juga. Dia bilang sepedaku jelek pas aku ngaji tadi dia bisik ke aku."


Kejadian seperti ini sama persis dengan yang kualami sewaktu masih kelas empat sekolah dasar. Saat pulang sekolah aku kebingungan karena sepedaku yang merupakan barang bekas pemberian saudara tidak tampak di tempat biasanya.


Untung saja Mbak Eva, yang merupakan kakak kelasku memberi tahu keberadaan sepedaku dan mengatakan cerita yang terjadi sebenarnya. Teman sekelas Mbak Eva yang merupakan ketua geng memang suka mencari keributan. Sepedaku sengaja ia sembunyikan dengan alasan sudah sangat jelek.


Kejadian tersebut sudah berlalu cukup lama bahkan aku hampir melupakannya. Kalau saja tidak terulang di kehidupan Rehan, mungkin aku tidak akan ingat lagi. Aku selalu berdoa agar kenyataan pahit yang kualami tidak terulang juga pada Rehan. Namun, kenyataannya hidup Rehan adalah fotocopy kisahku.


"Jahat banget jadi orang. Sabar, ya, Re."


"Iya, Mbak."

__ADS_1


***


Hari telah berganti dan saat ini aku baru pulang sekolah. Seperti biasa, Bapak masih sibuk dengan ayam-ayam yang hendak dijualnya esok hari. Perutku yang sudah sangat lapar minta segera diisi.


Aku mengambil sepiring nasi beserta lauk secukupnya. Bapak yang sudah tuntas dengan pekerjaannya kemudian menghampiri meja dan menyeruput minuman yang sudah dia siapkan sendiri sebelumnya.


"Nduk, habis makan ada kegiatan apa?" tanya Bapak kepadaku.


"Kayaknya nggak ada, Pak. Ada apa?"


"Bisa rewang ke rumah Bu Darmi?"


Oh, aku baru ingat jika Mbak Ika yang merupakan anak sulung Bu Darmi hendak menikah lusa. Di desa masih sering dilakukan kegiatan gotong royong membantu orang yang hendak memiliki hajat, bahkan beberapa hari sebelum acara dimulai tetangga sudah berdatangan. Kegiatan saling membantu ini disebut dengan rewang.


"Bapak nggak ke sana?" tanyaku.


"Bapak tadi pagi sudah bantu angkat meja sama kursi pinjaman di rumah pak RT. Sore ini Bapak nggak bisa ke sana lagi, makanya Bapak minta kamu kalau memang nggak repot," jelas Bapak.


"Oke, Pak. Nanti Devi ke sana. Sudah mulai ramai, dong. Kan, lusa sudah hari-H?"


"Oh, oke, Pak. Habis makan Devi langsung ke sana."


Bapak berpamitan untuk membeli ayam di desa tetangga. Selepas menghabiskan makanan, aku langsung mengangkat jemuran yang sudah kering semuanya karena memang cuaca sedang sangat cerah. Sekalian juga perabot dapur yang masih kotor kucuci, mumpung tidak terlalu banyak.


Setelah semuanya selesai, aku segera bergegas menuju rumah Bu Darmi. Aku membawa pisau sendiri dari rumah mengingat pengalaman rewang yang dulu aku menganggur karena pisau yang dimiliki tuan rumah jumlahnya terbatas.


Kulihat pekarangan rumah Bu Darmi yang sudah beratap tenda atau biasa disebut terop. Beberapa kotak salon pengeras suara sudah tersusun di sisi jalan. Beberapa anak kecil asyik bermain dengan teman-temannya. Ada juga yang berlari hingga menjadi omelan orang tua karena berlari hingga ke dapur.


Aku jadi ingat sewaktu kecil suka pura-pura mencari Ibu ketika rewang dengan tujuan agar diberi makanan. Makanannya pun sebenarnya sangat sederhana, kadang sekadar sayur labu siam atau buncis ditemani tempe goreng. Akan tetapi, menurutku apapun makanan yang ada di rumah orang yang memiliki hajat adalah makanan yang lezat.


"Ini siapa?" Aku baru duduk, seorang nenek tua bernama Mbah Ginah memegang bahuku dan mengajukan pertanyaan demikian.


"Ini Devi, Mbok. Anaknya Kang Basir. Masih ingat, nggak?" sahut Bu Ina yang merupakan anak dari Mbah Ginah.

__ADS_1


"Oh, Basir yang istrinya meninggal?" tanya Mbah Ginah.


"Aduh, Mbok. Maaf, ya, Mbak. Mbah Ginah memang sudah agak pikun dan ceplas-ceplos kalau ngomong," ucap Bu Ina meminta maaf kepadaku. Aku hanya tersenyum, orang tua memang terkadang menyebalkan, tapi aku bisa memakluminya.


"Ngawur aja ngatain mbokmu ini udah pikun. Aku masih ingat, dia ini dulu sering digendong istrinya Basir di warung. Aku beneran ingat, kok."


"Ya deh, iya, Mbok. Bantu kupas bawang merahnya, ya, Mbak Devi." Aku mengangguk.


"Makin cantik sekarang. Kelas berapa, Nduk?"


Mbah Ginah masih terus mengajakku bicara. Aku merasa sungkan karena beberapa orang yang sudah datang sebelumku tidak banyak bicara dan langsung bekerja. Sejauh ini hanya terdengar celoteh Mbah Ginah yang hanya kutanggapi dengan kata 'ya' atau 'tidak'.


"Mbak Ina, keponakanmu yang cantik itu namanya siapa?" Bu Riris yang merupakan saudara si pemilik hajat tampak bertanya ke Bu Ina dengan antusias.


"Nela? Dewi? atau Rudi?" Aku ingin tertawa, bisa-bisanya keponakan yang laki-laki turut disebutkan.


"Aduh, Bu Ina suka banget kalau becanda. Ya, maksudku yang Nela itu. Dia masih satu desa sama kita, kan? Kalau jadi putri domas mau nggak, ya?"


"Kenapa harus keponakanku? Kan, anak gadis di sini banyak juga, Bu. Mbak Devi ini kan juga bisa. Nela tingginya juga sama kayak Mbak Devi, kok." Aku sempat mendapati Bu Riris yang melirikku sekilas namun dengan cepat ekspresinya berubah.


"Ika itu cantik, Bu. Saya juga pilih-pilih, dong, siapa yang dijadikan putri domas. Harus yang cantik dan tubuhnya oke juga."


Mungkin Bu Riris pikir hatiku tercipta dari batu hingga tidak bisa merasakan sakit. Secara tidak langsung dia menghina fisikku yang memang tidak ada apa-apa jika dibandingkan dengan Nela. Aku tahu Nela karena sewaktu kecil kami sering main bersama di halaman masjid.


"Perasaan Bu Darmi yang punya hajat nggak heboh, kenapa kamu heboh, Nduk?" tanya Mbah Ginah mewakili suara hatiku.


"Ya, nggak papa. Nikah juga sekali seumur hidup, Mbah. Harus bagus, dong!"


"Sak karepmu, Bu. Yang jelas Nela nggak bisa. Dia lagi ada study tour di sekolahnya."


"Ya udah kalau gitu." Bu Riris meninggalkan kami.


"Lho, Mbak Devi menangis? Jangan sedih, ya? Sabar, memang Bu Riris suka seperti itu." Bu Ina mengelus bahuku lembut.

__ADS_1


"Saya kepedasan gara-gara motong bawang merah, Bu. Kalau masalah yang seperti tadi saya tidak ambil pusing," ucapku dengan air mata berderai dan sesekali hidung menarik ingus yang hendak terjatuh. Ah, perih sekali.


__ADS_2