
"Sebenarnya kalau pun Syiham mau aku putusin, akunya yang nggak rela. Udah sayang banget ke dia," ujar Rita lagi.
"Heran, kenapa cewek-cewek bisa suka sama Syiham. Padahal modelannya kayak gitu, kayak cuma buat main-main aja," selorohku membuat Rita tampak tersinggung.
"Mbak Devi, janji jangan bohong, ya. Jangan ganggu Syiham lagi," ucap Rita kepadaku dengan tatapan mengiba. Hei, jadi siapa yang menjadi pengganggu di sini.
"Oke, aku tidak akan menggangu Syiham lagi." Kulipat tangan di depan dada, terlihat meremehkan Rita, tapi memang begitu kebenarannya. Lebih baik kuiyakan permintaannya daripada tidak berujung.
"Oke, kalau gitu aku balik ke kelas, ya. Tadi Syiham nggak ke sini?" tanya Rita kemudian berdiri dan mengintip isi kelas di ambang pintu. Kuakui dia begitu pemberani sebagai adik kelas.
"Kamu pikir Syiham sembunyi di kelasku?" sergah Nindi yang sepertinya terheran-heran dengan sikap sepupunya itu.
"Dia pintar berbohong, bisa jadi dia melakukannya."
"Sudah tahu pintar berbohong, masih juga dipertahankan," cela Alwi yang sepertinya tak kalah geram denganku.
"Biasa, sudah terlalu cinta. Adek, cinta tak selamanya indah, Dek." Aku tertawa meledek Rita.
"Lagian kamu baru masuk SMP berapa hari udah pacaran. Siapa yang ngajarin?" Nindi begitu sengit bertanya pada Rita.
"Memangnya nggak boleh? Mbak Nindi juga pacaran, kan?"
"Ya-ya, aku kan udah besar," elak Nindi.
"Sama aja, kan."
"Tapi bukannya kemarin cowok yang jemput kamu di rumah bukan Syiham, ya?" tanya Nindi pada Rita.
"Em, emang bukan. Oh, jadi Mbak Nindi sudah tahu kalau ada yang sering main ke rumah?" Nindi mengangguk.
"Sebenarnya aku sudah sering lihat ada cowok apel di rumah dia. Tadi pura-pura shock aja waktu dia bilang punya pacar, dia pikir aku nggak tahu apa-apa," bisik Nindi kepadaku.
"dia pacarku juga, Mbak. Di antara yang lainnya, Syiham yang paling aku sayang." Buset! Yang lainnya? Maksudnya ada cadangan yang lain juga? Oh, parah sekali. Rita dengan bangganya menceritakan hal itu, dia senyum-senyum sendiri.
"Kamu serius ada pacar lain juga?" tanya Nindi, Rita mengangguk.
"Buaya jantan ketemu buaya betina, ya jodoh," celetuk Alwi.
"Tadi bilang apa, Mas?" tanya Rita kepada Alwi.
__ADS_1
"Eh, dia nggak bilang apa-apa. Kamu balik ke kelas, sebentar lagi udah mau masuk!" Nindi mendorong tubuh Rita agar segera pergi.
Akhirnya sepupu Nindi yang katanya paling cantik itu pergi. Dia yang sebelumnya tampak bersedih berubah 180° menjadi begitu bahagia ketika bersama teman yang diajaknya tadi. Bahkan Alwi dan Nindi pun heran menatap dua gadis yang tengah berjalan di lapangan tersebut.
"Eh, kalian kenapa?" tanyaku.
"Mau heran, tapi ingat kalau dia Rita," sahut Nindi.
"Kenapa emangnya?"
"Dia selalu bertingkah, pintar bersandiwara. Bahkan Nenek sampai bilang kalau dia cucu yang paling nakal."
"Ya, benar, sih," sahutku.
"Udah, yuk. Ke kelas aja!" ajak Alwi.
Tak menunggu lama lagi, kami segera masuk kelas. Waktu istirahat hanya tinggal beberapa menit dan makanan yang dibawa Alwi dan Nindi dari kantin belum tersentuh. Jangan sampai kesempatan ini terlewatkan, bisa-bisa waktu pelajaran nanti aku kelaparan.
"Katanya ada rapat dadakan. Habis ini kita pulang!" Firman yang dari luar kelas begitu histeris memberi kabar di kelas. Bagus, aku suka seperti ini.
"Emang beneran, Al?" tanya Nindi.
Dugaan Alwi tidak meleset. Beberapa detik setelah kalimatnya tersampaikan, bel yang berbunyi sekali tersebut terdengar. Bel terdengar satu kali artinya ketua kelas harus berkumpul di depan kantor karena ada informasi.
