Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Menembak Nindi


__ADS_3

Pagi itu aku berangkat sendiri. Tidak kutemukan Alwi di tempat biasa ia menungguku. Semenjak kejadian kemarin siang Alwi seolah bersikap acuh tak acuh kepadaku.


Setibanya di parkiran sekolah, terlihat sepeda Alwi yang sudah berada di sana. Aku berlari ke kelas setelah menaruh sepedaku di tempat itu. Kenapa dia berangkat begitu awal?


"Alwi!" sapaku dari luar ketika mengetahui Alwi di mejanya. Dia sempat melirikku sebentar hingga akhirnya kembali sibuk dengan buku di depannya.


"Kenapa aku ditinggal?" tanyaku seraya menghampirinya.


"PR-ku belum selesai," ucap Alwi yang tampak panik.


"Aku sudah, mau lihat PR-ku?" tawarku dengan ikhlas.


"Ini tinggal tujuh nomor, lihat punyamu aja, ya?"


Segera kukeluarkan buku LKS yang tampilan depannya jauh dari kata rapi. Semalam aku pusing mengerjakan tugas agama hingga beberapa bagiannya kusut. Untung saja, aku bisa menyelesaikan tugas tersebut dan berangkat dengan tenang pagi ini.


"Aku lihat, ya, Dev." Aku mengangguk, Alwi segera menyalin jawabanku di LKS-nya.


"Terima kasih, Dev." Alwi mencubit pipiku dengan ekspresi gemas. Bisa-bisa pipiku semakin melar jika setiap hari ia tarik seperti tadi.


"Kirain kamu marah sama aku?" lirihku.


"Kenapa?" tanya Alwi.


"Soalnya kamu tadi berangkat nggak nungguin aku," terangku dengan jujur.


"Nggak, ngapain marah sama kamu." Alwi mengemasi buku-bukunya dan menaruh ke dalam laci.


"Ya, kirain kamu marah gara-gara Zaki kemarin."


"Aku bakalan marah kalau kamu pacaran, apalagi sama Zaki!" tegas Alwi.


"Kamu marah gara-gara aku pacaran, apa gara-gara pacaran sama Zaki?" tanyaku iseng.


"Dua-duanya, dong!"


"Kalau sama yang lain?" godaku lagi.


"Tetap nggak boleh."


"Kok, gitu. Nggak adil itu namanya!" protesku. Bisa-bisanya dia melarangku sementara dia sendiri ingin berpacaran.


"Kamu itu terlalu polos, Dev. Apalagi kalau sama Zaki, aku nggak bakal rela." Alwi menggebrak meja di depannya tapi membuatku tidak takut.


"Emangnya kenapa? Zaki baik."


"No ... no ... no .... Aku pernah satu kelas dengan dia. Pacaran dengan tiga cewek di waktu yang sama kamu bilang bagus?" Aku hanya tersenyum.


"Santai aja, Al. Lagian aku juga nggak mau pacaran. Bapak udah ngelarang juga, aku nggak mau bikin beliau kecewa."


"Nah, kalau gini baru temanku. Jangan jadi anak yang nakal, ya!" Lagi, Alwi mencubit pipiku yang satunya.


"Sakit, lho!"


"Biar imbang, tadi yang kanan, sekarang kiri!" ucap Alwi begitu enteng.


Kali ini aku tidak berkomentar, aku hanya memasang wajah kesal. Aku ingin tahu saja bagaimana reaksi Alwi. Dia bahkan masih tampak tertawa tanpa merasa bersalah.


"Lho, kamu marah?" tanya Alwi, aku hanya diam.


"Ih, marah beneran." Aku menggeser posisi duduk hingga membelakanginya.


"Jangan marah, dong, Dev!" Mungkin Alwi mulai panik. Dia pikir semua orang bisa selalu sabar?

__ADS_1


"Aduh, ini lebih mengerikan daripada tugas matematika," lirih Alwi.


"Please, lah, Dev. Jangan diemin aku kayak gitu. Jangan sekarang marahnya, ditunda dulu aja. Hari ini aku butuh kamu, aku mau nembak Nindi," ucap Alwi begitu mengiba.


Aku mengubah posisiku lagi ketika Alwi berusaha berada untuk di hadapanku.


"Udahlah, Dev. Aku nyerah! Kamu mau apa biar nggak marah lagi?" Alwi begitu pasrah, dasar lemah. Aku langsung tertawa kencang.


"Eh, malah ketawa!"


"Suka ngalah terus, ya, kamu. Aku cuma bercanda, kok, Al," ucapku.


"Aku tahu kamu lagi bercanda, Dev. Karena itu, aku berusaha mendalami peranku, biar rencanamu berhasil."


"Ah, nggak seru, dong!"


"Nggak, kok. Tadi aku kira kamu beneran marah. Ngeri juga ternyata kalau orang penyabar marah."


"Makanya jangan suka jahilin orang!"


Alwi justru mencubit lengan kiriku. Dia mungkin sudah berfirasat jika aku hendak membalasnya. Aku mengejar dia yang berlari terlebih dahulu. Kelas yang masih sepi membuat kami leluasa untuk berlarian.


"Ayo kejar terus sampai bisa!" Alwi meledekku. Awas saja jika nanti kena!


Pagi ini aku masih bisa tertawa puas dengan Alwi. Untuk selanjutnya aku tidak tahu apa yang terjadi. Mungkin ketika ia sudah mendapatkan Nindi, kejadian konyol seperti ini sudah tidak akan ada lagi. Dia pasti akan menjaga perasaan wanitanya, begitu juga aku. Aku sudah pasti sungkan dan juga perlu menjaga perasaan sahabatku.


