Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Siang di Taman


__ADS_3

"Nggak ke kantin, Dev?" Alwi menghampiriku seraya meletakkan sebungkus siomay dan satu cup es teh. Aku hanya menggeleng.


"Kenapa? Atau bad mood gara-gara pelajaran Bu Nuri tadi?" tanya Alwi lagi.


"Bukan bad mood, sih, cuma ngerasa bersalah sama Bu Nuri dan teman-teman," lirihku.


"Ya Allah, Dev. Santai aja. Emang ada yang marah sama kamu?"


"Lagian Bu Nuri itu juga nggak marah, cuma ngasih nasihat. Lain kali jangan diulang, ya. Sebenarnya bukan cuma kamu yang belum paham. Aku yakin tadi banyak yang nggak memerhatikan plus belum paham, contohnya aku. Cuma tadi kamu kena apesnya, jadi terkesan kamu yang paling belum bisa."


"Aku malu, kenapa bodoh banget jadi manusia," keluhku hingga mataku hampir berkaca-kaca.


"Kenapa bisa bilang gitu?"


"Aku nggak pintar, beda sama Nindi," lirihku.


"Jangan bandingin hidup kamu sama orang lain, Dev. Kamu nggak bisa memaksa diri untuk menjadi mereka, begitu pula sebaliknya. Dan, jangan pernah merasa rendah diri. Setiap orang diciptakan berharga," ucap Alwi menceramahiku.


"Tapi--"


"Mau berkilah apa lagi? Mau bilang kalau kamu nggak punya bakat apa-apa?" tandas Alwi memotong pembicaraanku.


"Kamu baik, Dev. Kamu suka bantu orang, kamu juga pintar menulis. Itu kelebihan kamu."


Rasanya ingin kupeluk Alwi saat ini. Dia sudah mengembalikan semangatku. Kalau Alwi yang bijak seperti ini, baru aku suka.


"Mau ngeluh apa lagi? Kalau mau ngeluh lagi, maaf, jangan berteman sama aku!" ancam Alwi kepadaku.


"Ya Allah jahat banget."


"Tuh, esnya nangis dari tadi lihat kamu. Dia mau kamu minum." Alwi menunjuk permukaan cup es yang tampak mengembun.


"Iya, ini aku minum. Makasih, Al," ucapku lalu mengambil sedotan untuk meminumnya. Lumayan juga menghilangkan dahaga yang menyerang tenggorokan.


"Totalannya dia akhir nggak papa, santai aja." Alwi menaik-turunkan alisnya. Hampir saja aku tersedak.


"Eh, santai, Dev. Aku cuma becanda. Ini gratis buat kamu, kok. Karena kamu best friend aku." Ya Allah, Alwi merengkuh bahuku, aku sampai kaget.


"Makanya, jangan suka insecure. Kamu itu orang suka minder, sungkan buat nolak orang yang minta tolong, tapi sungkan juga kalau minta tolong balik. Iya, kan?" Aku hanya mengangguk, yang dikatakan Alwi benar.


"Lain kali jangan gitu, kalau emang kesusahan, ya minta tolong. Kalau emang nggak bisa bantu, jujur aja. Terus, nggak boleh merasa kamu itu nggak istimewa, kamu itu istimewa!" Alwi mencubit pipiku.


"Ih, dari tadi berduaan mulu. Sebenarnya Alwi itu suka sama Nindi atau Devi, sih?" sindir Oliv dari bangkunya.


"Tenang aja, Liv. Aku masih suka sama Nindi, kok. Devi ini, kan, sahabatku. Jadi aku perlu menghiburnya di kala dia sedih," jelas Alwi.


"Coba kalau aku di posisi Devi, mungkin bisa jadi aku salah paham mengartikan perlakuanmu, Al. Baper kalau digituin," celetuk Tiara yang sepakat dengan Oliv.

__ADS_1


"Ya udah, biar nggak baper aku keluar kelas aja. Perasaan jadi cowok serba salah, deh," ucap Alwi kemudian beranjak dari kursinya.


"Jangan lupa dimakan, ya, siomaynya," ucap Alwi kepadaku sebelum akhirnya hilang di balik pintu.


Aku membuka siomay pemberian Alwi dengan menggigit ujung plastiknya. Lumayan juga selain mengganjal perut, aku juga bisa menghemat uang jajan. Em, kenapa kalau gratisan lebih terasa nikmatnya.


"Lho, kok, balik lagi?" tanyaku begitu melihat Alwi datang ke kelas dengan buru-buru. Dia menenteng sebuah kantong berisi sesuatu yang tidak kuketahui.


"Kamu bawa apa?" tanyaku lagi begitu kantongnya tadi diletakkan di atas mejaku.


"Itu buat kamu," ucap Alwi seraya menunjukkannya.