"Ayo, Al, cepetan!" seru beberapa teman, tidak sabar menerima kabar baik.
"Santai aja, iya-iya ini mau berangkat."
Alwi langsung keluar untuk berkumpul bersama ketua dari kelas lain. Aku dan Nindi membahas lagi tentang Rita. Nindi terlihat begitu julid untuk membahas sepupunya, aku tidak percaya sahabatku itu bisa lancar menggunjing dengan topik sepupu sendiri. Beberapa aib Rita pun juga dibeberkan oleh Nindi, aku jadi semakin geram dengan gadis itu.
"Ibunya tahu kalau dia kayak gitu?" tanyaku pada Nindi.
"Tanteku tahunya ya cuma satu pacarnya Rita tapi itu bukan Syiham, yang tadi aku bilang sering apel."
"Parah, sih. Baru lulus SD masalahnya."
"Dari SD sudah paham pacaran dia."
Pembahasan tentang Rita masih berlanjut. Nindi juga mengungkapkan jika sepupunya itu termasuk gadis yang matre. Beberapa lelaki sengaja diterima, tapi hanya untuk dimanfaatkan hartanya. Ya, kuakui Rita memang cantik, siapa juga lelaki yang tidak tertarik.
__ADS_1
Alwi akhirnya datang hingga aku dan Nindi sejenak melupakan Rita. Berita burung yang disampaikan Firman tadi akhirnya diklarifikasi oleh Alwi. Ya, hari ini pulang pagi karena guru ada rapat dengan kepala sekolah.
Jangan tanya bagaimana reaksi teman-teman lainnya. Mereka tampak bersorak dan merencanakan kegiatan yang akan dilakukan setelah ini. Aku sudah pasti memilih untuk segera pulang, rumah adalah tempat ternyamanku.
"Lho, kok, udah abis," ucap Alwi setelah selesai mengumumkan informasi tadi. Ia tampak kecewa karena makanan yang ia beli bersama Nindi sudah habis ketika ia tinggalkan.
"Maaf, Al. Ini tadi aku saking asyiknya makan sampai lupa nggak sisain buat kamu. Jangan marah, ya," ucap Nindi merayu Alwi.
"Iya." Iya marah maksudnya.
"Tuh, marah beneran, kan. Ya, udah, gantinya aku traktir rujak cingur, deh!" tawar Nindi pada Alwi.
"Beneran?" Alwi mudah luluh ternyata.
"Beneran, atau ke sana sekarang? Ok, Devi titip tas kita sebentar, ya."
Padahal aku belum menyetujui permintaan Nindi, dua sahabatku itu langsung menghilang keluar kelas. Resiko punya sahabat yang menjadi sepasang kekasih, selalu jadi obat nyamuk sekaligus asisten. Awas saja jika pulang nanti tidak membelikan juga untukku.
Satu per satu temanku mulai pulang hingga tinggal aku seorang diri. Beberapa kali aku menguap karena kekenyangan memakan bekal pemberian Syiham. Sudah hampir sepuluh menit Alwi dan Nindi meninggalkanku. Apakah lebih baik aku tidur saja?
Aku menyandarkan tubuh di dinding dengan pandangan menuju ke arah jendela yang menampakkan pemandangan tanaman padi. Eh, kenapa tiba-tiba ada Mas Ovi di sana, dia melambaikan tangan ke arahku dan mengetuk kaca jendela. Dia berteriak dan memintaku untuk menghampirinya.
"Ada apa, Mas?" tanyaku begitu tiba di dekatnya, saat ini jendela berteralis adalah pembatas bagi kami.
"Kamu sendirian? Ini aku bawa sesuatu buat kamu." Mas Ovi memberiku sebatang cokelat dan minuman dingin.
"Kenapa ada di sini, Mas?"
"Iseng aja pengen lihat kamu."
"Eh, serius?" Mas Ovi mengangguk.
"Dev, agak dekat, dong!" Aku tidak paham dengan perintah Mas Ovi.
"Agak maju." Aku menurutinya tapi tiba-tiba Mas Ovi mencubit pipiku.
"Aku gemas banget!"
Aku tersenyum, aneh sekali tapi aku menyukainya. Mas Ovi melakukannya lagi namun lebih kencang. Sepertinya ia kecanduan dengan pipiku. Aku mulai merasakan kejanggalan.
__ADS_1
"Sakit!" pekikku disambut tawa oleh Alwi dan Nindi. Sial, gara-gara disuruh Bapak ke toko Mas Ovi, lelaki itu sampai ke mimpiku.