"Malah bengong! Ayo ke sini!" Alwi meremehkanku.


Sengaja aku menggiring Alwi hingga berada di sudut kelas. Aku tertawa geli melihat dia yang sudah ketakutan duluan.


"Jangan digelitiki, aku geli!"


Larangan adalah perintah! Aku masih saja tertawa melihat Alwi yang bertingkah seperti gadis manja. Dia berusaha menutupi pinggang yang sangat sensitif merasa geli.


"Ampun, Dev!"


Aku dan Alwi kompak menoleh ke arah pintu. Ada Nindi yang sedang berada di sana. Seketika aku dan Alwi terdiam, lebih tepatnya canggung.


"Sudah sembuh, Nin?" tanya Alwi.


Nindi hanya mengangguk dan tersenyum. Dia meletakkan tas kemudian duduk di kursi. Sebenarnya aku bingung, panik, dan takut. Aku takut jika Nindi salah paham dan akan marah kepadaku. Aku meninggalkan Alwi dan duduk di sebelah Nindi.


"Sayang sekali kemarin kamu nggak masuk. Padahal kemarin hampir jadi hari bersejarah buat kamu," ucapku pelan.


"Kenapa emangnya, Dev?" tanya Nindi.


"Alwi mau nembak kamu," celetukku.


"Eh, Devi!" pekik Alwi yang tampak panik.


Jujur, aku hanya bingung mencari topik pembicaraan dengan Nindi. Sulit sekali mengendalikan diri ketika panik seperti ini. Dasar aku!


"Kamu jangan marah, ya, Nin. Aku sama Alwi tadi cuma main-main, kok. Dia cuma suka sama kamu, aku emang suka becanda sama Alwi," jelasku.


"Kamu kenapa, sih, Dev?" Aku saja heran dengan diriku sendiri, apalagi Nindi.


"Nggak papa. Please, Nin, kamu terima Alwi, ya?" ucapku memohon.


"Lho, kenapa kamu yang bilang?"


Aku melirik Alwi yang masih terdiam di tempatnya tadi. Atau mungkin jiwanya sudah hilang gara-gara ulahku tadi. Ya Allah, sepagi ini dan aku sudah membuat beberapa masalah. Jangan sampai Alwi juga marah.


"Alwi, jangan diam aja, dong. Ini udah aku bantuin, lho!" protesku.

__ADS_1


"Eh, iya, iya." Alwi menghampiriku dan Nindi.


"Benar apa yang dibilang Devi?" tanya Nindi.


"Em, i-iya, Nin. Kemarin emang rencananya mau ngasih kamu akan surprise soalnya kamu ulang tahun kemarin."


"Kamu nggak bawa donat kayak kemarin?" tanyaku.


"Ada, di tas!" Alwi menunjuk kursinya.


"Aduh, kenapa nggak bilang. Sebentar, jangan nembak dulu." Aku beranjak untuk mengambil donat Alwi. Kedua temanku itu saling diam di sana.


"Sudah siap, ayo kita mulai!" ucapku yang seraya menyalakan lilin.


"Teman-teman yang lain kenapa belum datang, ya? Masa cuma kamu yang nyanyi, Dev?"


"Udah nggak papa, keburu masuk!"


Jauh dari kata meriah, karena memang hanya ada tiga orang di kelas ini. Akan tetapi, dari ekspresi Nindi, ia tampak begitu bahagia. Dia kemudian meniup lilin pelan, aku dan Alwi yang histeris.


"Semoga babinya nggak ditangkap warga," celetukku.


"Heh, gundulmu!"


"Jadi, gimana, Nin. Kamu terima aku, nggak?"


"Eh, ada apa ini?" beberapa temanku baru datang dan penasaran.


"Ada apa, Dev?" tanya Oliv menghampiriku.


"Alwi sedang menjalankan aksinya," jawabku singkat, kurasa mereka paham.


"Terima ... terima ... terima ...." Oliv justru menjadi biang kegaduhan. Dia membuat teman-teman yang lain mengikuti ia bersorak.


"Gimana, Nin? Kamu terima nggak?" tanya Alwi sekali lagi.


"Gimana, ya? Aku belum bisa ngasih jawaban sekarang?"


"Yah, kenapa harus kayak di film-film, sih? Sekarang aja kenapa, Nin!" protes Tiara.


"Menurut kalian aku harus terima Alwi?" tanya Nindi.


"Ya, harus itu! Kalian harus jadian!"


"Kamu dengar sendiri, kan, Al? Itu jawabanku," ucap Nindi.


"Kamu terima?" Nindi mengangguk.


"Serius?"


"Iya!"


"Alhamdulilah, aku punya pacar!"


Aku menggaruk kepalaku. Serius ini? Mudah sekali alur percintaan orang-orang. Suka, mengungkapkan perasaan, kemudian diterima.


"Aku ada hadiah buat kamu, Nin. Devi, minta tolong ambilin kotak di tasku!"


Aku tertegun, kenapa aku menjadi babu gratisan Alwi sekarang.


"Eh, Dev, kenapa bengong?"


"Ambil sendiri, dong! Aku capek bawa donta terus," kilahku mencari alasan. Alwi kemudian bergerak sendiri mengambil barang yang ia maksud.

__ADS_1


"Ini buat kamu!"


Alwi memberikan kadonya tadi. Saat itu juga teman-teman meminta Nindi untuk membukanya. Sebuah kalung berbentuk hati dengan huruf inisial A di tengahnya. Teman-teman kembali bersorak ketika Alwi memasangkannya, katanya so sweet.


__ADS_2