"Kenapa repot-repot mulu, sih." Aku penasaran dengan isinya, ternyata beberapa bungkus roti, cokelat, dan susu kotak siap minum.


"Banyak banget, Al."


"Bukan dari aku," jawab Alwi.


"Terus?"


"Zaki."


"Zaki? Beneran aku yang dikasih?" tanyaku memastikan.


"Iya, kamu Devi yang teman SD-nya, kan? Lagian di sini yang namanya Devi selain kamu siapa?" cecar Alwi yang tampak tidak suka aku mendapatkan jajan dari Zaki.


"Nggak papa," jawab Alwi.


"Wah, ternyata ada yang PDKT sama Devi juga. Kayaknya orang tajir, nih. Buktinya ngasih makanan sebanyak itu." Lagi-lagi, si biang gosip, Oliv, menyindirku. Sontak ucapannya membuatku menjadi pusat perhatian siswa di kelas.


"Mau juga dong dikasih kayak Devi. Siapa di sini yang diam-diam suka sama aku? Ayo ngaku!" teriak Lisa di kelas namun malah mendapat imbalan suara sorak dari teman-teman.


"Kamu ada hubungan sama Zaki?" bisik Alwi menginterogasiku.


"Nggak ada, jangan salah paham!"


"Terus ini semua apa?"


"Aku nggak tahu. Justru harusnya aku tanya kamu, Al. Dia yang ngasih ke kamu, kan?"


Karena memang aku sudah berkata sejujurnya. Aku dan Zaki memang tidak ada apa-apa. Kita hanya sekadar bertemu saat membantu Pak Edi waktu itu.


"Habis Zuhur dia mau ketemu sama kamu di taman," ucap Alwi lagi.


"Lho, ada apa? Aku nggak janjian sama dia. Bantu aku, Al." Aku meraih lengan Alwi dengan memohon kepadanya.


"Kamu beneran nggak ada apa-apa sama dia?"

__ADS_1


Aku bingung, harus dengan bukti apa untuk meyakinkan Alwi. Dia pikir aku gadis yang mudah menerima laki-laki, tidak semudah itu. Belum lagi untuk laki-laki seperti Zaki. Menurut kabar yang kudengar, dia itu play boy.


"Nanti kalau ketemu Zaki sama kamu, ya, Al. Aku kayak takut kalau sendirian," pintaku lagi.


"Iya, iya. Nggak usah takut!"


"Terus ini nanti kita balikin lagi aja." Kuikat kembali pemberian Zaki.


"Jangan, lumayan bisa kita makan." Alwi merebutnya. Dia kemudian mengambil sebuah susu kotak.


"Kalau nanti dia marah?"


"Dia nggak berhak, dia udah ngasih ke kamu," celetuk Alwi begitu enteng.


"Nggak usah terlalu dipikir, makan aja!" tegas Alwi yang sepertinya tahu jika aku sedang bimbang.


Kupikir benar juga ucapan Alwi. Lagipula sayang sekali jika makanan dari Zaki itu dikembalikan begitu saja. Akhirnya, aku mengambil sebungkus roti rasa cokelat dan menyantapnya.


***


Siang itu justru Alwi yang tampak antusias mengajakku bertemu Zaki. Selepas salat Zuhur aku langsung kembali ke kelas untuk meletakkan mukena. Alwi yang terlebih dahulu berada di kelas, seketika menarikku untuk menuju ke taman.


"Ayo ke taman!" ajak Alwi.


"Sabar, kenapa kamu yang gak sabar?" protesku.


"Aku cuma penasaran, tujuan Zaki ngajak ketemuan kamu itu apa," jelas Alwi.


"Iya, tapi sabar dulu, Al." Aku berusaha melepaskan pegangannya.


"Ih, jadi gemes." Alwi mengusap puncak kepalaku. Dasar tidak jelas!


Setelah itu aku dan Alwi menuju taman. Dari kejauhan sudah terlihat Zaki dan Fatih yang berada di sisi taman. Alwi menarikku lagi untuk menghampiri dua laki-laki itu.


"Eh, datang juga. Kenapa malah sama Alwi?" tanya Zaki tampak sungkan.


"Terus maunya Devi ke sini sendiri?" tandas Alwi.


"Nggak, kok."


"Jangan mentang-mentang Devi polos, kamu seenaknya mau dekatin dia. Kamu PDKT sama dia, berhadapan dulu sama aku."


Aku yang bingung dengan sikap Alwi hanya bisa menahan tawa. Yang lebih membuatku heran, seorang Zaki ternyata bisa takut juga.


"Urus semua pacar-pacarmu, yang kemarin belum cukup?"


"Iya, iya, Al. Maaf ... maaf ...."

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, Zaki dan Fatih berpamitan. Alwi tampak menyombongkan diri di hadapanku. Baiklah, aku wajib berterima kasih kepadanya.


__ADS_2